Archive for February 2013

Langkah Tanpa Suara



Ketika kau melambaikan tangan, yang bisa kulakukan hanya memaksakan senyum. Hatiku perih seperti teriris, tapi aku tak ingin kau tahu. Perpisahan ini tak pernah kubayangkan. Dulu aku mengira, kau akan langsung pergi setelah mendengar kata cinta yang kusampaikan dengan hati-hati. Nyatanya kau tetap berdiri di sana, menerima mawar putihku, dan menerbangkanku dengan janjimu, "Aku akan selalu ada untukmu."

Aku percaya padamu. Namun, mengapa kini kau justru meninggalkanku? Bukankah kau telah berjanji untuk selalu menemaniku? Jika kau pergi, siapa yang akan menghitung bintang bersamaku, siapa yang akan membisikkan puisi-puisi itu di telingaku? Aku sungguh tak mengerti.

"Kau juga punya cita-cita, kan, Rana?"

Mata jernihmu seakan menghipnotisku. Aku mengangguk.

"Cita-cita Rana menjadi penari. Ibu Rana punya sanggar tari. Cita-cita Rana ada di sini." Kau menyelipkan poni rambutku ke belakang telinga.

"Arega bercita-cita menjadi pelukis," lirih aku menyatakan setengah bertanya.

"Kau benar," tanggapnya. "Aku akan belajar memperdalam pengetahuan mengenai seni lukis..."

"Arega harus pergi ke Bali." Untuk waktu yang tidak sebentar..., tambahku dalam hati.

Kau mengangguk dan tersenyum.

"Ya. Aku harus pergi. Rana akan mendukung cita-citaku, kan?"

Astaga. Sebuah pertanyaan retoris. Tentu saja aku mendukung semua cita-cita besarmu itu, Ga. Meskipun itu artinya kita harus berpisah. Ini adalah bentuk pengorbananku untukmu. Ini adalah bentuk rasa sayangku kepadamu.

Derap langkahmu mengusik lamunanku. Punggungmu semakin jauh, dan akhirnya menghilang ditelan keramaian orang-orang di bandara. Aku percaya, cinta kita dapat terjaga tetap utuh sampai nanti kau kembali. Tetapi kepercayaan tak dapat dijaga hanya oleh satu pihak. Kukira aku rapuh, namun ternyata kau lebih rapuh hingga sampai hati merusak kepercayaanku. Meskipun melihatmu pergi telah membuatku sakit, namun aku bertahan karena kita hanya dipisahkan oleh jarak. Kini, aku sudah mati rasa. Sebab kutahu ada orang lain di hatimu yang menambah jarak di antara kita.

Terima kasih, Arega, untuk warna-warna yang pernah kautorehkan di hidupku. Terima kasih untuk pernah duduk di sampingku dan mengagumi langit malam bersamaku. Terima kasih untuk sempat singgah di hatiku. Sejujurnya aku kecewa karena tak menjadi pelabuhan akhir bagi kapalmu, tapi kekecewaanku yang terlalu besar justru membuat akalku memutuskan untuk memaafkanmu.

Ada derap langkah tanpa suara. Itu hatiku; menjauh darimu.
***

Terinspirasi dari novel Perahu Kertas
karya Dee

Yogyakarta, 24 Februari 2013
                                                                                                                                                           

Posted in , , , , , | Leave a comment

Langka



Kamis, 21 Januari 2013.

Sepertinya akhir-akhir ini aku mengidap insomnia-_- nggak pernah lagi tidur jam 10, mesti tidurnya lewat jam 12. Bagi yang udah terbiasa ya mungkin nggak ada masalah, hla aku kan nggak biasa insom gini jadi bangunnya besok pagi mesti kesiangan-____-

Malam ini aku stalking blognya banyak orang, mulai dari temen SD, temen SMP, temen SMA, juga kakak kelas di SMA. Kira-kira ada 7 atau 8 orang yang aku stalk blognya hehehehe. Aku ini nggak ada niat apa-apa kok, nggak direncanain juga, tadi tiba-tiba nge-klik link blognya temenku, terus jadi ngebuka blognya temen-temen lain. Aku emang kalo stalking itu nggak pernah dengan niat buruk, beneran deh.

