Archive for 2015

Dua surat dalam satu amplop

pic from -
Dear ibuku tersayang, Ibu Ika.

Entah sudah berapa kali 22 Desember menghampiri sejak ibu pergi, aku tak menghitungnya lagi. Berbagai momentum tak bisa kami lalui bersamamu, termasuk salah satunya sekadar membisikkan selamat Hari Ibu, kami tak lagi mampu. Aku dan adik-adik seakan terlalu kelu, bukan karena gengsi atau malu, tapi karena sosokmu tak lagi tertangkap indera. Kita tak mungkin lagi bertatap muka.

Ibu, belakangan ini aku berpikir, sekeras apapun aku berusaha mengabadikan kenangan tentangmu dalam benakku, suatu saat nanti mungkin saja aku akan lupa. Aku takut itu terjadi, Bu. Aku takut aku akan lupa bagaimana rasanya memiliki ibu, bagaimana mencium tanganmu sebelum meninggalkan rumah, bagaimana rasanya ada yang mengkhawatirkan ketika aku terlambat pulang. Terkadang aku nyaris kelepasan menanyakan hal itu pada teman-teman, untungnya berhasil kutahan. Kalau tidak, mereka pasti bingung menanggapi pertanyaan, "Bagaimana rasanya punya ibu?"

Aku tidak bermaksud sarkastis dengan melontarkan pertanyaan itu. Maksudku hanyalah supaya bisa mendengar cerita dari teman-teman, entah bagian manapun yang berkenan mereka ceritakan. Dengan begitu, aku jadi punya bayangan tentang hal-hal yang biasa dilakukan seorang ibu dengan anaknya, dan itu akan membantu mempertahankan ingatanku tentang ibu.

Tidak apa-apa, kan, Bu?

Ah, aku telah menghitungnya sekarang: ini kesembilan kalinya kami tak bisa mengucapkan selamat Hari Ibu secara langsung kepadamu. Hanya bisa bergumam dalam hati, disergap haru ketika melihat update teman-teman memasang foto bersama ibunya. Jika saja mereka sadar, setiap detik bersama ibu adalah waktu yang paling berharga. Setelah ibu tak ada, pelukan singkat atau obrolan sederhana menjadi sesuatu yang teramat dirindukan.

Dear ibu, kami tak pernah berhenti mengirim doa untuk ibu, sama seperti kami tak pernah berhenti merindukanmu.

Salam sayang dari putri sulungmu.

***


pic from -
Dear bapakku tercinta, Pak Bagus,

Saat aku menulis ini, bapak masih dalam perjalanan pulang dari Bandung. Hati-hati di jalan, Pak. Aku dan adik-adik akan menunggu sampai bapak tiba di rumah, untuk kemudian mengucapkan langsung padamu:

Selamat Hari Ibu, Pak.

Kepada bapaklah kami mengucapkan kalimat itu setiap tanggal 22 Desember tiba. Terimakasih sudah berperan sebagai ibu di rumah, di samping berupaya keras mencari nafkah. Terimakasih karena bapak sudah menjadi orang yang tak pernah lelah berusaha memenuhi kebutuhan kami setelah ibu pergi. Bapak yang dulu selalu menyediakan nasi, mencarikan beraneka resep masakan agar kami mandiri, menemani kami mengerjakan PR dan belajar jika hendak ulangan. Bapak telah mengambil tugas ibu dan memastikan kami tidak kekurangan kasih sayang.

Tidak masalah jika nasi goreng buatan bapak terlampau asin, atau bapak lupa mematikan kompor ketika memasak air. Kami banyak belajar dari bapak, kerja keras dan kreativitas bapak membuat kami termotivasi menjadi orang yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Kami bangga menjadi anak-anak bapak, dan kami harap ada kesempatan bagi kami untuk berprestasi sehingga bapak dan ibu juga bangga pada kami.

