Pages - Menu

Tuesday, February 13, 2018

mata yang tidak tersenyum

perempuan itu habis terluka, aku tahu dari matanya
                     mata yang tidak lebam, tapi muram
        mata yang sayu. mata yang
   tidak tersenyum.

ia mungkin tidak pernah bercerita
                                         tentang luka,
                                    tentang duka
ia menghindari membicarakan perihal rasa sakit,
   atau betapa ia terkikis sedikit
                                               demi
                                                    sedikit
      tertatih mengarungi masa-masa sulit.

ia tidak pernah mengatakannya,
                                                 tetapi aku tahu.

aku tahu,
sebab aku pernah melihat mata yang sama
                     : mata yang tidak tersenyum
                     adalah mataku, saat aku berkaca

jogja, 13 februari 2018
tentang perempuan berwatak sulit, yang ingin kutanyai, tapi tak berani
mungkin karena aku takut gagal memahami, mungkin juga
karena aku masih sibuk
                           dengan watak sulitku sendiri.

Thursday, January 25, 2018

Agar tidak pikun dini

Kalau ada satu sifat jelek yang sudah pasti membawa dampak merugikan bagi pelakunya, bahkan berpotensi mendatangkan marabahaya, hmmm, menurutku itu adalah sifat malas!

Malas bangun pagi, rezeki untuk sehari penuh keburu menguap. Malas gosok gigi waktu kecil, nanti tuanya ompong dan nggak bisa menikmati jagung bakar... atau jagung rebus. Segala bentuk kemalasan tuh berbahaya! Tetapi, di sini aku membicarakan kebiasaan malas melakukan sesuatu yang berakibat kita jadi mudah lupa: malas mengarsipkan hal-hal penting.

Maksudnya bukan hal-hal penting yang sudah ada bentuk fisiknya, seperti tagihan listrik, surat berharga, catatan utang di warung, dan sebagainya. Hal-hal seperti itu, kan, dengan mudah kita ambil dari tempat penyimpanan, setiap kali kita butuhkan. Bagaimana dengan hal-hal penting yang kita temui sehari-hari, yang dengan mudah terlewat jika kita lalai memperhatikan?

Seringkali, hal-hal penting terkandung dalam sebuah peristiwa. Maka, kita berusaha mengabadikan peristiwa untuk mengekalkan hal penting di dalamnya. Caranya beragam: bisa dengan menarasikan peristiwa itu lewat tulisan, membuat rekaman visual, atau rekaman suara. Mengabadikan momen secara visual adalah yang paling lazim kita temui saat ini. Aku pun melakukannya, memotret dan merekam hal menarik yang kutemui setiap waktu. Tetapi, buatku yang juga senang mengarsipkan sesuatu lewat tulisan, ada yang kurang rasanya jika sebuah peristiwa tidak dinarasikan secara tertulis.

Menarasikan peristiwa ke dalam tulisan berbeda dengan mengarang. Tantangannya adalah bagaimana sebuah peristiwa dapat terdeskripsikan dengan baik. Segala detail yang tertangkap indera adalah bekal untuk membuat narasi tertulis. Nah! Dalam proses mengingat-ingat detail itulah, paling fatal jika terserang rasa malas! Sudah terpikir ingin mencatat peristiwa ini, peristiwa itu, tapi terus menunda hingga akhirnya lupa.

Urgensi membuat dokumentasi tertulis kupelajari di kelas Mas Pujo—dosen antro paling bijak sedunia-akhirat. Olehnya, kami diajari cara menyusun dan menganalisis data harian agar mendukung penulisan artikel hasil penelitian. Proses memperoleh data harian nyaris sama seperti menulis diary: segala informasi yang dianggap penting harus segera dicatat dan dideskripsikan serinci mungkin, jangan ada yang terlewat. Sama sekali tidak boleh malas, sebab ingatan manusia sangat terbatas. Data harianlah yang jadi penolong ketika riset di lapangan berakhir, lalu tiba saatnya duduk di depan komputer untuk tahap analisis—sebelum akhirnya mengungkap hasil penelitian.