Hmm... Tadi aku stalking blognya mbak-mbak kelas 11 hehe asik deh nyimak cerita pengalaman mereka :) terus juga.... aku stalking blognya mas kelas 12 yang pacarnya salah satu mbak kelas 11 itu, isinya bener-bener lucu dan bikin ngakak! Emang sih post terakhirnya udah lama, masih 2012 gitu. Tapi ya berarti masnya udah kelas 12 kan? Lucu banget, ada post yang tentang perjalanan 'cinta' sama pelajaran kimia dan disertai gambar tangannya sendiri. Terus ada quotes-quotes sederhana yang kalau dipahami bener tuh ternyata maknanya dalem.... dan ada juga post-post yang bener-bener menggambarkan prinsip mas itu, menunjukkan pola pikirnya mas itu yang bijaksana gitu(?) ada juga tentang ceweknya uhuyyyy semoga mereka long last and keep romantic~

Jadi, kesimpulannya..... apa ya....... ehm. Cowok yang suka nulis itu langka. Apalagi yang rutin nulis pengalaman kesehariannya. Ini mengingatkanku pada dia. Dulu, dulu banget, aku pernah SMS-an sama dia dan aku bilang kalo aku lagi nulis diary. Terus dia tanya, "kamu suka nulis diary, Kar? Sejak kapan suka nulis-nulis kaya gitu?"

Ah, kalo cowok, mana pernah nulis diary. Mana peduli soal usaha untuk mencurahkan gerundelan yang mengganjal di hati -- menuangkan ke bentuk tulisan. Mungkin ada, tapi ya itu tadi.... langka banget.

Apakah di masa mendatang nanti aku akan bertemu cowok yang suka nulis? Kalau misalnya iya..... terus kenapa? Aku nggak mikir sampe segitunya juga kali. Ha-ha :B

Goodnight.

Posted in , , , , , | Leave a comment

Judulnya Menunggu


Senin, 11 Februari 2013.

Echa berkesempatan pulang agak gasik - jam 16.00 - Echa sudah bisa meninggalkan sekolah, well, jarang-jarang lho! Biasanya paling enggak Maghrib baru nyampe rumah gara-gara banyak kegiatan di sekolah. Tapi tadi nggak ada kegiatan apa-apa, cuman praktikum biologi dari jam 14.00 sampe jam 16.00.

By the way ini hari pertamaku bawa laptop ke sekolah. Laptopku berat, makanya aku males bawa ke sekolah, tapi hari ini terpaksa hehehehe. Sebenernya tadi pulang sekolah pengin wifian sama Fira tapi Fira pusing & mual jadi dia pulang gasik juga. Yaudah jam 16.00 lebih dikit aku juga cabut! \m/

Tujuanku bukan rumah, melainkan.... Pasar Bringharjo. Niatku mau cari kain untuk baju seragam putih itu, tapi karena udah kesorean jadi los-los seragam udah pada kukut. Terus aku kan belum berniat pulang hehe masih terang gitu.... ya udah Gramedia Mall Malioboro jadi tujuanku selanjutnya :D

Bayangin aku cari-cari novel di Gramedia sendirian kaya orang linglung.... nyesel nggak ngajak temen. Kelihatan banget jomblowati gitu huahahaha! Temen-temen udah pada tak SMS tapi kayaknya nggak ada yang berkenan nyusul buat nemenin Echa duh kasian._.

Karena ke Gramedia itu enggak direncanakan sebelumnya, uang di dompet pun pas-pasan, tapi masih cukup buat beli satu novel hehe lumayan lah :))

Dan pilihanku jatuh pada novel Gagas Duet yang judulnya Menunggu, karya Dahlian & Robin Wijaya. Ada beberapa novel lain yang aku baca sinopsisnya tuh bagus, tapi begitu baca sinopsis back cover-nya Menunggu ini, wuah langsung nge-feel di hati gitu deh :')

Aku sedang merindukanmu, apakah kau tahu itu? Saat bulan penuh di atas kepala, aku menggantungkan doa untukmu di antara bintang-bintang. Semoga suatu saat hatimu akan menoleh kepadaku, menyadari bahwa akulah akhir dari penantianmu.

Aku ingin memelukmu, meraihmu, dan menyembunyikanmu dalam dekapanku. Aku tak akan melepasmu pergi, aku janjikan itu padamu. Dan kesabaranku kian menipis seperti batu yang terus-terusan digerus air. Aku sudah menunggu terlalu lama, nyerinya semakin lama kian terasa nyata.

