Anting Merah

Purnama tak pernah sejelas pendar perak di atas sana, malam itu.
Dipangku arak-arakan kristal kelabu, dan halo samar
terbias jadi satu.
Desir bayu mengikis tebing-tebing terjal tempatku memejam mata
di salah satu tepinya
yang paling menjorok ke hampar samudera.
Dan kau menarik jalinan rambutku: “tunggulah sebentar,” pintamu,
dan kau membuatku percaya, ada hidup yang tak bisa kutinggal pergi
begitu saja, menjelma buih di permukaan. Mengambang. Tenang.
Dan kau memahat pasir menjadi teduh,
dan kau menguntai kerikil menjadi gemerlap,
dan kau menelisik mataku seperti mengetuk pintu.
Lalu sambil terus mendendangkan tembang-tembang
mendayu, kau sematkan anting merah delima di telingaku.
Anting merah. Darah. Aku menyerah. Pasrah.


Yogyakarta, 22 Juni 2015.


Posted in , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.