Archive for July 2014

Happy Birthday Miss Independent

Take a selfie: on the way to Semarang by bus (July 3, 2014).

Saturday, July 19, 2014.


Chase your dreams,
and remember me, sweet bravery,
'Cause after all those wings will take you up so high.

Dear adikku yang paling mandiri, bahkan lebih mandiri daripada aku, Rasyiida Acintya. Kuharap kamu menangkap sinyal semangat dan optimisme seiring nada-nada pada lagu To The Sky dari Owl City itu. Selamat menginjak usiamu yang ke-13. Selamat menjalani hari-hari sebagai siswa berseragam putih-biru.

Terimakasih sudah menjadi anak yang mandiri di keluarga kecil kita ini. Terimakasih karena kamu begitu cekatan memikul tanggungjawab yang mungkin seharusnya belum terpikir: beres-beres rumah, menanak nasi, membuat teh setiap hari. Kita sama-sama belajar mendewasakan diri sejak ibu pergi.

Maaf Tya, aku sebagai kakak belum bisa memberi contoh yang baik untuk kamu dan Naya. Maaf kalau aku selalu harus diingatkan bahkan diomeli dulu olehmu sebelum melakukan sesuatu. Maaf juga karena aku sering menyebalkan bagimu... (Bagian yang paling menyebalkan dari seorang kakak perempuan adalah, dia sadar kalau dirinya menyebalkan, tapi dia tetap tidak mengubah sikap. Bukan begitu?)

Yang kamu perlu tahu, di balik keusilan Kak Echa dan Dik Naya ini selalu terdapat kasih sayang yang besar: kami sayang sama Tya, kami berdoa semoga Tya bisa berkembang menjadi lebih baik lagi, dan kami percaya Tya mampu mewujudkan cita-cita yang setinggi langit. ♥♥♥

Kakakmu yang super-jahil,


Posted in , , , , | Leave a comment

Te Necesito Aquí


Tuesday, July 15, 2014.

Sekadar pengantar:
Ini tanggal 15 Juli, ya? Wah, berarti tepat 13 tahun yang lalu, Echa kecil masuk sekolah hari pertama. Berangkat ke TK ABA Ukhuwah Islamiyah yang berjarak tidak sampai 200 meter dari rumah, diantar Ibu Ika. Duduk di kelas Nol Kecil. Di atas kursi yang warna-warni dan juga berukuran kecil. Hehe, masih inget aja, kan ada fotonyaaaa. Echa pakai seragam TK ABA yang khas itu (celana hijau, atasnya kuning pudar), dan Ibu Ika bersandar di gawang pintu depan rumah. Perut Ibu tampak besar di foto itu. Ibu sedang mengandung Tya, adik pertamaku yang lahir empat hari kemudian.

Well, jadi sebentar lagi Tya ulang tahun. Kasih kado apa ya? Ada saran? Teman-temannya pasti belum tahu kalau Tya ultah hahaha dia kan baru beberapa hari masuk SMP. :D

Mulai masuk ke topik utama.
Tadi aku pergi sama Anik sama Mooi, buka puasa di Calzone. Sebenarnya tadi batalin puasanya udah di rumahku deng, cuman minum teh doang. Abis sholat maghrib terus pancal ke Calzone. Terakhir kita pergi bertiga itu waktu ada pameran komputer + makanan di JEC, kapan itu ya...lupa deh.

