Archive for October 2013

Teruslah Berjalan

Teruslah berjalan.

Meskipun pemandangan di sekitarmu tampak menyedihkan. Rumput-rumput kering, pepohonan tanpa daun dengan ranting-ranting yang kurus kehitaman. Tak ada hembusan angin karena udara telah lama mati.

Burung-burung yang tersisa saling mematuk satu sama lain dengan sorot keji. Tidak peduli mereka seharusnya hidup damai, saling melindungi, dan bersama-sama menghadapi hawa yang mencekik ini.

Teruslah melangkah, jangan pesimis dan jangan memutuskan untuk diam di tempat.

Karena di ujung jalan setapak itulah, lembah yang hijau menantimu

Karena di akhir perjalanan nanti, burung-burung yang ramah akan mengajakmu terbang bersama mereka, mencapai impianmu yang kaugantung tinggi di angkasa.

Berjalanlah. Atau lari. Jangan putus asa.

Am I talking to myself?
17102013


Posted in , , , , , | Leave a comment

Bantah Aku



Sinisme macam apa lagi yang harus kulontarkan kepadamu
supaya jiwamu terbebas dari sosok bisu
sekali-sekali, debatlah aku
jangan selalu berkata setuju.

Dirimu tidak buta
aku tahu kedua mata terbuka
pun telinga pasti menangkap suara
pernyataanku jauh dari fakta.
Mengapa engkau tak kunjung angkat bicara?
bantah aku, serbu dengan tanya
patahkan argumenku pun tidak mengapa.

Sinisme macam apa lagi
mesti kusembur pada wajah lugu
dirimu tak pegang prinsip
bagai kunang-kunang tanpa kerlip
mengekor di pantat kawan saja bisanya.

Hot room, 13 Oktober 2013.

Posted in , , | Leave a comment

Mencandu Tawamu



"Sudahlah, tak perlu khawatir. Aku ini bisa diandalkan," ucap laki-laki itu sambil menatapku.

"Aku harap begitu," sahutku sambil balik menatapnya. Raut wajahnya berubah, seperti menahan selarik senyum di ujung bibirnya.

"Kau percaya kata-kataku?" tawa laki-laki itu pecah: memantul-mantul pada dinding di sekitar kami seperti suara bola-bola berjatuhan mengisi gendang telingaku.

Aku mengembuskan nafas dan memutar bola mata.

"Jangan suka mengada-ada." Aku mencoba menggunakan nada ketus, tetapi tak sepenuhnya berhasil. Intonasi kalimatku jadi seperti seorang kakak yang menasehati adiknya. Padahal, laki-laki di hadapanku ini lebih tua beberapa bulan dariku.

Ia melempar tatapan jenaka, ekor matanya masih berkerut-kerut sisa tertawa.

"Jangan terlalu mudah percaya padaku," balasnya.

Kalau saja aku bisa mengatakan, betapa aku menyenangi suara tawamu. Lepas dan renyah seperti gebukan drum yang dinamis. Tawamu menunjukkan sisi ekspresif dalam dirimu, suatu hal yang menjelma candu untukku. Katakan apa saja yang kau suka, dear, buatlah aku percaya. Aku akan selalu berusaha sinis meski sebenarnya aku menunggumu tertawa.

Kalau saja aku bisa berkata begitu. Tetapi, kenyataannya... aku hanya membisu, membiarkanmu menerka isi kepalaku, memancingmu kembali tertawa dengan raut cemberutku.

Yogyakarta, 9 Oktober 2013.

Posted in , , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.