Archive for 2014

Kepada Hujan

Pic from here
Selamat datang, musim penghujan.

Setiap rinaimu menghadirkan keping-keping cerita di sudut hati. Kilas kenangan, kerlip mimpi-mimpi yang sedang aku coba perjuangkan, ada pula percik rindu yang mulai mengetuk relung nurani.

Jangan tanya untuk siapa. Karena aku sendiri tak tahu jawabnya.

Rintiklah perlahan, hujan. Jangan kauterpa aku kencang-kencang. Kecuali bila suatu hari kautemui aku sedang bersama tangis yang ingin kusembunyikan.

Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu sesuatu. (Novel Hujan Punya Cerita tentang Kita - Yoana Dianika)

Se-la-mat da-tang... rindu?

Posted in , , , , | Leave a comment

Levemente de memória

Untuk Zaza

Aku mengenal dikau, tak cukup lama. Potongan syair lagu Harmoni yang dinyanyikan oleh Padi ini tiba-tiba meloncat dalam kepala saat aku mulai menulis.

Memang belum lama: tiga tahun pertemanan kita di Sekolah Menengah Pertama, ditambah tiga tahun ketika kita melanjutkan ke sekolah yang berbeda. Untuk tahun-tahun mendatang, kita juga masih akan berteman kan, Za? Hingga mungkin suatu saat ketika aku sudah renta, kepada cucu aku akan bercerita, "Mbah Zaza ini sahabat nenek sejak kami masih muda."

Zaza,
malam ini aku teringat kisah kita, SMP kelas dua. Kita nyaris selalu duduk sebangku di barisan paling depan. Banyak hal yang kita bicarakan. Masih ingat saat kelas kita dilanda demam Korea? Atau saat kita ngefans sama boyband Indonesia, sampai beramai-ramai mengikuti serialnya di televisi? Kalau diingat-ingat, geli rasanya. Tingkah kita masih polos dan mudah terbawa arus.

Dulu saat di SMP, kita begitu sejalan. Aku bilang apa, kau mengiyakan. Kau menyampaikan opini, aku menyetujui. Kita juga berbagi banyak hal, termausuk cerita-cerita lugu mengenai cinta monyet kala itu, ingatkah?

Lalu kita menjejak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Aku melanjutkan ke SMA, dan kamu ke SMK, dengan dukungan penuh dari orangtuamu. Sebisa mungkin kita tidak mengabaikan komunikasi. Kita masih berkirim pesan singkat sesekali. Masih sempat pula berbalas sapa pada semua akun sosial media yang kita miliki. Setahun terakhir, kita mulai jarang bertemu. Aku tahu, perubahan-perubahan itu ada. Baik perubahan dari dirimu, maupun aku sendiri. Kita mungkin tidak lagi benar-benar sejalan seperti dulu. Kita mulai menemukan prinsip yang kita pegang masing-masing. Tapi, itu sama sekali tidak mengubah persahabatan kita, bukan?

Beberapa event di waktu senggang mempertemukan kita. Reuni kecil-kecilan yang dikemas dalam acara buka bersama teman-teman kelas delapan, atau buka bersama empat serangkai aku, Zaza, Hida, dan Ara yang berpindah-pindah rumah dari tahun ke tahun. Mengenai empat serangkai kita, sepertinya paling banyak berperan dalam membuat agenda supaya kita dapat bertemu: rencana-rencana saat salah satu dari kita berulang tahun.

Zaza,
selamat menapaki usia baru. Delapan belas tahun, artinya benar-benar awal untuk sebuah kedewasaan, ya. Sebenarnya sejak dulu, aku selalu menganggapmu dewasa. Kau pandai dalam banyak hal, selain itu juga bijaksana. Tetaplah seperti itu. Tetap rendah hati dan jangan mudah putus asa. Jadilah perempuan sholihah yang bisa menyebarkan semangat untuk orang-orang di sekitarmu. Selamat menggali ilmu, mewujudkan cita-cita. Semoga bahagia selalu.