Echa, Anik, Mooi. Berat badan rata-rata 40 kilogram. Tinggi badan rata-rata 155 sentimeter. Kalau nggak pake seragam putih abu-abu, blas nggak keliatan kayak anak SMA. Apalagi didukung tingkahku sama Mooi yang gila-gilaan, nggak bisa diem, iyik banget lah pokoknya. Anik sering keki sendiri kalo aku sama Mooi udah 'mulai kumat.' Hahaha, ya beginilah kita. Kalau pergi-pergi naik motor, malah kayak anak kecil minggat dari rumah bawa kabur motor bapaknya. Parah. :)))

Echa, Anik, Mooi. Kalau udah kumpul bertiga, pasti langsung giliran ceritain apa yang lagi dialami. Pengalaman di rumah, di sekolah, di hati masing-masing. Biasa, konflik dan dinamika kehidupan remaja. Ceilaah. Setelah diceritain, ternyata kalau dipikir lagi tuh sebenernya masalah kita sepele dan konyol banget hahahaha. Tapi seneng aja gitu denger tanggapan, celetukan, nasihat, dan solusi yang ditawarkan sama sahabat kita.

Anyway, maaf ya Nik, Mo, tadi waktu Mooi lagi cerita terus Echa mendadak beleleran air mata sambil masih lanjut ketawa. Padahal yang diceritain Mooi tuh tentang adik cowoknya yang baru masuk SMP, terus nembak cewek ahahahaha. Kalian ekspresinya langsung bingung banget, bingung sisi mana dari cerita itu yang bikin Echa mewek, bingung kenapa Echa nangisnya sambil ketawa, bingung gimana biar Echa berhenti nangis.

Sebenernya kalau Echa lagi kayak gitu, ya kalian nggak usah ngapa-ngapain. Diem aja, tetep di samping Echa, give me a hug, maybe? Tapi jangan pergi. Tetep di samping Echa aja, sambil senyum. Tadi nggak lama kan, Echa terus balik biasa lagi?

Maaf ya... Maaf karena Echa terlalu sentimentil dan kadang out of control. Makasih juga, makasih karena kalian tetap mau bersahabat sama Echa dan nerima kekuranganku itu. Masih banyak kekuranganku yang lain, tapi kalian sayang Echa apa adanya kan? Seperti Echa sayang kalian juga. Echa minta kalian tetap begitu selamanya... Jangan capek atau bosen jadi sahabatku. Because I honestly don't know what would I do without you. Tenan ki, gak maksud gombal.

Kalau kalian punya waktu luang, coba dengerin lagunya HiVi! yang judulnya Dear Friend, itu yang pengin aku ungkapin ke kalian dan ke semua sahabat-sahabatku. {{{♥}}}

MUCHAS GRACIAS, AMIGO! ♥♥♥

Posted in , , , , | Leave a comment

Selagi Punya Hati

Rasailah
Suka bercita-cita
atau bahagia yang tak pernah terlalu melelahkan
untuk tertawa di atas tawa
maka tak ada yang mampu menyalahkan
kau tumbang digusur kesombongan.

Merasalah sedih dan luka
Sayatan bukan saja di nurani, tapi
juga memukul ulu hati
karena orang-orang di luar sana tak mengerti
maka habis kau
dilumat rendah diri.

Terima saja segala yang diberi hidup
Telan bulat-bulat
Meski artinya harus terabai kerja otak
yang menyaring. Yang memilah, memilih
tak masalah
selagi lidah dapat mengecap asam-garam
sebab bila terlanjur hatimu membeku
keras dan beku bisu
menjelmalah: gunung dan laut
tak pernah tertawa atau menangis.

Takdir memang begitu
Maka rasailah,
rasailah.


Yogyakarta, 11 Juli 2014.

Posted in , , | Leave a comment

Retoris

Sebuah fiksi.





Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada bergelut dengan perasaan ini. Rasa kehilangan, lebih tepatnya: kehilangan harapan. Putus asa.

Tadi bukan kali pertama aku mengucapkan selamat malam kepadamu, kan? Juga ucapan selamat pagi, tak pernah luput kauterima dariku. Kemarin, kemarinnya, dan kemarinnya lagi. Pernah juga secara nekat aku datang ke rumahmu, pagi-pagi sekali. Aku belum cukup nyali untuk menemuimu, atau kalau tanpa sengaja ibumu yang membuka pintu; aku hanya meninggalkan sekotak sarapan di teras. Sama sekali tidak kutinggalkan identitas, tetapi kau langsung meneleponku untuk bilang terima kasih.

