Archive for August 2013

A Neverdone Flowercrown


Perasaan “menyerah” itu menyakitkan, ya. Iya, bilang saja iya. Saya sedang tidak ingin berdebat.

Ketika saya sudah merangkai bunga-bunga untuk dijadikan mahkota yang besar, kemudian saya sadar kalau bunga-bunga itu kuncup dan tidak bisa mekar... Akhirnya saya memutuskan untuk menyerah dan berhenti merangkai bunga-bunga itu.

Sakit. Semua tenaga dan waktu yang telah saya curahkan menjadi terbuang sia-sia. Saya tidak menghasilkan apa-apa... Mahkota bunga itu tidak pas disematkan di kepala saya. Kuncup-kuncupnya yang layu membuat semua orang menatap prihatin. Dan saya tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah ini.

Apakah bunga-bunga itu benar-benar tidak akan mekar? Bagaimana kalau disirami setiap hari, tidak hanya dengan air tetapi juga dengan penuh kasih sayang serta rasa peduli yang tulus? Tetapi... sampai kapan saya harus memperjuangkan sesuatu yang sia-sia? Sampai kapan... saya harus menunggu... sesuatu yang tidak akan pernah terjadi?

Yogyakarta, 16 Agustus 2013.
Sedang berkutat dengan segala perumpamaan,

Posted in , , , , | Leave a comment

Sesederhana Itu



Laki-laki itu begitu sederhana di mataku.

Di bawah rinai hujan, ia membuka payungnya dan mengiringi langkah beberapa anak kecil yang akan menyeberang jalan. Ucapan terima kasih dari anak-anak itu dibalasnya dengan senyum simpul, dan dari sudut matanya, aku tahu; ada ketulusan yang begitu dalam.

Siang hari ketika tiba jam makan siang, aku memberanikan diri mencuri pandang ke sudut tempatnya duduk menghadap laptop sejak satu jam yang lalu. Kulihat teman-temannya menghampiri, mengajak ke kafetaria. Dengan halus ia menolak sambil mengeluarkan kotak makan yang dibawanya dari rumah. Sebagian temannya tertawa, sebagian lagi mengangguk mengerti, dan akhirnya mereka berlalu.

Kemudian mata kami bertemu. Aku mengeluarkan kotak makan siangku dari dalam tas dan mengangkatnya di samping kepala. Dia nyengir, lantas menepuk kursi kosong di sebelahnya.

Tanpa membuang waktu, aku menghampirinya. Aku bertanya apa yang dia lakukan dengan laptopnya. Dia bercerita, dia sedang mencari resep masakan yang mudah dipraktikkan di rumah. Kedua orangtuanya sedang berada di luar kota. Untuk beberapa minggu ke depan, ia harus mengurus keperluan adik perempuannya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Dan ia merasa perlu bisa memasak beberapa variasi makanan untuk mereka berdua.

Dia sangat menyayangi adiknya, dan sangat bertanggungjawab terhadap orangtuanya untuk memenuhi kebutuhan adiknya. Ia juga sedang belajar mengatur keuangan, sehingga memutuskan untuk membawa makan siang dari rumah untuk menghemat pengeluaran. Sederhana sekali.

Malam harinya, ia mengirimiku sebuah pesan singkat. Ia menyebut beberapa judul novel terjemahan dan bertanya apakah aku punya salah satu di antaranya. Rupanya ia suka membaca buku, dan meskipun banyak dari buku-buku itu yang sudah diangkat ke layar lebar, ia berpendapat bahwa membaca bukunya akan lebih menarik. Laki-laki berpola pikir sederhana itu; aku sependapat dengannya.

Sejak saat itu, yang aku tahu, kami sering berbagi banyak hal. Banyaknya kesamaan di antara kami seringkali menjadi topik pembicaraan yang tak ada habisnya. Sedangkan perbedaan pendapat, kami menyadari bahwa sangat lumrah jika terjadi perbedaan pandangan antara dua orang, maka kami jadikan bahan diskusi bersama.

Sejak saat itu, yang aku tahu, aku mengagumi dirinya. Ya, sesederhana itu.

Semarang, 6 Agustus 2013.
Fiction -- or based on reality? Who knows? :p

Posted in , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.