Kadang, merindukan seorang sahabat bisa semengharukan ini, ya. Aku kangen Zaza. Kangen mendengar nasehat-nasehat darimu. Akhir-akhir ini, aku sedang butuh sosok yang bisa mengayomi. Tidak banyak orang yang bisa mengerti aku. Kamu adalah salah satu dari yang tidak banyak itu. Terimakasih untuk setiap waktu yang kamu luangkan untuk mendengarkan celotehku. Tentang seluk-beluk masa lalu, tentang diriku sendiri, tentang apa saja. Kalau kamu mau, kamu juga boleh cerita apa saja padaku. Aku akan selalu di sini, bersedia mendengarkan dan berusaha membantu. Di waktu senggangmu, hubungi saja aku... Tapi, eh—sepertinya kamu sedang sibuk belajar, ya?

Sekali lagi, selamat menapaki usia baru. Semoga perlindungan Allah selalu menyertaimu dan keluargamu. Barakallah! ({})


Zaza (purple) and me (red) taking selfie at Kawah Sikidang, Dieng. April, 2014.
Aku mengenal dikau, tak cukup lama
separuh usiaku.
Namun begitu banyak
pelajaran yang aku terima
...kau membuatku mengerti hidup ini.
With the warmest hug,

Posted in , , , , | Leave a comment

Malam Ini Pesta Es Milo

Konco kenthel itu;
yang tiba-tiba sms, "Chak di rumah? Privat aku nulis cerpen." Terus aku balesin, "Iya ini baru sampe rumah. Bete nih air esku diminum adikku jadi tinggal separo, padahal udah tak siapin dari kemarin di kulkas huftttt!"


Terus ba'da Maghrib dia muncul di pintu kamarmu bawain es milo.

Sebelum pulang, sempet mejeng-mejeng di depan kaca, nyari kesamaan muka kita gara-gara banyak yang bilang mirip.

Semoga cerpenmu dapat nilai bagus.

Xiexie, Mo! {}

Posted in , , , | Leave a comment

Jangan Cuek

Beberapa orang terlahir dengan sifat bawaan mereka yang pendiam. Hemat dalam berbicara. Irit berkata-kata. Hanya mengucapkan sebaris-dua kalimat saat benar-benar merasa perlu saja.

Kadang, yang seperti itu bikin geregetan sendiri.

Membuat aku berulang kali ingin meneriakkan, "Bicaralah! Katakan sesuatu!" tapi tak sampai terucap lidah. Selalu hanya menjelma gemuruh batin.

Sejujurnya aku ingin minta ditegur. Ditanyai. Dinasehati.

Karena teguran, pertanyaan, dan nasehat bisa jadi sebuah bentuk perhatian tersendiri.

Aku rindu bentuk perhatian seperti itu, Yah.


Posted in , , , , , , , , | Leave a comment

Jangan Bebal

Beberapa orang terlahir dengan kemampuan bicara yang baik. Bukan berarti sejak lahir langsung bisa ngomong, bukan itu maksudnya. Tahu sendirilah. Mudah menyampaikan apa yang ada dalam kepalanya. Membuat orang lain mengerti.

Eh. Kalimat terakhir mohon dibaca kembali. Membuat orang lain mengerti, bukan berarti menjadikannya sepaham dengan kita. Bukan pula memaksanya mengikuti jalan pikir kita.

Kadang, orang yang pandai bicara itu menyimpan hal-hal brilian dalam kepalanya. Tetapi kadang ia lupa, dengan siapa ia berbicara. Digunakannya volume suara yang keras, nada tinggi, dan kesan 'ngotot' dalam materi yang disampaikannya. Ia lupa, yang dia hadapi adalah orang yang seharusnya dihormati. Maka memelankan suara dan menggunakan sikap tubuh yang sopan sudah seharusnya dipenuhi. Ia lupa, yang dia hadapi adalah perempuan yang perasaannya selembut kapas. Maka ungkapan merendahkan dan meremehkan sudah seharusnya dihindari, karena perempuan mudah sekali terluka.

