Pages - Menu

Thursday, December 6, 2018

Menjadi dewasa - bagian satu

Orang bilang, menjadi dewasa itu berat. Eh, bukan. Bukan orang yang bilang, tapi doodle yang saya lihat...
dari Instagram ilustrator favorit: Chibird
Sejak beberapa waktu lalu, saya berulang kali mengingatkan diri sendiri, "hayo, dewasalah, Echa." Saya membisikkan itu setiap hendak melakukan sesuatu yang bagi saya berdampak penting. Tidak ada yang menyuruh secara eksplisit kepada saya, sih, untuk jadi dewasa. Saya rasa, itu muncul melalui kesadaran diri. Sayangnya, tidak ada juga yang mengajari bagaimana menjadi 'dewasa' yang sebenarnya.

Dulu, bapak sering bilang begini, "Nduk, iki diberesi. Dibiasakke bar ngopo-ngopo langsung dibereske. Wong wis gedhe, kok." ("Nak, ini dibereskan. Biasakan setelah ngapa-ngapain langsung dibereskan. 'Kan sudah besar.") Konteksnya waktu itu saya (atau adik-adik) habis melakukan sesuatuentah menggelar mainan di lantai, atau mengerjakan PR di ruang tamu, kemudian barang-barang pendukung aktivitas itu kami tinggalkan begitu saja, tidak segera dirapikan.

Mungkinkah bapak sedang menanamkan pada kami, kriteria seseorang dapat disebut 'dewasa'? Kalimat yang bapak gunakan itu, menyebut kami wis gedhe, mengisyaratkan kalau orang yang "sudah besar" sebaiknya tahu apa yang harus dilakukan. Contohnya, kalau sudah selesai dengan sesuatu, rapikanlah, simpan peralatan di tempat semula. Anak kecil mungkin belum mengenal aturan seperti itu. Tetapi, jika kamu sudah "besar", sudah "dewasa", maka kamu harus tahu aturan. Salah satunya dengan bertangungjawab atas apa yang dilakukan.

Well, tampaknya kita telah menemukan satu kata kunci: tanggungjawab.

Saya pikir, seseorang layak disebut dewasa jika berani bertanggungjawab atas hidupnya. Berani bertanggungjawab atas keputusan yang diambilnya. HMM, bahkan persoalan 'mengambil keputusan' ini boleh jadi kriteria tersendiri untuk menandai kedewasaan?

WOW, mendadak pusing, nih. Kembali ke kalimat pertama, jadi dewasa itu berat. Peter Pan saja nggak mau jadi dewasa, kan? Penginnya jadi anak-anak terus.

Honestly, tulisan ini diniatkan sebagai sarana refleksi buat saya. Saya yang telah menginjak 21 tahun, tetapi masih menghadapi kesulitan dalam perjalanan menjadi dewasa. ET, tapi kan nggak ada hubungannya tuh antara usia dan kedewasaan? Hahahaha. Tambah pusing.

Echa wis gedhe tapi masih banyak sifat jeleknya. Belum bisa mengelola waktu dengan baik. Menyusun skala prioritas dengan tepat. Mengambil keputusan secara bijak. Echa bahkan belum tahu pasti apa yang Echa inginkan di masa depan. Bukankah orang dewasa seharusnya tahu apa yang mereka mau? Termasuk tahu cara untuk mendapatkan keinginan itu, cara mengoptimalkan potensi diri, serta melewati halangan yang merintangi.

Boleh nggak sih, saya menganggap bahwa perjalanan menjadi dewasa merupakan proses seumur hidup? Soalnya, jurus menjadi dewasa itu nggak kita dapatkan dalam satu kedipan mata. Manusia belajar setiap harikalau dia mau belajar. Pengalaman sehari-harilah yang jadi gurunya. Nggak semua orang di usia yang matang dapat bersikap dewasa. Banyak, kan, orang dewasa (adult) yang nggak dewasa (mature). Nah loh, gimana tuh. Sangat disayangkan jika sikap 'tidak dewasa' itu sampai merugikan orang lain. Hmm jadi kepikiran, berapa banyak orang yang sudah dirugikan oleh sikap saya yang tidak dewasa...

