Dua Jam Jadi Turis di Kota Sendiri

Foto: dokumen pribadi

Teruntuk Yasiqy

Sudah sepekan sejak kamu berkunjung ke kota tempat tinggalku, tepatnya pada tanggal dua puluh satu lalu. Bagaimana Jogja meninggalkan kesan bagimu? Masih sama seperti saat kamu tinggal di sini dulu, ataukah banyak yang sudah berubah? Apapun itu, aku ingat salah satu komentarmu, "Tinggal di Jogja itu asyik ya, Kak." -- dan aku setuju.

Kita sudah merencanakan pertemuan ini jauh-jauh hari, dan sempat kecewa karena batal bertemu tanggal 20 malamnya. Tujuan utama kunjunganmu serta kawan sekolahmu sebenarnya adalah UGM, lalu karena tanggal 21 siang ada kesempatan, jadilah aku mengantarmu ke toko oleh-oleh Dagadu Jogja. Kalau dipikir-pikir, agak lucu juga. Kita baru saling mengenal awal September 2014 lalu. Bertemu dalam sebuah perjalanan dan camp selama (total) lima hari, bersama kawan-kawan yang lain dari berbagai daerah di Indonesia. Aku pribadi merasa mudah akrab dengan teman-teman LWC, ah! Jadi kangen semuanya, kan. Hahaha.

Saat itu, ketika kawan-kawan satu rombonganmu asyik berbelanja di Malioboro, kamu justru merasa cukup berbincang denganku tak jauh dari titik nol kilometer Jogja. Aku membawa adikku, Naya, yang sebenarnya tidak menyangka kalau teman yang kubilang datang dari Jombang itu ternyata laki-laki hahahaha! Kita bertukar cerita tentang banyak hal: kesibukan terakhir, kawan-kawan, keluarga. Maaf kalau waktu itu aku cerewet ya, Siqy. :p

Mendengarmu bercerita tentang impianmu di masa depan, aku terkesan. Kamu memiliki jiwa pantang menyerah, selalu berpikir positif dan semangat meraih cita-cita (kok jadi kaya naskah pidato gini). Di sisi lain, kamu juga punya sikap menolak diusik yang muncul ketika kamu sedang ingin sendiri saja, nyaman dalam ketenangan yang nantinya menjadi awal terbitnya sebuah karya. Ini hanya sekadar opini, maaf kalau aku terdengar sok tahu.

Anyway, aku ingin bilang terima kasih karena kamu mendukungku di jurusan kuliah yang aku ambil. I mean, aku sadar kok, aku memang mengambil jurusan yang lazimnya tidak menjadi pilihan pertama bagi kebanyakan anak, bahkan yang SMA-nya jurusan IPS sekalipun. Bagiku, mengikuti kata hati adalah yang terpenting, dan sejujurnya aku merasa sangat bersyukur karena keluarga dan orang-orang terdekatku memahami itu. Meskipun tidak dipungkiri tetap ada yang kecewa atau bertanya-tanya, mengapa aku tidak memilih bidang lain saja... Hmm, sepertinya topik ini tak perlu diperpanjang, lebih baik kubuatkan posting tersendiri di lain hari. :p

Satu pesanku: jadilah dirimu sendiri, Siqy. Jaga selalu sifat optimismu, tak perlu mencemaskan hal-hal yang belum pasti (nah ini persis nasihat emak-emak). Kamu mampu, kamu bisa, asal kamu percaya diri. Aduh, jangan serius-serius gitu bacanya, aku malah kepingin ketawa. Masalahnya... aku ngomong gini padahal sendirinya belum bisa menerapkan. Ketahuan ora sembada. :p

Tetap berkabar ya! Semoga komunikasi di antara kawan-kawan LWC selalu terjalin erat. Suatu saat nanti, pasti ada kesempatan di mana kita bisa dipertemukan lagi, full-team tiga puluh anak. Mungkin tahun depan, mungkin lima tahun dari sekarang, mungkin saat kita semua telah berhasil menggenggam asa di tangan. *berkaca-kaca*

Bonus foto: you're lucky guy, Siqy! Sedang digelar pameran di Jogja Gallery, mengangkat bidang yang ingin kamu geluti!

Best regards,



Posted in , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.