Aku mencintaimu... karenanya aku selalu merindukanmu. Namun, seperti pertanyaan yang kubisikkan pada rembulan malam itu: apakah kau juga sedang merindukanku? - Menunggu, by Dahlian & Robin Wijaya

Menurut Echa, novel ini cukup menghibur. Pemilihan diksinya pas dan alurnya terarah. Tokoh cerita juga berkarakter kuat. Over all, Echa enggak menyesal beli novel ini dengan serpihan uang yang tersisa di dompet tadi hehehehe :))

Good night ya, kamu -- kamu yang langsung muncul di benakku waktu baca sinopsis itu :))

Posted in , , , , , | 1 Comment

Pot Tanah Liat



Samantha sudah pergi. Pada akhirnya gadis itu memutuskan untuk menuruti keinginan orangtuanya melanjutkan kuliah di Negeri Kangguru. Pekan lalu aku dan Alex melepas kepergiannya di bandara. Aku ingat bagaimana mereka bertukar tatapan yang ganjil satu sama lain, seakan tak ingin mengucapkan salam perpisahan, tetapi mereka tahu itu yang terbaik untuk dilakukan.

Jadi, di sinilah aku, menjaga seorang laki-laki yang sepertinya selalu mencemaskan separuh hatinya yang terbawa bersama kepergian Samantha. Hingga suatu hari, secara tak terduga Samantha mengirim e-mail pada Alex yang berisi, “Jangan khawatirkan aku dan jangan tunggu aku. Temukan sosok yang kaucintai dalam diri wanita lain, aku akan mencoba mengerti.”

Kalimat itu bagaikan sebuah penegasan yang membuat Alex melupakan separuh hatinya. Ia bagaikan perahu rapuh yang terombang-ambing mencari arah menuju dermaga yang menjadi tempatnya pulang. Aku inginkan dermaga itu ia temukan dalam diriku; aku ingin Alex melabuhkan hatinya pada hatiku, karena aku tahu hanya aku yang dapat mengembalikan keutuhan hatinya seperti dulu.

Kami semakin dekat dari waktu ke waktu. Sebuah kata sederhana “persahabatan” tak dapat mendeskripsikan hubungan kami yang begitu kompleks. Aku dan Alex saling melengkapi satu sama lain, berbagi segalanya, suka-duka kami lalui bersama.

Tepat dua tahun semenjak kepergian Samantha, Alex berkesempatan mengikuti kompetisi musik internasional di Melbourne. Tanpa berpikir dua kali, Alex memintaku untuk menemaninya selama kompetisi itu.

Ini adalah sebuah perjalanan ke luar negeri yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Terlebih segala insiden yang terjadi di Middleton Concert Hall, sungguh tak terduga. Pada hari Valentine, seseorang yang kucintai menghancurkan perasaanku – meski aku tahu ia tak bermaksud begitu.

Samantha tampil di konser agung itu sebagai seorang pianis yang mendapat sambutan besar dari seniman musik di Melbourne. Ia begitu mempesona dengan gaun kuning gading yang elegan, rambutnya digelung di tengkuk menampilkan keanggunan yang dimilikinya sedari kecil. Alex menatap tak berkedip dari baris terdepan.

Usai Samantha memainkan melodi dan irama dari tuts piano putihnya, ia berdiri di tengah panggung megah itu, lantas berkata melalui mikrofon. “I have a special friend here. Everyday I miss him, and today I see him in front of me, he looks so awesome. I’ve told him that he doesn’t need to wait for me to come back, and I also said, if he really love me, then he will come for me. But today he comes for the competition, not for me, so I don’t know if he actually mean to prove his love...

Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, Alex menyambar setangkai mawar putih dari vas bunga di meja juri. Ia melangkah mendekati panggung dan bertanya apakah Samantha menunggunya, dan menerima anggukan disertai senyum manis Samantha. Seluruh hadirin bersorak. Sepertinya MC lantas mengambil alih suasana, aku tidak begitu memperhatikan. Pada sesi pengumuman dari juri yang menyebutkan bahwa Alex meraih juara kedua dalam kompetisi musik itu, Alex melamar Samantha.

Pada akhir pekan yang sangat panas di Jakarta, aku menghampiri rumah sahabatku. Ia tengah merapikan kebun bunga kecilnya dengan hati-hati. Dibersihkannya pot-pot dari tanah liat yang menjadi wada h bagi beberapa tanaman bunga. Seraya menunjuk salah satu pot, aku berkata pada sahabatku, “Pot tanah liat itu telah bertahan menjaga tanaman bunga. Ia tetap menguatkan diri meski dipanggang terik matahari dan diterpa hujan angin. Tetapi pada akhirnya, ia retak dan hancur karena akar bunga yang dijaganya.”

Sahabatku memelukku erat.
***

My room, 10 Februari 2013

Posted in , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.