Pages - Menu

Monday, June 10, 2019

Metamorfosekar

credit: instagram.com/hairembulan
Sepertinya aku ingat pernah berada di situasi ini. Halaman di hadapanku kosong, menanti apa yang akan kuketik. Sama seperti wajahnya dulu. Ah, analogi 'kosong' agaknya kurang pas untuk mendeskripsikan wajahnya saat itu. Malah sebaliknya, dengan sorot mata penuh kehangatan, ia menatapku sabar, menunggu ceritaku mengalir lancar. Pipinya penuh, senyumnya penuh, semua yang ada padanya penuh, meluber hingga kekosonganku terisi perlahan.

Ketika aku kembali pada kalimat pertamaku, ternyata tidak ada yang perlu diralat. Ini tetap situasi yang sama dengan saat itu, hanya saja perannya absen malam ini. Masalahku sama: kesulitan bercerita. Mengapa begitu, ya? Bukankah sejak kecil aku suka berbicara? Ibuku selalu mengenalkanku pada kerabat dan tetangga sebagai anak yang ceriwis. Aku tidak pernah kehabisan bahan cerita, atau kekurangan pendengar. Tentu saja, anak-anak yang senang bercerita punya banyak penggemar, kan?

Seiring bertambahnya usia, pengalaman hidup membentuk aku yang baru. Diriku yang sekarang. Mungkin, yang berubah sebetulnya bukan spontanitas, pun intensitasku bercerita. Aku masih suka menghujani orang-orang terdekat (dan juga jurnal harian) dengan kesan yang kurasakan, atau buah pikiran yang muncul di kepala (tak lupa, sembari belajar menjadi pendengar yang baik!). Hanya saja, segala hal yang terjadi di keseharianku kini mengalami proses yang lebih panjang: penangkapan lewat segenap indera, penguraian simpul-simpul jika terlalu pelik, juga upaya pemahaman lebih mendalam. Akhirnya, respon yang timbulseringkalitidak dapat dengan mudah diungkapkan.

Kalau dia tidak 'memaksa' aku membuka diri waktu itu, mungkin aku menyesal. Bagaimana pun, kemampuan berkomunikasilisan maupun tulisanperlu diasah setiap waktu. Aku percaya hidup akan lebih mudah bila kita dapat mengkomunikasikan pikiran dan perasaan dengan baik. Iya, kalimat ini terucap dari aku yang pernah terperangkap dalam ilusi semu: mengira ada trik membuat orang paham maksudku tanpa keluar tenaga banyak untuk menjelaskan. Sudah kapok, sungguh.

Di sisi lain, aku khawatir proses mengungkap rasa dan buah pikiran ini menjadi seret ketika kita sendiri tidak benar-benar paham apa yang ingin kita ungkapkan. Artinya, kesulitanku bercerita, kebingunganku menarasikan rasa, pun menyampaikan gagasan, disebabkan diriku yang tidak 'menguasai materi'. Aku agak yakin soal ini. Kuakui, aku masih dalam perjalanan mengenali dan memahami diri sendiri, mengidentifikasi apa yang kumau, nilai-nilai yang kuanut, cara hidup seperti apa yang aku inginkan.

Kehadirannya semakin mendorongku untuk secepatnya menemukan diri (aku harap, dia juga mengeluarkan usaha yang sama untuk dirinya sendiri). Jangan dulu bicara soal memahami satu sama lain! Aduh, aku sangat kikuk. Untuk menulis ini pun kikuk. Jika kubaca lagi suatu hari nanti, akankah aku sudah punya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan hari ini?

Apapun itu, aku lega bisa mengungkapkan kegelisahan dalam sepotong tulisan di laman inimeski agak kaku. Mendokumentasikan kegelisahan adalah bakatku (tolong, jangan tertawa), sedang mengubahnya ke dalam penerimaan adalah perkara lain. Aku janji, akan mendewasa dengan sukacita. Menikmati kejutan yang hadir dalam proses belajarku menemukan diri. Menjadi aku.

Dan dia, teman berjalanku yang pipinya penuh itu, akan punya tempat sendiri untuk kuceritakan lain waktu.

Sunday, February 10, 2019

pada pagi, kudapati

pagi ini sedikit berawan
jalanan tidak terlalu padat
kubawa motorku melesat
senangnya punya tujuan
setengah melamun, aku mendapati
perasaanku yang runyam
jadi sederhana kembali.

Yogyakarta, 10 Februari 2019.

di telepon

semalam aku menangis di telepon
setelah bercerita
tentang seorang perempuan yang kita kagumi
semangat hidupnya.

aku dan dia punya kesamaan, kataku,
kami sama-sama yatim piatu.

ya, aku sudah tahu,
katamu.
aku melihat unggahannya
ia berkunjung ke makam orangtuanya.
aku baru ingat
kalian terhubung di media sosial,
sering berbincang tentang
upaya penyelamatan lingkungan.

kamu bisa mencontoh semangatnya,
bagaimana dia menjaga adik-adiknya.
aku mengangguk, meski kamu tidak lihat.
lalu dadaku mendadak jadi sesak.

hening datang tanpa permisi.

maaf, maaf, maaf. katamu,
maaf,
maaf.
aku menyedot ingus.
tidak ada yang salah,
hanya aku kebanyakan stok airmata.

kita mengobrol lagi,
beberapa menit menuju tengah malam
sampai aku mengingatkanmu
untuk istirahat.

menjadi yatim piatu tidak pernah mudah
perasaan kehilangan
membikin bingung dan resah.
kadang-kadang aku mengira ini penyakit
sehingga aku bertekad sembuh.

pertama kali aku mengenalmu
kamu perempuan kuat,
esok pun begitu.
itu ucapanmu yang paling kusuka
dan paling kuingat.

