Archive for June 2015

Suatu Hari di Bulan Juni

Suatu hari di bulan Juni,
kau mungkin menjadi saksi,
sepasang sayap tumbuh di balik punggung,
siap terkepak, membawaku melambung.

Bila telapakku lupa cara menjejak,
aku terlena bahkan mencibir congkak,
penuhilah dadamu dengan kesabaran,
tarik aku pulang, ajari kembali berjalan.

Rasa-rasanya ada yang salah,
melongok padaku engkau tak pernah,
terlanjur jauh, aku berubah jadi debu
bersama Juni yang mendesah sambil lalu.

Yogyakarta, 30 Juni 2015.

Posted in , | Leave a comment

Cara Kita

Bara api meredup, asap membubung tinggi. Nampan serta piring terisi menu bikinan sendiri. Di bawah langit malam yang cerah tanpa awan, bulan tiga per empat dan satu-dua gemintang melongok penasaran, kita menghabiskan waktu bersama. Tak banyak bicara, sebab topik tentang masa lalu tak cukup menggugah selera, sedang masa depan belum saatnya diperbincangkan. Maka tawa menjadi cara kita mengisi waktu yang sekarang. Terima kasih, Kawan!

Echa sayang kalian 
rooftop party lagi yuk kapan-kapan!



Posted in , , , , , | Leave a comment

The Giver: Jika serbasama, yakinkah semua akan baik-baik saja?

pic from here
Tadi siang saya nonton film The Giver, yang kata teman saya bagus. Di bagian awal film, saya sempat bingung, ini filmnya emang hitam-putih gitu ya? Atau jangan-jangan ada yang harus di-setting dulu dari media player-nya? Tapi ternyata kemudian ada penjelasannya hehehe.

Film buatan Jerman yang rilis pada Oktober 2014 ini bercerita tentang kehidupan manusia era modern, dengan segala teknologi canggih yang pada hari ini masih hanya dapat terjadi dalam bayangan kita. Poin utamanya adalah pentingnya "kesetaraan" untuk mewujudkan masyarakat harmonis. Pokoknya di film itu, kehidupan manusia begitu teratur, kesetaraan diterapkan dalam segala bidang, mulai dari bentuk rumah, sistem yang berlaku, kosa kata yang digunakan sehari-hari, makanan yang dikonsumsi, pokoknya semuanya harus sama antara individu satu dengan yang lain dalam komunitas itu. Termasuk juga warna-warni yang dilihat melalui mata, karena semuanya dituntut untuk sama dan setara, maka 'tetua' komunitas meniadakan warna-warna di dunia ini... that's why warna yang dapat dilihat oleh manusia cuman monoton seputar hitam, putih, abu-abu gitu.

Jonas, pemuda yang jadi tokoh utama di sini, sadar kalau dirinya 'berbeda' dari orang-orang di sekitarnya. Saat semua orang merasa damai tenteram adem-ayem aja sebagai dampak dari sistem penyetaraan itu, dia justru merasa seperti ada yang salah. Mungkin karena karakternya yang berbeda dari kebanyakan orang itu, Jonas kemudian mendapat 'amanah' untuk menjadi receiver of memories alias Penerima Kenangan. Itu adalah pekerjaan langka, hanya ada satu Penerima Kenangan di kota itu. The Giver -- begitu Penerima Kenangan sebelum Jonas menyebut dirinya sendiri -- bertugas melatih Jonas menguasai pekerjaan barunya.

Awalnya Jonas sangat excited dengan pekerjaannya. Oleh The Giver, Jonas diperlihatkan banyak hal yang indah-indah dari masa lalu: musik, salju, tarian, permainan. Sebenarnya hal-hal sederhana, tapi semua itu sudah tidak mungkin ditemukan di era mereka sekarang. Tapi ternyata menjadi Penerima Kenangan tidaklah mudah. Jonas harus merasakan kenyataan pahit di masa lalu, tentang rasa sakit, luka, pertumpahan darah akibat kekejaman manusia itu sendiri.