Kenapa kau tidak bisa menyukaiku?

Ingatkah kau saat gerimis sore itu, aku jalan kaki sendiri sambil menenteng sepatu? Aku sendirian dan kedinginan, sampai akhirnya kau datang. Menjajari langkahku. Ikut-ikutan menenteng sepatumu. Kita nyanyikan bersama lagu yang kausuka. Tak peduli hujan kian deras membasahi seragam kita.

Kenapa kau tidak bisa menyukaiku?

Saat kau lebih dewasa, kita mulai bicara hal-hal yang lebih serius. Wajahmu demikian murung saat itu, dan aku langsung tahu ada sesuatu yang salah. Kau tengah dilanda patah hati. Aku mengajakmu ke sebuah kafe, hingga kini pun kau mematenkan menu cokelat panasnya sebagai favoritmu. Kita tertawa, dan kaubilang aku telah berhasil membuatmu lupa pada sakit hatimu. Seakan belum cukup membuatku merona, kautegaskan juga bahwa aku perempuan yang paling mengerti dirimu.

Aku sahabatmu.

Apakah itu alasannya, kau tidak bisa menyukaiku?

Ah, barangkali ada yang lebih menyedihkan daripada rasa putus asa: terpaksa memendam segalanya, sebab kau tahu... mengungkapkan tidak ada gunanya.

Yogyakarta, 10 Juli 2014 | 23.30 WIB

Posted in , , , , , , | Leave a comment

Keping Memori

Monday, July 7, 2014.


Hello, fellas! Siang tadi Echa dan Naya kembali ke Jogja, setelah beberapa hari kemarin kumpul keluarga besar di Semarang untuk mendoakan bertambah umurnya eyang kakung (dari bapak). Pagi tadi, Tya sudah daftar ulang di SMPN 2. Begitu aku dan Naya datang, Tya ngasih tahu kalau bapak baru saja meng-copy film-film lama dari kepingan VCD yang tersimpan rapi di box. Heboh, kami langsung nonton film itu di laptop.

Ehm, bukan film sih sebenernya. Cuma video rekaman keluarga, dulu kan bapak punya handycam sederhana, lumayanlah untuk mengabadikan momen-momen keluarga. Salah satu di antaranya ada rekaman tahun 2000 yang diambil di rumah eyang (dari ibu) di Kutowinangun. Waktu itu, aku masih umur 3 tahun. Masih lucu, menggemaskan, cengeng, suaranya cempreng~

Check these captured screen!
[Sorry for bad quality graphics. I didn't know how to fix this problem.]

"Sampe nggak pegang daunnya?" tanya bapak. | "Sampe, sampe!" jawab Echa.



Kuping Echa caplanggg bangeeetttt hahahaha._.

BAGIAN INI BIKIN DEG-DEGAN. KALIAN HARUS NONTON LANGSUNG!

Salam jempol dulu, udah berhasil naik-naik ke puncak pagar nih~

See? Waktu kecil aku suka manjat-manjat. Kursi kecil, kursi tukang, pagar rumah. Bapak ngebolehin aja, bahkan di rekaman itu malah bapak yang "nantangin" duluan. Prinsipnya bapak emang gitu, biarkan anak bebas berekspresi dengan dukungan dan pengawasan orangtua, daripada curi-curi melakukan hobinya, salah-salah malah melakukan hal yang berbahaya. Bapak bilang, melakukan apa aja boleh asal bisa ngambil manfaatnya. Eh tapi kalo manjat-manjat gitu manfaatnya apa ya? Hahaha kan jadi nggak takut ketinggian, ya nggak sih...

Selain bukti tingkahku yang pecicilan, rekaman video di Kutowinangun itu juga menyimpan memori tentang almarhumah ibu. Ibu yang sabar banget merawat Echa, menanggapi Echa yang ceriwis dan suka bertanya.