Orang-orang yang selalu lancar dalam menyampaikan pendapat itu hebat. Tapi kalau ia tidak memberi kesempatan orang lain untuk menyampaikan pendapat mereka, atau tidak memberi kesempatan dirinya sendiri untuk mendengarkan opini orang lain, maka hanya lidah saja yang pandai bersilat, tetapi hatinya tertutup dari masukan. Padahal masukan dari orang lain bisa saja bernilai positif.

Jangan selalu merasa benar. Jangan punya gengsi terlalu besar. Mengakui kalau diri kita salah, dan menerima argumen orang lain, bukan berarti kalah. Miliki hati yang besar, lihat sekitar dengan sudut pandang lebih lebar.

Jangan bebal...


Posted in , , , , , , , , | Leave a comment

Apa yang Kubaca

Beberapa tulisan bisa begitu menyentuh, membuatku merasa sedih bahkan menangis saat membacanya. Kadang, bukan murni karena isi tulisannya, tapi karena aku tahu siapa yang menulis, dan bagaimana dia.

Tapi sering juga aku larut dalam haru membaca tulisan yang tidak kuketahui siapa penulisnya, atau kalaupun tahu, aku tidak kenal. Kenal dalam arti berinteraksi sehari-hari, sebab mereka para penulis ada di balik layar dunia maya, kadang juga menggunakan nama pena.

Sejak dulu aku percaya: ada kekuatan terkandung dalam setiap tulisan.

Tulisan sekian ratus halaman berupa kisah nyata yang dinovelkan. Prosa singkat sanggup menggetarkan. Bahkan sebaris kalimat yang kadang terselip di antara jutaan frasa lainnya, semua punya kekuatan masing-masing.

Sadar atau tidak, aku jadi mencocokkan tulisan yang aku baca dengan apa yang kualami atau kurasa. Dari situ awal mula sergapan haru. Cengeng, aku lantas tersedu.

Subjektif. Hanya berlaku untukku sendiri, mungkin, Sebuah status BBM yang di-capture oleh seorang kawan, lalu kutemukan saat aku iseng menjelajahi galeri ponselnya. Tepat sepekan yang lalu...

Siapa yang ibunya telah meninggal, maka tertutuplah satu pintu keberkahan, yaitu keberkahan doa ibu.


Posted in , , , , , | Leave a comment

Selalu Sempat

Aku terperangkap di sini, di antara langkah kaki tergesa -- seperti juga milikku -- seruan agar bergegas, dan itu semacam arena yang menguji kita supaya jaga keseimbangan. Aku tidak sempat menghindar ketika seseorang menyinggung bahuku dari arah berlawanan, dia tak sempat menoleh apalagi minta maaf, seperti halnya aku tak sempat merasakan sakit.

Kaki membawaku setengah berlari, padahal tak punya tujuan pasti.

Sampai kemudian sosokmu tertangkap pandangan, lalu aku tahu hati dan kaki membuat kesepakatan bahkan tanpa diskusi.

Sibuk kuatur emosi, mencoba konsisten pada kondisi tapi rasanya satu realita tak dapat kupungkiri. Dalam ketergesaan, aku tetap sempat menghampiri -- hanya kau.

Hanya kau yang sanggup mencipta jeda, lalu tiba-tiba membuat aku berhenti.

Mengingatmu. Aku selalu punya waktu.

Selanjutnya, izinkan aku menyapamu.


071014.

Posted in , , , , | Leave a comment

Kepada Oktober

Oktober datang tiba-tiba, mengendap di belakang punggungku dan menyergap dengan tergesa. Aku bahkan belum sempat menguraikan September dan segala pernak-perniknya.

Tapi aku tak mengelak jika disalahkan, memang aku yang kurang sigap menindak semua cerita.

Hari pertama Oktober, kami harus melepas bapak bekerja menyeberangi samudra. Bapak pergi dalam misi memetakan daerah karst di Flores, bekerja sama dengan Badan Geologi dan tim peneliti Belanda.

Itu artinya, kami akan merayakan Idul Adha tanpa bapak.

Oktober, terus terang... aku (terpaksa) masih menyimpan sisa-sisa pelik kisah September. Sebab yang menjadi tokoh kunci adalah dia yang kini justru pergi jauh ke timur. Bapak. Ada pembicaraan yang harus kuselesaikan dengan bapak. Ada keruwetan yang ingin segera dapat aku tarik simpulnya.