Over all, film ini menyampaikan pesan yang penting banget buat kita dalam mensyukuri hidup yang kita jalani sekarang. Ketika kita berandai-andai tentang kesehatan manusia yang sulit dijaga, kita bertanya-tanya kenapa tubuh kita kurus/gemuk, hal-hal semacam itu, dalam The Giver diberikan solusi berupa pemilihan bayi yang boleh tumbuh dan berkembang hingga dewasa. Jadi setelah lahir bayi-bayi itu diberi asupan gizi dan terus dipantau perkembangannya; bayi yang sehat akan di'pelihara' dan dicarikan keluarga, sedangkan bayi yang beratnya tidak memenuhi standar akan di'lepaskan' alias dimusnahkan.

So heartless, isn't? Tidak manusiawi? Sayangnya, di situ digambarkan orang-orang memang tidak perlu punya emosi untuk mempertimbangkan apakah tindakan itu etis untuk dilakukan atau tidak. Untuk mewujudkan masa depan lebih baik, masyarakat yang sehat, ya harus melalui sistem itu.

Mungkin kita sekarang punya banyak -- sangat banyak hal untuk dikeluhkan. Baik masalah personal, maupun yang melibatkan orang banyak. Tentang keamanan di masyarakat yang sulit terwujud. Cuaca yang pada suatu waktu terlalu dingin, dan pada waktu lainnya panas terik. Sulitnya mencari pekerjaan. Setelah melihat film ini, saya jadi melihat semua yang awalnya kita anggap sebagai masalah melalui sudut pandang lain.

Dengan adanya keberagaman, artinya kita punya kesempatan untuk memilih, man. Tinggal di negara tropis memang nggak ada salju, kalau mau salju ya bisa ke negara-negara beriklim sejuk hingga dingin. Kalau di film The Giver mah cuaca begitu-begitu aja tiap hari. Bagi kita dalam mencari kerja, memang diperlukan perjuangan. Tapi kita bisa memilih yang sesuai dengan minat dan bakat kita, sedangkan yang di film itu pekerjaan ditentukan oleh para tetua yang sudah lebih dulu melakukan pengamatan terhadap tiap individu. Ada profesi 'ibu pengandung,' can you imagine it? Yang disebut unit keluarga bahkan bukan merupakan keluarga dalam arti sebenarnya, yang dapat terbentuk melalui ikatan pernikahan, kelahiran anak, dan lain-lain. They didn't even know the word 'love', so how could they believe that love does exist on this earth?

Lihat segala permasalahan dari sudut pandang berbeda, maka kita nggak akan kehabisan alasan untuk bersyukur, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun.

Selamat malam!

Posted in , , , , , | Leave a comment

A Journal: Become a Museum Volunteer

Selamat Rabu siang!

Ceritanya setelah hari-hari kemarin saya selalu posting blog di atas jam 9 malam, akhirnya hari ini saya ngepost di siang bolong. You think that it doesn't make any difference? Well, bagi saya justru perbedaannya cukup signifikan. Saya lebih suka menulis di malam hari, setelah mengalami berbagai kejadian pada hari itu, meskipun yang saya tulis sebenarnya sama sekali bukan mengenai pengalaman sehari-hari. Saya menjadikan tulisan sebagai penutup hari, seperti tiga rakaat witir dalam rangkaian tarawih (halah).

Saya semangat sekali menyambut Rabu pertama di bulan puasa ini. Mau tahu alasannya? Soalnya, nanti sore saya akan mengikuti kelas workshop sekalian ngabuburit bersama teman-teman relawan Museum Anak Kolong Tangga. Kalau kamu belum tahu, Museum Kolong Tangga terletak di gedung Taman Budaya lantai 2. Di sebelah mananya? Perasaan sering ke Taman Budaya buat nonton pertunjukan teater atau pameran, tapi kok nggak ngeh ada museum di situ? Hayo, coba cermati. Sesuai namanya, museum ini berada di kolong tangga. Tangga yang mana? Tangga menuju concert hall itu, lho! Ada dinding penuh gambar aneka warna, itulah dinding museum kami~

credit photo to shamawar
Museum ini memang tidak besar, tapi koleksi mainan di dalamnya unik-unik. Ada kurang lebih 1000 objek, mulai dari mainan tradisional dari masa lampau, hingga mainan-mainan yang dibawa langsung dari asalnya di luar negeri. Daripada penasaran, mending langsung ajak adikmu berkunjung ke sini. Selama Ramadhan, museum buka setiap Selasa sampai Minggu pukul 09.00 hingga 15.00 WIB (sekalian promosi deh).