Tetapi, Pak, izinkan aku bertanya: pernahkah bapak terpikir untuk mencari pendamping lagi? Wanita dewasa yang akan menjadi ibu bagi kami, menurunkan nilai-nilai keperempuanan yang kami butuhkan. Bukannya kami tak menghargai usaha bapak selama ini, karena kami yakin bapak telah berusaha sebaik-baiknya menjalankan dua peran sekaligus. Hanya saja, aku merasa kami masih memerlukan cekatan tangan seorang ibu... terutama untuk membimbing adik-adik yang masih dalam masa perkembangannya.

Aku tahu, tidak mudah untuk mewujudkan itu. Aku hanya berharap, ada keajaiban yang membawa keluarga kita ke arah yang lebih baik. Bapak tetap ayah paling super yang sangat kami sayangi, untuk itu kami tak ingin melihat bapak sedih dan merasa sendiri.

Yogyakarta, 22 Desember 2015.

Putrimu,


P.s. Beberapa menit setelah aku memposting tulisan ini, aku membaca artikel yang menyatakan kalau ternyata 22 Desember bukan Hari Ibu, melainkan Hari Pemberdayaan Perempuan. Artikel tersebut justru menunjukkan kontradiksi yang tajam terhadap anggapan adanya Hari Ibu di Indonesia. Nah, kalau ternyata tanggal ini diperuntukkan bagi perempuan Indonesia―termasuk ibu, orangtua perempuan―maka 'surat' yang aku tulis untuk bapak ini jadi sedikit tidak nyambung... hahaha. Tapi biarlah, karena bagiku, bapak mempunyai arti yang sama pentingnya dengan seorang ibu. :)

Posted in , , , , , , , , , | Leave a comment

Ik Studeer Antropologie - bagian pertama

Exclusive totebag made by me! Looks cool, isn't?
Tanpa terasa, semester pertamaku di bangku perkuliahan akan segera berakhir. Waktu berjalan cepat! Rasanya baru kemarin bingung menentukan jurusan kuliah, sibuk belajar bareng teman-teman buat persiapan Ujian Nasional, harap-harap cemas menunggu hasil SNMPTN/SBMPTN/Ujian Tulis, menyiapkan berkas registrasi masuk perguruan tinggi, lalu menjalani masa orientasi sebagai mahasiswa baru. Eh, sekarang udah mau UAS aja.

Satu semester ini, aku merasa seperti berada di posisi yang rawan... rawan diserang orang lain setiap kali ditanya, "Kuliahnya apa?" Satu-satunya jurus pertahanan diri yang aku kuasai adalah dengan memastikan ada kemantapan dalam suaraku saat menjawab, "Antropologi."

Mendengar bidang ilmu yang kusebutkan itu, rata-rata reaksi yang kudapat dari si penanya berupa alis yang berkerut, plus ekspresi bertanya jelas tergambar di raut wajah seperti baru pertama kali mendengar adanya bidang tersebut. Kalau yang pandai menjaga ekspresi, biasanya akan manggut-manggut beberapa kali... tapi tetap saja kemudian bertanya lagi, "Eh... antropologi itu belajar apa? Semacam arkeologi ya? Atau belajar benda langit? Oh itu astronomi, ding."

Tentu tidak semua orang yang memberondong dengan pertanyaan itu berniat 'menyerang', aku hanya berburuk sangka saja. Ada juga yang antusias ingin tahu lebih lanjut tentang ilmu yang kutekuni, kemudian menyatakan support yang membuatku senang mendengarnya. In fact, kebanyakan orang memang masih asing dengan jurusan antropologi, menganggap antropologi adalah jurusan yang nggak jelas deh besok lulusannya bakal jadi apa. Hmm, benarkah begitu? (Aku pun tak tahu. HAHAHAHA.)

