Archive for May 2015

Blurred Eyes

dedicated to n.a.m.

What did you do last night, darling?
Stared at the blurred windows, with blurred eyes,

untouched coffee told me about mourning
you couldn’t hide from the stars.

As you whispered softly, they whispered back.
Sang a lullaby, blew away those traumatic wreck.

Still you fell asleep to dream of storm and snow,
it was solitary dawn, covered by the darkest sorrow.

There’s an old tale about young lady sat alone,

lived by the peaceful castle, far from coppice or thorn,
her face shows the brightest sunrise,
but try to look close, she actually cries.

P.s.
Dear n.a.m.,
Perhaps I didn't show it but trust me, I understand. That's why I never ask you directly about what you feel or how would you passed those difficult moment, simply because I had had same experience, too... You are stronger than you think. So would you please believe in one of Tere Liye's quote: Waktu akan berbaik hati mengobati kesedihan.

P.s.s.
Pardon me for messed up grammar or what, still continuing to improve my english!

WHO would be ready anyway?
Yours,

Posted in , , , , , , | Leave a comment

Dua Jam Jadi Turis di Kota Sendiri

Foto: dokumen pribadi

Teruntuk Yasiqy

Sudah sepekan sejak kamu berkunjung ke kota tempat tinggalku, tepatnya pada tanggal dua puluh satu lalu. Bagaimana Jogja meninggalkan kesan bagimu? Masih sama seperti saat kamu tinggal di sini dulu, ataukah banyak yang sudah berubah? Apapun itu, aku ingat salah satu komentarmu, "Tinggal di Jogja itu asyik ya, Kak." -- dan aku setuju.

Kita sudah merencanakan pertemuan ini jauh-jauh hari, dan sempat kecewa karena batal bertemu tanggal 20 malamnya. Tujuan utama kunjunganmu serta kawan sekolahmu sebenarnya adalah UGM, lalu karena tanggal 21 siang ada kesempatan, jadilah aku mengantarmu ke toko oleh-oleh Dagadu Jogja. Kalau dipikir-pikir, agak lucu juga. Kita baru saling mengenal awal September 2014 lalu. Bertemu dalam sebuah perjalanan dan camp selama (total) lima hari, bersama kawan-kawan yang lain dari berbagai daerah di Indonesia. Aku pribadi merasa mudah akrab dengan teman-teman LWC, ah! Jadi kangen semuanya, kan. Hahaha.

Saat itu, ketika kawan-kawan satu rombonganmu asyik berbelanja di Malioboro, kamu justru merasa cukup berbincang denganku tak jauh dari titik nol kilometer Jogja. Aku membawa adikku, Naya, yang sebenarnya tidak menyangka kalau teman yang kubilang datang dari Jombang itu ternyata laki-laki hahahaha! Kita bertukar cerita tentang banyak hal: kesibukan terakhir, kawan-kawan, keluarga. Maaf kalau waktu itu aku cerewet ya, Siqy. :p

Mendengarmu bercerita tentang impianmu di masa depan, aku terkesan. Kamu memiliki jiwa pantang menyerah, selalu berpikir positif dan semangat meraih cita-cita (kok jadi kaya naskah pidato gini). Di sisi lain, kamu juga punya sikap menolak diusik yang muncul ketika kamu sedang ingin sendiri saja, nyaman dalam ketenangan yang nantinya menjadi awal terbitnya sebuah karya. Ini hanya sekadar opini, maaf kalau aku terdengar sok tahu.

Anyway, aku ingin bilang terima kasih karena kamu mendukungku di jurusan kuliah yang aku ambil. I mean, aku sadar kok, aku memang mengambil jurusan yang lazimnya tidak menjadi pilihan pertama bagi kebanyakan anak, bahkan yang SMA-nya jurusan IPS sekalipun. Bagiku, mengikuti kata hati adalah yang terpenting, dan sejujurnya aku merasa sangat bersyukur karena keluarga dan orang-orang terdekatku memahami itu. Meskipun tidak dipungkiri tetap ada yang kecewa atau bertanya-tanya, mengapa aku tidak memilih bidang lain saja... Hmm, sepertinya topik ini tak perlu diperpanjang, lebih baik kubuatkan posting tersendiri di lain hari. :p

Satu pesanku: jadilah dirimu sendiri, Siqy. Jaga selalu sifat optimismu, tak perlu mencemaskan hal-hal yang belum pasti (nah ini persis nasihat emak-emak). Kamu mampu, kamu bisa, asal kamu percaya diri. Aduh, jangan serius-serius gitu bacanya, aku malah kepingin ketawa. Masalahnya... aku ngomong gini padahal sendirinya belum bisa menerapkan. Ketahuan ora sembada. :p

Tetap berkabar ya! Semoga komunikasi di antara kawan-kawan LWC selalu terjalin erat. Suatu saat nanti, pasti ada kesempatan di mana kita bisa dipertemukan lagi, full-team tiga puluh anak. Mungkin tahun depan, mungkin lima tahun dari sekarang, mungkin saat kita semua telah berhasil menggenggam asa di tangan. *berkaca-kaca*

Bonus foto: you're lucky guy, Siqy! Sedang digelar pameran di Jogja Gallery, mengangkat bidang yang ingin kamu geluti!

