Archive for February 2014

Takdirmu Sepi Sendiri



Sialnya kau tak tahu lagi
mana yang harus kauturuti
logikakah? Atau bisik nurani
Sedang lelah kautapak hari-hari
Mencoba abai pada mentari
yang mengejek: kau selalu tampak sendiri.

Sialnya dikau tak juga mengerti
kepada siapa harus berbagi
sukacita serta rasa getir
yang kadang menolak diusir.
Kawanmu bilang, biarkan saja
nanti juga pergilah ia tanpa diminta
Tapi sungguh sial, kau sering bimbang
mengutuki sayap yang membawa ke awang-awang.

Sungguh salah ini, sungguh tak benar
Siapa yang kasih izin kembangmu mekar
Bukankah pada musim telah kau belajar
Mengapa pula kaulanggar, kini
timbul sangka tak wajar.

Coba simak, melodi hantaran angin
nyanyikan lagu yang membuka luka lama
Tak malu? Nadamu terulang refrain melulu
dan pada kembang yang nyelonongkan mahkotanya
ada banyak duri siap meruncing sandiwara
Tertawa, sekalipun tangguh dikau mengaku
Pasti tak mampu cari tahu
Kumbang mana mau menopang rapuhmu.

Yogyakarta, 15 Februari 2014.

Posted in , , , , , | 1 Comment

Semangatlah Aku

Mengawali hari dengan rasa syukur, meluap
laksana sungai berarus deras. Tak mampu
aku menguraikan ricik demi ricik, syukurku pada
Engkau, Penguasa Semesta Dunia. Dan ada kalanya
doa yang terjahit pada kain seragam
mengantarku pergi belajar. Duduk menimba ilmu
bukan menguap bosan, tahanlah tahan
selama tujuh jam ke depan. Selamat pagi,
perempuan yang menulis puisi. Jangan lupa tersenyum :)


P.s: Hari ini ada yang tidak beres. Kecamuk perasaan dan pikiran bersilangan di kepala. Aku menangis di kelas pagi-pagi. Dih, cengeng sekali. (Hanya) ada satu teman yang tahu (dan peduli), ia merangkul dan menguatkanku untuk menghadapi hari. Jam pelajaran ketiga ini, aku membuat puisi untuk diriku sendiri. Aku suka membuat puisi untuk orang lain, lebih suka lagi dibuatkan puisi, tetapi kali ini biarlah.... sedang ingin menghibur diri.

Teladan, 8 Februari 2014.

Posted in , , , , , , | Leave a comment

Renung

Pada malam-malam panjang ketika saya kesulitan tidur, seringkali beberapa rangkaian memori melintas di langit-langit kamar. Acak saja: momen ulangtahun ke-15 ketika saya dikerjai teman-teman seperempat angkatan, masa-masa sulit tiga bersaudara kala ditinggal bapak keluar kota untuk waktu yang cukup lama, atau juga kisah saya bersama teman-teman reporter Kaca yang selalu penuh warna.
 
Sembari menunggu kantuk memberati kelopak mata, saya merasakan gemuruh syukur buncah di dada. Terima kasih Tuhan, telah Kau beri saya kesempatan untuk menikmati pahit-manis hidup hingga kini usia menginjak enam belas tahun lebih sekian bulan. Begitu banyak hal yang mampu menciptakan senyum setiap kali saya coba mengenang, meski kadang berupa senyum kegetiran. 
 
Terimakasih Tuhan, melalui takdir yang Kau guratkan pada jalan saya, saya bisa belajar memaknai roda-roda yang berputar pada porosnya ini: saya begitu kecil dan lemah, tetapi Engkau tetap menunjukkan kasih sayang dengan cara menguatkan saya setiap waktu.

Intensitas gemuruh dalam dada meningkat pula kala saya mengingat masa kecil saya yang bahagia didampingi seorang ibu. Berkali-kali saya nyatakan rindu ini menggelora, saya rindu ibu, saya rindu ibu... Ada sesak yang mengungkung jiwa bersama kenangan manis yang tidak terlupa: bukankah terkadang justru kenangan manis menjadi sebab tercipta air mata? Sebab ada rasa kecewa, kenyataan memori manis itu tinggal sebatas kenangan saja, tiada mungkin terulang kembali.

Ibu, ibu... anakmu rindu. Ibu, ibu... anakmu sedang menatapi waktu, membayangkan masa depan, mengenang masa lalu. Tetapi saya sudah cukup paham bahwa saya hidup di masa sekarang, dan yang bisa saya lakukan adalah belajar dan terus belajar: dari petuah orang-orang sekitar, dan dari pengalaman yang mendewasakan.

Yogyakarta, 2 Februari 2014.
23:17 WIB | Salah satu malam ketika saya sulit tidur,

Posted in , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.