Pages - Menu

Tuesday, November 5, 2019

Menyambut Hujan, 2019

aroma hujan sudah menguar di udara, kawan-kawan. mendung melintas, meski rintiknya belum juga lepas. angin bersiul-siul mengibarkan tanda berakhirnya kemarau tahun ini. ditiupnya pepohonan dan dirontokkannya dedaunan. kata angin, "tunggulah sebentar lagi, tetumbuhan akan dibasuh kesejukan."

harum tanah basah enak sekali dihirup penciuman, ya, kawan-kawan.

segera siapkan mantel hujan dan sandal jepit. payung jika kamu senang berjalan kaki, juga kantong untuk menyimpan sepatu atau buku-buku. lindungi tubuh dengan jaket yang tebal bila tak ingin ditumbangkan angin. bertualang di bawah hujan dengan aman, nikmati musim ini sambil berdendang.

aku menyambut hujan dengan berkunjung ke rumah orang yang kukasihi, kawan-kawan.

tak mewah, tak megah, tanpa pagar apalagi bel di pintu. hanya rumput liar yang minta diperhatikan. habis mereka dibabat arit, jelaslah nama-nama pemilik rumahterukir pada nisan. di sini, orang-orang yang kukasihi tertidur pulas.

katanya, hujan sering datang bersama kenangan, ya, teman-teman. aku terkenang saat orang-orang yang kukasihi itu, bapak dan ibuku, masih terjaga dan bisa diajak berbincang. mereka bersuara jernih dan aku rindu. welas asih dan aku rindu.



kubisikkan pada bapakku,
"seseorang mengantarku berkunjung, pak,"
—sudah lebih setahun,

dan kepada ibuku,
"sering ia bertanya tentang kau, bu,"
—lalu kutunjukkan padanya koleksi foto di dalam album.

kalau saja aku sempat mengenalkan dia kepada bapak dan ibuku,
aku ingin dengar mereka bertegur sapa,
mengobrol tentang apa saja, saling 'membaca.'

tetapi ada hal-hal yang tidak bisa kita paksakan, dan itu tak mengapa.

aku tetap menyambut hujan dengan sukacita.
melepas kekasihku merantau sambil berdoa, suatu hari kita akan melalui ini semua.

Yogyakarta, 5 November 2019.

Sunday, September 22, 2019

darise, untukkar

aku ingin meluruhkan seluruh omong kosong dan bualanku
menggerusnya jadi bubuk halus
menggodoknya dalam kuali di atas tungku
semua omong kosong itu
  tentang itikad baik,
   ketabahan,
    sifat dermawan,
     keberanian bertahan hidup,
    watak bijaksana,
   kemauan dan kemampuan merawat,
  juga cinta kasih pada sesama.
setelah mendidih semuanya,
uap kusuling jadi segelas,
kutaburi sejumput mantra Semesta,
dan kuminum lagi sampai lincin tandas.
semoga kelak nyata aku menjelma:
  seorang dengan itikad baik,
   ketabahan,
    sifat dermawan,
     keberanian bertahan hidup,
    watak bijaksana,
   kemauan dan kemampuan merawat,
  juga cinta kasih pada sesama,
bukan lagi omong kosong belaka.

selamat ulang tahun.

Friday, September 13, 2019

Kemarau, 2019

sedikit kesiangan meninggalkan rumah, hawa gerah menyeruak di jalanan. terik membakar kulit, dalam perjalanan beberapa menit saja di atas kendaraan roda dua, kita menjelma keripik garing. berpeluh dan sibuk mengeluh. mengutuki semburan asap hitam bus kota yang melintas di hadapan. aku merengut sebal, jerawat di wajah semakin gatal. sebuah pelajaran untuk bergegas lebih awal esok pagi, ketimbang terpapar matahari kemarau yang garang ini.

suasana hatiku runyam tak menentu. media menampilkan berita kebakaran hutan dan lahan di pulau seberang, dan aku tidak tahu harus berbuat apa. kabarnya kebakaran juga terjadi di kaki merbabu! mengapa, tepatnya, kita belum sigap memelihara alam yang sudah menghidupi kita? kapan, akhirnya, kita sadar akan rapuhnya bumi yang makin tua?

