Archive for December 2013

Terbang Abadi


Kalau ingin terbang, jangan jadi layang-layang
Jangan pula jadi kunang-kunang
Atau pesawat perang.

Layang-layang bergantung pada seulur benang
Jikalau putus, robeklah ia tertusuk dahan
Sia-sia di ambang.
Cahaya si kunang pun ada kalanya akan padam
Ketika sayap tak mampu berkepak
Terbangnya lekang oleh sang malam.
Sementara pesawat perang itu
Menjatuhkan bom dan meledakkan diri sendiri
Menyisa konflik tiada bertepi.

Kalau ingin terbang, jadilah saja rembulan
Anggun bertakhta di singgasana kelam
Mewah dalam sebentuk kesederhanaan
Abadi dalam peluk genggam Tuhan.

Teladan, 20 Desember 2013.

Posted in , , | Leave a comment

Kutitipkan Pesan




Dari aku, kepada prajurit kebebasan.

Mungkin kita sama-sama tak sadar
kalau sudah menginfeksi satu sama lain
Kadang lucu sekali
bertemu untuk saling mempengaruhi.
Setelah itu, apakah akan jadi berbeda
jika isyarat bisa lebih mewakili ketimbang kata
menerjemahkan rasa
meski kesalahpahaman tetap mungkin terjadi.
Di sini, konsepnya adalah semua tentang manusiawi
di sini, ada aku yang bisa kamu percaya sampai nanti.

P/s: mengapa aku merasa jalan pikirku mudah kaubaca?
Mengapa yang terjadi bukan sebaliknya?
Senin, 16 Desember 2013.



Posted in , , , | Leave a comment

Menuju Pelangi #2


BAGIAN II

Pada pagi yang masih menyisa embun di pucuk daun, kita bertatap muka untuk kedua kalinya. Beratapkan langit nan cerah, aku melihatmu di taman itu, duduk dengan tenang sambil menggoreskan pensil ke permukaan buku sketsa. Seribu tanya mengetuk relungku, sangsi atas pertemuan kedua yang tidak terencana: mungkinkah ini pertanda? Tetapi, aku tidak ingin mengenalmu.

Aku hanya ingin tahu mengapa kau begitu mencinta rintik hujan.

"Gerimis atau badai tak pernah jadi soal. Selama air langit mengguyur ubun-ubunku hingga merendam jemari kakiku, aku mandi kesejukan hujan, nyawaku pun terbarui lagi." Astaga, klise sekali penjelasanmu.

Mehul namamu, demikian lucu terdengar oleh telingaku. Suka hanyut dalam pikiran sendiri, hingga tanpa sadar menggambar isi hati. Meski sketsa itu langsung kaucoret-coret karena malu pada taman bunga yang jadi saksi. Mengapa? Mengapa tak percaya diri?

"Bersama hujan, selalu ada mendung yang menyelimuti. Dan mendung yang kelabu itu tak pernah menawarkan hal lain kecuali suram. Ingat juga, guruh dan petir yang bersahutan, mereka tak pernah diharapkan," ucapku sambil mengangkat bahu. Kau menatapku lurus-lurus tanpa ekspresi, tatapan dingin dan menghakimi.

"Kau ini cerewet sekali," klaimmu mengetuk palu.

Aku meledakkan tawa, tindakan yang pasti tidak kausangka.

"Perbedaan-perbedaan di antara kita memang begitu nyata. Tetapi kesamaan mimpi itu? Kapankah kita akan paham maknanya?" kataku usai melepas tawa, seraya menaiki sepeda dan siap mengayuh menuju jalan utama.

"Aarushi!" panggilmu. "Apakah kau percaya?"

Jumat, 13 Desember 2013 | 22:26.

Posted in , , , , , | Leave a comment

Menuju Pelangi



BAGIAN I

Pada suatu senja, kita bertatap muka untuk pertama kalinya. Langit jingga melatari wajahmu yang menatapku ragu. Seribu tanya mengetuk relungku, mungkin tanya yang sama dengan yang tersimpan di benakmu. Apakah kau alasan mimpiku sepekan terakhir ini? Aku tidak tahu. Aku tidak ingin tahu siapa dirimu.

Aku hanya ingin tahu mengapa kau begitu mencintai sinar matahari.

"Di bawah pancaran sinar matahari, aku merasa hidup. Aku dan matahari saling menyayangi, aku tidak bisa tidak bahagia ketika merasakan kehangatannya setiap pagi," jelasmu seraya mengulum senyum.

Jadi, perempuan di hadapanku ini bernama Aarushi. Rambutnya dikepang lurus ke belakang hingga melewati punggung. Ia mengapit bola basketnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menjinjing sepasang Converse biru tua dengan tali sepatu yang sudah berwarna kecokelatan.

"Hidupmu tidak boleh tergantung pada matahari. Kau harus belajar bahagia meski matahari tidak bertakhta di angkasa, atau... yah, sebentar lagi kau akan mati," kilahku sambil mengerling ke arah bola oranye yang hampir menyentuh garis cakrawala. Senyummu sempurna hilang, seiring mega kelabu yang perlahan mulai menaungi. Desir angin seakan mengisyaratkan kalau hujan mungkin turun tak lama lagi.

Alismu bertaut. "Untuk apa aku mendengarkan omong kosong anak ini? Bahkan sedikitpun aku tidak mengenalmu."

Kini aku yang tersenyum.

"Coba ingat mimpi-mimpimu beberapa malam terakhir," ucapku, seraya berbalik dan mengayunkan langkah menuju sesuatu yang sama sekali tak kuperkirakan -- pertemuan kita berikutnya.

Selasa, 10 Desember 2013 | 17:38.

Posted in , , , | Leave a comment

Mencari Titik Temu


Waktumu, waktu kita, sepertinya tak pernah berada pada zona yang sama. Aku tidak tahu jam jenis apa yang kaulingkarkan di pergelangan tanganmu, atau kaugantungkan pada salah satu dinding kamarmu. Jam pasir, barangkali? Terbukti dari perasaan sesakku akibat kautimbun waktuku dengan pasir-pasir itu.

Apakah kau pernah membayangkan, seorang gadis di tepi malam, menyusuri lorong-lorong yang simpang siur tanpa kepastian -- kau tahu apa yang ia anggap petunjuk jalan? Kau tahu apa yang tertulis pada peta yang ia genggam? Namamu. Hanya itu yang ia punya, beserta serpihan harap bahwa suatu saat nanti, waktu akan berbaik hati untuk mempertemukannya denganmu.

Potongan-potongan mimpi yang kabur itu tidak berarti banyak. Hanya membuat sengal dan nafas kian sesak. Gadis itu sudah terlalu lama menunggu, tetapi kau tak datang juga untuk menjemputnya. Sebenarnya, ia merasa lancang telah berani berharap bahwa kau mungkin membalikkan badan dan menyadari kalau ia tertinggal dari langkahmu. Ia kehilangan jejakmu.

Jika saja kau mencarinya saat dia merasa hilang.

Jika saja kau menunggunya saat dia berlari menyusul.

Dia hanya ingin merasakan sejenak lega, saat tahu kau masih menganggapnya ada. Dia hanya ingin melihat sosokmu, melambaikan tangan dan bertukar tatapan saling percaya. Tetapi saat ini, dia masih bertanya, kapan garis-garis di ujung kuasnya mencapai titik temu.

Yogyakarta, 1 Desember 2013.
Yang letih mencari dalam kepercumaan; yang enggan menunggu dalam kesia-siaan.

Posted in , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.