Lapang Dada

Sebuah fiksi.

pic from here

Hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Caramel macchiato di cangkirku masih separuh, dan sepertinya sebentar lagi akan menjadi dingin. Aku memandang ke luar jendela. Pasangan yang tadi duduk di meja depanku baru saja keluar dari kedai. Berbagi payung menuju mobil mereka. Kedai kian sepi. Tapi aku belum ingin pulang. Maka kulanjutkan membaca buku yang kupinjam dari perpustakaan kota, sebuah roman yang cukup melankolis jalan ceritanya.

Aku sampai di pertengahan buku ketika operator musik kedai kopi ini memutar sebuah lagu yang tidak asing di telingaku. Dalam sekejap alunan lagu itu memenuhi penjuru kedai, memasuki indera pendengaranku. Lagu yang tidak mellow sebenarnya, bahkan dibawakan dengan irama yang cukup riang. Tetapi entah mengapa membuatku termenung seketika.

Apa yang salah dengan lagu ini
kenapa kembali kumengingatmu

Aku kembali melempar pandangan ke luar jendela. Titik-titik air membuat kacanya sedikit buram, tetapi aku masih bisa melihat taman di seberang kedai yang sore ini tampak lengang. Ya, siapa pula yang berniat singgah ke taman selagi hujan turun dengan rapatnya. Bangku-bangku panjang yang dicat putih membisikkan kekosongan. Ayunan diam tak bergerak, barangkali menggigil dibasuh hujan. Lampu-lampu taman bergaya vintage seakan menunggu dinyalakan, menunggu datangnya kehangatan. Ingatanku melayang ke dua tahun lalu. Suatu sore yang mendung ketika aku bertemu kau di taman itu.

Seperti aku bisa merasakan
getaran jantung dan langkah kakimu
ke mana ini akan membawaku?

Aku tengah tenggelam dalam sebuah novel setebal lima ratus halaman. Tak ingin diganggu, karena aku sudah bertekad akan menghabiskan seluruh halamannya malam itu juga. Ketika kau lirih berkata, boleh aku duduk di sebelahmu, aku hanya mengangguk, tidak begitu menaruh peduli. Hingga aku memalingkan kepala dan melihat sosokmu dari samping... kau, alismu yang teduh, garis rahang yang tegas dan kerut keningmu yang menunjukkan betapa seriusnya dirimu menekuni buku di pangkuanmu.

Kita tidak bercakap sepanjang sisa sore itu. Tapi keesokan harinya, ketika kita bertemu di tempat yang sama, aku tahu kita ditakdirkan saling menyebutkan nama dan berbagi banyak hal. Aku sungguh bersyukur mengenalmu saat itu. Kau dan kepribadianmu yang menyenangkan. Kita selalu menghabiskan setiap sore di taman itu, hari demi hari, cerita demi cerita. Hingga pada suatu senja ketika aku menantimu dengan sabar, sibuk menyusun segala hal yang ingin aku ceritakan, aku harus menelan kekecewaan karena kau tidak datang.

Kau tidak pernah datang lagi ke taman itu untuk duduk bersisian denganku.

Kau harus bisa, bisa berlapang dada
Kau harus bisa, bisa ambil hikmahnya

Sudah lama berselang sejak peristiwa itu. Meskipun dalam hati aku sangat ingin kau datang dan melanjutkan kebiasaan kita bertukar cerita, tapi aku tidak berani berharap terlalu tinggi. Aku tidak ingin berburuk sangka tentang apa yang membuatmu tidak lagi mengunjungi taman itu. Dan aku juga memutuskan untuk tidak lagi menunggu.

Kamu, apa kabar? Apakah di tempatmu turun hujan? Mungkin kau sedang membaca di kamarmu yang hangat. Apakah sempat terlintas di pikiranmu tentang aku? Gadis yang dulu selalu kautemui setiap sore. Barangkali kau juga merindukanku seperti yang sedang kurasakan saat ini. Tapi, ah, mungkin juga tidak. Mungkin kau malah sudah lupa pernah mengenalku.

Karena semua, semua tak lagi sama
walau kautahu dia pun merasakannya

Lagu dari operator kedai tiba di bagian coda. Volumenya melemah, dan akhirnya berhenti sama sekali. Aku pun tersadar dari lamunan. Menatap kalimat-kalimat pada buku yang terbuka di hadapanku. Meraih cangkir kopi, menyesapnya perlahan seraya memandang taman dari jendela yang buram. Di mana pun kau saat ini, semoga baik-baik saja...

P.s. Credit to my classmate who has introduced me to this song; Aufa. Sheilagank sakmodare! :p

Posted in , , , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.