Archive for November 2014

Kepada Hujan

Pic from here
Selamat datang, musim penghujan.

Setiap rinaimu menghadirkan keping-keping cerita di sudut hati. Kilas kenangan, kerlip mimpi-mimpi yang sedang aku coba perjuangkan, ada pula percik rindu yang mulai mengetuk relung nurani.

Jangan tanya untuk siapa. Karena aku sendiri tak tahu jawabnya.

Rintiklah perlahan, hujan. Jangan kauterpa aku kencang-kencang. Kecuali bila suatu hari kautemui aku sedang bersama tangis yang ingin kusembunyikan.

Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu sesuatu. (Novel Hujan Punya Cerita tentang Kita - Yoana Dianika)

Se-la-mat da-tang... rindu?

Posted in , , , , | Leave a comment

Levemente de memória

Untuk Zaza

Aku mengenal dikau, tak cukup lama. Potongan syair lagu Harmoni yang dinyanyikan oleh Padi ini tiba-tiba meloncat dalam kepala saat aku mulai menulis.

Memang belum lama: tiga tahun pertemanan kita di Sekolah Menengah Pertama, ditambah tiga tahun ketika kita melanjutkan ke sekolah yang berbeda. Untuk tahun-tahun mendatang, kita juga masih akan berteman kan, Za? Hingga mungkin suatu saat ketika aku sudah renta, kepada cucu aku akan bercerita, "Mbah Zaza ini sahabat nenek sejak kami masih muda."

Zaza,
malam ini aku teringat kisah kita, SMP kelas dua. Kita nyaris selalu duduk sebangku di barisan paling depan. Banyak hal yang kita bicarakan. Masih ingat saat kelas kita dilanda demam Korea? Atau saat kita ngefans sama boyband Indonesia, sampai beramai-ramai mengikuti serialnya di televisi? Kalau diingat-ingat, geli rasanya. Tingkah kita masih polos dan mudah terbawa arus.

Dulu saat di SMP, kita begitu sejalan. Aku bilang apa, kau mengiyakan. Kau menyampaikan opini, aku menyetujui. Kita juga berbagi banyak hal, termausuk cerita-cerita lugu mengenai cinta monyet kala itu, ingatkah?

Lalu kita menjejak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Aku melanjutkan ke SMA, dan kamu ke SMK, dengan dukungan penuh dari orangtuamu. Sebisa mungkin kita tidak mengabaikan komunikasi. Kita masih berkirim pesan singkat sesekali. Masih sempat pula berbalas sapa pada semua akun sosial media yang kita miliki. Setahun terakhir, kita mulai jarang bertemu. Aku tahu, perubahan-perubahan itu ada. Baik perubahan dari dirimu, maupun aku sendiri. Kita mungkin tidak lagi benar-benar sejalan seperti dulu. Kita mulai menemukan prinsip yang kita pegang masing-masing. Tapi, itu sama sekali tidak mengubah persahabatan kita, bukan?

Beberapa event di waktu senggang mempertemukan kita. Reuni kecil-kecilan yang dikemas dalam acara buka bersama teman-teman kelas delapan, atau buka bersama empat serangkai aku, Zaza, Hida, dan Ara yang berpindah-pindah rumah dari tahun ke tahun. Mengenai empat serangkai kita, sepertinya paling banyak berperan dalam membuat agenda supaya kita dapat bertemu: rencana-rencana saat salah satu dari kita berulang tahun.

Zaza,
selamat menapaki usia baru. Delapan belas tahun, artinya benar-benar awal untuk sebuah kedewasaan, ya. Sebenarnya sejak dulu, aku selalu menganggapmu dewasa. Kau pandai dalam banyak hal, selain itu juga bijaksana. Tetaplah seperti itu. Tetap rendah hati dan jangan mudah putus asa. Jadilah perempuan sholihah yang bisa menyebarkan semangat untuk orang-orang di sekitarmu. Selamat menggali ilmu, mewujudkan cita-cita. Semoga bahagia selalu.

Kadang, merindukan seorang sahabat bisa semengharukan ini, ya. Aku kangen Zaza. Kangen mendengar nasehat-nasehat darimu. Akhir-akhir ini, aku sedang butuh sosok yang bisa mengayomi. Tidak banyak orang yang bisa mengerti aku. Kamu adalah salah satu dari yang tidak banyak itu. Terimakasih untuk setiap waktu yang kamu luangkan untuk mendengarkan celotehku. Tentang seluk-beluk masa lalu, tentang diriku sendiri, tentang apa saja. Kalau kamu mau, kamu juga boleh cerita apa saja padaku. Aku akan selalu di sini, bersedia mendengarkan dan berusaha membantu. Di waktu senggangmu, hubungi saja aku... Tapi, eh—sepertinya kamu sedang sibuk belajar, ya?

Sekali lagi, selamat menapaki usia baru. Semoga perlindungan Allah selalu menyertaimu dan keluargamu. Barakallah! ({})


Zaza (purple) and me (red) taking selfie at Kawah Sikidang, Dieng. April, 2014.
Aku mengenal dikau, tak cukup lama
separuh usiaku.
Namun begitu banyak
pelajaran yang aku terima
...kau membuatku mengerti hidup ini.
With the warmest hug,

Posted in , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.