Saya setuju, menjadi dewasa itu berat dan melelahkan. Tetapi, saya harap, perjalanan menuju kedewasaan ini nggak jadi beban. I want to grow old happily. Banyak belajar, terus memperbaiki diri. Salah satunya dengan stop menunda-nunda mengerjakan paper UAS, kali ya? Soalnya kan, kuliah Antropologi adalah keputusan saya sendiri. Jadi ya harus dijalani dengan penuh tanggungjawab.

Hehehe, mau ngomong 'pusing' lagi tapi kok sudah ketiga kalinya. Begini dulu saja. Selamat memasuki bulan hujan di negara tropis, selamat memasuki masa ujian semester buat mahasiswa aktif! Setelah ini liburan, kok. Hehehe. Liburan, nggak, yaaa?

source: Pinterest

Regards,

Thursday, November 29, 2018

Hati-hati di jalan

Sejak pakai motor matic, saya jadi merasakan bagaimana nikmatnya ngebut di jalan. Sebenarnya dari dulu waktu pakai pitung pun saya suka ngebut. Teman-teman saya tahu itu. Tapi ya ngebutnya pitung segimana sih... Paling banter 70an km/jam, pengin digas lagi tapi kasihan mesinnya.

Sering dulu waktu nyalip-nyalip mobil di jalan, saya menduga-duga apa yang dipikirkan sama orang-orang di dalam mobil: ini anak gaya bener pake motor tua sok-sokan ngebut. Gitu kali ya? Well, sebenarnya bukan bener-bener suka ngebut sih, tapi biasanya mergo kahanan. Karena keadaan. Terburu-buru harus segera sampai ke tujuan. Hehe.

Seperti yang pernah saya ceritakan di post ini, saya tahu bapak sebenarnya kurang merestui saya pakai matic. Katanya, matic lebih berpotensi bahaya, karena nggak semudah motor gigi untuk nurunin kecepatan. Dan, iya, sekarang saya merasakan sendiri. Pakai matic kudu lebih hati-hati.

Saya berusaha menerapkan safety riding, motor apapun yang saya pakai. Walaupun ngebut, nggak boleh ugal-ugalan. Saya belajar mengurangi kecepatan jauh sebelum lampu merah, biar nggak ngerem mendadak. Juga nggak mepet-mepet sama kendaraan di depan, in case dia ngerem mendadak saya nggak kelabakan. Taat rambu lalulintas, termasuk nggak melanggar lampu merah dan marka jalan (ini lumayan susah!).

Beberapa kali saya punya pengalaman dibonceng teman yang suka ngebut. Selain ngebut, agak asal pula pegang motornya. Saya di belakang jadi senam jantung sepanjang perjalanan. Ngerem mendadak, nggak sabaran, asal nyelip kendaraan besar di depan, melanggar marka. Ampun, padahal ‘menyerahkan diri’ buat dibonceng orang itu perihal kepercayaan, lho. Dan ngeboncengin orang berarti mengambil tanggungjawab untuk membawa dia dalam keadaan selamat. Mungkin, teman saya ini sudah berusaha sebaik mungkin mengendarai motornya, tapi tetap belum berhasil membuat nyaman orang yang dibonceng. Atau, mungkin juga memang wataknya yang selalu pengin cepat-cepat sampai tujuan, sampai abai pada keselamatan.

That’s it. Angka kecelakaan lalulintas meningkat dari waktu ke waktu. Banyak orang yang turun ke jalan (wuih turun ke jalan), mengemudikan kendaraan, tapi masih kurang kesadaran untuk taat berlalulintas. Belum siap secara mental dengan konsekuensi-konsekuensi yang harus ditepati sebagai pengendara, apapun jenis kendaraannya. Paling enggak, harus tanggungjawab sama diri sendiri dong, sayang nyawa. Jangan sampai membahayakan orang lain juga.

Gini-gini, saya sudah melalui berbagai medan lho, naik motor sendiri. Pulang-pergi jalanan Gunungkidul yang berliku menuju pantai, ke Kalibiru Kulonprogo naik pitung, keluar kota pun pernah, walaupun baru Semarang sih belum yang jauh-jauh banget. Pertama kali ke Semarang dulu waktu SMA, bawa pitung sendiri, tapi iring-iringan sama pitung bapak. Saat itulah saya melakukan pelanggaran dalam berkendara—saya kan belum punya SIM! Tapi berhubung musimnya mudik lebaran, nggak ada cegatan di jalan. Dan karena didampingi bapak, jadi saya sekalian belajar juga safety riding dari beliau.

