Apakah menurutmu saya berkata bohong pada abang burjo?

Ada dua bakul yang jadi langganan saya beli bubur kacang ijo di pagi hari: bapak yang jualan di pertigaan alun-alun utara—dari arah kantor pos, SD Pangudi Luhur ke timur; dan mas-mas yang manggon di jembatan Serangan, utara jalan. Keduanya jualan burjo pakai gerobak dorong. Bakul yang di alun-alun itu dulu adalah langganan almarhum bapak juga. Sedangkan mas-mas di jembatan Serangan, saya sering mampir karena searah dengan rute pulang usai mengantar adik paling kecil (yang dulu) sekolah di SMP Muga.


Beberapa bulan terakhir, saya tak lagi sering jajan bubur kacang ijo. Sampai kemarin sepulang dari Semarang, satu pekan setelah lebaran. Adik-adik ikut pulang, artinya ada banyak mulut dan perut yang butuh makan. Maka, pagi itu, saya beli soto Surabaya untuk sarapan. Dilanjut dengan belanja sayur bahan sop untuk makan siang, dan, mumpung naik motor, sekalian saja mampir tumbas bubur kacang ijo di jembatan Serangan.

Mas-mas bakul burjo sedang duduk menghadap gerobaknya, membaca surat kabar, memunggungi arah di mana saya memarkirkan motor.

“Burjo tiga, dibungkus nggih, mas.” Saya berkata dari sisi samping. Si mas meletakkan korannya, lantas sigap berdiri, dan menanggapi saya.

Sebelumnya, ia menolehkan kepala ke belakang, seperti ingin tahu kendaraan yang membawa saya ke situ. Biasanya, orang-orang parkir motor tepat di samping gerobak, sehingga si mas bisa langsung bersiap melayani. Tetapi, saya muncul dari belakang, yang mengakibatkan—dugaan saya—ia merasa dikejutkan (hehe ya maaf lho mas.)

“Lama nggak kelihatan, mbak,” ujar si mas sambil menciduk burjo porsi pertama. “Campur seperti biasa?” Maksudnya, memastikan apakah saya mau bubur kacang ijo dicampur ketan hitam, atau salah satunya saja. Saya meng-iya-kan kalimat kedua.

“Sibuk kuliah, mbak?” tanya si mas lagi, sebab saya belum menanggapi kalimatnya yang pertama.

Saya nyengir, “nggak juga. Kemarin libur lebaran, saya nggak di Jogja.”

“Ooh ya ya ya.”

Jeda.

“Motor pitungnya di mana, mbak?”


Ah. Saya tahu. Saya tahu si mas akan menanyakan perihal kendaraan yang saya bawa. Saat itu, saya pakai motor matic, karena si pitung sudah pasti sulit di-starter setelah lama ditinggal dan dibiarkan menganggur.

“Pitungnya ada di rumah. Saya pakai matic saja biar cepat.”

“Ooh ya ya. Bapaknya belum bosan sama pitung, ya.”

“Ehe… iya.”

“Malah bagus, mbak, pitung kan antik. Kesukaan bapaknya memang unik.”

Saya nyengir lagi. Tiga porsi burjo sudah diplastiki. Waktu akan membayar, saya sempat lupa kalau harganya empat ribu rupiah per porsi. Saya kira masih tiga ribuan. Masnya mengingatkan dengan tampang sedih, plus ekspresi hari-gini-mbak-plis-siapa-yang-jual-burjo-tiga-ribuan.

Usai mengucap matur nuwun, saya pun berlalu dari sana dan berkendara pulang.

Aduh, mas bakul burjo. Maafkan saya. Di satu sisi, mas ini adalah salah satu dari orang-orang yang saya temui dalam penampilan saya yang paling jujur: pagi hari, belum mandi, berpakaian sekadarnya. Di sisi lain, mas juga mendengar ketidakjujuran saya pagi itu.

Bapak saya, yang suka koleksi pitung itu, sampun tilar, mas.


Saya… tidak sepenuhnya bohong, kan? Ketika ditanya, ‘bapaknya belum bosan sama pitung, ya,’ saya nyengir saja… karena, sampai bapak wafat memang pitungnya masih komplet.

Saya hanya memilih tidak mengatakan itu. Bahwa sosok yang sedang dibicarakan ini sudah tiada.

Besok lagi saya tumbas burjo, kita ngobrol yang lain saja ya, mas. Tentang Kali Winongo, tips dagang burjo, apa saja selain topik yang membuat saya memilih jalan ketidakjujuran.

