Setelah Kamu Begitu Tabah

Catatan kecil untuk diri sendiri,
juga untuk orang-orang yang pernah dan telah merasa kehilangan.

Ketika satu orang meninggalkan kita,
kita tak boleh mencerca atau menyumpahi kepergiannya,
sebab kita tidak tahu betapa besar sesungguhnya
ia juga merasa terluka.  

Tatkala satu orang pergi meninggalkan dunia,
tak perlu kita meratapi jejaknya di pusara,
karena bisa jadi ia tak pergi ke mana-mana,
senantiasa hadir mengiringi hari-hari kita
meski dalam wujud berbeda. 

Bilamana satu orang melayangkan jiwanya ke angkasa,
barangkali ia hanya ingin jalan-jalan bersama partikel udara,
setelah bosan menjejak alam fana.
Mungkin saja ia kemudian berganti rupa,
menjelma kuncup mawar dalam vas kaca,
kerlip kecil di sepertiga malam buta,
atau kepak kupu memasuki rumah lewat jendela yang terbuka.  

Maka buka lebar-lebar jendela hatimu,
supaya Tuhan tahu 
Dia bisa mengirimkan satu tokoh baru, 
untuk punya peran dan mengisi kekosongan
setelah kamu begitu tabah mengikhlaskan kepergian. 

Seringkali, kita berkeras diri,
orang yang pergi
benar-benar tak terganti,
kita tak pernah tahu, bukan?
Tuhan punya rencana.
Kita hanya harus rela saat Dia menguji.


Sore di Pracimalaya. [dokumentasi pribadi]

Yogyakarta, April 2017.
Renungan atas tahun-tahun terhimpit perasaan ditinggalkan:
memperingati satu dasawarsa berpulangnya ibu,
dan satu tahun kepergian bapak.

Posted in , , , , , | Leave a comment

Curhat si pengagum rahasia - bagian 2

Saya pernah tanya sama Mbak Atha, “Mbak kalau suka sama orang gimana? Bakal kelihatan banget nggak kalau mbak naksir dia? Atau dipendam aja?” 

“Weh… Kowe ngerti dewe nek aku mesti bertingkah… Mesti ketok banget lah,” katanya sambil tertawa. Saya manggut-manggut, mulai memikirkan kemungkinan kalau saya jadi orang yang seterbuka itu juga.

Ternyata dia belum selesai bicara.

“Tapi kalau kamu bukan orang yang kayak gitu, jangan lah. Ndak wagu. Kamu diem-diem aja to kalau naksir cowok? Yo wis. Gakpapa. Itu caramu mengagumi orang,” tambah Mbak Atha.

Saya pun nyengir.

Tapi nih ya. Saya ingat sebuah kutipan dalam novel remaja yang pernah saya baca, dulu—sudah lama. Waktu saya masih remaja (sekarang kan sudah masuk umur dewasa muda. Halah. Tenane?).

Ada hal-hal yang harus dikatakan dulu baru bisa dimengerti. Salah satunya perihal rasa suka.

Ini nyambung juga nih sama salah satu lagunya Endah N Rhesa yang paling akrab di telinga. Saya dua kali nonton live performance dua sejoli ini, dan selalu terpesona sama aksi guitar battle mereka. Banyak yang mengaku baper sama lirik lagunya, tetapi saya sering mengelak. Lebih tepatnya, berusaha biar nggak terlalu bawa perasaan, gitu…

     When you love someone just be brave to say 
     that you want him to be with you.
     When you hold your love don’t ever let him go 

     or you will loose your chance to make your dream come true.

Dulu, saya pernah dekat dengan seseorang. Kedeketan yang akhirnya menumbuhkan perasaan sayang di hati saya. Eh, mulanya diawali rasa tertarik dulu sih. Tertarik sama kepribadian dia, uniknya dia, dan sebagainya. Terus lama-lama jadi dekat. Saya bisa saja bilang kalau saya mengagumi dia. Saya tak lagi melihat dia sebagai teman biasa, dia adalah teman yang saya kagumi. Tetapi, saya tidak mengatakannya.

Saya melewatkan kesempatan untuk mengatakannya, sampai akhirnya saya benar-benar tidak punya kesempatan.

Kepada Mbak Atha-lah saya menceritakan kesedihan saya waktu itu. Mbak Atha banyak menghibur saya (padahal saya tahu dia juga sangat-sangat-sangat sedih, karena kami kehilangan orang yang sama). Di sela-sela kalimat support-nya, Mbak Atha mengatakan sesuatu: jadikan ini pelajaran, Chak. Kamu jadi belajar untuk menghargai perasaanmu sendiri, kan?

Satu lagi teman saya juga mengatakan hal yang persis sama (walaupun waktu saya konfirmasi ulang, dia malah sudah lupa—tak ingat kalau pernah berkata sebijak itu... gimana sih, Shab).

Kenyataannya... iya, saya ingin kok mengapresiasi perasaan saya ini. Bahwa saya mengagumi seseorang, senang bisa mengenalnya, apalagi menghabiskan waktu dengannya.

.....
........
...........

