Komentator hidup

Chak, malam mingguan kok sama temen cewek sih? ;
Nonton film sama temen cewek? ;
Nongkrong sambil ngerjain tugas sama temen cewek juga? ;
Touring jauh-jauh kok sama temen cewek? ;
Nonton konser? Cari buku? Jalan-jalan sama siapa aja? Temen cewek? ;
Sama cowoknya kapan?

Hmmm. Senyum aja tiap dapet komentar macam tu. Biasanya komentar datang setelah aku membagikan kepada publik tentang kegiatanku pada suatu waktu: jalan-jalan, makan, nongkrong, nonton konser, ke bioskop (yang ini jarang-jarang sih), ke toko buku, etc...

Mau tau satu-satunya jawaban yang kupersiapkan untuk merespon pertanyaan terakhir? Sama cowoknya kapan?

   >> Kapan yaaa abisnya ngga ada yang ngajak :(

Haha, bukan.

   >> Bukan urusan lo, terserah gue dong mau ke mana-mana sama siapa.

Bukan juga.

Wkwk. Gini yang bener. Besok, kalau sudah halal. :))

Lesson learned
(1) Pada dasarnya semua adalah pilihan, mau ngapa-ngapain sendiri kek, sama temen cewek/cowok kek. Pilihlah mana yang mau kamu jalani, sesukamu. Toh ke mana-mana sendiri bukan berarti nggak punya temen, ngapa-ngapain sama temen sesama jenis bukan berarti orientasi seksualmu adalah penyuka sesama jenis.
(2) Kalau nggak mau dapat komentar, lebih hati-hatilah membagikan kehidupanmu pada publik. And you'll have all your problem solved!


Posted in , , , , , , , | 3 Comments

Kalau pun ada kuncup yang tak mekar

[ Sebuah posting sudah lama yang mengendap sebagai draft. Sudah saatnya menjadikan postingan ini terbaca. Didorong oleh kecintaan terhadap puisi yang semalam diketuk kembali oleh Sanggar Lincak, hehe. ]

So... here it goes. Draft postingan sejak bulan April:

gambar dari sini

Saya baru nemu puisi bagus. Diposting di laman kibul.in. Puisi karya Sukandar.
Kalau pun ada kuncup yang tak mekar
: murniwangi

Kalau pun ada kuncup yang tak mekar, itu sebab luka cuaca,
gegar musim duhai jelita. Kelak ia akan bergegas datang lagi
tanpa gusar mengantar ruh-ruh yang tanggal karenanya

Ingatlah jelita, tak ada rindu yang terlantar, ia pun serupa
kuncup bunga yang akan senatiasa dikecup musim, menjadi
yang semestinya


Yk, 2007

Beeeeeh. Merinding nggak? Saya merinding. Semoga rindu saya lekas punya alamat tujuan. Kan, dia bilang, 'ingatlah jelita, tak ada rindu yang terlantar'. Hmmm. Wkwk.

Masih banyak puisi lain dari Pak Sukandar di laman itu. Ada yang ditujukan untuk istri, kisah perjuangan seorang ibu, ada pula yang memasukkan unsur cerita wayang. Berdasarkan catatan redaksi yang menyertai postingan itu, puisi-puisi Pak Sukandar memang bercerita tentang hidup dan perjuangan menjalaninya. Langsung saja menuju kibul.in kalau ingin baca lebih banyak, ya.

Anyway, kibul.in itu laman apa, sih? Dengan tagline 'bicara sastra dan sekitarnya', situs ini menyediakan ruang untuk menyuarakan karya-karya yang unik, kerap dikesampingkan, tetapi punya nilai penting dalam kehidupan. Karya-karya tersebut dapat berupa puisi, cerpen, opini, esai, maupun resensi. Keterangan ini saya teruskan dari tab 'Tentang' di kibul.in sendiri hehehe. Nah, yang saya tahu, kreator situs kibul.in adalah beberapa alumni Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Kesimpulannya? Saya kepingin upgrade bahan bacaan. Di satu sisi biar nggak melulu tercekoki fiksi romance, di sisi lain juga karena ingin cari bacaan yang nggak seberat materi antropologi. Kalau punya rekomendasi bacaan, cetak maupun maya, share ke saya boleh dong yaaa!

Posted in , , | Leave a comment

Menuju 20 tahun

"Tahun ini rasanya berjalan cepat banget deh. Kalian merasa gitu juga nggak?”

Itu kata-kata Mbak Atha siang tadi. Kemudian, tambahnya, "mungkin karena aku lumayan menikmati apa-apa yang terjadi tahun ini. Nggak kayak tahun kemarin, buatku rasanya ambyar.”

Hmmm gitukah mbak? Asumsinya boleh jugaa~

Tahun 2016-ku juga ambyar. Dan aku setuju, tahun ini berderap begitu gegas. Pertengahan tahun telah terlampaui. Bahkan tiba-tiba Agustus nyaris menyentuh akhir! Bulan depan, bulan lahirku, genap dua puluh tahun aku hidup sebagai insan bernyawa.

Dua puluh, tjoy! Bukan maeeeen. Sekilas mungkin biasa saja. Tetapi semakin ditandai dalam kepala, semakin menurutku 20 bukan sekadar angka. Usiaku semakin matang. Harusnya aku kian menyongsong kedewasaan. Lebih bijak menggunakan logika, mengolah rasa, bertindak untuk menyikapi dunia. Harus pula mau menyisihkan ruang di kepala untuk memikirkan masa yang akan datang--dan bukannya kelewat asyik dengan keinginan bersenang-senang. Aku harus sadar, masa-yang-akan-datang itu, betul-betul akan datang dengan segera!

Wuidih, betapa nervousnya. Kira-kira Sekar-umur-20-tahun akan jadi pribadi yang bagaimana, ya? Hmmm. Barangkali soal kepribadian nggak akan banyak berubah. Lagipula pada dasarnya aku bukan seorang yang menyukai perubahan drastis. Satu hal yang dapat aku pastikan, aku ingin terus belajar menjadi lebih baik. Ya, Sekar, ya? *sambil menatap wajah yang dipantulkan cermin*


Posted in , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.