Pages - Menu

Monday, October 8, 2018

nanti akan sembuh

menangis diam-diam
tak masalah

mata basah dan sedu-sedan
luapkanlah

di kamar tidur, di bawah shower,
di perpustakaan
sembari mengetik puisi

tapi jangan di nisan ibu dan ayah
yang kautengok kamis nanti
katanya, tak baik nangis di makam

jangan di hadapan remaja belia
yang kaupanggil adik-adik
biar mereka tahunya semangatmu saja

jangan, jangan, jangan
jangan ditahan
peluk, peluk, peluk
peluklah kesedihan

nanti akan sembuh sendiri


yk, 08-10-2018

Monday, September 10, 2018

Terkadang, kita hanya butuh didengar

Mari akui,
bahwa
terkadang, kita hanya
butuh didengar

Tidak minta tanggapan,
berupa petuah
apalagi cibiran

Duduk saja dengan
tenang, di sana
dan dengarkan
cerita demi cerita
tentang kegelisahan,
ketakutan,
mungkin sisi temaram
yang tidak ditampilkan
pada orang kebanyakan

Kemudian
kita belajar
menumbuhkan rasa percaya
kepada pendengar setia
yang telah berhasil menahan
tidak melontar
komentar

Si pendengar hanya mengangguk
tanda mengerti
lalu kita mungkin terkekeh
merasa kikuk
celoteh kita tidak berarti

Diam-diam kita menyimpan
pendengar yang sabar
di dalam hati, menghargai
mereka yang sadar
: kita hanya butuh didengar
ingin dipahami,
bukan dihakimi.

Yogyakarta, 10 September 2018.


—untuk suatu petang di bulan Maret,
ada yang mendengarkan aku melantur,
ruang hatiku penuh rasa syukur.

Thursday, March 22, 2018

Kerikil di dasar sepatu

"Sekar, aku mau nanya deh, mungkin ini sangat personal, tapi aku mau nanya, kamu... kamu pernah nggak sih, merasa sepi?" 

Pertanyaan itu datang seperti sebuah kesadaran akan kerikil yang mengganjal di dasar sepatu. Kerikilnya sudah agak lama berada di situ, tapi aku sebagai pemakai sepatu menolak untuk menggubrisnya. Tak peduli kakiku mungkin luka dan berjalan dengan sepatu itu jadi tak nyaman. Aku hanya memutuskan untuk tidak memikirkannya.

Sore itu seakan-akan sepatuku berubah warna jadi transparan, dan orang mungkin dapat melihat kerikil yang ada di sana, di antara jari-jari kakiku. Mereka bisa saja pura-pura tidak lihat, sama seperti aku yang bersikap abai pada kakiku sendiri. Tetapi... si penanya berbeda. Sepengetahuanku, ia memang seseorang dengan rasa ingin tahu yang besar. Ia punya tekad yang kuat dan cukup keberanian untuk menuntaskan keingintahuan di benaknya.

Meski kerikil di dasar sepatuku amat kecil dan buruk rupa, ia melihatnya. Maka, demi karakter yang sudah kusebutkan tadi, ia memutuskan bertanya.

Pernahkah merasa sepi?
Bagaimana aku menjawab pertanyaan semacam itu?

'Sepi’ itu, apa maksudnya? Apakah tentang hidup sendiri, setelah bapak dan ibu berpulang? Rasa sepi karena berpisah dengan adik-adik kandungku yang diasuh sanak di lain kota? Ataukah maksudnya, dijangkiti sepi ketika teman-temanmu sibuk sendiri? Berharap segera bertemu seseorang--teman hidup, tempat berbagi?


Si penanya menunggu jawabanku. Tetapi aku masih berpikir;
kalau kuberitahu ia, rasa ingin tahunya akan terpenuhi.
Lalu, apa? Adakah si penanya punya rencana?

Sial. Luka di kakiku berdenyut nyeri. Basah dan berdarah. Menggenang hingga ujung sepatu.


