Perempuan di Dapur Kami

pic from -
Setelah sholat asar berdua dengan Kak Ra, aku melanjutkan bermain bekel di ruang tamu. Kak Ra juga kembali serius menekuni tugas prakarya melukis pot tanah liat di halaman depan. Sesekali kudengar ia menggerutu tentang catnya yang belepotan, tidak sesuai pola yang sudah digambar tipis-tipis menggunakan pensil.

“Pasti nanti pot kakak terlihat seperti dicoret-coret asal!” teriakku meledek Kak Ra.


“Diam saja, Na! Nggak berani main bekel lawan aku, huh,” balas Kak Ra membuatku manyun. Sial, aku malah kehilangan hitungan mengambil biji bekel. Konsentrasiku semakin buyar, bola bekel lari melewati pintu menuju halaman. Kak Ra tertawa puas.


Bersamaan dengan aku yang hendak mengambil bola bekel di kaki pagar, terdengar seseorang mengucapkan salam. Aku dan Kak Ra menoleh. Kak Iyah, kakak tertua kami, berdiri di balik pagar. Kedua tangannya menenteng kantong plastik, sebelah warna hitam, yang lainnya warna putih.


“KAK IYAH!” seruku dan Kak Ra serempak. Aku segera membukakan pagar. Kak Ra menepikan potnya dan beranjak cuci tangan.


“Ada yang kangen kakak?” tanya Kak Iyah sambil nyengir.


“Kak Iyah bawa apa?” Aku balik bertanya sembari mengambil kantong plastik yang berwarna putih, lantas mengikuti Kak Iyah masuk ke dalam rumah. Kak Iyah mendengus karena pertanyaannya tidak ditanggapi.


Di dapur, aku dan Kak Ra membongkar kantong plastik yang dibawa Kak Iyah. Isinya sayuran: ada dua ikat besar bayam, wortel, jagung manis, bungkusan kertas koran berisi bawang merah dan bawang putih, cabai, serta bahan untuk membuat bumbu lainnya. Ada pula sosis ayam dan sepapan tempe. Aku dan Kak Ra berpandangan.


“Kak Iyah… mau masak?” Kak Ra bertanya pelan setelah memeriksa semua belanjaan yang kini terserak di lantai, dialasi kantong plastik tadi.


Kak Iyah mengangguk dua kali, wajahnya cerah. “Kamu pikir kenapa sejak pagi kemarin kakak pergi ke rumah Ais, dan semalam memutuskan untuk sekalian menginap?”


“Kak Iyah sudah belajar masak!!” tukasku penuh semangat. “Ayo, Kak, mulai masak sekarang. Supaya masakannya siap saat buka puasa nanti!”


Kak Iyah mengangguk lagi, bergegas memilih bahan yang akan dipakai dan menempatkannya ke dalam wadah yang tepat. Kak Ra membantu menyiapkan pisau, telenan, panci dan cobek untuk mengulek bumbu.


Pukul lima, Abah pulang membawa es blewah. Abah tidak menyangka dapur kami akhirnya kembali ramai oleh kegiatan memasak. Aku senang sekali petang itu. Sayur bayamnya sedikit kurang asin, tapi tidak mengurangi kenikmatan kami berbuka puasa. Kak Iyah berkata akan membuatkan nasi goreng untuk sahur besok, dan berjanji hendak mengusahakan sayur asem dengan takaran bumbu yang lebih pas sebagai menu buka puasa selanjutnya.


Malamnya sebelum tidur, aku mendekap pigura berisi foto seorang wanita berkerudung. Setelah mematikan lampu dan berbaring, lirih aku berbisik, “Umi, Kak Iyah akhirnya memasak! Walaupun Na paling bungsu, tapi Na akan siap membantu.”


--


Kisah di atas merupakan sebuah fiksi.


Melalui fiksi tersebut, saya ingin menegaskan komitmen terhadap diri sendiri untuk mewujudkan salah satu resolusi saya pada Ramadhan tahun ini: bisa memasak.


Saya anak perempuan sulung di keluarga, dan sejauh ini kemampuan memasak saya mentok di nasi goreng bumbu instan. Menyedihkan. Padahal, belajar bisa dari mana saja. Saya mengakui, kurangnya niatlah yang menjadi kendala selama ini.


Lebih penting lagi, sebagai pengarang fiksi pendek di atas, saya tak ingin terus menerka-nerka apakah Dik Na dan Dik Ra akan benar-benar sesenang itu bila Kak Iyah sudah bisa memasak. Begitu pula dengan Abah. Saya harus mencari pembuktian sendiri, secepatnya.


Setelah ini, saya tunggu ya tawaran jasa privat masak dari teman-teman yang baik hatinya! :)


Posted in , , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

2 Responses to Perempuan di Dapur Kami

  1. Belajar masak sama Mbak Dhita, Chak. Sudah terbukti makanan buatannya enak xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuaaaa ho-oh bener banget, mbak~ besok atur jadwal sama chef dhita ah :9

      Delete

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.