Well. Apakah tulisan ini berarti sebuah deklarasi, bahwa saya menyerah? Menyerah untuk mengagumi dalam diam, memendam rasa suka tanpa ingin menyatakan? WAKAKAKA. Tunggu dulu, tunggu dulu. Saya belum tahu. Nggak ingin terburu-buru mengambil keputusan deh. Bukankah kalau kata Tere Liye, dikatakan atau tidak, itu tetap cinta? Untuk mengapresiasi perasaan itu pun, tidak harus selalu dengan menyatakan.

[tetep ya, berakhir tanpa kesimpulan.]

Regards,

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Kelak kita 'kan menua

Pagi tadi saya bolos kuliah lintas jurusan demi kejar proyek untuk mata kuliah lain.

Pukul delapan lewat, saya janjian ketemu Hamima dan Zulva di pom bensin Tamsis. Kami lalu beriringan menuju arah selatan, kemudian ke timur, melintasi Jalan Pramuka yang bentuknya miring kalau di peta, dan tibalah kami di Rumah Pelayanan Lanjut Usia "Budi Dharma". Di depan kami berdiri bangunan panti sosial bagi para lansia di Yogyakarta.

Kami tidak bawa apa-apa untuk simbah-simbah di sana. Datang hanya dengan niat mengobrol, mendengarkan cerita simbah, dan merekamnya dengan kamera. Yes, we are proceeding to make another short movie project! 

Film pendek ini dalam rangka studi Etnovideografi, yang berakar pada antropologi visual. Hamima-lah yang mengusulkan ide untuk membingkai kisah para lansia. Sebuah tantangan bagi kami yang sehari-hari tidak banyak bersinggungan dengan orang-orang tua. Kami berencana mengangkat dinamika kehidupan para lansia yang mulanya adalah orang asing bagi satu sama lain. Mereka dipertemukan di panti wredha untuk kemudian menjalani hari tua bersama. Adakah perasaan rindu rumah dan keluarga kandung? Apakah tinggal di panti wredha merupakan pilihan, atau sebuah keterpaksaan? Jawab dengan padat dan jelas, disertai argumentasi minimal 250 kata. (Halah.)

Pada kunjungan hari ini, kami belum berpegang pada konsep yang rapi. Kami sekadar melakukan observasi awal, mengambil beberapa random footage, dan fokus melancarkan pendekatan dengan simbah-simbah dulu, sembari mencari sekiranya mbah sinten yang dapat dijadikan narasumber wawancara. Eee... ya gini, kuliah apapun itu, sesungguhnya nggak bakal lepas dari yang namanya riset. Huhuhu.

Kami menyebar ke wisma-wisma yang ada di panti. Bertemu, berkenalan, dan bercakap-cakap dengan beberapa simbah, baik kakung maupun putri. Kata petugas yang mendampingi kami di awal kunjungan, simbah-simbah di sana sangat terbuka terhadap pengunjung. Dan benar saja, kami mendapati wajah-wajah sumringah menyapa kami, ngawe-awe dan mempersilakan kami mampir ke wisma mereka. Ada sih simbah yang tetap kalem dan senyum simpul, ada pula yang langsung dengan semangat mengajak kami ngobrol tentang... apa saja.

Mbah Sugiyo adalah satu dari yang bersemangat itu. Simbah bercerita tentang bagaimana dulu ia pernah jadi pemain Srimulat di Surabaya. Berbincang dengan Mbah Sugiyo yang giginya nyaris tanggal seluruhnya, saya seperti terbayang almarhum eyang kakung saya yang dipanggil Gusti Allah Januari lalu. Kalau saja beberapa tahun terakhir pendengaran yangkung cukup bagus, mungkin kami bisa ngobrol dan haha-hihi seperti saya dan Mbah Sugiyo saat itu. Saya nggak membayangkan heningnya dunia yangkung (dan mbah-mbah lain) yang kondisi pendengarannya mengalami gangguan...

Menjelang siang, satu lagi anggota tim kami datang menyusul. Dialah Mbak Baswe yang bangun kesiangan wekekekek. Tak lama setelah bergabung, Mbak Baswe bilang kalau dia dibeberi gosip seru oleh salah satu mbah putri. Kami pun mencatatnya supaya bisa dikorek-korek lagi di kemudian hari (eh... lho...). Oh ya, satu kawan kami tidak ikut pada kunjungan ini, namanya Halim, hobinya pulang kampung.

Kunjungan resmi kami yang pertama ini—resmi, setelah menyerahkan surat izin—membuahkan cukup gambaran tentang suasana panti dan karakteristik beberapa simbah yang paling menonjol. Kendala yang cukup berarti adalah betapa tremor tangan saya dan Hamima menjadikan rekaman gambar nggak enak dilihat HAHAHA nggak bawa tripod tadi soalnya.

Hamima dan Zulva mikir keras untuk menjawab tebak-tebakan dari Mbah Sugiyo. (dok. pribadi)

Doakan proses syuting dan wawancara Etnovideografi kami berjalan lancar ke depannya, ya. 

Oleh sebab kita kelak 'kan menua,
tak ada salahnya berguru pada yang telah lanjut usia.

Regards,

Posted in , , , , , | 2 Comments

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.