Monday, March 19, 2018

Mengenang ibu

berkasih-sayang | dokumen pribadi

ibu,
waktu bergulir dan aku tidak ingat lagi bagaimana rasanya jadi bayi. sekarang aku sudah tumbuh besar meski tetap berbadan kecil, lebih mirip ibu di foto!

peristiwa kematian orang tersayang bukan sesuatu yang mudah hilang dari ingatan, ya. dalam beberapa budaya, orang justru merayakannya. sebutlah Día de Muertos—perayaan tahunan orang Meksiko untuk memperingati kematian anggota keluarga—yang diangkat dalam film Coco. keluarga yang hidup meletakkan potret anggota keluarga yang sudah meninggal di altar khusus yang disebut ofrenda. orang Meksiko percaya, pada hari Día de Muertos, arwah orang mati punya kesempatan menyeberang ke dunia untuk menjenguk keluarga yang masih hidup.

di Jawa, kita memperingati peristiwa kematian dengan menggelar pengajian. bukan peringatan tahunan, karena orang Jawa punya hitungan sendiri untuk memperingati peristiwa kematian. sudah lama sejak keluarga kita mengadakan peringatan kematian (untuk ibu). mungkin keluarga dan lingkungan kita memang sudah beranjak meninggalkan tradisi itu. atau mungkin, karena hitungan kepergian ibu telah melampaui angka-angka genap maupun kelipatan tahun yang biasa diperingati orang.

aku tidak peduli angka genap atau kelipatan, ibu. aku akan selalu mengingatnya, hari dan tanggal kepergianmu. bukan untuk terus larut dalam dukacita, melainkan karena sejak hari itu, aku ditakdirkan lebih banyak belajar.

orang-orang terkasih pergi membawa separuh hatimu,
memberikan dua opsi bagi separuh yang tertinggal.
spirit melanjutkan hidup, atau dera kekosongan yang tiada habisnya.

aku memilih yang pertama, bu,

bertahan hidup, berusaha meneruskan spiritmu. adik-adik juga! tidak pernah mudah rasanya. dada kami disesaki rasa takut, goyah, berkali-kali jatuh ke titik terendah, selepas kehilangan ibu.

tapi, ibu kan tidak benar-benar hilang. ibu hanya pindah ke tempat yang lebih tenang, bukan?

beristirahatlah dengan nyaman di taman surga, ibu. sampai bertemu jika sudah waktunya.


putrimu,
yang masih selalu menangis saat mengenang ibu,
tetapi mengaku lebih kuat dari waktu ke waktu:

Monday, March 5, 2018

Menjadi kakak

Bagian yang paling membuatku khawatir tentang tinggal terpisah dari saudara kandung adalah, bahwa kita mungkin melewatkan sesuatu yang terjadi pada mereka.

Sesuatu... apapun. Hal-hal kecil. Hal-hal besar.

Mungkin mereka mengalami hari yang melelahkan di sekolah. Guru yang galak. Tumpukan PR.  Permasalahan dalam pertemanan. Sindir-menyindir antargeng perempuan. Lalu terpapar terik matahari saat menunggu bus sepulang sekolah. Keseharian semacam itu. Atau lainnya. Pengalaman lucu. Hal-hal menyenangkan. Berkunjung ke rumah teman yang memelihara kucing persia. Mendapat nilai tertinggi di kelas untuk satu-dua mata pelajaran. Perasaan berdebar ketika seorang teman laki-laki menyapa. Atau lainnya.

Berapa banyak cerita yang aku lewatkan?

Bahkan dulu saat kami tinggal serumah, aku terlalu sering melewatkan banyak hal. Adik-adikku terus tumbuh, dan—aku takut—aku tidak memberi cukup perhatian. Mereka bicara, tapi aku tidak cukup mendengarkan. Aku sibuk dengan duniaku sendiri. Padahal, setelah ibu berpulang, adik-adik menjadikan aku sebagai pegangan. Harusnya, aku jadi kakak perempuan yang mengayomi, kan?