Saya baru bergabung menjadi relawan museum sejak akhir April lalu. FYI, sejauh ini saya adalah anggota yang paling muda di antara relawan-relawan lain. Rata-rata relawan museum sudah kuliah semester akhir, bahkan sudah kerja. Mungkin itu alasannya kenapa saya lumayan sering digangguin, hahaha digangguin kok bukan di-bully (semoga mbak-masnya nggak baca!).

Terus, relawan di situ ngapain aja? Ada banyak kegiatan di museum ini, di antaranya menjadi guide saat ada rombongan yang berkunjung ke museum. Rombongan yang dimaksud adalah anak-anak PAUD, TK, hingga SD. Saya sendiri sejauh ini berkesempatan menjadi guide dalam dua kunjungan, yang pertama adalah kunjungan kelompok belajar Krista Ceria pada 10 Mei lalu, dan yang kedua kunjungan TK ABA Karangmalang pekan lalu, tanggal 16 Juni.

Selain menjadi pemandu kunjungan, relawan juga bisa berpartisipasi mendampingi anak-anak bermain sambil belajar di Perpustakaan Burung Biru. Perpus Bubi ini letaknya terpisah dari museum, yaitu di daerah Tirtodipuran. Saya belum pernah ikut kegiatan di Perpus Bubi, tapi sudah pasti asyik lah ya, tiap Sabtu dua minggu sekali nyanyi-nyanyi dan berkreasi bersama anak-anak yang tinggal di sekitar perpustakaan itu.

Oiya, Museum Kolong Tangga juga punya majalah, namanya Kelereng. Majalah yang terbit setiap dua bulan ini berisi aneka rubrik yang seru untuk disimak. Selain rubrik yang memuat ilmu pengetahuan, ada pula halaman untuk dongeng dan lembar kreasi seni. Buat yang sayang adik, bisa banget berlangganan majalah Kelereng tuh!

Terakhir, relawan juga mengelola kegiatan workshop, yaitu membimbing anak usia TK-SD membuat kerajinan tangan, misalnya mainan wayang, pensil boneka, dan sebagainya. Nah, kelas workshop yang akan digelar perdana sore nanti adalah dalam rangka mempersiapkan program School Visit, yaitu museum akan mendatangi sekolah-sekolah untuk mendemonstrasikan cara membuat aneka mainan. Sebenarnya bukan itu saja, ada storytelling, terus… apalagi ya, saking banyaknya sampai saya lupa. :p

Di balik semua kegiatan itu, sebenarnya siapa sosok yang mengayomi para relawan? Beliau adalah Pak Rudi Corens, kurator museum yang asalnya dari Belgia. Meskipun umurnya sudah tidak muda, Pak Rudi tak pernah berhenti mengembangkan museum supaya semakin menarik minat anak-anak dalam belajar, melalui aneka permainan yang mengasyikkan.

Mbak Irma, Pak Rudi, and the girl with ugly-sleepy-faceme.
After all, saya senang bisa terlibat dalam kegiatan-kegiatan relawan Museum Kolong Tangga. Merasakan dekatnya dunia anak-anak yang sederhana, lugu, dan selalu gembira, siapa tahu bisa bikin saya awet muda. Saya punya banyak harapan untuk museum ini, begitu juga untuk diri saya pribadi—semoga dengan berbagai kegiatan positif di museum bisa membantu proses perkembangan diri menjadi lebih baik. Sebab saya percaya, melalui museum, bukan hanya anak-anak yang akan belajar, tapi kami sebagai relawan juga.
 
P.s.
Ingin tahu lebih banyak tentang Museum Kolong Tangga, kunjungi Twitter @kolongtangga atau website-nya di sini. :)

Salam dari yang pernah menjadi anak-anak,
masih dibilang kanak-kanak, senang bermain dengan anak,

Posted in , , , , , | Leave a comment

Random Thoughts Tonite

pic from here
"You look like you're troubled by nothing."
"Of course not, I'm always puzzled by a problem."
Part of dialog between Kanae Sumita and Takaki Tohno
in 5 Centimeters per Second, Chapter II [Cosmonaut]


Ah, pasti sudah banyak yang membahasnya. Kau sendiri tentu pernah memikirkan sesuatu semacam ini.