Aku sendiri baru terpikir ingin masuk antropologi saat kelas 3 SMA. Dulu waktu SMP, aku sudah mantap ingin kuliah psikologi, sampai-sampai hampir semua teman tahu tentang keinginan itu. "Iya, Kar, kamu cocok jadi psikolog, kamu kan pendengar yang baik dan sabar menghadapi orang," komentar teman-teman saat itu. Ketika penjurusan di SMA, aku langsung memilih IPS karena sejak awal memang lebih tertarik mempelajari ilmu sosial. Dan... memilih jurusan IPS berarti siap menerima konsekuensi dipandang sebelah mata oleh masyarakat, yang sayangnya masih belum memahami kalau sebenarnya ilmu sosial tak kalah penting dibanding dengan ilmu eksak. Buat kamu yang SMA-nya mengambil IPS (atau Bahasa), pasti tahu banget rasanya. :')

Nah... saat SMA itulah aku kembali berpikir mengenai jurusan kuliah yang benar-benar aku inginkan. Aku membuat daftar bidang ilmu yang available bagi anak IPS: ilmu ekonomi, akuntansi, manajemen, komunikasi, hukum, psikologi, ilmu politik, sosiologi, sosiatri, dan segala cabang ilmu budaya. Teman-teman sekelasku banyak yang langsung menyatakan jurusan yang mereka inginkan, dan memulai perjuangan agar bisa diterima di jurusan yang passing grade-nya terbilang tinggi. Jujur saja, aku tidak begitu pandai soal angka, jadi aku sama sekali tidak berniat melanjutkan kuliah di bidang ekonomi. Selain itu aku juga tidak ingin kelak jadi pekerja kantoran yang setiap hari duduk di balik meja; aku lebih tertantang menggeluti pekerjaan yang dinamis dan mengaplikasikan praktik di lapangan. Maka, pilihanku pun jatuh ke jurusan Pariwisata.

Aku lupa apa yang membuatku kembali berubah pikiran, padahal waktu itu aku sudah yakin ingin kuliah jurusan Pariwisata UGM, sampai sudah nge-save daftar mata kuliahnya segala. Mendekati pendaftaran SNMPTN, aku justru melirik Antropologi Budaya sebagai jawaban atas bisikan hati, "Sebenarnya apa yang kamu minati dan ingin kamu pelajari, dan bagaimana supaya bidang yang kamu suka itu bisa mengantarkanmu menuju cita-cita?" *ceileh*

credit photo: here // quotes edited by me
Banyak hal dalam hidupku yang aku putuskan sesuai kata hati, salah satunya adalah dalam memilih jurusan kuliah ini. Tapi aku ingat, restu orangtua juga menjadi penentu yang sangat penting, maka kuutarakanlah maksud hati kepada bapak. Syukurlah, bapak memberi kebebasan sepenuhnya, bahkan mendukung keinginanku untuk belajar antropologi. Bapak tidak pernah melihat bidang ilmu dari passing grade-nya. Asalkan benar-benar punya niat untuk belajar, terlebih jika memang punya minat di situ, just do it anyway. Bapak bahkan memberitahuku salah satu tokoh yang mentas dari antropologi, yaitu Ibu Meutia Hatta.

Mengenai apa itu antropologi, apa saja yang dipelajari, dan bagaimana pengalamanku (yang masih sangat minim ini), akan aku ceritakan di posting selanjutnya, ya. I think it's better to keep each post not so long to read.

(Jadi intinya postingan ini antiklimaks banget. Hahaha.)

Tot kijk!

Posted in , , , , , , , , , | Leave a comment

Kamu dan Buku

Rasanya baru kemarin kita duduk di belakang loket; buku yang kubawa untuk menghabiskan waktu berpindah dari tanganku ke tanganmu. Aku bilang, "Cerita-cerita dalam buku ini aneh, aku tidak mengerti." Kau tertawa lalu menyahut, "Aku bisa ngerti, menurutku ceritanya kurang greget." Dan aku hanya mengedikkan bahu (dalam hati menambahkan: alangkah lucunya membahas isi buku di tengah tugas jaga begini).

