Pages - Menu

Sunday, February 17, 2019

Bukan waktunya menulis surat cinta

Kalian pernah nggak, berada dalam tekanan tenggat waktu untuk suatu hal yang penting, penting banget, tapi malah kehilangan fokus dan melakukan hal lain yang sama sekali nggak berhubungan sama tugas utama?

Saya sering... sepertinya saya punya masalah dalam memusatkan konsentrasi, deh. Juga, 'bekerja di bawah tekanan' tampaknya nggak mudah buat saya. Tapi, saya harus belajar, kan?

Rekaman berikut, salah satu musikalisasi puisi Ari Reda yang kukagumi, membawakan sajak Goenawan Mohamad berjudul 'Surat Cinta'.


Ini bukan waktunya menulis surat cinta, sungguhada tulisan lain yang ditunggu redaksi, juga kerangka pikir yang perlu disusun rapi menuju presentasi. Mendengarkan musikalisasi sajak ini... coba tebak modusnya: relaksasi agar fokus kembali, atau malah melepas benak kian berkelana?

Sunday, February 10, 2019

pada pagi, kudapati

pagi ini sedikit berawan
jalanan tidak terlalu padat
kubawa motorku melesat
senangnya punya tujuan
setengah melamun, aku mendapati
perasaanku yang runyam
jadi sederhana kembali.

Yogyakarta, 10 Februari 2019.

di telepon

semalam aku menangis di telepon
setelah bercerita
tentang seorang perempuan yang kita kagumi
semangat hidupnya.

aku dan dia punya kesamaan, kataku,
kami sama-sama yatim piatu.

ya, aku sudah tahu,
katamu.
aku melihat unggahannya
saat berkunjung ke makam orangtuanya.
aku baru ingat
kalian terhubung di media sosial,
sering berbincang tentang
upaya penyelamatan lingkungan.

kamu bisa mencontoh semangatnya,
bagaimana dia menjaga adik-adiknya.
aku mengangguk, meski kamu tidak lihat.
lalu dadaku mendadak jadi sesak.

hening datang tanpa permisi.

maaf, maaf, maaf. katamu,
maaf,
maaf.
aku menyedot ingus.
tidak ada yang salah,
hanya aku kebanyakan stok airmata.

kita mengobrol lagi,
beberapa menit menuju tengah malam
sampai aku mengingatkanmu
untuk istirahat.

menjadi yatim piatu tidak pernah mudah
perasaan kehilangan
membikin bingung dan resah.
kadang-kadang aku mengira ini penyakit
sehingga aku bertekad sembuh.

pertama kali aku mengenalmu
kamu perempuan kuat,
esok pun begitu.
itu ucapanmu yang paling kusuka
dan paling kuingat.

Yogyakarta, 10 Februari 2019.

Monday, October 8, 2018

nanti akan sembuh

menangis diam-diam
tak masalah

mata basah dan sedu-sedan
luapkanlah

di kamar tidur, di bawah shower,
di perpustakaan
sembari mengetik puisi

tapi jangan di nisan ibu dan ayah
yang kautengok kamis nanti
katanya, tak baik nangis di makam

jangan di hadapan remaja belia
yang kaupanggil adik-adik
biar mereka tahunya semangatmu saja

jangan, jangan, jangan
jangan ditahan
peluk, peluk, peluk
peluklah kesedihan

nanti akan sembuh sendiri


yk, 08-10-2018

Thursday, March 22, 2018

Kerikil di dasar sepatu

"Sekar, aku mau nanya deh, mungkin ini sangat personal, tapi aku mau nanya, kamu... kamu pernah nggak sih, merasa sepi?" 

Pertanyaan itu datang seperti sebuah kesadaran akan kerikil yang mengganjal di dasar sepatu. Kerikilnya sudah agak lama berada di situ, tapi aku sebagai pemakai sepatu menolak untuk menggubrisnya. Tak peduli kakiku mungkin luka dan berjalan dengan sepatu itu jadi tak nyaman. Aku hanya memutuskan untuk tidak memikirkannya.