sumber-sumber air susut. truk tangki penjual air mondar-mandir. kebutuhan air bersih masuk daftar ketat anggaran rumah tangga kerabat-kerabatku yang tinggal di daerah kapur. kemarau hadir setiap tahunnya, selalu begitu realita yang ada. maka, pengangkatan sumber air bawah tanah menyalakan harapan baru untuk mereka. setelah belasan tahun riset dan upaya penuh kesungguhan. air dialirkan ke permukaan, warga sekitar dipersilakan mengambil manfaat sebebas-bebasnya.

bombardir pertanyaan: belum selesai skripsinya? —mendesing bagai peluru. upaya pengangkatan air bawah tanah itu menjadi bahan risetku. berangkat ke ujung timur-selatan kabupaten gunungkidul tiap akhir pekan jadi kegiatan yang selalu kutunggu. lingkungan itu banyak membangkitkan kenangan dan kerinduan pada bapak. ia yang berada di sini empat tahun lalu, sedang aku tak pernah penasaran ingin turut serta. sembari melengkapi data, aku mengenal lebih jauh bapakku. perjalanan skripsiku banyak membawa berkah saudara baru. kulitku terbakar di bawah terik cuaca, kacau wajahku dihias bekas gigitan serangga, tetapi inilah bagian dari kemarau yang paling kusuka.

data skripsi di tangan, sementara progres menuliskannya berjalan lamban. konsistensi masih jadi masalah besar buatku. mudah terdistraksi, sukar konsentrasi. kalau menuruti kata hati, ingin aku mengerjakan yang lain saja. melukis, main aplikasi editing, piknik, lalu dapat uang. uang! uang! bagaimana caranya dapat uang?

kegelisahan terbit setiap hari bersama matahari musim kemarau. pikiran-pikiran mengakar, makin subur tumbuhnya disiram rasa jerih akan masa depan. belum lagi ketika kesepian datang mengendap-endap. kadang aku lupa, aku bisa mencari teman bicara.

pada beberapa kesempatan, aku menghambur pada sunset pantai selatan. luas samudra berkilauan cukup membuat kegelisahanku redam. tahun ini, kemarau mengajariku banyak hal. aku kering, aku terkuras, aku terseok-seok, limbung, tersandung. tetapi, aku belajar.


personal docs: golden sunset wediombo

Thursday, September 5, 2019

Energi berkelanjutan

Aku tumbuh dengan dikelilingi energi baik. Ibuku seorang penyabar, bapakku pribadi yang semangat belajar, eyang utiku welas asih, eyang kakungku mencerminkan keteduhan.

Sewaktu kecil, aku berjalan pulang dari sekolah dengan langkah dipanjang-panjangkan. Sesampainya di rumah, kujumpai ibuku berbaring di kamar tidurnya, menoleh kepadaku sambil senyum.

Senyum yang cantik meski matanya sayu.

"Dibuatkan apa hari ini sama eyang uti?" tanyaku sambil mengerling mangkuk yang sudah kosong di samping tempat tidurnya.

"Tahu rebus, wortel rebus, brokoli rebus. Semua kesukaanmu juga, kan?" tutur ibu. Suaranya agak parau dari hari kemarin.

Aku meringis. Tak terhitung berapa kali aku kena omel eyang uti karena suka mengganggu ibu saat makan. Jatah makan ibu berkurang separuh karena brokoli dan wortelnya aku comoti.

Meski eyang utiku suka ngomel, ia tetap memeluk kami paling erat ketika ibu akhirnya berpulang. Katanya, ibuku sudah tidak lagi menanggung sakit, itu yang penting. Eyang uti berpesan agar aku dan adik-adik rajin sekolah. Pesan standar ala eyang-eyang, yang membuatku yakin, ia juga sangat menyayangi kami hingga akhir hayatnya.

Eyang uti adalah ibunya bapak. Dulu, bapak juga sering kena omel karena dianggap bandel. Pilihan pekerjaan bapak dianggap tak lazim dan tak ada uangnya. Berbeda dengan eyang uti, eyang kakung adem-adem saja. Eyang kakung tidak menentang pilihan pekerjaan bapak, malah selalu mendorong untuk totalitas dalam bekerja.

Bapak membuktikannya. Ia mencukupi kebutuhan kami dari pekerjaannya yang sering dinilai tak biasa. Dalam diri bapak, aku melihat jiwa yang ulet, dengan kemauan belajar yang tinggi. Tetapi, bapakku jatuh sakit tanpa disangka. Bapak pergi menyusul ibu, dan kami tak punya persiapan apa-apa. (Memangnya, siapa yang siap untuk menghadapi kehilangan?)