Rasanya baru kemarin aku kepayahan menjaga ekspresi agar tidak lepas kendalimenahan senyum saat mendapati sebuah notifikasi: foto sebuah kover buku masih terpajang di rak toko, buku yang kamu sarankan agar kubeli. Dan kemudian, kamu justru menawarkan hendak membelikannya untukku, karena aku memintanya. Tentu kujelaskan bahwa aku bercanda.

"Padahal tadi nanyanya serius loh."

Tahan senyum. Tahan senyum!

Ini bukan tentang seberapa menariknya buku itu, atau adanya kesempatan aku dapat memilikinya tanpa membeli dengan uangku sendiri. Ini tentang kamu yang sedang berada di toko buku, dan ketika melihat salah satu buku, tenyata kamu teringat akan aku.


Sebut aku hiperbolis. Mudah terkesan pada suatu peristiwa, menganggap yang terjadi begitu luar biasa. Tetapi bukankah aku pernah bilang kalau aku memang mudah mengagumi perkara sederhana? Untuk kali ini, tolong jangan menghina...

Kamu dan buku. Dua hal yang sepertinya sudah menyatu. Kamu dan kecintaanmu pada buku-buku, adalah sesuatu yang sejak awal tertangkap pengamatanku.

Setelah kepergianmu pun, yang tersisa di tanganku adalah buku. Dua di antaranya memang aku sendiri yang meminjamnya langsung kepadamu dan belum sempat kukembalikan, sedang satu lagi pemberian keluargamu: sebagai (tambahan) kenang-kenangan, katanya.

Kenang-kenangan? Mengapa terdengar ganjil sekali? Pun ketika dosenku menyebut judul sebuah buku berikut nama pengarangnya, buku yang sama seperti yang kau rekomendasikan waktu itu, mengapa rasanya sesak di hati? Bukankah belum lama sejak aku mengenalmu, lalu kita banyak menghabiskan waktu dalam temu, kini kehadiranmu digantikan oleh apa yang disebut "kenang-kenangan."

(tarik nafas, hembus perlahan.)

Keganjilan itu, rasa sesak itu... mungkin karena kini dirimu tak ada lagi. Aku tak lagi bisa menanyakan tentang ini dan itu, tak lagi bisa mendengar kesanmu atas buku-buku yang kita baca. Lebih dari itu, mungkin karena aku telah kehilangan sosok teman berbagi...


Izinkan aku menyimpan beberapa di antara koleksi bacaanmu,

Posted in , , , , , | 2 Comments

Untuk Sebuah Kenyataan

credit photo here

Dear Agatha,

Aku dengar kau baru saja kehilangan sahabat baikmu. Seorang perantau sama sepertimu, pemuda dari bagian barat pulau, memilih kota ini untuk menetap dan mencoba peruntungannya.

Aku sendiri belum lama mengenalnya, baru sebentar malah. Aku ingat saat pertama kali bertatap muka dalam sebuah wawancara, yang kini membuatku sadar; tempat inilah yang mempertemukan kita. Tempat ini yang membawaku mengenal teman-teman dengan antusias yang sama: dunia kanak-kanak dengan segala proses berkembangnya.

Dia salah satu yang paling aktif berpartisipasi di sana. Cenderung menunjukkan aksi tanpa banyak bicara. Pembawaannya yang sederhana menjadikan dia mudah bergaul dengan siapa saja. Pada awal aku bergabung, aku menelisik satu demi satu pribadi-pribadi baru, tak terkecuali dia. Dan, semakin aku mengamatinya, semakin aku ingin menelusuri lebih jauh kepribadiannya. Satu hal yang menjadikan aku kian terkesan adalah tulisan-tulisannya yang begitu indah. Dia seorang yang pandai merangkai kata-kata, kau setuju kan, Agatha?

