Archive for March 2014

Ibu, Apa Kabar?


Rasa-rasanya, waktu melesat bagai kilat. Tiba-tiba saja aku sudah menginjak enam belas tahun, dan duduk di kelas sebelas Sekolah Menengah Atas. Banyak peristiwa terjadi. Orang-orang datang dan pergi. Berbagai kisah menghiasi hari-hari.

Hari ke-19 di bulan Maret ini, tepat tujuh tahun semenjak kepergianmu, Ibu. Tak seharipun kulalui tanpa merindukanmu. Masih jelas dalam ingatanku, Ibu yang sering mengantar ke Taman Kanak-Kanak. Ibu yang menyuapi makan sore selagi aku asyik bersepeda. Ibu yang menyetrika baju sambil mendengarkan aku bercerita.

Tujuh tahun, waktu yang cukup bagiku untuk tumbuh dewasa. Tetapi bukan berarti aku akan terbiasa, apalagi lupa akan kenangan bersama Ibu. Rasanya... sampai kapanpun, aku tidak akan terbiasa tanpa kehadiran Ibu. Bagaimana pun aku akan selalu sayang Ibu dan menyimpan memori tentang Ibu dalam kotak kecil di hatiku.

Sejak kemarin, aku rapuh sekali. Mudah menangis setiap kali mengalami momen yang mengingatkanku pada Ibu. Misalnya, sewaktu istirahat siang di sekolah. Terjadi percakapan dengan beberapa teman. Saat itu, aku sedang duduk dengan Bunga dan Lily. Lily mengeluarkan kotak bekal makan siangnya. Lalu, Dea datang menghampiri, juga membawa kotak bekalnya.

Dea     : Ayo ayo makan
Bunga : Wah enak ya pada bawa makan....
Lily     : Iya nih aku tiap hari dibawain ibuku
Dea     : Weeh kalau aku nyiapin sendiri tuh
Lily     : Lha ibuku mesti nyiapin buat aku, aku tinggal nerima jadi hehehe
Bunga : Enak banget... Ibuku nggak pernah masak, enggak pernah bikin sayur...
Aku     : *dalam hati* Ibuku udah nggak ada :((

Seharusnya memang aku jadi anak mandiri sejak Ibu pergi, berlatih menyiapkan semua keperluanku sendiri. Kenyataannya aku masih sering merepotkan Bapak, dan belum bisa membantu menyiapkan keperluan adik-adik. Sebagai anak sulung di rumah, aku malu, aku malu karena belum bisa jadi seperti yang diharapkan Bapak. Sering aku menahan keluh agar tak sampai terucap, sebab kalau sampai Bapak dengar, pasti Bapak tambah sedih.

Andai saja Ibu masih ada... Akan ada orang yang kutemui di dapur sepulang sekolah. Ibu akan mengajari aku memasak menu kesukaan keluarga. Andai Ibu masih di sini... akan ada orang yang menjadi tempatku bercerita tentang semua ganjalan hati, mulai dari unek-unek terhadap peraturan sekolah, curhat tentang cowok yang kutaksir, atau mungkin Ibu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak mungkin kutanyakan kepada Bapak. Andai Ibu masih bersama kami... adik-adik pasti akan mendapat perhatian penuh, dan minat serta bakat mereka akan lebih tergali.

Ibu... Echa kangen... Echa selalu berdoa untuk Ibu, di setiap sholat, di setiap sujud, di setiap telapak tangan yang tengadah. Echa selalu berdoa supaya keluarga kita diberi kekuatan untuk menjalani rencana Tuhan di masa depan. Walau begitu, Echa masih cengeng, Echa sering berandai-andai “kalau Ibu masih ada” padahal Echa sudah berusaha menerima takdir yang digariskan Tuhan. Jujur, kadang masih terselip setitik kecemburuan saat Echa mendengar cerita teman-teman tentang aktivitas mereka dengan ibunya. Echa nggak bisa melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan ibu dan anak perempuannya... Karena Ibu sudah pergi duluan. Ah, cepat sekali...

Hari ini, Echa bertingkah konyol di sekolah. Airmata yang keluar itu sulit dihentikan, entah kenapa. Teman-teman pasti bingung melihat Echa. Rasanya sesak, ingin memejamkan mata dan berteriak sekencangnya supaya lega. Echa kangen Ibu, benar-benar kangen. Sebenarnya, Echa cari waktu yang tepat untuk cerita ke teman-teman. “Hari ini tepat tujuh tahun sejak ibuku pergi.” Tapi kalimat itu tertahan di pangkal lidah. Echa berpikir... Mengatakan itu sama saja membuat teman-teman semakin bingung. Teman-teman pasti bingung bagaimana menanggapi Echa. Mereka pasti tahu, kalimat “sabar ya” atau “kuat ya Cha” sudah tidak banyak berpengaruh padaku.

Aku selalu kuat dan sabar kok. Maaf ya teman-teman, tadi bikin repot. Bukannya nggak percaya teman-teman buat dengar ceritaku, tapi aku cuma ingin melindungi diriku sendiri dari rasa kecewa. Kecewa kalau ternyata setelah cerita ke teman-teman, aku masih belum lega. Terdengar egois, ya? Maafkan Echa.

Nggak perlu kata-kata, nggak perlu tatapan mengasihani. Terkadang, satu pelukan singkat justru besar maknanya buat Echa. Semangat kalian mungkin tersalurkan lewat peluk itu, kalau kalian mau berbagi semangat, sih. :)

Makasih buat semua yang ada di saat Echa membutuhkan. Jangan pernah capek jadi temenku ya. :’)

Posted in , , , , , , | 8 Comments

Aku Cari Kamu


Hujan sejak siang, deras pada mulanya, lambat laun menyisa rintik yang konstan iramanya -- kini hari telah beranjak malam. Aku memikirkan seseorang yang tidak memikirkanku, hehe. Nggak kapok-kapok. Padahal sudah tahu kalau sia-sia. Terus ngetweet:

Seseorang yg sering kuajak berbincang ketika hujan... kini tidak punya banyak waktu untukku lagi. Atau mungkin sebenarnya sejak dulu tidak menyediakan waktu, tapi aku yang sering merepotkan. :)

Di kamar, sendirian. Bukannya belajar Ekonomi buat UTS besok, malah browsing lagunya Payung Teduh. Barusan download Kucari Kamu, apik tenan. :))

Sebenarnya lagu itu menyesuaikan suasana hati kita atau sebaliknya, sih? Kalau suasana hati lagi menye, kalimat-kalimat di lagu itu kok mendadak pas sama yang kita rasain. Tapi kadang bisa juga perasaan kita yang kebawa lagunya. Entah.

Oiya jadi inget, tiga minggu yang lalu aku tanya ke temenku, masih sering kontak sama N nggak? Dia bilang, "mungkin N udah lupa siapa aku." Nah misalnya temenku itu tanya balik, "Chak masih kontak sama X nggak?" Sekarang jawabku pun sama, paling X udah lupa sama aku~ paham nggak? Nggak paham juga nggakpapa, nggak penting kok.

Aku cari kamu
Di setiap bayang kau tersenyum
Aku cari kamu
Kutemui kau berubah

Feelin' like stranger,


Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.