Bahwa setiap orang pasti punya masalahnya masing-masing, entah mereka menunjukkannya atau tidak. Seringkali, di balik wajah yang selalu tersenyum, ada luka yang coba disembunyikan. Seorang kawan paling ceria dalam kesehariannya, bisa jadi memendam kesedihan yang hanya diketahui oleh dirinya dan Tuhan. Kesedihan yang memilih waktu untuk muncul ke permukaan ketika malam tiba, kala sedang sendiri dalam renung. Bukan saat berada di tengah keramaian.

It's okay to feel sad sometimes, basically because we are humans. We are free to express those emotions, pain, anxiety since we try to realize the meaning of life.

Just remember that we always have the chance to laugh again, after taking a very deep breath, get up and be ready to continue the next step. It might not be easy for several reasons, but thank God, humans always have a choice.

Lebendig f├╝hlen!
.mylivesignature.com" target="_blank">


Posted in , , , | Leave a comment

Anting Merah

Purnama tak pernah sejelas pendar perak di atas sana, malam itu.
Dipangku arak-arakan kristal kelabu, dan halo samar
terbias jadi satu.
Desir bayu mengikis tebing-tebing terjal tempatku memejam mata
di salah satu tepinya
yang paling menjorok ke hampar samudera.
Dan kau menarik jalinan rambutku: “tunggulah sebentar,” pintamu,
dan kau membuatku percaya, ada hidup yang tak bisa kutinggal pergi
begitu saja, menjelma buih di permukaan. Mengambang. Tenang.
Dan kau memahat pasir menjadi teduh,
dan kau menguntai kerikil menjadi gemerlap,
dan kau menelisik mataku seperti mengetuk pintu.
Lalu sambil terus mendendangkan tembang-tembang
mendayu, kau sematkan anting merah delima di telingaku.
Anting merah. Darah. Aku menyerah. Pasrah.


Yogyakarta, 22 Juni 2015.


Posted in , | Leave a comment

Satu Sama

pic from -
Tamara memegang secarik kertas berisikan tulisan tangan yang tidak terlalu rapi. Surat itu datang tadi pagi, dan kini sudah selesai ia baca. Perasaannya kacau. Sembari mengeluarkan desahan panjang, ia meremas tepian kertas tanpa garis itu.

Kembali dibacanya kalimat terakhir yang ditulis oleh Bagas.


Tamara yang baik, aku tidak pernah berhenti mendoakanmu agar segera pulih dari sakitmu. Kau harus terus berjuang, jangan patah semangat, ya!


Sudut mata Tamara memanas. Tidak. Ia tidak sanggup lagi melanjutkan korespondensi dengan Bagas. Kebohongan ini harus segera diakhiri. Sudah hampir setengah tahun ia bersahabat pena dengan Bagas, dan semakin hari rasa bersalahnya kian menumpuk karena telah banyak mengatakan hal yang tidak sebenarnya. Tamara segera menyiapkan kertas dan mulai menulis surat balasan untuk Bagas.


Bagas, cepat sekali kau membalas suratku. Biasanya balasanmu tiba dua pekan setelah aku mengirim surat, tetapi ini baru lima hari sejak aku mengirimkan suratku lewat pos dan balasanmu sudah tiba. Omong-omong, aku suka perangkonya!


Aku ingin mengucapkan terima kasih karena kau tak pernah bosan menyemangati agar aku tidak putus asa. Tetapi Bagas, penyakitku sudah mencapai stadium akhir. Aku khawatir aku tidak akan punya waktu lagi untuk berkirim surat denganmu. Kemoterapi dan berbagai macam metode pengobatan akan segera menyita waktuku. Dan aku mungkin akan jadi terlalu lemah untuk dapat menulis dan mengirim surat kepadamu.


Tetaplah berkarya, Gas. Kau punya bakat yang besar dalam bidang musik. Jangan biarkan keadaan kakimu menghalangi dari cita-cita yang sedang kauperjuangkan.