Bawa bapak pulang ke rumah tak lebih dari tanggal sepuluhmu, Oktober. Seperti yang bapak janjikan. Setelah itu, aku pun masih tidak bisa menjamin dapat langsung berhadapan dan bicara padanya. Jujur aku masih ragu menentukan jeda, menyiapkan ancang-ancang, lalu masuk ke ritme bapak. Bantu aku, Oktober, berkenankah dikau?

Oktober, siangmu terik, anginmu kencang sekali. Membuatku takut. Aku khawatir deru angin menggugurkan niat-niat yang sedang coba kurangkai. Keping harap yang sedang coba kuuntai. Tapi, eh, sejak kapan aku jadi sepesimis ini?

Tak ada yang mengajariku untuk jadi pesimis. Cemas itu wajar, tapi aku tidak membiarkan cemas mengecilkan hatiku. Kau setuju denganku, kan, Oktober?

Yogyakarta, 2 Oktober 2014.

Posted in , , , , | Leave a comment

Damai dalam Kepalaku

Beri aku sepotong kisah tentang damai
agar dapat kuramu puisi indah
Apakah damai tersampaikan oleh kalimat
“riak-riak air membias jingga mata dewa”?
atau begini:
“padang ilalang tumbuh seiring usia
Tinggi rumpunnya diatapi gugus mega”?

Ceritakan padaku, kawan
bagaimana damai dalam kepalamu
meneruskan sinyal bahagia ke jantung, lalu
menuju berkah kehidupan

Supaya tak melulu puisi damai yang kuracik itu
berputar pada sekitar
“aku berandai-andai pulang ke pelukan-Mu.”

Yogyakarta, 30 September 2014.

Posted in | Leave a comment

m(Badut)

Situ sadar kalau banyak ditertawakan orang?
Merasa ada yang salah, barangkali
kuping panas
atau kedutan kelopak mata kiri

Sampeyan sehat, cukup mengherankan
Sementara kami tak henti mereka ulang
tragedi terjungkalnya tokoh kami
terjerembap ke pelimbahan
jadi hiburan buat kaum terbuang
Penasaran sungguh, ingin periksa
situ punya jidat, masa iya tak ada benjol?

Terpingkal bukan buatan
si jago lawak mahir bikin terbahak
di balik kaos masih seonggok lemak
puncak-puncak kesombongan, sayangnya botak

Sekiranya benar-benar mbadut,
mau sampai kapan, Pak?

Yogyakarta, 29 September 2014.

Posted in | Leave a comment

Dijebak Sang September

Untuk sahabat-sahabatku.

Pertengahan September. Aku cemas. Cabang-cabang otak menyimpul tanya. Apa aku bisa melalui semuanya? Menyusun rencana. Menuntut segera terlaksana. Aku sangat cemas. Kelabakan. September sudah menjebakku, rupanya.

Menjebak dengan senjata: kilas memori. Pengalaman Winner Camp di Belitung, tanggal empat sampai tujuh lalu. Kepanitiaan organisasi pameran pendidikan. Pertemuan. Percakapan. Gurau, dan gelora rasa yang tiba-tiba menyeruak ke permukaan.

Ada pula saatnya aku duduk-duduk saja. Bersama kalian, sahabat-sahabatku. Bertukar pikiran. Mencurahkan segala yang awalnya ditahan-tahan. Sesak. Tangis pun menjelma. Masih sesak. Begitu terus, sampai kita lelah. Lalu akhirnya pulang dan berharap lega.

Semua ini tidak mudah untuk dilalui. Apalagi mengingat labilnya remaja, seakan sudah siap aku divonis tertekan batin dan terganggu jiwa. Mudah benar terguncang emosinya. Tetapi aku tidak ingin menyerah. Aku percaya, ada pesan Tuhan membalas cemas dan bimbangku. Mengujiku untuk mengungkap makna. Menguji kita.

Berkenankah kalian menggandeng tanganku, berjuang bersama menuju titik bahagia?

