Satu Sama

pic from -
Tamara memegang secarik kertas berisikan tulisan tangan yang tidak terlalu rapi. Surat itu datang tadi pagi, dan kini sudah selesai ia baca. Perasaannya kacau. Sembari mengeluarkan desahan panjang, ia meremas tepian kertas tanpa garis itu.

Kembali dibacanya kalimat terakhir yang ditulis oleh Bagas.


Tamara yang baik, aku tidak pernah berhenti mendoakanmu agar segera pulih dari sakitmu. Kau harus terus berjuang, jangan patah semangat, ya!


Sudut mata Tamara memanas. Tidak. Ia tidak sanggup lagi melanjutkan korespondensi dengan Bagas. Kebohongan ini harus segera diakhiri. Sudah hampir setengah tahun ia bersahabat pena dengan Bagas, dan semakin hari rasa bersalahnya kian menumpuk karena telah banyak mengatakan hal yang tidak sebenarnya. Tamara segera menyiapkan kertas dan mulai menulis surat balasan untuk Bagas.


Bagas, cepat sekali kau membalas suratku. Biasanya balasanmu tiba dua pekan setelah aku mengirim surat, tetapi ini baru lima hari sejak aku mengirimkan suratku lewat pos dan balasanmu sudah tiba. Omong-omong, aku suka perangkonya!


Aku ingin mengucapkan terima kasih karena kau tak pernah bosan menyemangati agar aku tidak putus asa. Tetapi Bagas, penyakitku sudah mencapai stadium akhir. Aku khawatir aku tidak akan punya waktu lagi untuk berkirim surat denganmu. Kemoterapi dan berbagai macam metode pengobatan akan segera menyita waktuku. Dan aku mungkin akan jadi terlalu lemah untuk dapat menulis dan mengirim surat kepadamu.


Tetaplah berkarya, Gas. Kau punya bakat yang besar dalam bidang musik. Jangan biarkan keadaan kakimu menghalangi dari cita-cita yang sedang kauperjuangkan.


Maaf Bagas, mungkin ini adalah surat terakhir dariku. Terima kasih karena sudah mau berteman denganku. Semoga Tuhan punya rencana yang terbaik untuk masa depan kita.


Sahabatmu,
Tamara.

Sepekan berlalu semenjak Tamara mengirimkan surat itu. Tamara berharap, surat itu menjadi pamungkas kebohongannya selama ini. Memang sungguh disayangkan jika persahabatannya dengan Bagas harus dikorbankan, namun Tamara tidak sanggup lagi melanjutkan korespondensi itu jika terus mengandung kebohongan. Sedangkan untuk berkata jujur pada Bagas, dirasanya terlalu sulit.


Minggu sore, Tamara tengah membaca majalah di teras rumahnya sambil menunggu penjaja siomay melintas.


Dari pagar rumahnya, terdengar seseorang mengucapkan salam. Tamara menoleh. Seorang laki-laki sebaya dirinya berdiri di ambang pagar, ransel tersandang di punggungnya. Tamara segera menghampiri tamu itu. Setelah mereka berhadapan, Tamara merasa sudah pernah melihat wajah tamu ini...


“Tamara, kan?”


“Ngg... Bagas?”


Meskipun otaknya diserang keterkejutan dan benaknya dibayangi sejuta pertanyaan, Tamara tetap mempersilakan Bagas masuk. Mereka berbincang di ruang tamu. Awalnya terkesan canggung, namun dengan segera mereka menyesuaikan diri dan berinteraksi seperti dua orang teman lama.


“Jadi, Tamara, kau tidak menderita leukimia,” ucap Bagas, menatap lekat kedua mata Tamara. “Kau tidak harus berbaring di tempat tidurmu dengan berbagai selang terhubung ke nadimu untuk mengalirkan infus.”


Tamara diam saja. Terbongkar sudah segala kebohongannya selama ini. Kedatangan Bagas secara tiba-tiba ke rumahnya telah menguak semua fakta. Begitu juga fakta tentang Bagas sendiri.
“Dan, Bagas, kau ternyata tidak lumpuh.”


Hening sejenak. Keduanya beradu tatapan, saling mengamati raut wajah masing-masing. Selanjutnya, tawa mereka pun meledak.


“Jujur saja, aku kesal sewaktu membaca surat pertamamu. Katamu, fotoku yang ada di rubrik Sahabat Pena tampak seperti merpati yang terluka. Bah! Istilah macam apa itu, ‘merpati yang terluka’?” kilah Bagas sambil melipat kedua tangan di depan dada. “Makanya sekalian saja aku bilang kalau aku sedang sedih karena dokter memvonis lumpuh kedua kakiku.”


“Baiklah, Gas. Maaf soal merpati yang terluka itu. Maaf juga karena aku bohong padamu. Aku sungguh tidak menyangka kau langsung mencari alamatku dan mendatangi rumahku setelah aku berkata kalau aku tak dapat menghubungimu lagi,” sahut Tamara.


“Tentu saja, Ra! Aku panik, aku tidak ingin kehilangan sahabat yang asyik sepertimu.”


Tamara tersenyum. Perasaannya menghangat. Ia bersyukur menemukan sahabat yang demikian peduli seperti Bagas.


“Kalau begitu kita satu sama, ya.” Keduanya kembali tertawa.


**Yogyakarta, Mei 2014 / revisi Juni 2015.
  Pernah dikirim ke rubrik Kaca Kedaulatan Rakyat, tapi sepertinya tidak dimuat.



Posted in , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.