Hehehehe serius amat ya jadi ngomongin penelitian.

Tapi ini memang perkara serius...

Aku menyesal telah abai menyusun 'data harian' atas peristiwa (yang kuanggap) penting sehari-hari. Menyesal tidak langsung membuat review buku yang dibaca, film yang ditonton, atau diskusi yang diikuti. Tidak langsung mengabadikan sebuah perjalanan ke dalam catatan. Bahkan, menunda-nunda menuliskan gagasan kecil yang muncul di kepala... padahal mungkin saja, esok lusa gagasan itu lebih bermakna.

Semua karena termakan sifat jelek bernama ma-las!

selain dokumentasi tertulis, dokumentasi visual juga mengekalkan ingatan | credit: here

Dulu, aku punya scrapbook sederhana tempatku mengarsipkan segala yang kuanggap penting dan menarik—versi Sekar remaja. Aku berencana membuatnya lagi, sebagai arsip Sekar versi dewasa (hehehe dewasa). Harusnya arsip momentum di dalam scrapbook itu sudah dimulai sejak beberapa bulan lalu, tepat saat umurku menginjak angka 20. Tapi, coba tebak, aku kena kutukan dari sifat malas dan suka menunda-nunda!

Hah, memalukan.

Kupikir, setiap catatan pasti bermanfaat, setiap arsip pasti ada gunanya. Paling tidak untuk diri sendiri. Jadi sumber rujukan di kemudian hari, sehingga diperoleh pemahaman, pembelajaran, apapun itu—lagi dan lagi. 

Tapi nih ya... kalau rencanaku bikin scrapbook ini sampai pada temanku yang paling cablak sejagad raya, kemungkinan aku bakal diledeknya: apa-apa dibikin arsip, pantesan gampang kelingan sing biyen-biyen! (mudah teringat yang dulu-dulu, alias susah move on). Hah! Terserah, terserah saja. Barangkali dengan begini bisa terhindar dari pikun di usia muda!


Cheers,

Wednesday, January 24, 2018

Kelas kepenulisan dan kenalan baik

Kita tahu sedang berhadapan dengan orang baik—ketika menyadari berhadapan dengannya memberikan kehangatan di hati kita, benar kan? Lewat sorot bersahabat, juga obrolan ringan namun berkualitas. Sesingkat apapun sebuah pertemuan, kita bisa merasakannya—ia seorang berhati baik, dan ketika tiba saat berpisah, yang membekas adalah kesan baik.

Itu yang aku rasakan tentang Mbak Hesty. Kami bertemu di sebuah kelas kepenulisan (kalau bukan disebut pelatihan jurnalistik) dari sebuah surat kabar harian versi online. Mbak Hesty berasal dari Pekanbaru, ia seorang mahasiswa komunikasi dengan konsentrasi jurnalisme media yang tengah mengambil SKS untuk kerja praktik. Yogyakarta dipilihnya sebagai tujuan magangnya.

Perjumpaan kami dapat dihitung dengan jari—seluruhnya dalam forum kelas jurnalistik, kecuali pertemuan terakhir kami. Forum-forum tersebut utamanya diadakan dalam rangka briefing atau evaluasi liputan. Jumlah peserta mulanya belasan orang, lama-lama kian menyusut karena ada yang memutuskan tak lanjut. Mretheli satu per satu. Termasuk... aku :(

Periode kelas jurnalistik ini dimulai November lalu, tetapi Mbak Hesty sudah mulai magang sejak beberapa waktu sebelumnya. Ia dipatok target tulisan lebih banyak daripada peserta lain yang memang bukan magang dari kampus. Tapi, eh, nggak juga ding! Peserta kelas jurnalistik akhirnya juga diberi target yang rinci untuk mengukur perkembangan dan kompetensi. Inilah yang membuatku pribadi kewalahan—tak mampu memenuhi target bulan pertama. Habisnya, barengan UAS di kampus, disusul liburan semester. Buyar sudah target tulisan. Hehehe. Alasan aja :p

Awal Januari, Mbak Hesty sudah selesai magang. Sementara itu, dari penyelenggara kelas jurnalistik belum ada agenda meeting lagi. Mbak Hesty mengirimiku chat yang isinya mengajak ketemuan sebelum ia bertolak ke Pekanbaru. Yok, mbak! Mumpung aku sedang di Jogja. Kemarin baru pulang dari backpackeran ala-ala, jawabku.

