Bincang pagi seorang lelaki dan puteri sulungnya


Pagi ini bapak pulang dari sebuah operasi penyelamatan.

Sebenarnya kata 'penyelamatan' kurang tepat untuk digunakan, sebab korban sudah menjadi jasad tanpa nyawa saat ditemukan. Ya, ini tentang mahasiswa yang jatuh ke kawah Merapi saat sedang mengambil foto dirinya sendiri, yang beritanya pasti tercetak di halaman pertama surat kabar hari ini. Saya turut berbelasungkawa atas musibah yang menimpa pemuda 21 tahun itu. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, dan kita sebagai penyimak berita dapat memetik pelajaran.

Bapak berangkat ke basecamp SAR di Merapi pada pagi hari Minggu, semalam setelah mendengar kabar mas Erri dinyatakan hilang. Awalnya, Sabtu malam, saya dan adik-adik hanya tahu kalau bapak ada koordinasi di SAR DIY. Bapak cukup sering wara-wiri ke sana, kami tidak menyangka kasusnya seserius itu dan bapak harus memantau langsung di lokasi. Minggu malam, bapak ternyata belum bisa pulang (padahal Senin Naya mulai Ujian Nasional dan saya agak cemas jika Naya down ditinggal bapak. Untungnya bapak sering menelepon, Naya pun tampaknya bisa mengatasi itu).

Apa yang terjadi sepanjang hari Minggu, Senin, dan Selasa; bagaimana proses evakuasi korban, beritanya dapat dibaca di berbagai media. Tentu saja jika pembaca ingin mengetahui faktanya secara detail, pembaca harus selektif memilih sumber informasi. Saya prihatin, media massa saat ini kurang memperhatikan kualitas berita yang diangkat. Kita sendiri yang harus kritis menggali informasi akurat, jangan langsung menelan mentah-mentah segala yang kita dapat.

Oke. Bukan ini yang ingin saya sampaikan.

Poin saya sesungguhnya ialah, salut kepada tim yang berhasil mengevakuasi jenazah korban hingga dikembalikan ke rumah keluarga, serta dapat dimakamkan dengan sepantasnya. Ini salah satu operasi besar menurut saya, baru pertama kali terjadi di negara kita, bahkan di seluruh dunia, bukan? Mendengar cerita bapak, saya turut belajar memahami pentingnya kerjasama dalam tim, bagaimana menyusun skala prioritas, bergerak sesuai prosedur dan menekan arogansi diri yang dapat mengakibatkan tindak gegabah. Terlebih lagi, musibah ini erat kaitannya dengan alam, bukan sebagai penyebab secara langsung, tetapi sebagai latarnya.

Puncak Merapi, kawah yang masih aktif, titik-titik api bersuhu tinggi. Medan sulit, seperti teras kawah rawan runtuh, membuat tim yang dinyatakan menguasai teknik vertical rescue pun kembali berpikir atas risiko yang mungkin terjadi pada diri mereka. Belum lagi solfatara menyembur tiba-tiba dari dinding kawah... Tidak. Cara bapak bercerita tidak sedramatis itu, karena memang ada penjelasan ilmiah yang dapat dinalar dengan logika. Barangkali, saya saja yang menuliskannya terkesan dramatis. Maaf.

Campur tangan Tuhan turut berperan. Ya, Pak, saya percaya itu. Saya percaya Alam punya kekuatan yang bukan untuk ditantang, melainkan dihormati. Karena pada dasarnya manusia tidak diciptakan untuk menaklukkan alam. Manusia memang makhluk kecil dengan kesombongan besar. Kesombongan yang sungguh tak pantas: bukankah manusia dan alam sama-sama ciptaan Tuhan?

Semoga kejadian seperti ini tidak terulang. Semoga manusia mau sedikit merendahkan hatinya, barangkali sejenak renung dapat mengurangi bongkah kecongkakan yang bercokol di dasar nurani. Dan, semoga saya tidak terkesan menggurui... Percayalah, saya hanya ingin berbagi.
“...and then, I have nature and art and poetry, and if that is not enough, what is enough?”
― Vincent van Gogh

Anyway, saya jadi ingat kalimat Mbak Irma kemarin saat kami membantu di gudang Kolong Tangga (tunggu cerita saya tentang Kolong Tangga!), ketika kami sedang membicarakan ayah-ayah kami yang banyak terlibat kegiatan SAR. "Gimana perasaan Echa punya bapak orang SAR? Echa harusnya senang lho, punya bapak yang keren..."

Lucu sekali, bukan? Terkadang saya begitu kesalnya pada bapak, tetapi pagi ini, saya merasa bangga punya bapak yang hebat.

Sincerely,

Posted in , , , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.