Sore itu seakan-akan sepatuku berubah warna jadi transparan, dan orang mungkin dapat melihat kerikil yang ada di sana, di antara jari-jari kakiku. Mereka bisa saja pura-pura tidak lihat, sama seperti aku yang bersikap abai pada kakiku sendiri. Tetapi... si penanya berbeda. Sepengetahuanku, ia memang seseorang dengan rasa ingin tahu yang besar. Ia punya tekad yang kuat dan cukup keberanian untuk menuntaskan keingintahuan di benaknya.

Meski kerikil di dasar sepatuku amat kecil dan buruk rupa, ia melihatnya. Maka, demi karakter yang sudah kusebutkan tadi, ia memutuskan bertanya.

Pernahkah merasa sepi?
Bagaimana aku menjawab pertanyaan semacam itu?

'Sepi’ itu, apa maksudnya? Apakah tentang hidup sendiri, setelah bapak dan ibu berpulang? Rasa sepi karena berpisah dengan adik-adik kandungku yang diasuh sanak di lain kota? Ataukah maksudnya, dijangkiti sepi ketika teman-temanmu sibuk sendiri? Berharap segera bertemu seseorang--teman hidup, tempat berbagi?


Si penanya menunggu jawabanku. Tetapi aku masih berpikir;
kalau kuberitahu ia, rasa ingin tahunya akan terpenuhi.
Lalu, apa? Adakah si penanya punya rencana?

Sial. Luka di kakiku berdenyut nyeri. Basah dan berdarah. Menggenang hingga ujung sepatu.


Monday, March 19, 2018

Mengenang ibu

berkasih-sayang | dokumen pribadi

ibu,
waktu bergulir dan aku tidak ingat lagi bagaimana rasanya jadi bayi. sekarang aku sudah tumbuh besar meski tetap berbadan kecil, lebih mirip ibu di foto!

peristiwa kematian orang tersayang bukan sesuatu yang mudah hilang dari ingatan, ya. dalam beberapa budaya, orang justru merayakannya. sebutlah Día de Muertos—perayaan tahunan orang Meksiko untuk memperingati kematian anggota keluarga—yang diangkat dalam film Coco. keluarga yang hidup meletakkan potret anggota keluarga yang sudah meninggal di altar khusus yang disebut ofrenda. orang Meksiko percaya, pada hari Día de Muertos, arwah orang mati punya kesempatan menyeberang ke dunia untuk menjenguk keluarga yang masih hidup.

di Jawa, kita memperingati peristiwa kematian dengan menggelar pengajian. bukan peringatan tahunan, karena orang Jawa punya hitungan sendiri untuk memperingati peristiwa kematian. sudah lama sejak keluarga kita mengadakan peringatan kematian (untuk ibu). mungkin keluarga dan lingkungan kita memang sudah beranjak meninggalkan tradisi itu. atau mungkin, karena hitungan kepergian ibu telah melampaui angka-angka genap maupun kelipatan tahun yang biasa diperingati orang.

aku tidak peduli angka genap atau kelipatan, ibu. aku akan selalu mengingatnya, hari dan tanggal kepergianmu. bukan untuk terus larut dalam dukacita, melainkan karena sejak hari itu, aku ditakdirkan lebih banyak belajar.

orang-orang terkasih pergi membawa separuh hatimu,
memberikan dua opsi bagi separuh yang tertinggal.
spirit melanjutkan hidup, atau dera kekosongan yang tiada habisnya.

aku memilih yang pertama, bu,

bertahan hidup, berusaha meneruskan spiritmu. adik-adik juga! tidak pernah mudah rasanya. dada kami disesaki rasa takut, goyah, berkali-kali jatuh ke titik terendah, selepas kehilangan ibu.

tapi, ibu kan tidak benar-benar hilang. ibu hanya pindah ke tempat yang lebih tenang, bukan?

beristirahatlah dengan nyaman di taman surga, ibu. sampai bertemu jika sudah waktunya.


putrimu,
yang masih selalu menangis saat mengenang ibu,
tetapi mengaku lebih kuat dari waktu ke waktu: