Archive for September 2014

Damai dalam Kepalaku

Beri aku sepotong kisah tentang damai
agar dapat kuramu puisi indah
Apakah damai tersampaikan oleh kalimat
“riak-riak air membias jingga mata dewa”?
atau begini:
“padang ilalang tumbuh seiring usia
Tinggi rumpunnya diatapi gugus mega”?

Ceritakan padaku, kawan
bagaimana damai dalam kepalamu
meneruskan sinyal bahagia ke jantung, lalu
menuju berkah kehidupan

Supaya tak melulu puisi damai yang kuracik itu
berputar pada sekitar
“aku berandai-andai pulang ke pelukan-Mu.”

Yogyakarta, 30 September 2014.

Posted in | Leave a comment

m(Badut)

Situ sadar kalau banyak ditertawakan orang?
Merasa ada yang salah, barangkali
kuping panas
atau kedutan kelopak mata kiri

Sampeyan sehat, cukup mengherankan
Sementara kami tak henti mereka ulang
tragedi terjungkalnya tokoh kami
terjerembap ke pelimbahan
jadi hiburan buat kaum terbuang
Penasaran sungguh, ingin periksa
situ punya jidat, masa iya tak ada benjol?

Terpingkal bukan buatan
si jago lawak mahir bikin terbahak
di balik kaos masih seonggok lemak
puncak-puncak kesombongan, sayangnya botak

Sekiranya benar-benar mbadut,
mau sampai kapan, Pak?

Yogyakarta, 29 September 2014.

Posted in | Leave a comment

Dijebak Sang September

Untuk sahabat-sahabatku.

Pertengahan September. Aku cemas. Cabang-cabang otak menyimpul tanya. Apa aku bisa melalui semuanya? Menyusun rencana. Menuntut segera terlaksana. Aku sangat cemas. Kelabakan. September sudah menjebakku, rupanya.

Menjebak dengan senjata: kilas memori. Pengalaman Winner Camp di Belitung, tanggal empat sampai tujuh lalu. Kepanitiaan organisasi pameran pendidikan. Pertemuan. Percakapan. Gurau, dan gelora rasa yang tiba-tiba menyeruak ke permukaan.

Ada pula saatnya aku duduk-duduk saja. Bersama kalian, sahabat-sahabatku. Bertukar pikiran. Mencurahkan segala yang awalnya ditahan-tahan. Sesak. Tangis pun menjelma. Masih sesak. Begitu terus, sampai kita lelah. Lalu akhirnya pulang dan berharap lega.

Semua ini tidak mudah untuk dilalui. Apalagi mengingat labilnya remaja, seakan sudah siap aku divonis tertekan batin dan terganggu jiwa. Mudah benar terguncang emosinya. Tetapi aku tidak ingin menyerah. Aku percaya, ada pesan Tuhan membalas cemas dan bimbangku. Mengujiku untuk mengungkap makna. Menguji kita.

Berkenankah kalian menggandeng tanganku, berjuang bersama menuju titik bahagia?

Dijebak secara sukarela,

Posted in , , , , , , , | 1 Comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.