Ice cream on gloomy days

“Kau pernah bilang, kedai kopi di belakang kampusmu menyediakan kopi terbaik.”
“Aku memang pernah bilang begitu.”
“Dengan harga terjangkau kocek mahasiswa proletar macam aku?”
“Tepat. Lagipula kau sebenarnya tidak proletar-proletar amat.”
“Kita ke sana, kalau begitu.”
“Aku tidak ingin kopi—
“Pasti ada minuman lain—
“Aku sedang ingin es krim.” 
“Di cuaca begini? Kau bercanda? Gerimis rapat sejak dini hari, langit muram, kita butuh minuman panas—
“Aku tidak akan ikut ke kedai kopi.” 
Ck. Payah. Untuk apa aku menemuimu kalau—
“Untuk menemaniku makan es krim?”
“Dasar keras kepala. Tapi kau tahu aku menyukai tantangan.”
“Tentu aku tahu. Dan kau sebaiknya mencoba tantangan itu. Kedai gelato?”
“Terlalu banyak pilihan rasa.” 
“Memang itu yang mereka jual, bodoh.”
“Es krim stik saja, yang dijual oleh minimarket.”
“Sungguh tidak elit— 
Pilih yang cone.”
“Es krim cone.”
“Es krim cone di cuaca dingin.”
“Terbaik!”

+++

Saya pernah bilang, kan, kalau saya pengin nulis fiksi-romance lagi. Sudah dua draft saya bikin dengan judul yang sama, topik yang sama seperti di postingan ini, tetapi selalu mandeg di tengah jalan. Bosan dengan gaya penceritaan saya yang begitu-begitu saja.

Tapi, gagasan soal es krim di hari-hari hujan terus mengganggu! Rasanya ingin sekali menuliskan itu, meskipun bukan dilatarbelakangi pengalaman pribadi.

Pada akhirnya, gagasan itu menemukan wujudnya dalam dialog satu babak ini. Deskripsi latar, suasana, penokohan, gestur, saya serahkan seluruhnya pada imajinasi pembaca. Oke? Sip!

Posted in , , | 2 Comments

Halo, Pak

Halo... Pak?

Jogja sedang dingin-dinginnya. Angin malam masuk lewat celah atap rumah kita yang tak pakai eternit, langsung langit-langit genteng yang tinggi saja. Bapak belum tahu, kan, jendela dekat meja makan pecah kacanya. Dengan bantuan tetangga, kaca diganti anyaman kawat agar tikus tak masuk seenaknya. Angin lah yang kemudian menyelinap berlomba-lomba, menembus tirai dan sampai pada badanku yang terduduk di ruang tengah, di depan televisi yang berminggu-minggu tidak nyala.

Perutku jadi mulas, Pak, ingin kentut melulu.

Dulu selalu bapak yang mudah terkentut-kentut, suaranya nyaring tapi tak bau.

Halo... Pak?

Sekaten baru mulai dan langsung ramai, suara kereta-keretaan dan tong setan itu terdengar jelas sampai ke rumah. Kalau pulang lewat alun-alun pasti kena macet, apalagi malam hari pas tidak hujan dan orang-orang tumpah cari hiburan. Parkir motornya makan separuh ruas jalan. Ingin terbang saja rasanya, biar bebas dari kemacetan.

Tak ada Sekaten pun jalanan Jogja sudah ramai, Pak, apalagi arah menuju kampus. Berangkat kuliah sering terburu-buru. Agak ngebut biar mempersingkat waktu, tetap patuh rambu-rambu. Barangkali geleng-geleng bapak lihat cara berkendaraku, anakmu badannya kecil, motornya besar, sok-sokan mau nguasai jalanan.

Jalan ceritaku lompat sana-sini ya, Pak?

Tapi bapak dengar, kan?

Dari jauh sana, bisa dengar?

Sungguh banyak cerita, kali ini dicukupkan dulu. Betapa Sekar rindu, kelewat rindu sampai meracau rangkai monolog semu.


Yogyakarta, 9 November 2017  |  00.49 WIB


Posted in , , , , , | 2 Comments

Reality vs virtuality

pic from here
Saya nggak yakin mana yang lebih dulu terjadi: saya merasa pikiran keruh gara-gara berlebihan mengkonsumsi konten-konten di media sosial, lalu kuliah Antropologi dan Teknologi semakin mempertebal perasaan ituATAU kuliah antro & tekno-lah yang lebih dulu membentuk pemikiran saya untuk lebih hati-hati menempatkan diri antara reality vs virtuality. Haduuu. Wkwk.