Kesehatan eyang kakung menurun sepeninggal bapak. Tak sampai setahun, eyang kakung juga berpulang.

Kadang aku bicara pada foto-foto di ruang tengah, mengapa orang baik lebih dulu berpulang? Mengapa mereka tidak berumur panjang sehingga kami bisa melanjutkan berkasih-sayang?

Perasaan kehilangan yang buncah sering membuatku nyaris menyerah. Hanya satu nyala kecil di lubukku yang memeliharaku tetap waras. Rasa percaya: energi baik dari orang-orang terkasih akan tetap hadir dan menemaniku bertumbuh. Kini terserah kepadaku, bagaimana menyerap dan menyemai energi itu, dalam putaran waktu dan perjalanan hidup, menjadikannya energi yang berkelanjutan.

Wednesday, June 19, 2019

Dokumentasi: Perjalanan Mengobati Kehilangan

Seorang kenalan menghubungiku dan aku dibuat kaget oleh permintaannya. Dia bilang, ingin membuat 'reportase' tentang bagaimana hidupku berjalan. Memangnya, ada apa dengan caraku menjalani hidup? Liputan seperti apa yang ingin dia buat? Kisah macam apa yang dia harap akan dia dengar? 

Smitaperempuan penasaran itumenghubungiku setelah aku mengunggah foto kover antologi puisi berjudul Brushing Mom's Hair, berlatarkan papan kayu lantai gazebo tempat aku mengambil gambar. Puisi-puisi di dalamnya ditulis oleh Andrea Cheng, gadis 14 tahun yang ibunya didiagnosis dokter mengidap kanker payudara. Brushing Mom's Hair kupinjam dari Mbak Novi, seorang editor naskah akademis sekaligus kutu buku yang punya baaaanyak koleksi bacaan di rumahnya. Waktu itu, Mbak Novi mengaku lemari bukunya sudah terlalu penuh, sehingga ia memutuskan menjalankan proyek shelf sharing alias berbagi koleksi bacaan kepada kawan yang berminat. Lewat iklannya di Instagram-lah aku berjumpa dengan Brushing Mom's Hair, lalu menyampaikan keinginanku untuk meminjamnya.

Brushing Mom's Hair menarik perhatianku karenasetelah diberitahu cuplikan sneak peek oleh si empunyaaku memiliki kesamaan dengan penulis antologi ini. Back then, ibuku didiagnosis mengidap kanker payudara, tepatnya ketika aku duduk di bangku SD tingkat awal. Aku dan adik-adik melalui masa kecil di mana kamibersama bapakmengantar ibu mencari pengobatan alternatif untuk kankernya. Ibuku takut pada tindakan medis. Itu sebabnya ia enggan berobat ke rumah sakit, meskipun tahu pengobatan alternatif tidak banyak meningkatkan kondisi kesehatannya.

Aku dan adik-adikku kehilangan ibu di usia sangat muda. Ibu telah berjuang melawan sakitnya dan tak pernah sekali pun menyerah, itu yang kami yakini pasti. Sebelum ibu pergi, aku sudah suka menulis. Aku menulis cerita pendek dan puisi sederhana, kadang-kadang di bawah bimbingan ibu juga. Setelah ibu tiada, puisi-puisiku berubah tema, sebagian besar tentang rasa sedih kehilangan orang yang disayangi. Seorang kenalan bapak kemudian membuatkanku akun di platform Blogger, tempat di mana aku bisa mengunggah puisi-puisiku dan menyalurkan emosiku di sana. Itulah mulanya aku akrab dengan dunia tulis-menulis, dengan menjadikan tulisan sebagai media untuk mengekspresikan diri, terapi yang efektif memerdekakan rasa. Membebaskan, sekaligus melanggengkan ingatan.
thanks to Mbak Novi who lent me this!
Menemukan Bruhsing Mom's Hair membuatku merasakan sesuatu yang relevan; kegelisahan seorang anak yang mengetahui ibu yang disayanginya melemah karena penyakit, kepolosannya menghadapi hal-hal yang berubah seiring perubahan kondisi sang ibu. Rupanya, unggahanku yang membingkai kover Brushing Mom's Hair inilah yang menarik Smita untuk mengetahui lebih jauh: bagaimana Sekar menghadapi kematian orang terkasihnya.

