Archive for October 2014

Malam Ini Pesta Es Milo

Konco kenthel itu;
yang tiba-tiba sms, "Chak di rumah? Privat aku nulis cerpen." Terus aku balesin, "Iya ini baru sampe rumah. Bete nih air esku diminum adikku jadi tinggal separo, padahal udah tak siapin dari kemarin di kulkas huftttt!"


Terus ba'da Maghrib dia muncul di pintu kamarmu bawain es milo.

Sebelum pulang, sempet mejeng-mejeng di depan kaca, nyari kesamaan muka kita gara-gara banyak yang bilang mirip.

Semoga cerpenmu dapat nilai bagus.

Xiexie, Mo! {}

Posted in , , , | Leave a comment

Jangan Cuek

Beberapa orang terlahir dengan sifat bawaan mereka yang pendiam. Hemat dalam berbicara. Irit berkata-kata. Hanya mengucapkan sebaris-dua kalimat saat benar-benar merasa perlu saja.

Kadang, yang seperti itu bikin geregetan sendiri.

Membuat aku berulang kali ingin meneriakkan, "Bicaralah! Katakan sesuatu!" tapi tak sampai terucap lidah. Selalu hanya menjelma gemuruh batin.

Sejujurnya aku ingin minta ditegur. Ditanyai. Dinasehati.

Karena teguran, pertanyaan, dan nasehat bisa jadi sebuah bentuk perhatian tersendiri.

Aku rindu bentuk perhatian seperti itu, Yah.


Posted in , , , , , , , , | Leave a comment

Jangan Bebal

Beberapa orang terlahir dengan kemampuan bicara yang baik. Bukan berarti sejak lahir langsung bisa ngomong, bukan itu maksudnya. Tahu sendirilah. Mudah menyampaikan apa yang ada dalam kepalanya. Membuat orang lain mengerti.

Eh. Kalimat terakhir mohon dibaca kembali. Membuat orang lain mengerti, bukan berarti menjadikannya sepaham dengan kita. Bukan pula memaksanya mengikuti jalan pikir kita.

Kadang, orang yang pandai bicara itu menyimpan hal-hal brilian dalam kepalanya. Tetapi kadang ia lupa, dengan siapa ia berbicara. Digunakannya volume suara yang keras, nada tinggi, dan kesan 'ngotot' dalam materi yang disampaikannya. Ia lupa, yang dia hadapi adalah orang yang seharusnya dihormati. Maka memelankan suara dan menggunakan sikap tubuh yang sopan sudah seharusnya dipenuhi. Ia lupa, yang dia hadapi adalah perempuan yang perasaannya selembut kapas. Maka ungkapan merendahkan dan meremehkan sudah seharusnya dihindari, karena perempuan mudah sekali terluka.

Orang-orang yang selalu lancar dalam menyampaikan pendapat itu hebat. Tapi kalau ia tidak memberi kesempatan orang lain untuk menyampaikan pendapat mereka, atau tidak memberi kesempatan dirinya sendiri untuk mendengarkan opini orang lain, maka hanya lidah saja yang pandai bersilat, tetapi hatinya tertutup dari masukan. Padahal masukan dari orang lain bisa saja bernilai positif.

Jangan selalu merasa benar. Jangan punya gengsi terlalu besar. Mengakui kalau diri kita salah, dan menerima argumen orang lain, bukan berarti kalah. Miliki hati yang besar, lihat sekitar dengan sudut pandang lebih lebar.

Jangan bebal...


Posted in , , , , , , , , | Leave a comment

Apa yang Kubaca

Beberapa tulisan bisa begitu menyentuh, membuatku merasa sedih bahkan menangis saat membacanya. Kadang, bukan murni karena isi tulisannya, tapi karena aku tahu siapa yang menulis, dan bagaimana dia.

Tapi sering juga aku larut dalam haru membaca tulisan yang tidak kuketahui siapa penulisnya, atau kalaupun tahu, aku tidak kenal. Kenal dalam arti berinteraksi sehari-hari, sebab mereka para penulis ada di balik layar dunia maya, kadang juga menggunakan nama pena.