Maaf Bagas, mungkin ini adalah surat terakhir dariku. Terima kasih karena sudah mau berteman denganku. Semoga Tuhan punya rencana yang terbaik untuk masa depan kita.


Sahabatmu,
Tamara.

Sepekan berlalu semenjak Tamara mengirimkan surat itu. Tamara berharap, surat itu menjadi pamungkas kebohongannya selama ini. Memang sungguh disayangkan jika persahabatannya dengan Bagas harus dikorbankan, namun Tamara tidak sanggup lagi melanjutkan korespondensi itu jika terus mengandung kebohongan. Sedangkan untuk berkata jujur pada Bagas, dirasanya terlalu sulit.


Minggu sore, Tamara tengah membaca majalah di teras rumahnya sambil menunggu penjaja siomay melintas.


Dari pagar rumahnya, terdengar seseorang mengucapkan salam. Tamara menoleh. Seorang laki-laki sebaya dirinya berdiri di ambang pagar, ransel tersandang di punggungnya. Tamara segera menghampiri tamu itu. Setelah mereka berhadapan, Tamara merasa sudah pernah melihat wajah tamu ini...


“Tamara, kan?”


“Ngg... Bagas?”


Meskipun otaknya diserang keterkejutan dan benaknya dibayangi sejuta pertanyaan, Tamara tetap mempersilakan Bagas masuk. Mereka berbincang di ruang tamu. Awalnya terkesan canggung, namun dengan segera mereka menyesuaikan diri dan berinteraksi seperti dua orang teman lama.


“Jadi, Tamara, kau tidak menderita leukimia,” ucap Bagas, menatap lekat kedua mata Tamara. “Kau tidak harus berbaring di tempat tidurmu dengan berbagai selang terhubung ke nadimu untuk mengalirkan infus.”


Tamara diam saja. Terbongkar sudah segala kebohongannya selama ini. Kedatangan Bagas secara tiba-tiba ke rumahnya telah menguak semua fakta. Begitu juga fakta tentang Bagas sendiri.
“Dan, Bagas, kau ternyata tidak lumpuh.”


Hening sejenak. Keduanya beradu tatapan, saling mengamati raut wajah masing-masing. Selanjutnya, tawa mereka pun meledak.


“Jujur saja, aku kesal sewaktu membaca surat pertamamu. Katamu, fotoku yang ada di rubrik Sahabat Pena tampak seperti merpati yang terluka. Bah! Istilah macam apa itu, ‘merpati yang terluka’?” kilah Bagas sambil melipat kedua tangan di depan dada. “Makanya sekalian saja aku bilang kalau aku sedang sedih karena dokter memvonis lumpuh kedua kakiku.”


“Baiklah, Gas. Maaf soal merpati yang terluka itu. Maaf juga karena aku bohong padamu. Aku sungguh tidak menyangka kau langsung mencari alamatku dan mendatangi rumahku setelah aku berkata kalau aku tak dapat menghubungimu lagi,” sahut Tamara.


“Tentu saja, Ra! Aku panik, aku tidak ingin kehilangan sahabat yang asyik sepertimu.”


Tamara tersenyum. Perasaannya menghangat. Ia bersyukur menemukan sahabat yang demikian peduli seperti Bagas.


“Kalau begitu kita satu sama, ya.” Keduanya kembali tertawa.


**Yogyakarta, Mei 2014 / revisi Juni 2015.
  Pernah dikirim ke rubrik Kaca Kedaulatan Rakyat, tapi sepertinya tidak dimuat.



Posted in , , , | Leave a comment

Go Get Your Letter!

pic from -
Terkadang lebih menarik untuk mengaplikasikan cara lama dalam melakukan beberapa hal. Ada sesuatu pada ‘cara lama’ yang tidak kita dapatkan apabila kita memilih mengikuti perkembangan zaman, menerapkan cara baru yang lebih mudah, lebih praktis.

Nasi yang ditanak menggunakan dandang tak tercium harumnya jika kita memilih menggunakan rice-cooker.

 
Lebih banyak pelajaran tentang kesabaran yang diperoleh saat menjahit manual dengan benang dan jarum atau merajut jalinan wol menjadi bentuk yang diinginkan, ketimbang menjahit dengan mesin.