Kami tidak pernah tinggal terpisah, sampai bapak kondur menyusul ibu, dua tahun lalu. Keluarga besar kami membantu mengambil keputusan: aku dan adik-adik harus berpisah sementara waktu, karena adik-adik lebih baik tinggal dalam asuhan tante dan om kami di lain kota. Paling tidak, sampai mereka menyelesaikan sekolah di tingkat SMA.

Kami yang tidak pernah tinggal terpisah sebelumnya, harus menyesuaikan diri dengan situasi. Jarak membuatku tidak bisa menyaksikan adik-adikku bertumbuh setiap hari. Tak bisa menatap wajah untuk menemukan cerita di mata mereka. Tak bisa selalu hadir secara fisik untuk mendampingi keseharian mereka.

Dengan sedikit usaha, aku bisa menelepon setiap malam. Menanyakan, ada cerita apa hari ini? Tapi aku tidak melakukannya. Aku menanyakan itu lewat kotak chat, dan hanya menelepon di waktu luang. Sekali waktu membuat panggilan video agar bisa melihat ekspresi mereka. Berujung menonton mereka narsis sendiri karena asyik dengan wajah yang terpantul kamera.

Aku bukan kakak yang baik,
meski berulang kali berkata aku menyayangi mereka. Aku tidak berusaha dengan baik untuk dapat memenuhi yang mereka butuhkan sebelumnya. Aku seorang kakak tempat adik-adikku menaruh harapan, namun aku bersikap mengecewakan. Mereka pasti kesal karena aku telah melewatkan begitu banyak hal.

Hidup sudah susah, Dik, tanpa bapak dan ibu kita.

Maafkan kakak karena pernah menambah berat hidupmu, mempersulit hari-harimu.

Kalau suatu saat adikku membaca postingan ini—aku tidak tahu berapa besar kemungkinannya, karena sepertinya mereka tahu aku punya blog, tetapi jarang melongok kemari—aku akan membebaskan mereka berpikir atau berprasangka. Aku tidak ingin mengumbar kata-kata manis karena kupikir mereka lebih membutuhkan aksi.

Terlahir sebagai sulung dari bapak-ibuku, menjadi kakak bagi adik-adikku, sungguh tidak pernah mudah. Tapi aku belum akan menyerah. Aku berhutang senyum di wajah mereka, doakan aku bisa menebusnya!
tiga dara kecil, kini telah beranjak, mari hidup dengan baik
(dokumen pribadi, 2003)

Tertanda
kakakmu,
 

P.s. judul postingan diambil dari salah satu novel teenlit favoritku beberapa tahun lalu. Judul aslinya Porcupine karangan Meg Tilly, terbitan Tundra Books tahun 2007 yang dialih bahasa dengan judul Menjadi Kakak oleh Gramedia Pustaka Utama. Aku membacanya sekitar tahun 2008 saat menggandrungi serial teenlit, dan, lepas dari itu, novel ini cukup punya andil dalam proses penerimaan diriku sebagai seorang kakak bagi adik-adikku, pasca berpulangnya ibu pada 2007.

Tuesday, February 13, 2018

mata yang tidak tersenyum

perempuan itu habis terluka, aku tahu dari matanya
                     mata yang tidak lebam, tapi muram
        mata yang sayu. mata yang
   tidak tersenyum.

ia mungkin tidak pernah bercerita
                                         tentang luka,
                                    tentang duka
ia menghindari membicarakan perihal rasa sakit,
   atau betapa ia terkikis sedikit
                                               demi
                                                    sedikit
      tertatih mengarungi masa-masa sulit.

ia tidak pernah mengatakannya,
                                                 tetapi aku tahu.

aku tahu,
sebab aku pernah melihat mata yang sama
                     : mata yang tidak tersenyum
                     adalah mataku, saat aku berkaca

jogja, 13 februari 2018
tentang perempuan berwatak sulit, yang ingin kutanyai, tapi tak berani
mungkin karena aku takut gagal memahami, mungkin juga
karena aku masih sibuk
                           dengan watak sulitku sendiri.