Best regards,



Posted in , , , , , , | Leave a comment

Bincang Pagi Seorang Lelaki dan Puteri Sulungnya


Pagi ini bapak pulang dari sebuah operasi penyelamatan.

Sebenarnya kata 'penyelamatan' kurang tepat untuk digunakan, sebab korban sudah menjadi jasad tanpa nyawa saat ditemukan. Ya, ini tentang mahasiswa yang jatuh ke kawah Merapi saat sedang mengambil foto dirinya sendiri, yang beritanya pasti tercetak di halaman pertama surat kabar hari ini. Saya turut menyampaikan belasungkawa atas musibah yang menimpa pemuda 21 tahun itu. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, dan kita semua sebagai penyimak berita dapat memetik pelajaran. Mari amin-kan.

Bapak berangkat ke basecamp SAR di Merapi pada pagi hari Minggu, semalam setelah mendengar kabar mas Erri dinyatakan hilang. Awalnya, Sabtu malam, saya dan adik-adik hanya tahu kalau bapak ada koordinasi di SAR DIY. Bapak cukup sering wara-wiri ke sana, kami tidak menyangka kasusnya seserius itu dan bapak harus memantau langsung di lokasi. Minggu malam, bapak ternyata belum bisa pulang (padahal Senin Naya mulai Ujian Nasional dan saya agak cemas jika Naya down ditinggal bapak. Untungnya bapak sering menelepon, Naya pun tampaknya bisa mengatasi itu).

Apa yang terjadi sepanjang hari Minggu, Senin, dan Selasa; bagaimana proses evakuasi korban, beritanya dapat dibaca di berbagai media. Tentu saja jika pembaca ingin mengetahui faktanya secara detail, pembaca harus selektif memilih sumber informasi. Saya prihatin, media massa saat ini kurang memperhatikan kualitas berita yang diangkat. Kita sendiri yang harus kritis menggali informasi akurat, jangan langsung menelan mentah-mentah segala yang kita dapat.

Oke. Bukan ini yang ingin saya sampaikan.

Poin saya sesungguhnya ialah, salut kepada tim yang berhasil mengevakuasi jenazah korban hingga dikembalikan ke rumah keluarga, serta dapat dimakamkan dengan sepantasnya. Ini salah satu operasi besar menurut saya, baru pertama kali terjadi di negara kita, bahkan di seluruh dunia, bukan? Mendengar cerita bapak, saya turut belajar memahami pentingnya kerjasama dalam tim, bagaimana menyusun skala prioritas, bergerak sesuai prosedur dan menekan arogansi diri yang dapat mengakibatkan tindak gegabah. Terlebih lagi, musibah ini erat kaitannya dengan alam, bukan sebagai penyebab secara langsung, tetapi sebagai latarnya.

Puncak Merapi, kawah yang masih aktif, titik-titik api bersuhu tinggi. Medan sulit, seperti teras kawah rawan runtuh, membuat tim yang dinyatakan menguasai teknik vertical rescue pun kembali berpikir atas risiko yang mungkin terjadi pada diri mereka. Belum lagi solfatara menyembur tiba-tiba dari dinding kawah... Tidak. Cara bapak bercerita tidak sedramatis itu, karena memang ada penjelasan ilmiah yang dapat dinalar dengan logika. Barangkali, saya saja yang menuliskannya terkesan dramatis. Maaf.

Campur tangan Tuhan turut berperan. Ya, Pak, saya percaya itu. Saya percaya Alam punya kekuatan yang bukan untuk ditantang, melainkan dihormati. Karena pada dasarnya manusia tidak diciptakan untuk menaklukkan alam. Manusia memang makhluk kecil dengan kesombongan besar. Kesombongan yang sungguh tak pantas: bukankah manusia dan alam sama-sama ciptaan Tuhan?

Semoga kejadian seperti ini tidak terulang. Semoga manusia mau sedikit merendahkan hatinya, barangkali sejenak renung dapat mengurangi bongkah kecongkakan yang bercokol di dasar nurani. Dan, semoga saya tidak terkesan menggurui... Percayalah, saya hanya ingin berbagi.
“...and then, I have nature and art and poetry, and if that is not enough, what is enough?”
― Vincent van Gogh

Anyway, saya jadi ingat kalimat Mbak Irma kemarin saat kami membantu di gudang Kolong Tangga (tunggu cerita saya tentang Kolong Tangga!), ketika kami sedang membicarakan ayah-ayah kami yang banyak terlibat kegiatan SAR. "Gimana perasaan Echa punya bapak orang SAR? Echa harusnya senang lho, punya bapak yang keren..."

Lucu sekali, bukan? Terkadang saya begitu kesalnya pada bapak, tetapi pagi ini, saya merasa bangga punya bapak yang hebat.

Sincerely,

Posted in , , , , , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.