Terus, yang agak gila, saya pernah motoran Jogja-Jepara bersama empat kawan Antro, perempuan semua. Berawal dari ide liburan keluar Jogja, ingin eksplor tempat yang belum pernah kami kunjungi. Entah mengapa saat itu kami begitu percaya diri memilih bawa motor sendiri. Jadilah dua Beat—satu keluaran baru, satunya lawas—berangkat pada suatu pagi, menempuh perjalanan hampir setengah hari menuju Jepara, karena kami transit di beberapa titik untuk istirahat dan juga sengaja menyusuri rute tambak garam di Demak. Di Jepara, kami tinggal selama 3 malam dengan menyewa satu kamar penginapan untuk berempat. Selama itu pula kami kelayapan mengunjungi objek-objek wisata di sana, naik motor tentunya. Bahkan, yang rada ekstrem, kami mendatangi lokasi dengan lanskap bukit kapur yang tengah ditambang, yakni Bukit Ragas di Donorejo. Tempat itu sebenarnya bukan objek wisata resmi, hanya spot foto-foto yang kami temukan melalui beberapa ulasan di internet. Jaraknya sekitar 1,5 jam dari pusat kota Jepara.

Perjalanan 4 wanita. Foto: dokumen pribadi.
Dalam perjalanan yang cukup berkesan itu, saya bawa motor bergantian dengan teman. Semua berjalan aman, sampai ketika dalam perjalanan pulang dari Bukit Ragas, kami bertukar partner. Saya duduk di belakang, menaruh segenap rasa percaya pada si teman, yang... saya tahu... sangat hobi ngebut. Untung Tuhan masih sayang, dilindungi-Nya kami sampai tengah kota lagi. Tapi, saya kesal aja gitu dibikin ketar-ketir selama perjalanan. Kenapa sih, nggak mengikuti standar kecepatan saja, apalagi jalanan yang dilalui terasa asing karena bukan di kota sendiri.

Puji Tuhan, saya belum pernah mengalami insiden di jalan. Hem, kecuali saat KKN Juli kemarin, motor saya dan teman saya nggak kuat nanjak di perbukitan Gianyar utara, hingga motor pun roboh ke bahu jalan. Saat itu teman saya yang di depan, sedangkan saya duduk di boncengan. Syukurlah nggak kenapa-napa, luka pun tidak.

Kalau saya, kena insiden kebanan alias ban bocor sih sering... huhuhu.

Begitulah, postingan ini didasari pengalaman terbaru saya dibonceng si teman-ngebut, pekan lalu (kalau dia baca, saya sekalian ngaku: asli kapok. Besok-besok saya aja yang depan, deh). Saya nggak ingat kenapa postingan ini ditaruh di draft, yang jelas sekarang sudah saya publish. Please, mind that safety riding itu penting! Setidaknya, ingat untuk selalu hati-hati buat diri sendiri. Ngebut = benjut. Utamakan selamat, keluarga menanti di rumah. Ngg, kalau nggak keluarga, mungkin kucingmu yang nunggu. Okay?

Originally posted: Jul 26, 2017.
Edited version: Dec, 2018.

Regards,

Monday, October 8, 2018

nanti akan sembuh

menangis diam-diam
tak masalah

mata basah dan sedu-sedan
luapkanlah

di kamar tidur, di bawah shower,
di perpustakaan
sembari mengetik puisi

tapi jangan di nisan ibu dan ayah
yang kautengok kamis nanti
katanya, tak baik nangis di makam

jangan di hadapan remaja belia
yang kaupanggil adik-adik
biar mereka tahunya semangatmu saja

jangan, jangan, jangan
jangan ditahan
peluk, peluk, peluk
peluklah kesedihan

nanti akan sembuh sendiri


yk, 08-10-2018

Thursday, March 22, 2018

Kerikil di dasar sepatu

"Sekar, aku mau nanya deh, mungkin ini sangat personal, tapi aku mau nanya, kamu... kamu pernah nggak sih, merasa sepi?" 

Pertanyaan itu datang seperti sebuah kesadaran akan kerikil yang mengganjal di dasar sepatu. Kerikilnya sudah agak lama berada di situ, tapi aku sebagai pemakai sepatu menolak untuk menggubrisnya. Tak peduli kakiku mungkin luka dan berjalan dengan sepatu itu jadi tak nyaman. Aku hanya memutuskan untuk tidak memikirkannya.