Soalnya, saya tidak terlalu suka menceritakan perihal kepergian orangtua saya, kecuali jika saya yakin, lawan bicara mampu merespon lebih dari ungkapan turut prihatin dan raut iba. Saya memilih membiarkan orang lain dengan apa yang mereka tahu, karena dalam beberapa situasi, saya rasa, memang lebih mudah begitu.

--
Hem. Cerita tumbas burjo aja panjang gini, ealah Chak :(

Terima kasih sudah menyempatkan baca. Sekarang kamu tahu, salah satu jajanan yang saya suka. Wkwkwk.

Regards,

Posted in , , , , , | Leave a comment

Tulung

Tulung banget saya pengin posting banyak tapi nggak bawa laptop. Sudah pindah tiga kota tanpa laptop di tas (gaya banget hee!), maksudnya biar lebih bersosialisasi sama apa yang nyata di hadapan. Tapi ternyata butuh juga ya untuk ketik-ketik apa yang ada di kepala, kasihan kepala saya kalau kebanyakan muatan jangan-jangan nanti meledak. Beberapa sudah dituangkan ke notes di hp, ini coba posting via hp tapi nggak enak :(

Besok tolong diingatkan ya, saya banyak utang tulisan. Semoga rencana memposting tidak berakhir wacana.

Selamat merayakan hari yang fitri, guys.

Eh kayak ada yang baca blog ini aja :(

*kasih signature Sekar seperti biasa di akhir postingan*

Posted in , | 2 Comments

How everything goes on: paruh awal Ramadhan 1438 H

Lagi jamaah Maghrib, kitanya malah ngemper di pinggir jalan. @ Jl. Jogokaryan. (dok. pribadi)
15 Ramadhan 1438 H / 10 Juni 2017.

Separuh Ramadhan berlalu. Dibuka dengan kesibukan UAS yang memaksa mata melek sampai sahur, merem sejam setelah subuhan, bangun lagi buat merampungkan yang kurang-kurang... terus ke kampus menyerahkan hasil kerjaan semalam suntuk itu sambil minta paraf pengawas ujian. Deadliner parah, memang. Instruksi tugas sudah diberikan jauh-jauh hari, tapi eksekusinya selalu mepet batas pengumpulan. Mau janji 'semester depan nggak bakal gini lagi deh' juga percuma, selama masih pakai prinsip the power of kepepet wkwk.

Mohon bagian itu jangan ditiru ya saudara-saudara.

Kehilangan waktu istirahat, terforsir tenaga dan pikiran buat ngerjain sesuatu yang harusnya bisa dicicil dulu-dulu tuh nggak enak. Dan bolehkah saya lanjut curhatnya tentang hal nggak enak apa lagi yang saya rasakan Ramadhan ini?

Adalah rasa sepi. Berhubung Naya sudah ikut tante di Semarang, saya menjalani bulan puasa berdua saja dengan Tya. Kalau nggak ada janji buka puasa di luar, kami buka berdua saja di rumah. Begitu juga dengan santap sahur. Entah sudah berapa alarm yang missed, kami baru berhasil melek jam setengah empat. Tergopoh-gopoh menyiapkan nasi dan lauk, cepat-cepat menghabiskannya sebelum imsak.

Saya dan Tya jarang menyalakan televisi saat sahur. Kami biasa santap sahur dalam senyap, cukup senyap sampai yang terdengar hanya sayup sholawatan dari masjid sekitar rumah. Kadang terdengar juga denting piring tetangga sebelah. Kalau keheningan sudah sampai pada puncaknya, kami akan mulai berbincang--hingga senyap terusir oleh suara kami sendiri.

Setelah derita UAS berakhir, saya membantu Tya melengkapi persyaratan mendaftar SMA. Tya mengumpulkan lembar sertifikat untuk prestasi yang pernah dia peroleh, lantas saya membawanya ke dinas pendidikan untuk dilegalisir. Kartu Keluarga dan akte kelahiran Tya juga perlu disahkan di kantor catatan sipil--Tya ikut serta saat mengurusnya. Dia bilang, dia belum pernah pergi ke kantor catatan sipil untuk mengurus berkas semacam itu. Batin saya: tentu saja, dik. Waktu saya seusiamu, saya juga mana tahu prosedur mengurus berkas administratif macam ini. Bapak yang melakukannya. Kali pertama saya berurusan dengan kantor capil adalah untuk mendapatkan surat kematian bapak tahun lalu.

Kita sering terlambat menyadari pentingnya pengetahuan akan sesuatu, kan? Kita baru mempelajarinya saat dihadapkan pada situasi yang mendesak.

