Archive for May 2014

Tadi Malam Aku Mimpi Ibu




Gadis kecil itu menggenggam erat sesuatu di tangannya. Ia kemudian menghampiri sang ibu lalu mengucapkan, “Selamat ulang tahun, Bu.”
Sang ibu menatap anaknya, lalu mengulurkan kedua lengan dan mendekap si anak dalam pelukan. Lalu si anak memberikan apa yang ada di genggamannya.
“Ini hadiah untuk Ibu. Maaf, cuman berhasil ngumpuin segitu, Bu.”
Sang Ibu memperhatikan lembaran seribu rupiah yang dibungkus kertas sobekan buku tulis, sesuatu yang disebut “hadiah” oleh anaknya.
“Kenapa ibu diberi uang? Lebih baik uang ini digunakan untuk beli susu cokelat kesukaanmu dan adik-adik...”



Itu sekelumit memori yang terjadi hampir sepuluh tahun lalu. Anak itu adalah aku, tentu saja, dan sang ibu adalah Ibu Ika. Saat itu aku terinspirasi dari sebuah cerpen yang menceritakan tentang seorang anak yang mengumpulkan sejumlah uang yang sama dengan uang yang dihabiskan ayahnya untuk membeli rokok setiap hari. Lalu pada ulang tahun ayahnya, anak itu memberikan uang terkumpul sebagai hadiah ulang tahun. Si anak sebenarnya bertujuan menyadarkan ayahnya untuk berhenti merokok, dan melalui hadiah yang ia berikan, sang ayah pun akhirnya berhenti merokok.

Bapakku tidak merokok. Saat itu, tanggal yang paling dekat adalah ulang tahun ibu. Jadi aku mengumpulkan uang sakuku setiap hari untuk kemudian kuberikan pada ibu. Walaupun pada akhirnya, uang itu digunakan untuk membeli susu seperti yang ibu bilang.

Ah, ibu. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa memberikan kado terindah yang dapat membalas jasa ibu. Perjuangan ibu saat membawaku ke mana-mana dalam kandungan, atau pengorbanan ibu saat melahirkanku ke dunia yang kompleks ini. Waktu istirahat ibu yang terganggu demi menjagaku setiap malam, serta tenaga ibu yang terkuras ketika aku rewel atau bertingkah merepotkan.

Tiga belas Mei, seharusnya aku bisa berlutut di hadapan ibu untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Aku bisa memeluk ibu erat-erat sebagai ungkapan sayangku yang sangat besar. Aku bisa menatap ke dalam telaga jernih pada bola mata ibu, dan menemukan kesejukan serta ketulusan cinta ibu di sana.

Tetapi sinar mata ibu perlahan redup saat ibu mulai sakit. Dan aku tidak pernah mengira ibu akan secepat itu pergi jauh, dan tidak kembali lagi.

Hari ini, aku merasa sensitif sekali. Dua kali aku menangis di sekolah; pertama saat frustasi mengerjakan tugas akuntansi, kedua saat seorang teman bersikap cuek padaku. Aku tidak tahu kenapa aku cengeng sekali, biasanya aku tidak seperti ini. Mungkin karena beban pikiran yang telah terakumulasi (setelah membaca beberapa posting di blog ini, aku sadar kalau aku luar biasa cengeng. Biarlah, menurutku menangis itu tidak salah. Toh seringkali tidak ada yang tahu kalau aku menangis, kan?)

Ibu, tadi aku pulang dari sekolah sekitar maghrib. Bulan sudah tampak di langit, nyaris bundar sempurna meski belum purnama. Sesekali awan menutupinya, tapi tak lama. Bulan lantas kembali muncul. Apakah Ibu melihat bulan yang sama dari atas sana? Ataukah bulan milik Ibu lebih indah dan benderang sinarnya?

Bu, tadi malam aku mimpi Ibu. Aku lupa bagaimana jelasnya, tapi aku yakin ada Ibu dalam mimpiku. Apakah Ibu datang untuk menyampaikan sesuatu?

Bu, Echa dan adik-adik rindu. Echa ingat saat dulu hujan deras dan ibu sedang masak di dapur, lalu tiba-tiba ada kilat yang diikuti gemuruh guntur. Ibu langsung menghampiri kami di ruang tengah dan memeluk kami, menjanjikan perlindungan. Apakah Ibu ingat saat itu? Apakah Ibu ingat semua momen yang kita lalui, tahun demi tahun hingga ketiga anakmu tumbuh dan berkembang?

Apakah Ibu merindukan kami seperti kami merindukan Ibu?

Ada beberapa hal yang tidak bisa kuceritakan kepada siapapun, tidak kepada bapak, tidak kepada sahabat-sahabatku. Terkadang aku menuliskannya di buku harian, lalu jika aku punya cukup kekuatan, aku akan membacanya pada suatu kesempatan. Seringkali membaca ulang catatanku membuatku sesak, menyadari hanya ibulah yang mungkin akan mengerti, hanya ibulah satu-satunya orang yang kuharapkan bisa jadi teman berbagi.

Tetapi ibu sudah pergi.

Akhir-akhir ini, adik-adik juga sering membentakku, meneriakkan kalau aku salah, mengatakan kalau aku tidak melakukan apa yang mereka inginkan.

Aku harus bagaimana, Bu?

Mungkin kalau Ibu masih ada, mereka tidak akan sekeras itu. Mereka akan menuruni sifat lembut Ibu. Apakah itu berarti aku gagal menjadi kakak yang baik untuk mereka?

Banyak yang harus kupikirkan, kurencanakan, kulakukan. Seharusnya aku tidak egois memikirkan diriku sendiri, ya kan Bu? Aku harus lebih memperhatikan adik-adikku, karena mereka sudah tidak punya Ibu...

Tapi terkadang, aku merasa begitu kecil di dunia ini, begitu sendirian, begitu kesepian. Aku merasa tidak banyak yang peduli, tidak banyak yang menganggap penting keberadaanku.

Suatu saat kalau aku sudah pergi menyusul Ibu, aku tidak yakin akan banyak yang kehilanganku.

Ya ampun, aku pesimis sekali.

Sekarang lebih baik aku berusaha membahagiakan bapak dan adik-adik, Ibu setuju kan? Aku akan berjuang mewujudkan cita-citaku dan membuat mereka bangga. Setidaknya kalau aku tidak melakukan sesuatu yang besar yang dapat membuatku dikenang orang-orang, aku akan menjadi Echa yang dapat dibanggakan oleh bapak dan adik-adik.

Selamat malam, Ibu. Semoga Ibu selalu dalam lindungan Allah. Mampir lagi dalam mimpiku ya, sebagai obat rindu...


My room, 13 Mei 2014.

Posted in , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.