Kalau boleh memberi bocoran, tema reportase Smita sebetulnya bergeser, dari yang mulanya ingin menyoroti cara Sekar si anak sulung mengambil peran perempuan dewasa di keluarga pasca kepergian ibu, menjadi cara Sekar menyembuhkan diri dan berdamai dengan kepergian: kedua orangtua.

Meskipun bingung memulai ceritalebih-lebih karena ada keraguan memangnya apa yang menarik dari hidupku?, Smita membantu dengan pertanyaan-pertanyaan dasar yang memanduku menguraikan kisahku sendiri. Saat itu, aku berangkat dengan niat membagikan apa yang bisa kubagi, menceritakan apa yang bisa kuceritakan, meski entah hasil seperti apa yang menjadi target Smita. Praktis, seorang yang pada dasarnya senang bercerita seperti aku, tidak membiarkan kesempatan curhat pada penyedia kuping gratis berlalu begitu saja.

Mengizinkan seseorang menanyakan hal-hal mendalam, memintaku menceritakan sesuatu yang sangat personal, kusadari membantuku mengenali diriku sendiri. Dalam 'sesi wawancara' singkat itutak sampai dua jamaku telah melakukan perjalanan kilas balik tentang bagaimana aku bertumbuh, bagaimana hal-hal berubah dalam hidupku menuntut penyesuaian, mendorongku bersama segenap perasaan-perasaan dinamis yang akhirnya membentuk aku hari ini. Tanggapan Smita terhadap ceritaku pun turut membangun kepercayaan diri, membuatku sadar pentingnya apresiasi diri: bahwa aku telah tumbuh, beradaptasi, bersikap, dan mau mengusahakan hal-hal baik dalam kehidupanku.
personal stuffs, personal feelings.
Ketika akhirnya Smita selesai dengan 'reportase'-nya, aku membaca refleksi hidupku dalam beberapa paragraf yang ia tulis dan merasa takjub: Smita menarasikan semuanya dengan tepat. Ia memang banyak membuat banyak catatan dalam bukunya sembari mewawancaraiku, tapi tak kusangka ia mampu membuat reportase itu sebagaimana adanya, menghadirkan emosi, mengikuti jalan pikir subjek, dan sebagainya. Boleh kukatakan tulisan Smita cukup representatif, dan aku sangat berterima kasih untuk itu. Ia membantuku membuat dokumentasi sebuah fragmen dalam perjalanan hidupku, dan, lebih dari itu, mendorongku memahami diri.

Usut punya usut, rupanya ada peran seorang karib dalam penulisan reportase Smita: dialah Shabia, yang mula-mula mengenalkan aku pada Smita! Shabia, perempuan matari, merasa mengenalku lebih daripada cerita yang didengar Smita, dan punya pandangan tersendiri tentang sisi-sisi Sekar yang perlu didokumentasikan (yang mana aku sendiri pun takjub, ada orang-orang yang begitu peduli padaku!).

Mungkin, postingan ini pada akhirnya terdengar narsistik. Aku bukan tokoh kenamaan yang kiprahnya begitu mengguncang dunia, untuk apa ada dokumentasi tertulis tentang hidupku? Buatku, tulisan Smita menjadi pengingat untukku bersyukur, punya kemauan dan kemampuan melalui masa sulit. Mengingatkan aku untuk menyayangi diri sendiri, dan betapa kita bisa banyak belajar dari pengalaman pahit sekalipun. Tentu, aku tidak dapat mendeskripsikan secara lugas bagaimana luka kehilangan itu terasa begitu perih, lagi pula aku memang beranggapan orang-orang tidak perlu merasakannya persis seperti yang ada. Aku harap ini menjadi jalanku mengapresiasi orang-orang yang sungguh peduli, yang menemaniku bangkit dari luka itu, sebab tanpa mereka, aku mungkin tidak setenang ini.

Sekar's Journey to Heal from Her Loss adalah sepotong dokumentasi perjalananku mengobati kehilangan, ditulis dalam bahasa inggris oleh Smita Tanaya dalam proyeknya, Women Around Us. Aku ingat kutipan kata pengantar salah satu edisi National Geographic yang ditulis oleh editor John Chris; sains membantu kita memahami banyak hal: melacak topan dan mengukur tinggi tsunami, tapi tak bisa membuat kita memahami rasa kehilangan. Saat ini pun aku masih mengamininya. Rasa kehilangan adalah sesuatu yang tak nyaman untuk ditanggung, seringkali tak terjelaskan, dan orang-orang yang telah mengalaminya mungkin paham, tak ada obat yang mujarab untuk sakit yang ditimbulkan oleh rasa kehilangan ini—sekalipun waktu telah ikut andil. Namun begitu, aku percaya kita selalu berhak untuk perasaan damai dan tenteram; dan, kurasa, berbagi cerita dapat menjadi salah satu saluran yang melegakan.