Kekagumanku lantas tumbuh berbunga, namun aku tidak memberitahu siapapun tentang itu. Aku seorang pemalu, dan aku memang tak pandai menerjemahkan rasa. Terlebih karena antara kami terpaut usia yang jauh berbeda. Ketika beberapa waktu terakhir dia menunjukkan gestur peduli, aku senang sekali. Dia membuatku merasa diperhatikan dan itu rasanya seperti mimpi. Meski mungkin hanya perasaanku semata, meskipun bisa jadi dia hanya ingin menemani tanpa maksud apa-apa. Aku sudah senang, bagai seorang gadis cilik menerima permen kapas dengan hati girang, tak lagi berharap yang macam-macam.

Ketika tiba-tiba dia pergi, Agatha, aku tidak tahu lagi apa yang kurasakan. Aku begitu kehilangan, tapi aku berpikir, bukan hanya aku yang sedih karena kepergiannya. Ada perempuan-perempuan yang lebih lama menangisinya, ada ibu dan adiknya yang harus kembali menyesap pahit karena kehilangan satu lagi sosok laki-laki dalam keluarga mereka. Dan kau, yang kelihatannya selalu menampakkan wajah ceria, tapi pasti sangat kehilangan... karena dia adalah sahabat yang baik, teman berbincang dalam setiap waktu luang, sering melakukan apapun untuk membuat orang-orang di sekitarnya senang.

Agatha, aku ingin bilang terimakasih. Terimakasih karena diam-diam kau memperhatikan, dan secara tidak langsung menjadi benang yang menghubungkan. Terimakasih karena telah menjadi orang yang menyampaikan apa yang tidak sempat aku ungkapkan. Terimakasih sudah mempercayaiku untuk tahu semua cerita dari sudut pandangmu, yang membuatku menghela nafas panjang: ah, betapa hidup ini penuh kejutan.

Dia sudah pergi, membawa seluruh beban yang ditanggungnya, meninggalkan kenangan bagi orang-orang yang menyayanginya. Dan meskipun rasanya aku ingin merutuki diriku atas banyak hal yang tidak aku lakukan, aku tahu bukan itu yang dia inginkan. Seperti pernah kau katakan, setidaknya aku bisa menjadikan ini sebagai pelajaran. Sekali lagi, terimakasih karena sudah berbagi, Agatha. Dia pastilah sangat beruntung memiliki sahabat sepertimu, yang senantiasa menunggui hingga saat-saat terakhirnya. Semoga sahabatmu, sahabat kita, menemukan kebahagiaan di tempat dia berada sekarang.

Tertanda,


P.s. Forgive me for ignoring the word "mbak" before your name, Mbak! I posted this here as my gratitude for you, I know that someday you will read it anyway. I keep thinking about the way you told me that thing at the hospital, how you re-tell your conversation with Mas P, and still... I remember exactly the thrill I got that time. 

P.s.s I wonder if there's another MKT-friend who dropped by my blog... I don't know how will I get a response from you. I guess it will be something surprising to be known, but that's the truth. Perhaps you want to ask me about the story, but I'm afraid I can't explain more because... this is too personal for me...

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Sternschnuppe


Jemari tanganku seperti membeku,
sementara kaki kupaksakan melangkah, hingga
di tanah bersalut debu tercetak jejak sepatu.
Tatkala melempar pandang pada langit malam, sejenak terpaku,
takjub disertai sedikit pilu;
k a u k a h   i t u ?
Di antara taburan bintang, binar cemerlang,
tapi membalas tatapanku  s a y u.
 



//catatan sepulang dari Sinolewah, 18.10.2015.
Gambar dipinjam dari  sini.

Tercekat saat mengingat,

Posted in , , , , , | Leave a comment

Masa Kecil

Alasan aku seringkali senyum-senyum sendiri saat melihat tingkah laku anak-anak di sekitar adalah karena, ya, memangnya apa yang bisa menahanmu untuk tidak tersenyum?