Aku mempersilakan Mbak Hesty menentukan tanggal dan lokasi ketemunya. Sabtu siang, di tempat nongkrong yang terkenal di Kotabaru, pintanya. Ternyata, bukan aku saja yang diundangnya dalam pertemuan siang itu. Ia sudah mengatur jadwal untuk menemui semua peserta kelas jurnalistik. Maka pada Sabtu siang menjelang sore, di lokasi yang disebutkan, berkumpullah aku, Rahina, dan Nurul menunggu Mbak Hesty. Kumpulan yang terhitung teman baru, tetapi kemudian riuh membicarakan berbagai topik hingga tak sadar waktu.

Inti pertemuan itu: Mbak Hesty berpamitan. Dalam satu atau dua minggu, ia akan mengurus berkas magang, lalu kembali ke Pekanbaru. Katanya, ia pasti akan rindu Jogja. Rindu orang-orang yang ditemuinya. Kubilang, semoga Jogja memberikan kesan baik! Selamat bikin laporan magang, lalu nyusun Tugas Akhir, kami doakan lulus dengan berbinar! 

Kemudian Mbak Hesty benar-benar pulang (ya iyalah hehehe masa bohongan). Aku kembali mendapatkan chat darinya ketika posisiku di Semarang. Hingga beberapa hari lalu, kami masih berbalas pesan, bertukar dukungan, juga saling mengutarakan kesan. Sejujurnya aku takut disangka sok kenal sok dekat oleh teman-teman Jogja, kata Mbak Hesty. Kalau direspon baik ya syukur, kalau enggak juga nggak apa-apa.

Nama lainnya SKSD kali ya, mbak, tapi aku menyebutnya 'friendly'! I admire you for that, the way you built relation with people, balasku. Beneran lho, aku selalu mengagumi mereka yang dapat menjalin pertemanan dengan baik. Tak hanya saat memulai, tapi juga gigih mempertahankannya.

Terakhir, ujar Mbak Hesty di kotak chat: Idk why, I can't wait to hear your life story later, Cak. Kamu boleh cerita ke aku yaa. Apapun dan kapanpun, kalau kamu mau. 

Untuk ukuran seorang kawan baru yang bahkan dapat dihitung berapa kali sempat tatap muka, rasanya hangat sekali mendengar (atau membaca) kalimat Mbak Hesty. Banyak yang aku pelajari darinya. Kegigihan, kesederhanaan, juga bagaimana membiasakan berbaik sangka. Mbak Hesty sungguh seorang rendah hati yang menumbuhkan kembali rasa percaya: masih ada orang baik di dunia. Tetapi, aku khawatir, pribadi semurni itu semakin langka, dan aku harus bersyukur sempat dipertemukan dengan salah satunya.

Kalau kata quotes dari mana tuh ya: be a person you want to meet. Terus ada lagi, be the best version of you. Kurasa, aku sudah sering mengutuki kekurangan diri sendiri. Jadi, mengapa aku tak lebih banyak belajar pada orang-orang di sekitarku, yang memiliki keteguhan hati, dan memancarkan energi positif setiap hari?
mari berkawan baik | credit gambar dari sini

P.s. dear Hamima dan Linda—sobat antroku yang juga mengikuti kelas jurnalistik yang sama: dapat salam dari Mbak Hesty! Kalian sih keburu pulkam aja. Hehehehe btw, jiwa jurnalis kita kayaknya belum sampe tingkatan sigap-liputan-dan-kejar-target-hardnews, guys. Baru sampe kejar deadline review mingguan dan blogging aja?!?! *put emoticon ketawa miris here* 

Regards,