Archive for March 2015

Hilang Rasa

pic from -

Mengapa tak sebut saja
mati rasa
agar orang mudah pahaminya.
Tidak, sahutku.
Rasaku hilang bukan berarti mati.
Esok ia kembali ke tempat semula,
siapa yang tahu?

Hilang rasa—atau
aku yang salah menyangka
ia hilang, padahal sembunyi
di balik pintu hati tanpa kunci.
Siapa yang tahu?


Yogyakarta, 31 Maret 2015.

Posted in , , | Leave a comment

[Another] Surat Kecil untuk Ibu


Kepada
Yang tercinta Ibu Ika
di alam penantian

Assalamu’alaikum, ibuku sayang.

Satu pertanyaan yang sangat sering aku pikirkan, dan sepertinya juga sering aku jadikan pembuka setiap tulisanku tentang ibu: Sedang apa ibu di sana? Pertanyaan yang persis sama dengan yang tertulis di buku harian ibu, yang pernah ibu tunjukkan padaku, pertanyaan ibu untuk almarhumah ibunya ibu.

Hari ini, tepat delapan tahun sejak aku mulai belajar memahami bahwa Tuhan sangat menyayangimu. Aku tidak menandai kalender, atau menggunakan aplikasi menghitung hari di ponsel seperti yang teman-teman pakai untuk mengingatkan tentang ujian. Aku hanya… bersepakat dengan adik-adik kalau delapan tahun adalah waktu yang cukup lama. Lalu aku penasaran mengganti kata satuan di belakang angka. Aku sibuk sebentar, lantas meminta adik memeriksa hitungan sederhanaku. Kami berpandangan. Sudah 2922 hari kami menghadapi dunia tanpa didampingi oleh ibu…


Adik-adik sudah semakin besar. Jujur, aku semakin kewalahan menentukan sikap yang tepat untuk membimbing mereka, Bu. Aku takut salah langkah. Begitu juga dengan bapak yang mungkin sering mengkhawatirkan aku, meski tidak menunjukkannya (padahal yang aku inginkan justru sebaliknya). Ibu tahu kan, aku sedang menginjak usia yang diyakini orang-orang sebagai tahun yang penting dalam kehidupan remaja. Biar kuceritakan satu hal, Bu. Musim terus berganti, di luar serta di dalam rumah kita. Di dalam rumah, ada kalanya musim penuh kedamaian berlangsung, ada pula masanya saat badai menerpa. Barangkali ibu melihat dari atas sana, salah satu badai terbesar di dalam rumah baru saja terjadi, dan aku belum berani memastikan apakah akan reda secepatnya. Jelas aku berharap begitu.


Ibu, aku berharap ibu tetap membimbingku meski aku tidak bisa melihat ibu secara nyata. Membimbing kami semua. Sesekali berbisiklah pada bapak, beritahu bapak kalau ibu ada di sampingnya. Pada kesendiriannya, aku tidak ingin bapak merasa sepi, sebab aku belum mahir menjadi obatnya. Mungkin tidak akan pernah mahir. Mampirlah  ke mimpi adik-adik juga, Bu. Bilang pada mereka, aku berusaha selalu ada jika mereka butuh bantuan. Aku pernah mengatakannya sendiri, tapi siapa tahu akan lebih berpengaruh jika melalui ibu.


Sebentar lagi aku akan duduk di bangku kuliah. Naya juga akan mengganti rok merahnya dengan yang biru tua. Doakan kami ya, Bu. Kami ingin membanggakan bapak dan ibu. Oh iya, ini perkembangan puisiku. Sekalian mengakhiri suratku ya, Bu.

malam merendah. sabit indah
berjuang temukan arah
mana ibuku mana
aliyah yang lain tak henti merapal
adalah hakiki. di sini dalam hati
apakah perlu ragu
hakikinya dalam hati
aliyah yang lain tak henti merapal
mana ibuku mana
telah temukan arah
malam merendah. sabit indah

Maaf, Bu, kemampuan berpuisiku masih segitu-segitu saja. Aku berandai-andai berpuisi bersamamu, tentu akan syahdu. Kalau kata Sharon Doubiago, “My mother is a poem I’ll never be able to write, though everything I write is a poem to my mother.”

Baik-baik di sana, ibuku sayang. Kami merindukanmu.


Wassalamu’alaikum.


Yours,

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.