Dijebak secara sukarela,

Posted in , , , , , , , | 1 Comment

Lepas Landas Duluan


Tiga helikopter kecil di bandara kecil,
Bernyanyi dan berbagi segala
Mengisi waktu dengan banyak-banyak tawa

Saling menguatkan pada amuk cuaca
yang menerjang baling-baling mereka.

Tiga helikopter kecil di bandara yang sepi
Pada suatu hari didatangi sang pengelana

Lalu, tidak berapa lama
Lepas landas salah satu heli bersamanya.

Melayang
Melayang di angkasa

“Terbang rendah-rendah saja,”
Pinta dua heli lainnya.
Terharu, sambil melempar tatapan menggoda.


Well, ini bukan puisi, bukan pula curah hati
hanya sepotong analogi
buat sahabatku yang manis
dan sedang diterbangkan pilot pengelana.

Jangan lupa bandara ya :')

Yogyakarta, 13 Agustus 2014.
One of the heli,

Posted in , , , , | Leave a comment

Kalian Jadian Saja

Kamu, temanku yang manja. Pada dasarnya keras kepala. Mengaku suka kebebasan, tapi kenyataannya kamu biarkan dirimu terikat pada dermaga yang tak lagi mendamba. Jujur saja, aku masih belajar bagaimana cara berteman dengan pribadi seperti kamu. Perempuan yang ayu, labil, dan sekali lagi: keras kepala.

Kamu, temanku juga. Lama memburu bintang yang tak kunjung jatuh ke pelukan. Hingga mungkin, kini kau menyerah dan melangkah mencari bintangmu yang lain. Aku pikir, kamu adalah laki-laki yang membiarkan hidupmu mengalir santai dan tanpa beban.

Kita bertiga bertemu pada waktu yang sama.

Kalian lebih banyak menghabiskan waktu berdua.

Barangkali kalian ditakdirkan untuk saling menemani. Menggenapi satu sama lain. Mengisi ruang hati yang ingin berganti penghuni.

Kalian jadian saja...

Yogyakarta, 11 Agustus 2014

Posted in , , , , | Leave a comment

Happy Birthday Miss Independent

Take a selfie: on the way to Semarang by bus (July 3, 2014).

Saturday, July 19, 2014.


Chase your dreams,
and remember me, sweet bravery,
'Cause after all those wings will take you up so high.

Dear adikku yang paling mandiri, bahkan lebih mandiri daripada aku, Rasyiida Acintya. Kuharap kamu menangkap sinyal semangat dan optimisme seiring nada-nada pada lagu To The Sky dari Owl City itu. Selamat menginjak usiamu yang ke-13. Selamat menjalani hari-hari sebagai siswa berseragam putih-biru.

Terimakasih sudah menjadi anak yang mandiri di keluarga kecil kita ini. Terimakasih karena kamu begitu cekatan memikul tanggungjawab yang mungkin seharusnya belum terpikir: beres-beres rumah, menanak nasi, membuat teh setiap hari. Kita sama-sama belajar mendewasakan diri sejak ibu pergi.

Maaf Tya, aku sebagai kakak belum bisa memberi contoh yang baik untuk kamu dan Naya. Maaf kalau aku selalu harus diingatkan bahkan diomeli dulu olehmu sebelum melakukan sesuatu. Maaf juga karena aku sering menyebalkan bagimu... (Bagian yang paling menyebalkan dari seorang kakak perempuan adalah, dia sadar kalau dirinya menyebalkan, tapi dia tetap tidak mengubah sikap. Bukan begitu?)

Yang kamu perlu tahu, di balik keusilan Kak Echa dan Dik Naya ini selalu terdapat kasih sayang yang besar: kami sayang sama Tya, kami berdoa semoga Tya bisa berkembang menjadi lebih baik lagi, dan kami percaya Tya mampu mewujudkan cita-cita yang setinggi langit. ♥♥♥

Kakakmu yang super-jahil,


Posted in , , , , | Leave a comment

Te Necesito Aquí


Tuesday, July 15, 2014.

