Archive for April 2013

Lihat sini, ayah.



Letihku berbaur dengan angin sore yang menerpa kaca helm. Kupacu sepeda motorku dengan tetap berhati-hati, ingin segera tiba di rumah. Begitu banyak hal yang ingin kubagi dengan Ayah.

Tetapi, tiba di rumah, tak kujumpai sosok yang kurindu itu. Rupanya di ruang depan beliau sedang berdebat seru, dengan seseorang yang mungkin suatu saat nanti akan jadi ibuku.

Membagi kasih itu tidak mudah, aku tahu. Aku merasa sudah cukup besar untuk mengerti. Perjuanganmu, pengorbananmu, tenaga yang kau keluarkan untuk menghidupi kami, putrimu. Ada titik di mana rasa jenuh mungkin membungkus erat, lalu engkau merasa membutuhkan bahu untuk bersandar... bahu yang lebih kuat dan kokoh dari milikku.

Tetapi Ayah,
jangan lupa, kamilah yang selalu ada di sisimu,
dalam segala musim dan cuaca, dalam segala suasana hati yang bergelora.

Bukankah kita sudah terbiasa bersama-sama mengarungi lautan persoalan kehidupan, mencoba menguak makna di baliknya. Aku yakin, kita bisa selamanya seperti ini. Tetapi aku pun mencoba mengerti, ada kekurangan-kekurangan kami yang mungkin telah membuatmu kecewa.

Maafkan, Ayah.

Seandainya kau tahu betapa kami membutuhkanmu, namun terkadang kami kesulitan mengungkapkan itu karena waktumu sedang tercurah kepada orang asing itu.

Seandainya kau tahu, tidak mudah bagi kami membuka hati untuk anggota keluarga baru.

Mahal sekali, mana bisa kubeli dengan uang saku yang (masih) pemberianmu. Harga waktumu saat ini, Ayah, tak terjangkau kemampuanku.

Mungkin, ini yang disebut cemburu?

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.