Terhadap sesuatu yang namanya media sosial, terus terang saya sempat merasa agak kecanduan. Terutama platform yang menonjolkan konten-konten visual itu tuh. Rasanya nggak bisa kalau dalam sehari nggak buka aplikasi yang satu itu. Nggak harus unggah posting baru, yang pasti jari-jari selalu aktif scrolling timeline tiap ada waktu senggang. Nontonin postingan orang-orang yang terhubung dengan saya di media itu, nge-love-in foto-foto yang sesuai sama minat dan aliran saya.

Saya bahkan nggak repot-repot memperhitungkan seberapa berfaedahnya aktivitas di media itu buat kehidupan (nyata) saya. Faedahnya yaa, saya jadi punya sumber hiburan, bisa mengakses informasi dari akun-akun yang saya ikuti, atau sekadar jadi tau aja aktivitas teman-teman. Well, atau jangan-jangan ini hanya upaya pembelaan diri aja?

Kalau mau bilang kecanduan Instagram mah bilang aja kali, Chak. Nggak usah kebanyakan ngeles. EHHH, kesebut deh nama platformnya. Wkwk.

Suatu sore yang ngantuk, kuliah antro & tekno membahas tentang bagaimana orang-orang sekarang (terutama masyarakat modern di perkotaan) punya pilihan untuk hidup di 'dunia lain' bernama dunia virtual. Dunia yang memiliki aturan main tersendiri dalam membentuk relasi-relasi antarperan, di mana identitas individu bebas dikonstruksi ulang. Aturan main yang jelas berbeda dengan di dunia nyata tempat kita tinggal.

Hidup (di dunia nyata) bersifat sementara dan manusia bisa mati. Saat seseorang meninggal dunia, ia terlepas dari struktur di mana ia memiliki peran di dalamnya. Kehidupan berhenti bagi si mati, tetapi tidak untuk orang-orang di sekitarnya. Orang akan mengenang si mati, bisa dengan ziarah ke makamnya, meletakkan karangan bunga, atau mengirim pengharapan melalui doa.

ATAU, didukung teknologi masa kini, orang bisa saja menggali memori tentang si mati lewat foto-foto. Rekaman gambar bergerak. Rekaman suara. Akun media sosial. Segala hal berbentuk data yang merupakan versi digital dari entitas individu. Apa yang kami sebut digital self dalam pembahasan kuliah saat itu.

Dosen kami memantik diskusi dengan sebuah statement: orang membuat akun media sosial dan membangun dirinya versi digital, salah satu tujuannya agar ia tidak dilupakan, nanti, jika raganya sudah mangkat dari dunia (nyata). Peserta kuliah menanggapi dengan memberi contoh beberapa kasus di mana orang sudah meninggal namun akun media sosialnya masih ada. Besar kemungkinannya, orang-orang yang mengenal si mati akan tetap berkunjung ke laman akun si mati untuk memposting kalimat yang seakan mengajak ngobrol pemilik akun. 'Apa kabar, bro? Semoga tenang ya di sana', 'Selamat ulang tahun, aman kan di alam baka?', hal-hal semacam itu.

Waktu itu, saya lebih banyak menyimak dan tidak melibatkan diri dalam diskusi. Alasannya karena saya mencoba merefleksikan pada diri sendiri. Sesekali saya memang masih membuka profil almarhum bapak di Facebook untuk melihat apa yang orang posting di sana.

Sebentar, coba kita berhenti ngomongin kematian. Di dunia ini, apa sih yang ditakutkan oleh manusia hidup? ujar Mas Indy pada satu titik ketika peserta kuliah mulai kehilangan arah pembicaraan (halah). Mas Indy adalah dosen saya untuk mata kuliah antro & tekno.

Dua detik, kelas hening.

Manusia takut hidup sendiri, Mas, Mbak Fia menjawab dengan tone suara yang bulat dan mengalir tenang mirip Mamah Dedeh kalau lagi menanggapi curhatan. Manusia takut 'nggak dianggap', tambahnya.

Exactly. Tidak dianggap oleh siapa? Oleh orang-orang di sekitarnya? Mas Indy mengklarifikasi, lalu peserta kuliah mengangguk-angguk, mengamini dalam hati.

Saat itu, saya berpikir... AHHH benar juga?!?!?!?! Padahal saya udah mikir keras buat nemuin sesuatu dari pengalaman saya yang bisa dipakai buat menjawab pertanyaan sederhana itu, tapi kok ya nggak kepikiran sampai Mbak Fia mengucapkannya.