Sincerely,

Monday, June 10, 2019

Metamorfosekar

credit: instagram.com/hairembulan
Sepertinya aku ingat pernah berada di situasi ini. Halaman di hadapanku kosong, menanti apa yang akan kuketik. Sama seperti wajahnya dulu. Ah, analogi 'kosong' agaknya kurang pas untuk mendeskripsikan wajahnya saat itu. Malah sebaliknya, dengan sorot mata penuh kehangatan, ia menatapku sabar, menunggu ceritaku mengalir lancar. Pipinya penuh, senyumnya penuh, semua yang ada padanya penuh, meluber hingga kekosonganku terisi perlahan.

Ketika aku kembali pada kalimat pertamaku, ternyata tidak ada yang perlu diralat. Ini tetap situasi yang sama dengan saat itu, hanya saja perannya absen malam ini. Masalahku sama: kesulitan bercerita. Mengapa begitu, ya? Bukankah sejak kecil aku suka berbicara? Ibuku selalu mengenalkanku pada kerabat dan tetangga sebagai anak yang ceriwis. Aku tidak pernah kehabisan bahan cerita, atau kekurangan pendengar. Tentu saja, anak-anak yang senang bercerita punya banyak penggemar, kan?

Seiring bertambahnya usia, pengalaman hidup membentuk aku yang baru. Diriku yang sekarang. Mungkin, yang berubah sebetulnya bukan spontanitas, pun intensitasku bercerita. Aku masih suka menghujani orang-orang terdekat (dan juga jurnal harian) dengan kesan yang kurasakan, atau buah pikiran yang muncul di kepala (tak lupa, sembari belajar menjadi pendengar yang baik!). Hanya saja, segala hal yang terjadi di keseharianku kini mengalami proses yang lebih panjang: penangkapan lewat segenap indera, penguraian simpul-simpul jika terlalu pelik, juga upaya pemahaman lebih mendalam. Akhirnya, respon yang timbulseringkalitidak dapat dengan mudah diungkapkan.

Kalau dia tidak 'memaksa' aku membuka diri waktu itu, mungkin aku menyesal. Bagaimana pun, kemampuan berkomunikasilisan maupun tulisanperlu diasah setiap waktu. Aku percaya hidup akan lebih mudah bila kita dapat mengkomunikasikan pikiran dan perasaan dengan baik. Iya, kalimat ini terucap dari aku yang pernah terperangkap dalam ilusi semu: mengira ada trik membuat orang paham maksudku tanpa keluar tenaga banyak untuk menjelaskan. Sudah kapok, sungguh.

Di sisi lain, aku khawatir proses mengungkap rasa dan buah pikiran ini menjadi seret ketika kita sendiri tidak benar-benar paham apa yang ingin kita ungkapkan. Artinya, kesulitanku bercerita, kebingunganku menarasikan rasa, pun menyampaikan gagasan, disebabkan diriku yang tidak 'menguasai materi'. Aku agak yakin soal ini. Kuakui, aku masih dalam perjalanan mengenali dan memahami diri sendiri, mengidentifikasi apa yang kumau, nilai-nilai yang kuanut, cara hidup seperti apa yang aku inginkan.

Kehadirannya semakin mendorongku untuk secepatnya menemukan diri (aku harap, dia juga mengeluarkan usaha yang sama untuk dirinya sendiri). Jangan dulu bicara soal memahami satu sama lain! Aduh, aku sangat kikuk. Untuk menulis ini pun kikuk. Jika kubaca lagi suatu hari nanti, akankah aku sudah punya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan hari ini?

Apapun itu, aku lega bisa mengungkapkan kegelisahan dalam sepotong tulisan di laman inimeski agak kaku. Mendokumentasikan kegelisahan adalah bakatku (tolong, jangan tertawa), sedang mengubahnya ke dalam penerimaan adalah perkara lain. Aku janji, akan mendewasa dengan sukacita. Menikmati kejutan yang hadir dalam proses belajarku menemukan diri. Menjadi aku.

Dan dia, teman berjalanku yang pipinya penuh itu, akan punya tempat sendiri untuk kuceritakan lain waktu.