Sore itu seakan-akan sepatuku berubah warna jadi transparan, dan orang mungkin dapat melihat kerikil yang ada di sana, di antara jari-jari kakiku. Mereka bisa saja pura-pura tidak lihat, sama seperti aku yang bersikap abai pada kakiku sendiri. Tetapi... si penanya berbeda. Sepengetahuanku, ia memang seseorang dengan rasa ingin tahu yang besar. Ia punya tekad yang kuat dan cukup keberanian untuk menuntaskan keingintahuan di benaknya.

Meski kerikil di dasar sepatuku amat kecil dan buruk rupa, ia melihatnya. Maka, demi karakter yang sudah kusebutkan tadi, ia memutuskan bertanya.

Pernahkah merasa sepi?
Bagaimana aku menjawab pertanyaan semacam itu?

'Sepi’ itu, apa maksudnya? Apakah tentang hidup sendiri, setelah bapak dan ibu berpulang? Rasa sepi karena berpisah dengan adik-adik kandungku yang diasuh sanak di lain kota? Ataukah maksudnya, dijangkiti sepi ketika teman-temanmu sibuk sendiri? Berharap segera bertemu seseorang--teman hidup, tempat berbagi?


Si penanya menunggu jawabanku. Tetapi aku masih berpikir;
kalau kuberitahu ia, rasa ingin tahunya akan terpenuhi.
Lalu, apa? Adakah si penanya punya rencana?

Sial. Luka di kakiku berdenyut nyeri. Basah dan berdarah. Menggenang hingga ujung sepatu.


Monday, March 19, 2018

Mengenang ibu

berkasih-sayang | dokumen pribadi

ibu,
waktu bergulir dan aku tidak ingat lagi bagaimana rasanya jadi bayi. sekarang aku sudah tumbuh besar meski tetap berbadan kecil, lebih mirip ibu di foto!

peristiwa kematian orang tersayang bukan sesuatu yang mudah hilang dari ingatan, ya. dalam beberapa budaya, orang justru merayakannya. sebutlah Día de Muertos—perayaan tahunan orang Meksiko untuk memperingati kematian anggota keluarga—yang diangkat dalam film Coco. keluarga yang hidup meletakkan potret anggota keluarga yang sudah meninggal di altar khusus yang disebut ofrenda. orang Meksiko percaya, pada hari Día de Muertos, arwah orang mati punya kesempatan menyeberang ke dunia untuk menjenguk keluarga yang masih hidup.

di Jawa, kita memperingati peristiwa kematian dengan menggelar pengajian. bukan peringatan tahunan, karena orang Jawa punya hitungan sendiri untuk memperingati peristiwa kematian. sudah lama sejak keluarga kita mengadakan peringatan kematian (untuk ibu). mungkin keluarga dan lingkungan kita memang sudah beranjak meninggalkan tradisi itu. atau mungkin, karena hitungan kepergian ibu telah melampaui angka-angka genap maupun kelipatan tahun yang biasa diperingati orang.

aku tidak peduli angka genap atau kelipatan, ibu. aku akan selalu mengingatnya, hari dan tanggal kepergianmu. bukan untuk terus larut dalam dukacita, melainkan karena sejak hari itu, aku ditakdirkan lebih banyak belajar.

orang-orang terkasih pergi membawa separuh hatimu,
memberikan dua opsi bagi separuh yang tertinggal.
spirit melanjutkan hidup, atau dera kekosongan yang tiada habisnya.

aku memilih yang pertama, bu,

bertahan hidup, berusaha meneruskan spiritmu. adik-adik juga! tidak pernah mudah rasanya. dada kami disesaki rasa takut, goyah, berkali-kali jatuh ke titik terendah, selepas kehilangan ibu.

tapi, ibu kan tidak benar-benar hilang. ibu hanya pindah ke tempat yang lebih tenang, bukan?

beristirahatlah dengan nyaman di taman surga, ibu. sampai bertemu jika sudah waktunya.


putrimu,
yang masih selalu menangis saat mengenang ibu,
tetapi mengaku lebih kuat dari waktu ke waktu:

Monday, March 5, 2018

Menjadi kakak

Bagian yang paling membuatku khawatir tentang tinggal terpisah dari saudara kandung adalah, bahwa kita mungkin melewatkan sesuatu yang terjadi pada mereka.