Kembali lagi ke pertengahan Ramadhan yang terasa sepi. Eh, ya... cerita bagian itu sudah habis. Syukurlah saya masih punya sisi lain yang cukup mencerahkan. Ramadhan memberi kita kesempatan untuk bertemu teman-teman terdekat. Pertama-tama, datang ajakan ngabuburit dari sahabat saya masa SMP. Sudah lama kami tak bersua, sehingga pertemuan singkat kemarin rasanya begitu berharga. Dua tahun terakhir, cari takjil di pasar tiban Jogokaryan seperti sebuah agenda yang otomatis terealisasikan. Ya Hid, Za? Sayangnya nggak fullteam, gara-gara miskom sama Aranda waktu itu. Tahun depan deh ya.

Beberapa hari setelahnya, ganti kawan-kawan SMA yang menginisasi kumpul bareng, sekalian bikin surprise kecil-kecilan buat salah satu di antara kami yang ulang tahun bulan Juni. Saat itu kami nggak ada rencana menghabiskan waktu sampai berbuka, tapi karena banyak molor di sana-sini, sekalian saja kami buka puasa di rumahnya (kesannya jadi kaya 'malak', hahaha. Tapi yang punya rumah nggak merasa dipalak, ya kan Flo? Habisnya aktivis UKM, susah minta waktunya kalau nggak digrebek rumahnya. Peace, Flo).

Ngakunya kuliahan, tapi kelakuan kaya anak SD. (dok. pribadi)
Waktu itu posisi UAS belum kelar loh saudara-saudara! Sudah seenaknya saja kongkow-kongkow kawan SMA :( saya masih punya tanggungan dua mata kuliah yang menunggu dituntaskan, salah satunya harus dikerjakan berkelompok. Inilah proses editing film yang kami rekam di Rumah Pelayanan Lansia Budi Dharma; kami beri judul Menua Bersama. Dalam rangka editing itu, teman-teman saya menginap di rumah. Susah payah mengidentifikasi rekaman audio, meng-import video sesuai alur, begadang sampai sahur, itu pun terpaksa kami hentikan dulu karena pada beralih menggarap paper individu HAHAHAHA parah banget pokoknya! Beberapa jam sebelum batas pengumpulan, kami masih pontang-panting menyelesaikan editing sampai akhirnya bisa mulai rendering project ke format MP4.

Itu sebuah cerita tentang penderitaan dan perjuangan UAS semester genap, jadi di mana letak 'mencerahkan'-nya? Hehe, mbuh. Saya senang saja waktu teman-teman pada nginap. Jam tiga keluar cari lauk sahur, terus makan sama-sama. Yang makan Tya dan teman-teman sih, saya memilih manfaatkan waktu buat tidur karena sedang nggak puasa. :))

WOW postingan ini sudah panjang sekali, cerita saya belum kelar juga. Lanjut nggak?

Lanjut.

Sehari setelah UAS rampung, saya bisa bernapas lega, jadilah Wonder Women yang sedang tayang di bioskop sebagai pelarian. Bersama Tya dan seorang kawan SMA yang lain, kami beradu dengan aspal yang panas menuju Empire XXI... untuk mendapati bahwa Wonder Women dengan jam tayang terdekat tidak menyisakan seat dengan jarak pandang aman dan nyaman :") kami pun kembali ngentang-ngentang pindah ke Cinemaxx, masih hampir satu jam sebelum filmnya main pula, akhirnya kami keliling toko buku impor dan kuat-kuatin iman di BreadTalk buat beli oleh-oleh orang rumah si teman saya :")

Terakhir nih terakhir. Kemarin sore, saya dan Hamima nonton Frau featuring Sekar Sari di Rumah Budaya Siliran. Emang dasar mahasiswa sekarang punya masalah dengan ketepatan waktu ya, kami sampai sananya kesorean, mbak Sekar sudah nggak nampil lagi. Kami malah dapat satu lagu Frau duet sama mas-mas Sisir Tanah, lagunya Lagu Bahagia. Ditutup dengan solo Frau membawakan Tarian Sari, sukses bikin saya merinding. Sepuluh menit sebelum bedug Maghrib, saya dan Hamima tancap gas... lagi-lagi menuju Jogokaryan yang stok takjilnya tiada terbatas wkwkwkwkwk.

Mbak Lani Frau u u u u saya adik tingkatmu di antro loh! (dok. pribadi)
Baiklah, sampai di sini dulu. Akan ada cerita lanjutan, karena masih ada paruh akhir bulan Ramadhan. Saya tidak mau merasa sepi lagi, maka lusa saya siap bertolak naik kereta... ke mana? Nantikan postingan berikutnya! :)

Regards,

Posted in , , , , , | 2 Comments

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.