Sekadar pengantar:
Ini tanggal 15 Juli, ya? Wah, berarti tepat 13 tahun yang lalu, Echa kecil masuk sekolah hari pertama. Berangkat ke TK ABA Ukhuwah Islamiyah yang berjarak tidak sampai 200 meter dari rumah, diantar Ibu Ika. Duduk di kelas Nol Kecil. Di atas kursi yang warna-warni dan juga berukuran kecil. Hehe, masih inget aja, kan ada fotonyaaaa. Echa pakai seragam TK ABA yang khas itu (celana hijau, atasnya kuning pudar), dan Ibu Ika bersandar di gawang pintu depan rumah. Perut Ibu tampak besar di foto itu. Ibu sedang mengandung Tya, adik pertamaku yang lahir empat hari kemudian.

Well, jadi sebentar lagi Tya ulang tahun. Kasih kado apa ya? Ada saran? Teman-temannya pasti belum tahu kalau Tya ultah hahaha dia kan baru beberapa hari masuk SMP. :D

Mulai masuk ke topik utama.
Tadi aku pergi sama Anik sama Mooi, buka puasa di Calzone. Sebenarnya tadi batalin puasanya udah di rumahku deng, cuman minum teh doang. Abis sholat maghrib terus pancal ke Calzone. Terakhir kita pergi bertiga itu waktu ada pameran komputer + makanan di JEC, kapan itu ya...lupa deh.

Echa, Anik, Mooi. Berat badan rata-rata 40 kilogram. Tinggi badan rata-rata 155 sentimeter. Kalau nggak pake seragam putih abu-abu, blas nggak keliatan kayak anak SMA. Apalagi didukung tingkahku sama Mooi yang gila-gilaan, nggak bisa diem, iyik banget lah pokoknya. Anik sering keki sendiri kalo aku sama Mooi udah 'mulai kumat.' Hahaha, ya beginilah kita. Kalau pergi-pergi naik motor, malah kayak anak kecil minggat dari rumah bawa kabur motor bapaknya. Parah. :)))

Echa, Anik, Mooi. Kalau udah kumpul bertiga, pasti langsung giliran ceritain apa yang lagi dialami. Pengalaman di rumah, di sekolah, di hati masing-masing. Biasa, konflik dan dinamika kehidupan remaja. Ceilaah. Setelah diceritain, ternyata kalau dipikir lagi tuh sebenernya masalah kita sepele dan konyol banget hahahaha. Tapi seneng aja gitu denger tanggapan, celetukan, nasihat, dan solusi yang ditawarkan sama sahabat kita.

Anyway, maaf ya Nik, Mo, tadi waktu Mooi lagi cerita terus Echa mendadak beleleran air mata sambil masih lanjut ketawa. Padahal yang diceritain Mooi tuh tentang adik cowoknya yang baru masuk SMP, terus nembak cewek ahahahaha. Kalian ekspresinya langsung bingung banget, bingung sisi mana dari cerita itu yang bikin Echa mewek, bingung kenapa Echa nangisnya sambil ketawa, bingung gimana biar Echa berhenti nangis.

Sebenernya kalau Echa lagi kayak gitu, ya kalian nggak usah ngapa-ngapain. Diem aja, tetep di samping Echa, give me a hug, maybe? Tapi jangan pergi. Tetep di samping Echa aja, sambil senyum. Tadi nggak lama kan, Echa terus balik biasa lagi?

Maaf ya... Maaf karena Echa terlalu sentimentil dan kadang out of control. Makasih juga, makasih karena kalian tetap mau bersahabat sama Echa dan nerima kekuranganku itu. Masih banyak kekuranganku yang lain, tapi kalian sayang Echa apa adanya kan? Seperti Echa sayang kalian juga. Echa minta kalian tetap begitu selamanya... Jangan capek atau bosen jadi sahabatku. Because I honestly don't know what would I do without you. Tenan ki, gak maksud gombal.

