A Journal: Become a Museum Volunteer

Selamat Rabu siang!

Ceritanya setelah hari-hari kemarin saya selalu posting blog di atas jam 9 malam, akhirnya hari ini saya ngepost di siang bolong. You think that it doesn't make any difference? Well, bagi saya justru perbedaannya cukup signifikan. Saya lebih suka menulis di malam hari, setelah mengalami berbagai kejadian pada hari itu, meskipun yang saya tulis sebenarnya sama sekali bukan mengenai pengalaman sehari-hari. Saya menjadikan tulisan sebagai penutup hari, seperti tiga rakaat witir dalam rangkaian tarawih (halah).

Saya semangat sekali menyambut Rabu pertama di bulan puasa ini. Mau tahu alasannya? Soalnya, nanti sore saya akan mengikuti kelas workshop sekalian ngabuburit bersama teman-teman relawan Museum Anak Kolong Tangga. Kalau kamu belum tahu, Museum Kolong Tangga terletak di gedung Taman Budaya lantai 2. Di sebelah mananya? Perasaan sering ke Taman Budaya buat nonton pertunjukan teater atau pameran, tapi kok nggak ngeh ada museum di situ? Hayo, coba cermati. Sesuai namanya, museum ini berada di kolong tangga. Tangga yang mana? Tangga menuju concert hall itu, lho! Ada dinding penuh gambar aneka warna, itulah dinding museum kami~

credit photo to shamawar
Museum ini memang tidak besar, tapi koleksi mainan di dalamnya unik-unik. Ada kurang lebih 1000 objek, mulai dari mainan tradisional dari masa lampau, hingga mainan-mainan yang dibawa langsung dari asalnya di luar negeri. Daripada penasaran, mending langsung ajak adikmu berkunjung ke sini. Selama Ramadhan, museum buka setiap Selasa sampai Minggu pukul 09.00 hingga 15.00 WIB (sekalian promosi deh).

Saya baru bergabung menjadi relawan museum sejak akhir April lalu. FYI, sejauh ini saya adalah anggota yang paling muda di antara relawan-relawan lain. Rata-rata relawan museum sudah kuliah semester akhir, bahkan sudah kerja. Mungkin itu alasannya kenapa saya lumayan sering digangguin, hahaha digangguin kok bukan di-bully (semoga mbak-masnya nggak baca!).

Terus, relawan di situ ngapain aja? Ada banyak kegiatan di museum ini, di antaranya menjadi guide saat ada rombongan yang berkunjung ke museum. Rombongan yang dimaksud adalah anak-anak PAUD, TK, hingga SD. Saya sendiri sejauh ini berkesempatan menjadi guide dalam dua kunjungan, yang pertama adalah kunjungan kelompok belajar Krista Ceria pada 10 Mei lalu, dan yang kedua kunjungan TK ABA Karangmalang pekan lalu, tanggal 16 Juni.

Selain menjadi pemandu kunjungan, relawan juga bisa berpartisipasi mendampingi anak-anak bermain sambil belajar di Perpustakaan Burung Biru. Perpus Bubi ini letaknya terpisah dari museum, yaitu di daerah Tirtodipuran. Saya belum pernah ikut kegiatan di Perpus Bubi, tapi sudah pasti asyik lah ya, tiap Sabtu dua minggu sekali nyanyi-nyanyi dan berkreasi bersama anak-anak yang tinggal di sekitar perpustakaan itu.

Oiya, Museum Kolong Tangga juga punya majalah, namanya Kelereng. Majalah yang terbit setiap dua bulan ini berisi aneka rubrik yang seru untuk disimak. Selain rubrik yang memuat ilmu pengetahuan, ada pula halaman untuk dongeng dan lembar kreasi seni. Buat yang sayang adik, bisa banget berlangganan majalah Kelereng tuh!

Terakhir, relawan juga mengelola kegiatan workshop, yaitu membimbing anak usia TK-SD membuat kerajinan tangan, misalnya mainan wayang, pensil boneka, dan sebagainya. Nah, kelas workshop yang akan digelar perdana sore nanti adalah dalam rangka mempersiapkan program School Visit, yaitu museum akan mendatangi sekolah-sekolah untuk mendemonstrasikan cara membuat aneka mainan. Sebenarnya bukan itu saja, ada storytelling, terus… apalagi ya, saking banyaknya sampai saya lupa. :p

Di balik semua kegiatan itu, sebenarnya siapa sosok yang mengayomi para relawan? Beliau adalah Pak Rudi Corens, kurator museum yang asalnya dari Belgia. Meskipun umurnya sudah tidak muda, Pak Rudi tak pernah berhenti mengembangkan museum supaya semakin menarik minat anak-anak dalam belajar, melalui aneka permainan yang mengasyikkan.

Mbak Irma, Pak Rudi, and the girl with ugly-sleepy-faceme.
After all, saya senang bisa terlibat dalam kegiatan-kegiatan relawan Museum Kolong Tangga. Merasakan dekatnya dunia anak-anak yang sederhana, lugu, dan selalu gembira, siapa tahu bisa bikin saya awet muda. Saya punya banyak harapan untuk museum ini, begitu juga untuk diri saya pribadi—semoga dengan berbagai kegiatan positif di museum bisa membantu proses perkembangan diri menjadi lebih baik. Sebab saya percaya, melalui museum, bukan hanya anak-anak yang akan belajar, tapi kami sebagai relawan juga.
 
P.s.
Ingin tahu lebih banyak tentang Museum Kolong Tangga, kunjungi Twitter @kolongtangga atau website-nya di sini. :)

Salam dari yang pernah menjadi anak-anak,
masih dibilang kanak-kanak, senang bermain dengan anak,

Posted in , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.