Bertukar kabar lewat surat terasa lebih berkesan ketimbang melalui pesan singkat, e-mail, atau aplikasi chatting media sosial.

Khusus yang terakhir: semakin ke sini, orang-orang semakin jarang menulis dan mengirimkan surat. Semua sudah beralih ke teknologi canggih yang bisa menyampaikan pesan hanya dalam hitungan detik. Untuk kepentingan efisiensi waktu, surat elektronik memang lebih unggul. Namun, surat yang dikirim lewat pos punya keistimewaan yang tidak dimiliki oleh pesan elektronik.

Surat yang ditulis tangan terkesan lebih pribadi daripada e-mail, SMS, apalagi sebaris kalimat pada kotak chatting. Apapun isi dari surat itu, si penerima akan tahu bahwa ada usaha di balik penulisannya. Saat melihat setiap guratan pena si penulis surat, mengamati bagaimana tulisan tangannya, kemudian menebak-nebak suasana hati si penulis ketika menuliskan surat tersebut… sederhana, tapi penuh makna. Bahkan membaca dan memahami sepucuk surat pun ada seninya.

Ini bukan kode supaya saya dikirimi surat, sungguh… Meski begitu saya mengakui, saya senang setiap menerima pesan dalam bentuk surat (asal bukan surat peringatan). Di SMA, saya cukup sering surat-suratan dengan teman-teman, walaupun hanya titip-titip dan bukannya menggunakan jasa pos. Surat berisi kalimat penyemangat, surat pengiring kartu ucapan ulangtahun, surat untuk menyatakan maaf, ungkapan rindu, apapun. Surat-surat yang masih tersimpan rapi di salah satu laci meja belajar saya.

Saat kamu ingin menyampaikan sesuatu dengan cara yang anti-mainstream, kamu bisa mencobanya lewat surat. Dan, percayalah, mengenang sesuatu dari surat-surat di masa lalu jauh lebih gereget dibanding scrolldown chatting lawas!

Greetings from a letterbox,



Posted in , , , , | Leave a comment

Perempuan di Dapur Kami

pic from -
Setelah sholat asar berdua dengan Kak Ra, aku melanjutkan bermain bekel di ruang tamu. Kak Ra juga kembali serius menekuni tugas prakarya melukis pot tanah liat di halaman depan. Sesekali kudengar ia menggerutu tentang catnya yang belepotan, tidak sesuai pola yang sudah digambar tipis-tipis menggunakan pensil.

“Pasti nanti pot kakak terlihat seperti dicoret-coret asal!” teriakku meledek Kak Ra.


“Diam saja, Na! Nggak berani main bekel lawan aku, huh,” balas Kak Ra membuatku manyun. Sial, aku malah kehilangan hitungan mengambil biji bekel. Konsentrasiku semakin buyar, bola bekel lari melewati pintu menuju halaman. Kak Ra tertawa puas.


Bersamaan dengan aku yang hendak mengambil bola bekel di kaki pagar, terdengar seseorang mengucapkan salam. Aku dan Kak Ra menoleh. Kak Iyah, kakak tertua kami, berdiri di balik pagar. Kedua tangannya menenteng kantong plastik, sebelah warna hitam, yang lainnya warna putih.


“KAK IYAH!” seruku dan Kak Ra serempak. Aku segera membukakan pagar. Kak Ra menepikan potnya dan beranjak cuci tangan.


“Ada yang kangen kakak?” tanya Kak Iyah sambil nyengir.


“Kak Iyah bawa apa?” Aku balik bertanya sembari mengambil kantong plastik yang berwarna putih, lantas mengikuti Kak Iyah masuk ke dalam rumah. Kak Iyah mendengus karena pertanyaannya tidak ditanggapi.


Di dapur, aku dan Kak Ra membongkar kantong plastik yang dibawa Kak Iyah. Isinya sayuran: ada dua ikat besar bayam, wortel, jagung manis, bungkusan kertas koran berisi bawang merah dan bawang putih, cabai, serta bahan untuk membuat bumbu lainnya. Ada pula sosis ayam dan sepapan tempe. Aku dan Kak Ra berpandangan.