Kalau kalian punya waktu luang, coba dengerin lagunya HiVi! yang judulnya Dear Friend, itu yang pengin aku ungkapin ke kalian dan ke semua sahabat-sahabatku. {{{♥}}}

MUCHAS GRACIAS, AMIGO! ♥♥♥

Posted in , , , , | Leave a comment

Selagi Punya Hati

Rasailah
Suka bercita-cita
atau bahagia yang tak pernah terlalu melelahkan
untuk tertawa di atas tawa
maka tak ada yang mampu menyalahkan
kau tumbang digusur kesombongan.

Merasalah sedih dan luka
Sayatan bukan saja di nurani, tapi
juga memukul ulu hati
karena orang-orang di luar sana tak mengerti
maka habis kau
dilumat rendah diri.

Terima saja segala yang diberi hidup
Telan bulat-bulat
Meski artinya harus terabai kerja otak
yang menyaring. Yang memilah, memilih
tak masalah
selagi lidah dapat mengecap asam-garam
sebab bila terlanjur hatimu membeku
keras dan beku bisu
menjelmalah: gunung dan laut
tak pernah tertawa atau menangis.

Takdir memang begitu
Maka rasailah,
rasailah.


Yogyakarta, 11 Juli 2014.

Posted in , , | Leave a comment

Retoris

Sebuah fiksi.





Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada bergelut dengan perasaan ini. Rasa kehilangan, lebih tepatnya: kehilangan harapan. Putus asa.

Tadi bukan kali pertama aku mengucapkan selamat malam kepadamu, kan? Juga ucapan selamat pagi, tak pernah luput kauterima dariku. Kemarin, kemarinnya, dan kemarinnya lagi. Pernah juga secara nekat aku datang ke rumahmu, pagi-pagi sekali. Aku belum cukup nyali untuk menemuimu, atau kalau tanpa sengaja ibumu yang membuka pintu; aku hanya meninggalkan sekotak sarapan di teras. Sama sekali tidak kutinggalkan identitas, tetapi kau langsung meneleponku untuk bilang terima kasih.

Kenapa kau tidak bisa menyukaiku?

Ingatkah kau saat gerimis sore itu, aku jalan kaki sendiri sambil menenteng sepatu? Aku sendirian dan kedinginan, sampai akhirnya kau datang. Menjajari langkahku. Ikut-ikutan menenteng sepatumu. Kita nyanyikan bersama lagu yang kausuka. Tak peduli hujan kian deras membasahi seragam kita.

Kenapa kau tidak bisa menyukaiku?

Saat kau lebih dewasa, kita mulai bicara hal-hal yang lebih serius. Wajahmu demikian murung saat itu, dan aku langsung tahu ada sesuatu yang salah. Kau tengah dilanda patah hati. Aku mengajakmu ke sebuah kafe, hingga kini pun kau mematenkan menu cokelat panasnya sebagai favoritmu. Kita tertawa, dan kaubilang aku telah berhasil membuatmu lupa pada sakit hatimu. Seakan belum cukup membuatku merona, kautegaskan juga bahwa aku perempuan yang paling mengerti dirimu.

Aku sahabatmu.

Apakah itu alasannya, kau tidak bisa menyukaiku?

Ah, barangkali ada yang lebih menyedihkan daripada rasa putus asa: terpaksa memendam segalanya, sebab kau tahu... mengungkapkan tidak ada gunanya.

Yogyakarta, 10 Juli 2014 | 23.30 WIB

Posted in , , , , , , | Leave a comment

Keping Memori

Monday, July 7, 2014.


Hello, fellas! Siang tadi Echa dan Naya kembali ke Jogja, setelah beberapa hari kemarin kumpul keluarga besar di Semarang untuk mendoakan bertambah umurnya eyang kakung (dari bapak). Pagi tadi, Tya sudah daftar ulang di SMPN 2. Begitu aku dan Naya datang, Tya ngasih tahu kalau bapak baru saja meng-copy film-film lama dari kepingan VCD yang tersimpan rapi di box. Heboh, kami langsung nonton film itu di laptop.

Ehm, bukan film sih sebenernya. Cuma video rekaman keluarga, dulu kan bapak punya handycam sederhana, lumayanlah untuk mengabadikan momen-momen keluarga. Salah satu di antaranya ada rekaman tahun 2000 yang diambil di rumah eyang (dari ibu) di Kutowinangun. Waktu itu, aku masih umur 3 tahun. Masih lucu, menggemaskan, cengeng, suaranya cempreng~

Check these captured screen!
[Sorry for bad quality graphics. I didn't know how to fix this problem.]