Anak-anak belajar berjalan dititah mamanya.

Anak-anak, usia balita, melompat-lompat sambil bawa balon. Alangkah manisnya.

Anak-anak, sekitar TK, berkejaran dengan teman-temannya hingga salah satu dari mereka jatuh terjerembap lalu mulai menangis. Kemudian temannya menghampiri dengan khawatir, berusaha menghibur dan membantunya berdiri.

Anak-anak, tingkat awal sekolah dasar, berjalan mendekati kemudian bertanya, "besok main ke sini lagi, Kak?"

Anak-anak, cerewet bertanya pada mamanya tentang ini dan itu. Anak-anak yang terpatah menyenandungkan lagu Twinkle Twinkle Little Star. Anak-anak yang sibuk dengan boneka atau mobil-mobilannya, meskipun kini mungkin jarang ditemui (gadget seringkali tampak lebih menarik bagi mereka). Anak-anak berbagi camilan, berebut mainan, berinteraksi satu sama lain dengan begitu ekspresifnya.

Alasan mengapa aku tak bisa menahan senyum saat melihat anak-anak di sekitar adalah karena, lihatlah, ada kekuatan masa kecil tersimpan pada mata mereka. Karena, di sana terpancar kesederhanaan dan segala tentang kejujuran, apa adanya, tak dibuat-buat. Dan, menyelami mata mereka yang kadang berkilat jenaka, kadang sayu sendu usai banjir air mata, aku ingin membisikkan, "Dik, masa depanmu sungguh masih teramat panjang..."

Lalu aku tiba-tiba begitu rindu pada sebuah masa yang bernama: masa kecil.

Yogyakarta, 3 Oktober 2015.

Posted in , , , , , , | Leave a comment

Random Thought part 128.473

Ketika laki-laki membuat tulisan tentang perempuan yang dia suka, kenapa kesannya manis sekali? Tulisan itu memunculkan sisi romantis dalam diri si lelaki, sebagai bentuk rasa sayangnya buat sang pujaan.

Tetapi kalau perempuan mencoba mendeskripsikan laki-laki yang dia kagumi, atau menuangkan perasaannya pada orang yang dia sayang melalui tulisan, kenapa kesannya justru jadi menye...


Atau hanya aku yang berpikiran begitu? (Dan merasa menye saat membaca ulang tulisan-tulisan-yang-mungkin-hanya-aku-yang-tahu-setiap-kisah-di-baliknya. Entahlah.)

No offense, ini tidak ada kaitannya dengan perempuan lain yang pandai membahasakan rasa; aku bicara tentang diri sendiri yang begitu payah dalam urusan cinta. (Lol kenapa ujungnya curhat.)

(Namanya juga Sekar.)

Cheers,

Posted in , , , , | 1 Comment

Bagaimana menafsirkan - bagian dua

sepuluh / sembilan

aku ingin tanya, tapi nyaliku ciut. kenapa bukan kamu saja yang memperjelas semuanya? ataukah memang kamu berniat menjadikan ini sebuah rahasia?


sebelas / sembilan

[sepertinya aku mulai gila.]

[aku tidak percaya ini terjadi. mungkin aku sedang bermimpi, ah, kalau toh ini mimpi, aku punya kendali. biarkan aku sejenak menikmati, bangunkan aku nanti-nanti.] 

Bagaimanalah aku hendak menuangkan perbincangan kita ke dalam narasi? Sedang hati dan otakku terlibat dialog sendiri. Semuanya berjalan terlalu mudah, bahkan sebelum aku berani mengharapkannya untuk terjadi.

Dan kau. Jika saja aku tahu apa yang ada dalam kepalamu. Jangan-jangan kau puas tertawa, untuk aku yang demikian polosnya...


dua belas / sembilan

...seperti ada yang ditahan agar tak muncul ke permukaan. Mungkin kau enggan, mungkin juga aku yang terlalu memikirkan.