"Naik sepedanya digenjot, Echa.." kata ibu. | "Dorongin aja buk..." pinta Echa.

GIMANA, MIRIP NGGAK SAMA WAJAHKU SEKARANG? CANTIKAN YANG DULU YAAA.


Disuruh roll-depan, Echa malah kayang.


Dulu Echa sukanya naik-naik kursi, lompat ke kasur, sambil minta ditangkap gitu.


Abis lompat, ditabok sama ibu sepuluh kali, tapi Echa malah ketawa-ketawa.


"Yang tinggi Pak, yang tinggi..."


Eyang yang ada di ruangan itu pun hanya bisa ternganga pas bapak mulai melatih "seni" akrobat.

Dua foto terakhir itu Echa lagi akrobat sama bapak. Wih, dulu badanku lentur banget pokoknya, tangan-kaki bisa ditekuk sana-sini hahaha :D

Kangeeeeen banget sama masa kecil yang bahagia gitu. Yeah, dulu aku emang cengeng banget sih, tapi juga gampang ketawa lagi. Samar-samar aku masih inget waktu itu, aku selalu nempel sama ibu, ibu yang setiap hari ngurusin kebutuhanku. Aku bersyukur Ya Allah, bapak punya rekaman video ini, seenggaknya bisa buat mengenang ibu yang sekarang udah pergi jauh. :')

Tadi aku sempet lihat sekelebat rasa iri terpancar dari tatapan Naya waktu kita nonton video ini bareng-bareng. Mungkin Naya sedih karena ibu begitu cepat pergi, Naya bahkan belum masuk TK waktu ibu pergi, dan Naya nggak punya banyak kenangan sama ibu. Aku berusaha menghibur secara tersirat, aku ingin menjaga perasaan Naya, tapi aku cuman bisa memberi Naya tatapan hey-kamu-masih-punya-kakak-kok.

Maksudku, hey! Tya, Naya, adikku yang sangat aku cinta, dengarkan kakak. Kita anak-anak yang kuat, kita akan tumbuh menjadi orang-orang hebat, semua itu karena didikan bapak dan ibu yang sangat menyayangi kita dan kita sayangi. Jadi, daripada hanya diam di tempat, menerawang masa lalu yang nggak akan bisa kembali lagi, lebih baik kita lari maju, berprestasi, berbakti pada bapak, sosok berharga yang masih kita miliki.

Ehm. Nulisnya gampang ya. Tapi... untuk menyampaikan langsung ke mereka, nggak semudah yang kalian bayangkan, gais.

Selamat malam :)

Posted in , , , | 1 Comment

Small Thing Means A Lot

Ramadhan day #7. Empat Juli empat belas. Karena setelah sahur tadi lumayan bisa tahan melek buat nggak tidur lagi, mau cerita dikit nih tentang pengalaman PTB kemarin. Mumpung belum basi-basi banget hehe.

Selama PTB, aku kebagian kamar mandi di rumah Ibu Ngatirah. Rumah beliau terletak di belakang rumah konsum panum, jadi beberapa kali aku numpang lewat rumah konsum panum biar lebih cepet gitu. Rabu sore, aku sama Tami pertama kali sowan ke tempat beliau untuk mandi.

Bu Ngatirah baik banget orangnya, menerima kami dengan sangat ramah. Sebelumnya, aku udah diceritain Arum kalau mau mandi di tempat beliau itu harus siapin tenaga dulu, soalnya harus nimba dari sumur. No problem lah. Maghrib-maghrib gitu, kita ketemu Ganis, terus dia bantuin nimba gitu awal-awalnya. Terus selanjutnya aku sama Tami gantian nimba buat ngisi bak mandi di dua kamar mandi milik Bu Ngatirah itu.