"Sampe nggak pegang daunnya?" tanya bapak. | "Sampe, sampe!" jawab Echa.



Kuping Echa caplanggg bangeeetttt hahahaha._.

BAGIAN INI BIKIN DEG-DEGAN. KALIAN HARUS NONTON LANGSUNG!

Salam jempol dulu, udah berhasil naik-naik ke puncak pagar nih~

See? Waktu kecil aku suka manjat-manjat. Kursi kecil, kursi tukang, pagar rumah. Bapak ngebolehin aja, bahkan di rekaman itu malah bapak yang "nantangin" duluan. Prinsipnya bapak emang gitu, biarkan anak bebas berekspresi dengan dukungan dan pengawasan orangtua, daripada curi-curi melakukan hobinya, salah-salah malah melakukan hal yang berbahaya. Bapak bilang, melakukan apa aja boleh asal bisa ngambil manfaatnya. Eh tapi kalo manjat-manjat gitu manfaatnya apa ya? Hahaha kan jadi nggak takut ketinggian, ya nggak sih...

Selain bukti tingkahku yang pecicilan, rekaman video di Kutowinangun itu juga menyimpan memori tentang almarhumah ibu. Ibu yang sabar banget merawat Echa, menanggapi Echa yang ceriwis dan suka bertanya.

"Naik sepedanya digenjot, Echa.." kata ibu. | "Dorongin aja buk..." pinta Echa.

GIMANA, MIRIP NGGAK SAMA WAJAHKU SEKARANG? CANTIKAN YANG DULU YAAA.


Disuruh roll-depan, Echa malah kayang.


Dulu Echa sukanya naik-naik kursi, lompat ke kasur, sambil minta ditangkap gitu.


Abis lompat, ditabok sama ibu sepuluh kali, tapi Echa malah ketawa-ketawa.


"Yang tinggi Pak, yang tinggi..."


Eyang yang ada di ruangan itu pun hanya bisa ternganga pas bapak mulai melatih "seni" akrobat.

Dua foto terakhir itu Echa lagi akrobat sama bapak. Wih, dulu badanku lentur banget pokoknya, tangan-kaki bisa ditekuk sana-sini hahaha :D

Kangeeeeen banget sama masa kecil yang bahagia gitu. Yeah, dulu aku emang cengeng banget sih, tapi juga gampang ketawa lagi. Samar-samar aku masih inget waktu itu, aku selalu nempel sama ibu, ibu yang setiap hari ngurusin kebutuhanku. Aku bersyukur Ya Allah, bapak punya rekaman video ini, seenggaknya bisa buat mengenang ibu yang sekarang udah pergi jauh. :')

Tadi aku sempet lihat sekelebat rasa iri terpancar dari tatapan Naya waktu kita nonton video ini bareng-bareng. Mungkin Naya sedih karena ibu begitu cepat pergi, Naya bahkan belum masuk TK waktu ibu pergi, dan Naya nggak punya banyak kenangan sama ibu. Aku berusaha menghibur secara tersirat, aku ingin menjaga perasaan Naya, tapi aku cuman bisa memberi Naya tatapan hey-kamu-masih-punya-kakak-kok.

Maksudku, hey! Tya, Naya, adikku yang sangat aku cinta, dengarkan kakak. Kita anak-anak yang kuat, kita akan tumbuh menjadi orang-orang hebat, semua itu karena didikan bapak dan ibu yang sangat menyayangi kita dan kita sayangi. Jadi, daripada hanya diam di tempat, menerawang masa lalu yang nggak akan bisa kembali lagi, lebih baik kita lari maju, berprestasi, berbakti pada bapak, sosok berharga yang masih kita miliki.

Ehm. Nulisnya gampang ya. Tapi... untuk menyampaikan langsung ke mereka, nggak semudah yang kalian bayangkan, gais.

Selamat malam :)

Posted in , , , | 1 Comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.