Yogyakarta, 10 Februari 2019.

Monday, October 8, 2018

nanti akan sembuh

menangis diam-diam
tak masalah

mata basah dan sedu-sedan
luapkanlah

di kamar tidur, di bawah shower,
di perpustakaan
sembari mengetik puisi

tapi jangan di nisan ibu dan ayah
yang kautengok kamis nanti
katanya, tak baik nangis di makam

jangan di hadapan remaja belia
yang kaupanggil adik-adik
biar mereka tahunya semangatmu saja

jangan, jangan, jangan
jangan ditahan
peluk, peluk, peluk
peluklah kesedihan

nanti akan sembuh sendiri


yk, 08-10-2018

Thursday, March 22, 2018

Kerikil di dasar sepatu

"Sekar, aku mau nanya deh, mungkin ini sangat personal, tapi aku mau nanya, kamu... kamu pernah nggak sih, merasa sepi?" 

Pertanyaan itu datang seperti sebuah kesadaran akan kerikil yang mengganjal di dasar sepatu. Kerikilnya sudah agak lama berada di situ, tapi aku sebagai pemakai sepatu menolak untuk menggubrisnya. Tak peduli kakiku mungkin luka dan berjalan dengan sepatu itu jadi tak nyaman. Aku hanya memutuskan untuk tidak memikirkannya.

Sore itu seakan-akan sepatuku berubah warna jadi transparan, dan orang mungkin dapat melihat kerikil yang ada di sana, di antara jari-jari kakiku. Mereka bisa saja pura-pura tidak lihat, sama seperti aku yang bersikap abai pada kakiku sendiri. Tetapi... si penanya berbeda. Sepengetahuanku, ia memang seseorang dengan rasa ingin tahu yang besar. Ia punya tekad yang kuat dan cukup keberanian untuk menuntaskan keingintahuan di benaknya.

Meski kerikil di dasar sepatuku amat kecil dan buruk rupa, ia melihatnya. Maka, demi karakter yang sudah kusebutkan tadi, ia memutuskan bertanya.

Pernahkah merasa sepi?
Bagaimana aku menjawab pertanyaan semacam itu?

'Sepi’ itu, apa maksudnya? Apakah tentang hidup sendiri, setelah bapak dan ibu berpulang? Rasa sepi karena berpisah dengan adik-adik kandungku yang diasuh sanak di lain kota? Ataukah maksudnya, dijangkiti sepi ketika teman-temanmu sibuk sendiri? Berharap segera bertemu seseorang--teman hidup, tempat berbagi?


Si penanya menunggu jawabanku. Tetapi aku masih berpikir;
kalau kuberitahu ia, rasa ingin tahunya akan terpenuhi.
Lalu, apa? Adakah si penanya punya rencana?

Sial. Luka di kakiku berdenyut nyeri. Basah dan berdarah. Menggenang hingga ujung sepatu.


Monday, March 19, 2018

Mengenang ibu

berkasih-sayang | dokumen pribadi

ibu,
waktu bergulir dan aku tidak ingat lagi bagaimana rasanya jadi bayi. sekarang aku sudah tumbuh besar meski tetap berbadan kecil, lebih mirip ibu di foto!

peristiwa kematian orang tersayang bukan sesuatu yang mudah hilang dari ingatan, ya. dalam beberapa budaya, orang justru merayakannya. sebutlah Día de Muertos—perayaan tahunan orang Meksiko untuk memperingati kematian anggota keluarga—yang diangkat dalam film Coco. keluarga yang hidup meletakkan potret anggota keluarga yang sudah meninggal di altar khusus yang disebut ofrenda. orang Meksiko percaya, pada hari Día de Muertos, arwah orang mati punya kesempatan menyeberang ke dunia untuk menjenguk keluarga yang masih hidup.

di Jawa, kita memperingati peristiwa kematian dengan menggelar pengajian. bukan peringatan tahunan, karena orang Jawa punya hitungan sendiri untuk memperingati peristiwa kematian. sudah lama sejak keluarga kita mengadakan peringatan kematian (untuk ibu). mungkin keluarga dan lingkungan kita memang sudah beranjak meninggalkan tradisi itu. atau mungkin, karena hitungan kepergian ibu telah melampaui angka-angka genap maupun kelipatan tahun yang biasa diperingati orang.

aku tidak peduli angka genap atau kelipatan, ibu. aku akan selalu mengingatnya, hari dan tanggal kepergianmu. bukan untuk terus larut dalam dukacita, melainkan karena sejak hari itu, aku ditakdirkan lebih banyak belajar.

orang-orang terkasih pergi membawa separuh hatimu,
memberikan dua opsi bagi separuh yang tertinggal.
spirit melanjutkan hidup, atau dera kekosongan yang tiada habisnya.

aku memilih yang pertama, bu,

bertahan hidup, berusaha meneruskan spiritmu. adik-adik juga! tidak pernah mudah rasanya. dada kami disesaki rasa takut, goyah, berkali-kali jatuh ke titik terendah, selepas kehilangan ibu.

tapi, ibu kan tidak benar-benar hilang. ibu hanya pindah ke tempat yang lebih tenang, bukan?

beristirahatlah dengan nyaman di taman surga, ibu. sampai bertemu jika sudah waktunya.


putrimu,
yang masih selalu menangis saat mengenang ibu,
tetapi mengaku lebih kuat dari waktu ke waktu: