Archive for June 2013

Come Back

Sunday, June 30th, 2013. The last day of June ya~


Assalamu'alaikum :)

Long time no post! Anyone miss me? Silent reader? Member of Echa Fansclub? Hahaha XD

Yohoooow I'm just back from three-days camping! This is an annual event which followed by two generation (1st and 2nd grade) in my high school. The event called Perkemahan Teladan Bakti (PTB). It wasn't work commonly like another camp activities. It tend to social services to the local communities where we took place for the camp. :)

So, I belong to Panitia Umum, such as general commitee that organized the event. There are some divison in Pantia Umum, and I belong to the division which is responsible for collecting funds for the event HAHAHA it called Dana-Usaha (Danus). I told you, it was not easy to collect funds until the target of funds could be completed! Actually my school has provided the total budget, but we have to collect a part of percentage. *O*

A lot of memories happened in PTB :) sing, laugh, scream, silly action, sigh, but we feel so grateful because of wonderful life that we had... After all, I enjoy the three-days PTB and I hope there are much benefits for the next journey of my life :)



I'm sure that one day someone will type "PTB" as keyword on Google, then she'll find this post. Maybe junior in my high school, maybe another person. Who knows? I just hope this post could be worth to everyone.

Sorry for bad english. Do leave comments or chat me on ChitChat! XD

Posted in , , , , | Leave a comment

Membaca Ulang Suratmu



Ini kesekian kalinya aku menarik laci lemariku, mengambil sepucuk amplop putih dari dalamnya. Secarik kertas, berisi empat paragraf tulisan tanganmu. Hey, sudah berapa kali aku membaca ulang suratmu? Tersenyum pada setiap namaku yang kautulis, setiap emotikon, juga tawa yang kautuangkan ke bentuk tulisan. Kalau ada hal yang bisa menghangatkan aku di sela mendung seperti ini, itu adalah suratmu.

Aku tidak tahu, apakah kau mengharapkan balasan surat dariku? Meskipun teknologi sudah canggih, kita bisa berkomunikasi melalui SMS atau social network, tetapi rasanya begitu manis jika kita berkirim surat yang berisikan tulisan tangan kita. Memang tidak menggunakan perangko atau jasa pos, kita hanya menitipkan lewat teman-teman kita, tetapi.... pokoknya, aku suka cara kita berkomunikasi yang lain dari biasa.

Memasuki minggu kedua di bulan Juni, aku sedang merencanakan sesuatu untukmu. Jangan terburu-buru menerka, kamu tidak akan tahu apa yang ada di pikiranku. Serta jangan kira aku merencanakan hal yang biasa... bukankah kamu sendiri yang mengatakan kalau aku anti-mainstream? :)

Ah. Masih ada sisa delapan mata pelajaran Ujian Kenaikan Kelas yang menanti di hadapanku. Beraninya aku memikirkan hal-hal lain yang tidak berkaitan dengan sekolah. Sudah kucoba untuk fokus belajar, ternyata sulit ya. Selalu saja meluangkan waktu untuk menulis apa yang kupikirkan atau kukhayalkan. Tidak apalah. Semoga hasil ujianku tetap baik.

Selamat malam. Semoga ujianmu juga lancar. :)

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Edelweiss dan Elang



Halo, Juni. Air langit masih rindu menyapa tanah bulan ini. Dinginnya kabut membuat ngilu tulang tiap dini hari. Aroma hujan dan romantika kehidupan di gunung ini bercerita lewat desir angin, serta perbincangan alam yang abadi.

Edelweiss sedang memperhatikan Elang. Dari balik mahkotanya yang mungil, Edelweiss selalu memandang ke arah Elang. Elang yang singgah di batu datar itu setiap pagi, dan berdiam di sana hingga mentari tepat di puncak singgasana. Sayapnya yang gagah lantas berkepak membawanya menukik di angkasa, entah ke mana Elang akan berkelana sepanjang sisa hari hingga sang dewi malam bertakhta. Yang Edelweiss tahu, kehangatan selalu mengiringi setiap kedatangan Elang di pagi hari.

Suatu Selasa, ketika mendung menebal angkasa. Matahari tersembunyi di balik gumpalan kelabu. Angin bertiup, seenaknya saja mempermainkan pucuk-pucuk cemara. Ranting-ranting patah. Debu memburamkan pandangan Edelweiss. Di sana, Elang tetap tak bergeming, tak menaruh peduli akan keadaan di sekitarnya. Matanya tetap terfokus pada satu titik di barat daya. Kukunya erat mencengkram tepi batu, tak bergeser barang seinci.

Elang, Elang sedang melihat apa?

Elang sedang memikirkan apa?

Pikiran Edelweiss bergulat dengan tanya. Sibuk sendiri ia menerka, membuat daftar praduga. Tetapi selamanya Edelweiss tidak akan pernah tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.

Pernah suatu kali Elang mengalihkan pandangan dari titik fokusnya. Kepalanya berputar, kakinya bergeser dan tubuhnya berbalik ke arah Edelweiss berada.Sayap-sayap gagah tetap siaga di sisi tubuh Elang. Dan, tanpa dapat dicegah, pandangan mereka bertabrakan. Edelweiss tidak bisa tidak terpaku pada bola mata gelap milik Elang. Sebaliknya, ada sekelebat rasa terkejut bercampur tak nyaman yang tercermin dari pupil Elang, menyebabkan dirinya langsung mengalihkan pandang ke arah lain. Mungkin ia terkejut menangkap sosok mungil itu berada tak jauh darinya, sedang melihat ke arahnya. Mungkin Elang tak mengira sosok yang tampak rapuh itu masih menantinya.

Hanya sepersekian detik pupil gelap Elang memerangkap pandangan Edelweiss, namun ritme tak beraturan bertalu dalam hati Edelweiss. Bunga itu menunduk, adakah ia telah melakukan sebuah kesalahan dengan membiarkan jatuh dalam pesona Elang?

Raja siang nyaris tergelincir dari puncaknya. Elang merentangkan sayap, bersiap untuk mengembara. Sebetulnya perkara mudah baginya mengepakkan sayap di atas samudra, menemukan gunung-gunung lain yang akan menyambut pendaratan gagahnya. Tetapi ada satu hal yang tak bisa membuatnya jauh dari gunung ini. Elang tahu, ada sekuntum bunga yang selalu mengharapkan kehadirannya. Dan, diam-diam, Elang memelihara perasaan yang sama.

Jika saja ada kesempatan untuk bicara...

Jika saja ada waktu yang tepat untuk nyatakan sebuah tanya...

Yogyakarta, 4 Juni 2013


Posted in , , , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.