Oke, hari pertama lancar-lancar aja (mandinya). Kamis pagi, aku bangun jam 04.00. Pagi itu aku semangat banget buat mandi, aku siap untuk menimba air dari sumur yang nggak terlalu dalam itu (sekitar 6-7 meter). Jam berapa ya waktu itu, udah terang pokoknya, aku sama Tami cus ke rumah Bu Ngatirah. Beliau lagi di dapur, cepak-cepak apa gitu di meja, dengan tungku menyala dan panci di atasnya. Kami menyapa beliau, minta izin numpang mandi. Bu Ngatirah mempersilakan, senyum beliau yang sumringah menyamarkan keriput yang telah tergurat di wajahnya.

Pada saat mandi pagi inilah, sisi perempuanku dipertanyakan... LHO KOK GITU. Waks, maaf ambigu. Jadi intinya, aku sama Tami mandi di dua kamar mandi yang bersebelahan. Yang satu khusus buat mandi, yang satu lagi ada klosetnya... buat buang air gitu lah ya. Nah aku di kamar mandi yang ada klosetnya. Di situ cuman ada satu paku di dinding atas kloset, tasku isinya baju tak cantolin ke situ. Waktu udah selesai mandi, aku ngambil handuk, tiba-tiba ciputku kelempar masuk ke bak mandi. Basah total, tidak terselamatkan huhuhu akhirnya sepanjang hari itu aku pake kerudung segiempat paris nggak pake ciput, you know lah semua orang menyebutku mendes. Perasaan biasa aja.... temen-temen kan juga sering nggak pake ciput:( tapi emang sih aku kurang rapi kalo nggak pake ciput:( seharian aku jadi sering banget tanya ke Tami, “ini jilbab rapi nggak?” terus sekalian minta dirapiin gitu hmmm untunglah Tami sangat sabar menghadapi diriku :’)

Bukan cuman masalah dengan ciput, tapi juga sikat gigiku yang menjadi korban. Sikat gigiku jatuh dan masuk ke kloset hikzzz suaranya mak ceblung gitu, Tami dari sebelah langsung tanya, “apa tuh Chak?” Sikat gigiku itu yang masuk ke kloset bagian kepalanya HAHA terus aku ambil kan, aku taruh pinggir lantai kamar mandi dan langsung nunjuk dia dengan alis menyatu: ‘Aku gamao pake kamo lage!’

Begitulah gais, entah aku terlalu bersemangat atau saking cerobohnya sampe semua aja tak jatuh-jatuhin.

Sore harinya, setelah hujan reda *jujur aku sedih kalo inget waktu hujan ini, aku merasa gagal mengantisipasi tenda biar nggak banjir. Fira tiba-tiba datengin aku.... dia membawa sesuatu di tangan yang disembunyikan di balik punggungnya. Terus dia membelakangi aku, dan dia ngasih... A little gift that means a lot. Sikat gigi F*rmula warna ungu :”””))))

Jadi kan siang habis mandi itu aku selalu nyeritain insiden sisi-perempuanku-dipertanyakan ke teman-teman dekat yang aku temui. Mereka komentarnya pada beda-beda, ada yang langsung ngehina serendah-rendahnya, ada juga yang prihatin sedalam-dalamnya hahaha aku pun hanya bisa tersenyum *halah. Dan yang nggak terduga tuh ya itu, sebentuk sikat gigi warna kesukaanku yang dikasih Fira, kelihatannya sepele banget tapi sungguh bermakna besar! Fira, if you read this, I just want to say THANK YOU SO MUCH for the gift yayyyy (ʃƪ˘▽˘)♥♥

Berkat sikat gigi itu, motivasiku untuk menggosok gigi jadi meningkat, terutama di bulan Ramadhan ini. HEHE. Sekian :) makasih buat yang mau baca, ini postnya panjangan dan nggak jelas huehehe tapi semoga bermanfaat :)

And when someone give you stuff in your favorite colour, she/he is the best
[abaikan url blog lamaku]

Feel blessed,

Posted in , , , , , , , , , | 2 Comments

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.