Sesuatu... apapun. Hal-hal kecil. Hal-hal besar.

Mungkin mereka mengalami hari yang melelahkan di sekolah. Guru yang galak. Tumpukan PR.  Permasalahan dalam pertemanan. Sindir-menyindir antargeng perempuan. Lalu terpapar terik matahari saat menunggu bus sepulang sekolah. Keseharian semacam itu. Atau lainnya. Pengalaman lucu. Hal-hal menyenangkan. Berkunjung ke rumah teman yang memelihara kucing persia. Mendapat nilai tertinggi di kelas untuk satu-dua mata pelajaran. Perasaan berdebar ketika seorang teman laki-laki menyapa. Atau lainnya.

Berapa banyak cerita yang aku lewatkan?

Bahkan dulu saat kami tinggal serumah, aku terlalu sering melewatkan banyak hal. Adik-adikku terus tumbuh, dan—aku takut—aku tidak memberi cukup perhatian. Mereka bicara, tapi aku tidak cukup mendengarkan. Aku sibuk dengan duniaku sendiri. Padahal, setelah ibu berpulang, adik-adik menjadikan aku sebagai pegangan. Harusnya, aku jadi kakak perempuan yang mengayomi, kan?

Kami tidak pernah tinggal terpisah, sampai bapak kondur menyusul ibu, dua tahun lalu. Keluarga besar kami membantu mengambil keputusan: aku dan adik-adik harus berpisah sementara waktu, karena adik-adik lebih baik tinggal dalam asuhan tante dan om kami di lain kota. Paling tidak, sampai mereka menyelesaikan sekolah di tingkat SMA.

Kami yang tidak pernah tinggal terpisah sebelumnya, harus menyesuaikan diri dengan situasi. Jarak membuatku tidak bisa menyaksikan adik-adikku bertumbuh setiap hari. Tak bisa menatap wajah untuk menemukan cerita di mata mereka. Tak bisa selalu hadir secara fisik untuk mendampingi keseharian mereka.

Dengan sedikit usaha, aku bisa menelepon setiap malam. Menanyakan, ada cerita apa hari ini? Tapi aku tidak melakukannya. Aku menanyakan itu lewat kotak chat, dan hanya menelepon di waktu luang. Sekali waktu membuat panggilan video agar bisa melihat ekspresi mereka. Berujung menonton mereka narsis sendiri karena asyik dengan wajah yang terpantul kamera.

Aku bukan kakak yang baik,
meski berulang kali berkata aku menyayangi mereka. Aku tidak berusaha dengan baik untuk dapat memenuhi yang mereka butuhkan sebelumnya. Aku seorang kakak tempat adik-adikku menaruh harapan, namun aku bersikap mengecewakan. Mereka pasti kesal karena aku telah melewatkan begitu banyak hal.

Hidup sudah susah, Dik, tanpa bapak dan ibu kita.

Maafkan kakak karena pernah menambah berat hidupmu, mempersulit hari-harimu.

Kalau suatu saat adikku membaca postingan ini—aku tidak tahu berapa besar kemungkinannya, karena sepertinya mereka tahu aku punya blog, tetapi jarang melongok kemari—aku akan membebaskan mereka berpikir atau berprasangka. Aku tidak ingin mengumbar kata-kata manis karena kupikir mereka lebih membutuhkan aksi.

Terlahir sebagai sulung dari bapak-ibuku, menjadi kakak bagi adik-adikku, sungguh tidak pernah mudah. Tapi aku belum akan menyerah. Aku berhutang senyum di wajah mereka, doakan aku bisa menebusnya!
tiga dara kecil, kini telah beranjak, mari hidup dengan baik
(dokumen pribadi, 2003)

Tertanda
kakakmu,
 

P.s. judul postingan diambil dari salah satu novel teenlit favoritku beberapa tahun lalu. Judul aslinya Porcupine karangan Meg Tilly, terbitan Tundra Books tahun 2007 yang dialih bahasa dengan judul Menjadi Kakak oleh Gramedia Pustaka Utama. Aku membacanya sekitar tahun 2008 saat menggandrungi serial teenlit, dan, lepas dari itu, novel ini cukup punya andil dalam proses penerimaan diriku sebagai seorang kakak bagi adik-adikku, pasca berpulangnya ibu pada 2007.