Manusia takut hidup sendiri, takut keberadaannya nggak dipedulikan oleh orang-orang di sekitarnya... haaa saya banget! Saya yang dikit-dikit ngerasa nggak enak hati, ketika teman yang dulunya sering ke mana-mana bareng tiba-tiba nggak pernah bersinggungan lagi. Ada atau tidaknya saya, rasanya nggak dipedulikan lagi. Jika bertemu di keramaian, dia mengobrol dengan teman yang lain, tapi saya kok dicuekin. Ya ngobrol sih, kadang-kadang, tapi biasanya karena saya yang nimbrung duluan, dan kami bicara seperlunya saja. Saya jadi cemas, apa yang salah dari saya? Kenapa dia seakan nggak menganggap penting keberadaan saya? (Ya emang lo bukan orang penting, Chak.)

Pengabaian ini saya rasakan tak hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia virtual. Dulu, kalau ada apa-apa dia selalu menghubungi saya lewat aplikasi Whatsapp. Dia meninggalkan komentar di postingan saya di Instagram, atau membalas Instagram story yang saya unggah. Sekarang hal itu tidak dia lakukan lagi, dan saya jadi resah sendiri. (Atau saya aja yang terbawa perasaan, sih?)

Salah satu yang saya pelajari dari kelas antro & tekno adalah bahwa dunia virtual berdampak pada bagaimana orang menilai kualitas sebuah hubungan. HEHE makin njelimet yak. Maksudnya gini, dulu sebelum ada media sosial, orang bergaul secara langsung. Ada tatap muka dan interaksi yang bisa menunjukkan bagaimana hubungan antarindividu berjalan. Akan sangat jelas ketika orang menghindari bertemu denganmu, cukup membuat bertanya-tanya apa yang salah dari hubungan kalian.

Tapi, sekarang, hubungan yang terjalin di dunia nyata dan dunia virtual bisa jadi nggak sejalan. Orang bisa baik-baik aja di dunia nyata, tapi di dunia virtual menunjukkan sikap kayak 'saya bukan teman kamu'. Atau sebaliknya. Di media sosial rajin kasih likes untuk postingan kita, berkomentar sok akrab, tapi di dunia nyata nggak pernah menyapa sama sekali. Gitu deh pokoknya.

Teman saya ada yang tertarik mengamati realitas sosial ini, tentang dunia offline/online dan bagaimana orang sekarang terfasilitasi untuk punya pilihan 'wajah' yang mau ditunjukkan kepada publik. Khususnya di Instagram, di mana banyak bermunculan fenomena second account sebagai akun alternatif di samping akun utama seseorang. Ada yang menjadikan akun kedua sebagai galeri untuk menunjang hobi atau bisnis, ada pula yang memakai identitas palsu/anonim, serta di-setting privat. Anggaplah akun utama Instagram merupakan 'wajah' atau citra kedua dari seseorang di dunia nyata, bagaimana dengan akun kedua, ketiga, fitur close friend, dan akun-akun media sosial lainnya?

Menurut saya, orang yang nggak ambil pusing dengan urusan per-medsos-an ini tuh hebat! Nggak mudah untuk mengesampingkan kehidupan dunia virtual, di mana teman-temanmu semuanya berkecimpung di situ. Kadang, jika tak ada hasil untuk pencarian akun seseorang di dunia virtual, orang malah merasa aneh. Masa sih namanya nggak terdata di jaringan internet? Nggak punya akun media sosial apapun? Ada beneran nggak nih orangnya di dunia nyata? Dsb, dsb. Padahal, ya, suka-suka dialah mau bikin akun medsos apa engga. Mau pakai LINE apa engga. Mau daftar Instagram engga. Barangkali pilihannya hanya untuk hidup di dunia nyata, bukan di dunia virtual. Dia tidak berminat membuat dirinya dalam versi digital, dan kita harus menghargai itu.

Anyway, platform Blogger ini juga termasuk media sosial kan ya. Nggak ada jaminan apa yang saya tampilkan di sini persis merepresentasikan diri saya yang sebenarnya. Pusing kau Chak? Punya akun Facebook, Twitter, LINE, Whatsapp, Instagram, Blogger pulak?!

Bijaksanalah kau Chak. Pakai tu ilmu yang kaudapat dari kuliah Antropologi dan Teknologi, jangan sampai dunia virtualmu mengaburkan nurani dan kemanusiaanmu di dunia nyata.

Cheers,

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.