“Kak Iyah… mau masak?” Kak Ra bertanya pelan setelah memeriksa semua belanjaan yang kini terserak di lantai, dialasi kantong plastik tadi.


Kak Iyah mengangguk dua kali, wajahnya cerah. “Kamu pikir kenapa sejak pagi kemarin kakak pergi ke rumah Ais, dan semalam memutuskan untuk sekalian menginap?”


“Kak Iyah sudah belajar masak!!” tukasku penuh semangat. “Ayo, Kak, mulai masak sekarang. Supaya masakannya siap saat buka puasa nanti!”


Kak Iyah mengangguk lagi, bergegas memilih bahan yang akan dipakai dan menempatkannya ke dalam wadah yang tepat. Kak Ra membantu menyiapkan pisau, telenan, panci dan cobek untuk mengulek bumbu.


Pukul lima, Abah pulang membawa es blewah. Abah tidak menyangka dapur kami akhirnya kembali ramai oleh kegiatan memasak. Aku senang sekali petang itu. Sayur bayamnya sedikit kurang asin, tapi tidak mengurangi kenikmatan kami berbuka puasa. Kak Iyah berkata akan membuatkan nasi goreng untuk sahur besok, dan berjanji hendak mengusahakan sayur asem dengan takaran bumbu yang lebih pas sebagai menu buka puasa selanjutnya.


Malamnya sebelum tidur, aku mendekap pigura berisi foto seorang wanita berkerudung. Setelah mematikan lampu dan berbaring, lirih aku berbisik, “Umi, Kak Iyah akhirnya memasak! Walaupun Na paling bungsu, tapi Na akan siap membantu.”


--


Kisah di atas merupakan sebuah fiksi.


Melalui fiksi tersebut, saya ingin menegaskan komitmen terhadap diri sendiri untuk mewujudkan salah satu resolusi saya pada Ramadhan tahun ini: bisa memasak.


Saya anak perempuan sulung di keluarga, dan sejauh ini kemampuan memasak saya mentok di nasi goreng bumbu instan. Menyedihkan. Padahal, belajar bisa dari mana saja. Saya mengakui, kurangnya niatlah yang menjadi kendala selama ini.


Lebih penting lagi, sebagai pengarang fiksi pendek di atas, saya tak ingin terus menerka-nerka apakah Dik Na dan Dik Ra akan benar-benar sesenang itu bila Kak Iyah sudah bisa memasak. Begitu pula dengan Abah. Saya harus mencari pembuktian sendiri, secepatnya.


Setelah ini, saya tunggu ya tawaran jasa privat masak dari teman-teman yang baik hatinya! :)


Posted in , , , , , , , | 2 Comments

To Call Someone with "Mas"

Terlahir sebagai anak perempuan pertama dengan dua saudara yang juga perempuan membuat saya sering bertanya dalam hati, bagaimana sih rasanya punya kakak cowok? 

Pasti asyik ya, punya seseorang yang walaupun suka ngisengin, tapi sebenarnya selalu menjaga. Partner in crime yang idenya aneh-aneh, tapi setelah menjajalnya ternyata bisa memperbaiki mood. Hahaha, mungkin saya sedikit terbawa kisah-kisah novel atau film. Tapi, memang menyenangkan mendengar cerita teman-teman yang punya kakak cowok. Vio misalnya; masnya satu tahun lebih tua, sama-sama sekolah di Teladan. Vio mah ceritanya mereka sering ribut, masnya sering rese, tapi Vio juga mengakui kalau sebenarnya mas Wira tuh sayang sama dia. Vio ingat dulu waktu kecil pernah dinakali temen-temen di SD, terus masnya datang buat membela sang adik tercinta.

Kalau masnya Anik, Arum, dan Fira beda lagi. Mereka sudah memasuki dunia kerja, menunjukkan tanggungjawab sebagai anak sulung dalam keluarga. Masnya Anik kerjanya jauh, ikut kapal lintas negara. Hanya bisa sesekali berkirim kabar melalui pesan singkat, telepon, atau video-call. Masnya Arum, yang saya tahu, dulu sering mengantar-jemput Arum dengan Vespa putihnya. Kalau masnya Fira, saya beberapa kali ketemu waktu main ke rumahnya. Orangnya ramah dan kelihatan sayang banget sama Fira dan Ifa (adik ceweknya Fira). Fira pernah menunjukkan foto-foto mereka bertiga yang lumayan gokil, terlihat akrab dan akur, yang membuat saya lagi-lagi membatin, pasti asyik sekali punya kakak cowok seperti itu.





