Archive for March 2013

Eh, Kalau Gitu...



Entah aku yang terlalu peka, atau memang Jamrud agak berbeda akhir-akhir ini. Kami tetap akrab seperti biasa, seringkali menghabiskan waktu untuk bertukar cerita. Akan tetapi, tidak secara tatap muka. Kesibukannya membuka les privat untuk anak SD mengurangi frekuensi kami bertemu. Tidak masalah, toh teknologi sudah canggih. Kami bisa bertukar cerita melalui pesan singkat ataupun chatting.

Beberapa hari terakhir, aku memperhatikan bahasa pesan singkat yang datang dari Jamrud. Menurutku tidak sulit menerka mood Jamrud, sebab apa yang sedang dirasakannya tercermin dari bahasa pesan singkatnya. Untuk saat ini, sepertinya dia memiliki frase favorit baru.

Seperti pesan singkatnya sepekan lalu.

Malem, Put. Pasti belum tidur kan?

Aku membalasnya. Belum, masih belajar nih.

Tak lama, balasan dari Jamrud sudah kuterima. Eh, kalau gitu selamat belajar ya :)

Aku mengangkat sebelah alis. Tidak biasanya Jamrud sekadar menyapa di malam hari. Ia lebih sering mengoceh tentang pengalamannya dan memintaku memberi tanggapan. Beberapa hari setelahnya, aku menjanjikan untuk mampir ke rumah Jamrud. Namun rencana itu batal karena aku terserang demam tinggi akibat hujan-hujanan seharian. Waktu itu, ia kembali mengirim pesan singkat di luar kebiasaan.

Putri nggak jadi mampir ke rumah? Sakit ya? Kamu sih, hobi bener hujan-hujanan. Eh, kalau gitu, get well soon ya :)

Dasar Jamrud ini. Ngomel-ngomel di awal, ujungnya kasih doa biar aku cepat sembuh.

Di kesempatan lain saat aku berkirim pesan singkat dengannya, frase "eh, kalau gitu" khas Jamrud muncul lagi.

Kemarin menang lomba cerpen ya, Put? Eh, kalau gitu selamat ya! Sini traktir-traktir.

Keesokan harinya, aku benar-benar mentraktir Jamrud makan bakso di warung depan sekolahnya. Tapi pertemuan kami hanya singkat, sebab ia terburu-buru akan memprivat tetangganya.

Sejak makan bakso di siang yang mendung itu, Jamrud benar-benar jarang menghubungiku. Beberapa kali aku mengiriminya pesan singkat, ia tak pernah membalas. Setiap kali aku online di sebuah sosial media, tak pernah bersamaan dengan Jamrud online. Padahal dulu kami sangat sering online bebarengan tanpa membuat janji sebelumnya. Aku bagaikan kehilangan sosok Jamrud yang humoris dan enak diajak ngobrol. Sempat terbetik ketakutan dalam benakku; aku takut Jamrud lupa bahwa ada aku sebagai tempatnya berbagi. Mungkinkah ia telah menemukan teman baru yang lebih sempurna daripada aku?

Minggu pagi, aku merencanakan untuk bersepeda ke rumah Jamrud, lalu mengajaknya sarapan lontong opor di Alun-Alun Selatan. Aku tidak tahan dengan dinding pembatas ini, dinding yang menghalangi komunikasi di antara kami. Aku rindu berbincang dengannya, aku rindu ocehan penuh semangatnya, aku rindu diminta berkomentar tentang pengalamannya yang sebenarnya tidak penting untuk diceritakan.

Saat aku baru mengayuh sepedaku beberapa blok dari rumah, kulihat sosok Jamrud berlari kecil dari arah berlawanan. Ia tersenyum lebar dan melambaikan tangan dengan heboh.

"Mau ke rumahku?" tanya Jamrud dengan ekspresi heran saat sepedaku sudah bersisian dengannya.

"Kenapa heran? Aku butuh ngobrol sama kamu, tahu! Di-sms nggak pernah bales, aku pikir kamu udah lupa sama aku," cerocosku seraya melipat tangan di depan dada. Jamrud tertawa. Tawa lepas yang lama tak menyusup ke gendang telinga, tawa yang membuat lekuk kecil tercipta di pipinya.

"Ayo aku boncengin ke Alun-Alun Selatan."

Tanpa menunggu persetujuanku, Jamrud mengambil alih sepeda. Aku pun duduk di belakangnya, diam-diam menyembunyikan senyum di balik punggungnya. Hanya Tuhan yang tahu getar kupu-kupu imajiner yang berkepak dalam rusukku. Hanya Tuhan yang tahu nada-nada indah yang berdesir bersama sang bayu.

Jamrud tak langsung menyikat lontong opor di hadapannya. Ia masih mengetuk-ngetukkan jari di tikar yang menjadi alas duduk kami. Keningnya berkerut dan pandangannya terarah jauh ke sosok kakek-kakek yang sedang jogging di seberang sana.

"Mrud." Aku menepuk bahunya pelan. Jamrud menoleh.

"Lontong op..." kalimatku terpotong oleh pernyataan Jamrud.

"Aku minta maaf, Put."

"Eh? Maaf untuk apa?"

Jamrud mengembuskan nafas. "Harusnya aku membalas sms-sms darimu. Harusnya aku nggak membiarkanmu mengira aku lupa padamu," ujarnya sambil menatap mataku lekat-lekat.

Aku tersenyum.

"Aku memang begitu cemas hingga mengira kau lupa padaku. Tapi, itu bukan salahmu."

Keheningan mengisi jeda. Ibu empunya warung mengantarkan dua gelas jeruk panas pesanan kami.

"Jadi, sekarang saatnya kamu cerita, apa alasan di balik usaha menghindar itu?"

"Aku nggak berusaha menghindar," sambar Jamrud cepat. "Aku cuma... yah, banyak berpikir. Dan semakin aku berpikir, semakin aku yakin kalau jawabannya hanya bisa kudengar langsung dari mulutmu."

"Jangan membuatku bingung, Mrud."

"Putri pernah ingin punya pacar?"

Pertanyaan Jamrud sukses menciptakan semu merah di wajahku.

"Ya." Hanya kata itu yang mampu terlontar dari lidahku.

"Eh, kalau gitu..." Jamrud menggaruk tengkuknya kikuk. "Bolehkah aku mendapatkan posisi itu? Sebagai pacar Putri?"

Kupu-kupu imajiner seakan menyeruak keluar dari rusukku. Tak ada waktu untuk terkejut. Tak ada waktu untuk mengomentari frase favorit Jamrud. Yang ada hanya anggukan kecil dan sejuta harap bahwa aku tidak salah mengizinkan orang yang sama mengisi ruang di hatiku; ruang untuk sahabat terbaik sekaligus kekasih hatiku.

***

Yogyakarta, 3 Maret 2013

Posted in , , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.