Beberapa kenyataan tak bisa dihindari, dan aku belum berhenti menerka-nerka dalam hati. Padahal, kau mungkin sudah lupa. Kau mungkin saja tak menganggap segala yang terjadi itu istimewa.

Mungkinkah hanya aku yang masih mencari, bagaimana menafsirkan...

Yogyakarta, 16 September 2015.

Posted in , , , , | Leave a comment

Bagaimana menafsirkan - bagian satu

dua / sembilan

[mereka belum juga datang. orang-orang di sini seperti menertawakanku yang sendirian.]
Hei, lekas kemarilah!

[aku bisa membayangkan dia duduk di sana, menunggu. aku bisa saja datang lebih awal, tapi aku takut akan terasa canggung bila kami duduk berdua saja...]
Ya, aku ke sana.



Lalu kita  (dan yang lain) terlibat pembicaraan yang telah diagendakan.
Lalu malam turun, dan untuk satu dan lain alasan kita memutuskan segera pulang.


[kau memandangi jalanan.]
Belum begitu larut.

Aku memilih diam.
[aku tahu kaupunya pengertian tersendiri soal malam. kalau ingin pulang lebih malam, kita pergi berdua saja...]


lima / sembilan

bukannya dunia terasa seperti milik berdua. karena memang nyatanya kita di tengah kawan-kawan yang ramai bicara. hanya saja, aku sudah cukup senang berjalan bersisian denganmu, malam itu.


sembilan / sembilan


[seharusnya dia ada di antara orang-orang yang hadir sore ini.]

[aku mengabaikan kesepakatan! satu kesempatan untuk bertemu dengannya terbuang.]

tetapi kemudian kau membuatkan kesepakatan baru untuk kita. jantungku entah berhenti berdetak, entah hendak mencelat keluar dari tempatnya sebab berdebar demikian kencangnya.

berbagai penafsiran berkelebat dalam benak, dan aku mati-matian menahan diri agar tidak tersenyum sepanjang hari seperti orang bodoh, dan aku mati-matian mengingatkan diri supaya berhati-hati. soal hati...

Yogyakarta, 11 September 2015.

Posted in , , , , | Leave a comment

Bagian dari Ini

Ketuk palu, dentang lonceng, tabuhan gong atau apalah itu sudah dibunyikan sebagai tanda dimulainya babak baru, kemudian aku mendapati diriku dibawa meluncur bersama Sang Waktu. Menyusuri jalan berpagar batu, disambut halaman berumput dan bangunan yang makin sering aku tuju. Bertemu orang asing yang seterusnya akan tetap asing atau mungkin nantinya kusebut teman baru.

Tepukan di bahu, dan sesekali terdengar saling panggil nama. Deretan meja, kursi panjang di koridor, kantin, serta sudut-sudut strategis dipenuhi orang-orang. Beberapa di antara mereka berbincang diselingi tertawa, aku menyaksikan saja sembari di kepalaku membenak tanya: siapa aku di antara manusia-manusia ini?

Aku berjalan lurus ke depan, jika kemarin lebih banyak menunduk maka hari ini aku menatap penasaran: cerita apa yang disimpan oleh manusia-manusia ini?

Dari semua yang di luar pengetahuanku, mengenal sedikit demi sedikit adalah sukacita. Mengerti sebagian kecil adalah proses, dan memahami secara perlahan ialah bentuk adaptasi dengan lingkungan baru.

Aku belum jadi siapa-siapa. Aku masih perlu mencari tahu tentang segala sesuatunya. Meski sempat terlintas cemas akan visi masa depan yang belum pasti, aku akan berusaha menjalani hari-hari mendatang dengan segenap prasangka baik—karena satu keyakinan: aku bagian dari ini.

Suatu senja di sana (really!). Captured by me.
Boleh ya, aku jadi bagianmu?

Posted in , , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.