Archive for January 2014

On the Night Like This



Di luar hujan. Aku melihat derasnya terpantul pada bola matamu yang mengawasi melalui jendela ruangan kecil ini. Kau selalu saja menganggap turunnya hujan sebagai sesuatu yang menarik. Kebiasaanmu memandangi hujan membuatku berpikir seakan ada magnet yang menyebabkan pandanganmu terpaku pada rintik-rintik hujan itu.

“Saat hujan, benih-benih di bawah tanah menggeliat dan bersiap-siap untuk tumbuh keesokan harinya. Kala mentari muncul, tunas muda pertama menyeruak, ia tumbuh bersama pelangi yang indah,” ujarmu berdeklamasi beberapa waktu yang lalu, saat hujan lebat memerangkap kita dalam sebuah warung makan.

Malam ini pun, aku menangkap segenggam harap pada doamu yang kaubisikkan ketika hujan. Kau bilang, ingin negara kita semakin maju di bidang pendidikan. Kau bilang, banyak kekayaan alam yang bisa diolah sehingga menjamin kemakmuran. Seringkali aku hanya diam, mengangguk mendengarkan.

Di luar hujan. Mungkin angin sedang berembus menusuk tulang. Tetapi di sini, hanya hangat yang aku rasakan. Keberadaanmu selalu membawa rasa nyaman. Waktu bergulir dengan cepatnya, malam kian larut tanpa terasa. Aku belum ingin pulang. Karena aku sedang memijak momentum yang sangat berharga.

Kau dan aku; kita bertukar cerita yang tidak kita bagi dengan orang lain. Sesekali kau meledekku habis-habisan, membuatku mendengus kesal. Semenit kemudian beradu argumen dan berdebat untuk topik yang seru dibicarakan. Selanjutnya aku mendengarkan masa lalu mengalir lewat celotehmu, masa lalu yang ingin kaulupakan, yang ingin kaujadikan pelajaran. Kemudian giliranku membagi cita dan angan di masa depan.

Kuakui hati kecilku pernah berpikir egois. Mengharapkan agar hujan tak pernah berhenti, agar langit tak pernah terang. Hanya supaya kau dan aku bisa tetap begini selamanya. Duduk berhadapan, akrab, dan saling bertukar cerita.

On the night like this, there’re so many things I want to tell you
On the night like this, there’re so many things I want to show you
Cause when you’re around, I feel safe and warm
When you’re around, I can fall in love every day
In the case like this, there are thousand good reasons
I want you to stay...
(Mocca – On the Night Like This)

My room, January 25, 2014.

Posted in , , , , , , , , | Leave a comment

Peragu


Jangan sering bimbang saat dirimu
akan mengambil arah
kiri ataupun kanan.
Tatapanmu selalu lurus ke depan bukan
seperti juga hatimu yang tak bercabang
setia pada kisah dari buku dongeng usang.

Senja menjadi saksi ilalang bertutur
tentang canda yang menjatuhkan tepuk di bahu
tentang tawa yang mendaratkan cubit di pinggang.
Dan pada ucap manis yang dihambur-hamburkan
ada getar samar
menampik segala yang telinga dengar.

Bila memang percaya
isyarat dan bahasa tubuh tidak berdusta
sambut saja, gerak lengannya terulur
menawarkan dekap bersama rasa nyaman
akuilah; cinta memang pandai menggoda.
Namun bila keras hatimu bagai karang
statis dan bisu di tengah samudra
akuilah rasamu berkarat, letih menduga
biarkan ombaknya menerjang meluntur asa.

Yogyakarta, 17 Januari 2014.
Yang sedang sibuk berdialog
dengan diri sendiri,

Posted in , , , , | 2 Comments

Kau dan Punggungmu

Because I’ll never let this go
But I can’t find a word to tell you
I don’t wanna be alone
But now I feel like I don’t know you
(Paramore – Let This Go)

Saat kita merasa dekat dengan seseorang, apakah ada jaminan bahwa orang itu merasakan hal yang sama?

Awalnya aku tidak pernah memikirkan itu. Terlalu dangkal rasanya jika melulu bertanya-tanya, “adakah dia menganggapku sebagai sahabat?”

Yang aku tahu, aku merasa nyaman berinteraksi dengannya. Aku merasa dia bisa kupercaya untuk menjaga cerita-ceritaku, dan saran darinya termasuk salah satu yang selalu kupertimbangkan.

Beberapa kali pula ia menceritakan tentang masalah yang sedang ia hadapi, dan aku berusaha memberikan solusi dari sudut pandangku. Kupikir dari sana ia juga sudah meletakkan kepercayaan di bahuku, ia percaya aku mau mendengar celoteh dan menampung curhatnya.

Selama ini, aku memang mengandalkan rasa saling percaya sebagai benang yang menghubungkan kita.

Jadi ketika ia menghilang beberapa waktu terakhir ini, menjadi agak kaku ketika kuhubungi, seolah tak yakin cerita apa yang akan ia bagi... aku bisa apa?

Mungkin ada alasan di balik perubahan sikapnya. Pernah aku bertanya, benarkah dugaanku? Ia menepis, berkata itu hanya perasaanku.

Aku paham, ia berhak menentukan sikapnya. Meski jujur saja, aku tidak ingin ia tiba-tiba menjadi orang asing, setelah posisi yang selama ini melekat: sahabatku.

People do not change. Their priorities do.


Yogyakarta, 11 Januari 2014.

Posted in , , , , | 1 Comment

Juaraku



Aku tidak akan bersumpah jika
tidak kaupaksa. Karena hina
sudah menyatu dalam darah
untuk apa pula serapah
banyak kekuatan lain bisa mengubah
kekhawatiran dan ketakutanmu yang
berlebihan itu.
Aku tidak akan mengucap ikrar
meski kelingking terlingkar, sebab
banyak energi lain bisa membakar
semangatmu yang lebih dulu dihanguskan waktu.

Wahai, pemuda berperisai malu
menangi sayembara itu
'kan kaudapatkan puisi selanjutnya di jendela hatimu.

Yogyakarta, Januari 2014.

Posted in , , , | Leave a comment

Pada Sebuah Permulaan


Desember telah habis
lalu ada yang baru saja bermula
menggelitik sanubari ketika rembulan mengangkasa.
Tidakkah kauperhatikan purnama?
Atau desir angin yang menuntun ke arah pantai
dan di penjuru lirik mata, ada jejak kaki tercetak di pasir.
Berlari. Berkejaran. Menghambur pada ombak berdebur
bicara soal cita-cita seraya memandang batas cakrawala.
Aku mengkhayalkan kita
meski tak pernah berharap kau merasa sama.

Januari meniti jarum di putaran waktu
Ada rasaku yang baru saja mengaku
ingin kamu.

Yogyakarta, 1 Januari 2014.

Posted in , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.