"Di mana selendangmu, nonae?"


Selamat pagi, Kamis.

Setelah menyiapkan sarapan untuk adik-adik, saya harusnya segera mandi dan gosok gigi, lalu menjalankan rencana untuk pergi ke perpustakaan daerah, menyusun esai yang deadline-nya nanti malam. Apa daya kumpulan puisi WS Rendra di rak buku kamar berhasil menggoda saya untuk menikmatinya pagi ini bersama segelas kopi.

Dengan tagline "Kumpulan Puisi Rendra yang Belum Pernah Dipublikasikan" di bagian atas cover dan judul Doa untuk Anak Cucu di bagian bawah, buku kumpulan puisi ini membuat uang sejumlah dua puluh delapan ribu rupiah milik saya segera berpindah ke mesin kasir Toko Buku Gramedia, 1 Januari lalu. Sampai sekarang, saya belum selesai menamatkan seluruh sajak dalam kumpulan puisi ini, meski bukunya tipis saja. Setiap habis membaca satu sajak, saya merasa harus menyiapkan diri untuk melanjutkan ke sajak yang lain. Buku ini terisi penuh oleh kekhawatiran, begitu pendapat saya. Manusia yang sedih, manusia yang berdosa, alam yang terluka, segala tentang rusak dan hancur, demikian tampaknya garis besar sajak-sajak dalam buku ini. Gelisah pun dengan mudah menular pada saya, sejak mulai membaca hingga beberapa saat setelahnya.

Meski belum selesai membaca semuanya, saya sudah memutuskan satu puisi kesukaan saya. Judulnya Sagu Ambon, tercetak pada halaman 40.
Ombak beralun, o, mamae.
Pohon-pohon pala di bukit sakit.
Burung-burung nuri menjerit.
Daripada membakar masjid
daripada membakar gereja
lebih baik kita bakar sagu saja.

Pohon-pohon kelapa berdansa.
Gitar dan tifa.
Dan suaraku yang merdu.
O, ikan,
O, taman karang yang bercahaya,
O, saudara-saudaraku,
lihat, mama kita berjongkok di depan kota yang terbakar.

Tanpa kusadari
laguku jadi sedih, mamae.
Air mata kita menjadi tinta sejarah yang kejam.

Laut sepi tanpa kapal layar.
Bumi meratap dan terluka.
Di mana nyanyian anak-anak sekolah?
Di mana selendangmu, nonae?
Di dalam api unggun aku membakar sagu.
Aku lihat permusuhan antara saudara itu percuma.
Luka saudara lukaku juga.

9 Mei 2002
Camoe-camoe, Jakarta

Pesan yang ingin disampaikan, astaga, luar biasa menggetarkan. Bersama puisi ini, saya terbang ke pesisir Ambon, jelas dalam khayal saya merebahkan tubuh di pasir yang hangat, tetapi lama kemudian menjadi panas oleh sesuatu yang membakar.

Ya, seperti itu cara puisi-puisi para sastrawan merasuki pikiran saya.

Tetapi tidak, saya tidak gila. Saya hanya berkata, kalau kamu pergi ke Ambon Manise, jangan lupa mengajak saya.

Salam,

Posted in , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.