Saya juga mengamati beberapa teman cowok yang punya adik cewek dengan jarak umur sekitar 4-6 tahun (atau lebih). Ada teman yang care sama adiknya, ada juga yang cenderung cuek bebek. Pengamatan saya agak subjektif, sebenarnya. Ketika melihat foto mereka dengan adiknya yang di-share melalui media sosial, saya menyimpulkan kalau mereka punya hubungan kakak-adik yang dekat. Sebab, tidak semua orang suka membanggakan kedekatan dengan saudaranya. Sedangkan teman saya yang saya anggap cuek, misalnya yang mengaku tidak ingat adiknya sekolah kelas berapa saat saya tanyai. Katanya, "Adikku mesti gak kenal aku saking seringnya tak tinggal. Pagi pas aku pergi dia belum bangun, malem pas aku balik dia udah tidur." Itu pengakuan kakak cowok atau curhatan papa rock n roll? 

Tapi, dia lalu menambahkan satu kalimat yang mengubah pandangan saya, "Jangan-jangan adikku ngira aku gak sayang dia."

Artinya, teman saya itu sebenarnya sayang sama adiknya, kan? Meskipun sehari-hari tampaknya kurang begitu memperhatikan, dan tidak terlalu peduli terhadap detail-detail tentang adiknya.

Saya berpikir, betapa beruntungnya anak perempuan yang punya saudara laki-laki. Mereka punya teman bertukar pikiran yang bisa memberi penilaian terhadap sesuatu melalui sudut pandang laki-laki (yang dalam beberapa hal jelas berbeda dengan pola pikir perempuan). Kalaupun terpaut rentang usia yang cukup jauh, punya saudara cowok tetap menguntungkan... simply because they will always try their bests to protect you. Saya sudah menggeneralkan kakak cowok menjadi saudara cowok lho, karena seiring berjalannya waktu toh adik cowok pun akan menjalankan perannya sebagai pelindung bagi anggota keluarga perempuan. 

So, buat kalian yang punya kakak/adik cowok, bersyukurlah. Terlepas dari keusilan saudara cowok, sifat mereka yang sering nyebelin, tukang ngajak ribut, suka gangguin, dan sebagainya, you have to realize that they also have sweet sides. Dalam menunjukkan rasa sayang, mungkin ada yang secara langsung, tapi kebanyakan saudara cowok biasanya gengsi buat menunjukkan itu. Yep, mereka punya cara masing-masing untuk mengungkapkan sayang ke saudara ceweknya, entah itu dalam bentuk kekhawatiran waktu melihat kalian sedih, tekad untuk menyenangkan kalian saat ada kesempatan, apapun.

Ya.... sayangnya saya ndak punya saudara cowok. Ada sih kakak dan adik sepupu, tapi hubungan kami nggak dekat. Dulu saya berharapnya adik saya cowok, ternyata cewek dua-duanya. Ya sudah, toh kelakuan adik saya yang kecil rada-rada mirip cowok. Peace, Nay! 

Kalau suatu saat saya menemukan lampu ajaib yang digosok-gosok lalu muncul jin, dan untuk suatu alasan si jin hanya mengabulkan permintaan yang berkaitan dengan tambahan anggota keluarga... kemungkinan besar saya akan minta ibu, kakak cowok, dan (supaya genap tiga permintaan)... saudara kembar. Pasti asik banget, kan!




Bukan berarti saya nggak bersyukur dengan keluarga saya sekarang. Kamu salah kalau mengira begitu. Intinya, kembali pada kalimat yang formatnya italic di paragraf pertama tulisan ini… Saya hanya penasaran. Begitulah.

HAVE AN AWESOME RAMADHAN MUBARAK 1436 H!



Posted in , , , , , , , | 2 Comments

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.