Pages - Menu

Tuesday, May 22, 2018

Friday, May 18, 2018

Selamat puasa

Halo, Ramadhan 1439 Hijriyah.

Syukurlah masih diberi kesempatan jumpa Ramadhan tahun ini. Satu bulan yang bisa jadi sarana introspeksi diri. Belajar mengesampingkan ego dan menggantinya dengan welas asih terhadap sesama. Meskipun jelang Ramadhan kemarin sempat didahului peristiwa yang memicu duka seluruh negeri. Aksi teror di beberapa kota hingga jatuh korban jiwa. Merinding. Pedih dan juga marah atas rasa kemanusiaan yang semakin pudar.

Semoga bulan Ramadhan ini kembali membawa ketenangan.

Membawa keberkahan.

Sesungguhnya saya bukan orang yang religius-religius amat. Tetapi saya harap, masih ada peluang untuk memperoleh berkah-Nya. Berkah dalam bentuk rasa syukur, itu sudah paling berharga...

Beberapa kali saya baca cuitan teman-teman di media sosial, tentang kegelisahan karena tak bisa menjalani puasa di tengah keluarga. Scroll. Scroll. Ada yang ngilu di ulu hati. Harusnya saya tak usah menaruh peduli, kan? Itu urusan mereka. Itu kegelisahan mereka.

Nyatanya, saya punya kegelisahan yang sama. Sejak tahun lalu. Juga tahun sebelumnya. Sejak saya merasa tak utuh dan tak punya keluarga untuk dipeluk. Atau memeluk.

Nggak apa-apa, Sekar, nggak apa-apa. Kamu bilang kamu bukan orang yang religius? Hei. Kamu kan selalu punya tempat berpegang. Kamu tak henti memanjatkan doa kepada Yang Maha, meminta kebaikan-kebaikan Semesta.

Di hatimu, kamu punya rasa percaya.

Selamat berpuasa, teman-teman. Semoga puasanya lancar dan jauh dari gangguan. Jangan pula suka mengganggu orang! Selamat menikmati momen sahur dan berbuka, di tengah keluarga, atau di antara kawan-kawanmu yang suka berisik, sok asik, tapi menyelamatkanmu dari kesendirian.

Yogyakarta, 2 Ramadhan 1439 H.

Thursday, March 22, 2018

Kerikil di dasar sepatu

"Sekar, aku mau nanya deh, mungkin ini sangat personal, tapi aku mau nanya, kamu... kamu pernah nggak sih, merasa sepi?" 

Pertanyaan itu datang seperti sebuah kesadaran akan kerikil yang mengganjal di dasar sepatu. Kerikilnya sudah agak lama berada di situ, tapi aku sebagai pemakai sepatu menolak untuk menggubrisnya. Tak peduli kakiku mungkin luka dan berjalan dengan sepatu itu jadi tak nyaman. Aku hanya memutuskan untuk tidak memikirkannya.

Sore itu seakan-akan sepatuku berubah warna jadi transparan, dan orang mungkin dapat melihat kerikil yang ada di sana, di antara jari-jari kakiku. Mereka bisa saja pura-pura tidak lihat, sama seperti aku yang bersikap abai pada kakiku sendiri. Tetapi... si penanya berbeda. Sepengetahuanku, ia memang seseorang dengan rasa ingin tahu yang besar. Ia punya tekad yang kuat dan cukup keberanian untuk menuntaskan keingintahuan di benaknya.

Meski kerikil di dasar sepatuku amat kecil dan buruk rupa, ia melihatnya. Maka, demi karakter yang sudah kusebutkan tadi, ia memutuskan bertanya.

Pernahkah merasa sepi?
Bagaimana aku menjawab pertanyaan semacam itu?

'Sepi’ itu, apa maksudnya? Apakah tentang hidup sendiri, setelah bapak dan ibu berpulang? Rasa sepi karena berpisah dengan adik-adik kandungku yang diasuh sanak di lain kota? Ataukah maksudnya, dijangkiti sepi ketika teman-temanmu sibuk sendiri? Berharap segera bertemu seseorang--teman hidup, tempat berbagi?


Si penanya menunggu jawabanku. Tetapi aku masih berpikir;
kalau kuberitahu ia, rasa ingin tahunya akan terpenuhi.
Lalu, apa? Adakah si penanya punya rencana?

Sial. Luka di kakiku berdenyut nyeri. Basah dan berdarah. Menggenang hingga ujung sepatu.