Sejak dulu aku percaya: ada kekuatan terkandung dalam setiap tulisan.

Tulisan sekian ratus halaman berupa kisah nyata yang dinovelkan. Prosa singkat sanggup menggetarkan. Bahkan sebaris kalimat yang kadang terselip di antara jutaan frasa lainnya, semua punya kekuatan masing-masing.

Sadar atau tidak, aku jadi mencocokkan tulisan yang aku baca dengan apa yang kualami atau kurasa. Dari situ awal mula sergapan haru. Cengeng, aku lantas tersedu.

Subjektif. Hanya berlaku untukku sendiri, mungkin, Sebuah status BBM yang di-capture oleh seorang kawan, lalu kutemukan saat aku iseng menjelajahi galeri ponselnya. Tepat sepekan yang lalu...

Siapa yang ibunya telah meninggal, maka tertutuplah satu pintu keberkahan, yaitu keberkahan doa ibu.


Posted in , , , , , | Leave a comment

Selalu Sempat

Aku terperangkap di sini, di antara langkah kaki tergesa -- seperti juga milikku -- seruan agar bergegas, dan itu semacam arena yang menguji kita supaya jaga keseimbangan. Aku tidak sempat menghindar ketika seseorang menyinggung bahuku dari arah berlawanan, dia tak sempat menoleh apalagi minta maaf, seperti halnya aku tak sempat merasakan sakit.

Kaki membawaku setengah berlari, padahal tak punya tujuan pasti.

Sampai kemudian sosokmu tertangkap pandangan, lalu aku tahu hati dan kaki membuat kesepakatan bahkan tanpa diskusi.

Sibuk kuatur emosi, mencoba konsisten pada kondisi tapi rasanya satu realita tak dapat kupungkiri. Dalam ketergesaan, aku tetap sempat menghampiri -- hanya kau.

Hanya kau yang sanggup mencipta jeda, lalu tiba-tiba membuat aku berhenti.

Mengingatmu. Aku selalu punya waktu.

Selanjutnya, izinkan aku menyapamu.


071014.

Posted in , , , , | Leave a comment

Kepada Oktober

Oktober datang tiba-tiba, mengendap di belakang punggungku dan menyergap dengan tergesa. Aku bahkan belum sempat menguraikan September dan segala pernak-perniknya.

Tapi aku tak mengelak jika disalahkan, memang aku yang kurang sigap menindak semua cerita.

Hari pertama Oktober, kami harus melepas bapak bekerja menyeberangi samudra. Bapak pergi dalam misi memetakan daerah karst di Flores, bekerja sama dengan Badan Geologi dan tim peneliti Belanda.

Itu artinya, kami akan merayakan Idul Adha tanpa bapak.

Oktober, terus terang... aku (terpaksa) masih menyimpan sisa-sisa pelik kisah September. Sebab yang menjadi tokoh kunci adalah dia yang kini justru pergi jauh ke timur. Bapak. Ada pembicaraan yang harus kuselesaikan dengan bapak. Ada keruwetan yang ingin segera dapat aku tarik simpulnya.

Bawa bapak pulang ke rumah tak lebih dari tanggal sepuluhmu, Oktober. Seperti yang bapak janjikan. Setelah itu, aku pun masih tidak bisa menjamin dapat langsung berhadapan dan bicara padanya. Jujur aku masih ragu menentukan jeda, menyiapkan ancang-ancang, lalu masuk ke ritme bapak. Bantu aku, Oktober, berkenankah dikau?

Oktober, siangmu terik, anginmu kencang sekali. Membuatku takut. Aku khawatir deru angin menggugurkan niat-niat yang sedang coba kurangkai. Keping harap yang sedang coba kuuntai. Tapi, eh, sejak kapan aku jadi sepesimis ini?

Tak ada yang mengajariku untuk jadi pesimis. Cemas itu wajar, tapi aku tidak membiarkan cemas mengecilkan hatiku. Kau setuju denganku, kan, Oktober?

Yogyakarta, 2 Oktober 2014.

Posted in , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.