Archive for November 2013

Asal Ada Kamu





Biar saja hujan turun sepanjang hari
asal kau di sini
menggetarkan gendang telingaku dengan celotehmu
dan senyum simpul serta kerlingan mata itu
biar saja
menggetarkan dinding-dinding hatiku.

[Picture taken by me on Oct, 23]
[Poem written on Nov, 28]


Posted in , , | 1 Comment

Aurora


Padang ilalang meluas
berbisik kabar dari utara
sampaikan salam bersama angin:
aku merindunya.

Dan bintang-bintang berkedip genit
tak terlelap
menemaniku bernotasi
irama patah hati
meski memetik gitar pun aku gemetar
ingat kalau tak ada darah seni
mengaliri arteri.

Malamku hangat berselimut kegetiran
bulir air mata batal menetes
aku tak mengharap balasan apa-apa darimu
hanya ingin kautahu:
adakah aurora di langit itu
hanya kitalah yang jadi saksinya?

At classroom,  121113.

Posted in , , | Leave a comment

Awan Menggumpal Rindu


 
Rabu, 13 November 2013.

Masih pukul tiga, denyut sekolah ini masih terasa. Belum saatnya istirahat di rumah, banyak kegiatan yang harus diselesaikan. Aku pun begitu. Siap menghentak lapangan dengan sepatu hitam berhak tiga sentimeter.

Masih pukul tiga, tetapi mendung tebal yang menggantung di angkasa  menghalangi cahaya sang surya sehingga tampaknya waktu sudah menunjukkan pukul lima saja. Kutadahkan kepala, siapa tahu ada butir air langit yang mendului teman-temannya, menetesi kelopak mata yang bengkak ini.

Tapi sepertinya Tuhan masih menahan rintik di atas sana.

Batinku diusik gelisah. Jenis awan ini, jenis awan yang selalu membuatku rindu rumah, dan ingin memeluk ibu. Padahal ibu mungkin sedang duduk santai di sisi Tuhan, sambil bertanya juga kapan rintik dan karunia-Nya akan dilepaskan ke bumi yang kini tak lagi ia pijaki.

 Anakmu kuyup menggigil, turunlah sebentar dan dekap aku erat-erat, please, Bu?

Posted in , , , , | Leave a comment

Bersama Kopi

Sebuah fiksi.




Tadinya, saya tidak suka minum kopi. Bukan tidak suka rasanya, hanya saja saya jarang menjadikan kopi sebagai pilihan untuk dikonsumsi, sebab tidak pernah menyediakan stok kopi di rumah. Lagipula, saya tidak pintar menyelidiki kopi mana yang paling nikmat rasanya, sehingga kalau berhenti di rak kopi di supermarket, saya pasti bingung sendiri.

Selain itu, saya masih bertanya-tanya apakah baik untuk mengkonsumsi kopi secara terus-menerus. Beberapa kandungan kopi bisa menimbulkan dampak buruk untuk tubuh, bukan? Informasi ini sering saya baca di majalah maupun media sosial.

Perkenalan dengan kamulah yang membuat saya menjadi tahu lebih banyak tentang dunia kopi. Mulai dari jenis kopi arabika dan robusta, ada pula kopi luwak yang sangat terkenal itu. Kamu juga yang memberi tahu saya mengenai berbagai penyajian kopi: espresso, cappucino, latte, caffè macchiato, irish coffee, hingga frappé. Kamu yang membuat saya pertama kali mencicipi lembutnya karamel dalam caffè latte, serta eksentriknya rasa moccacino jika dibubuhi ekstrak mint. Coffee shop favoritmu pun menjadi kesukaan saya juga belakangan ini.

Petang ini, dengan bangga kau memberitahu kalau kau sudah bisa meracik cappucino dengan hazelnut cream seperti permintaan saya pekan lalu. Maka tanpa buang waktu, saya pun bertandang ke rumahmu. Setelah bertukar kabar dengan ibumu, kau mengajak saya ke dapur dan menunjukkan cara menyeduh cappucino dengan resep buatanmu sendiri.

Jadi di sinilah kita, duduk berhadapan di meja bundar warna putih di pekarangan belakang rumahmu yang teduh. Semerbak harum kantil kuning dan sweet osmanthus kesayangan ibumu sungguh nyaman terhirup indra penciuman. Asap mengepul dari cangkir kopi kita, aroma manisnya pun turut menggelitik minta dicicipi. Tetapi saat saya sentuh cangkir itu, astaga, panasnya bukan main.

"Kau baru boleh pulang setelah menghabiskan cappucino di cangkirmu," ujarmu sambil menatap mata saya.

"Hmm... Sepertinya saya akan tiba di rumah larut malam," sahut saya.

"Saya memang sudah merencanakan hal itu. Karenanya saya tuang air mendidih seluruhnya, supaya kau tidak lekas menghabiskan kopimu," kilahmu dengan seringai jahil. "Kau tahu? Saya hanya ingin waktu berlalu dengan lambat saat saya bersamamu, dan bersama kopi."

Saya tersenyum. Saya pikir, kopi sepahit apapun tentu akan terasa manis jika saya menikmatinya berdua denganmu.

Yogyakarta, 5 November 2013.

Posted in , , , | 2 Comments

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.