The Giver: Jika serbasama, yakinkah semua akan baik-baik saja?

pic from here
Tadi siang saya nonton film The Giver, yang kata teman saya bagus. Di bagian awal film, saya sempat bingung, ini filmnya emang hitam-putih gitu ya? Atau jangan-jangan ada yang harus di-setting dulu dari media player-nya? Tapi ternyata kemudian ada penjelasannya hehehe.

Film buatan Jerman yang rilis pada Oktober 2014 ini bercerita tentang kehidupan manusia era modern, dengan segala teknologi canggih yang pada hari ini masih hanya dapat terjadi dalam bayangan kita. Poin utamanya adalah pentingnya "kesetaraan" untuk mewujudkan masyarakat harmonis. Pokoknya di film itu, kehidupan manusia begitu teratur, kesetaraan diterapkan dalam segala bidang, mulai dari bentuk rumah, sistem yang berlaku, kosa kata yang digunakan sehari-hari, makanan yang dikonsumsi, pokoknya semuanya harus sama antara individu satu dengan yang lain dalam komunitas itu. Termasuk juga warna-warni yang dilihat melalui mata, karena semuanya dituntut untuk sama dan setara, maka 'tetua' komunitas meniadakan warna-warna di dunia ini... that's why warna yang dapat dilihat oleh manusia cuman monoton seputar hitam, putih, abu-abu gitu.

Jonas, pemuda yang jadi tokoh utama di sini, sadar kalau dirinya 'berbeda' dari orang-orang di sekitarnya. Saat semua orang merasa damai tenteram adem-ayem aja sebagai dampak dari sistem penyetaraan itu, dia justru merasa seperti ada yang salah. Mungkin karena karakternya yang berbeda dari kebanyakan orang itu, Jonas kemudian mendapat 'amanah' untuk menjadi receiver of memories alias Penerima Kenangan. Itu adalah pekerjaan langka, hanya ada satu Penerima Kenangan di kota itu. The Giver -- begitu Penerima Kenangan sebelum Jonas menyebut dirinya sendiri -- bertugas melatih Jonas menguasai pekerjaan barunya.

Awalnya Jonas sangat excited dengan pekerjaannya. Oleh The Giver, Jonas diperlihatkan banyak hal yang indah-indah dari masa lalu: musik, salju, tarian, permainan. Sebenarnya hal-hal sederhana, tapi semua itu sudah tidak mungkin ditemukan di era mereka sekarang. Tapi ternyata menjadi Penerima Kenangan tidaklah mudah. Jonas harus merasakan kenyataan pahit di masa lalu, tentang rasa sakit, luka, pertumpahan darah akibat kekejaman manusia itu sendiri.

Over all, film ini menyampaikan pesan yang penting banget buat kita dalam mensyukuri hidup yang kita jalani sekarang. Ketika kita berandai-andai tentang kesehatan manusia yang sulit dijaga, kita bertanya-tanya kenapa tubuh kita kurus/gemuk, hal-hal semacam itu, dalam The Giver diberikan solusi berupa pemilihan bayi yang boleh tumbuh dan berkembang hingga dewasa. Jadi setelah lahir bayi-bayi itu diberi asupan gizi dan terus dipantau perkembangannya; bayi yang sehat akan di'pelihara' dan dicarikan keluarga, sedangkan bayi yang beratnya tidak memenuhi standar akan di'lepaskan' alias dimusnahkan.

So heartless, isn't? Tidak manusiawi? Sayangnya, di situ digambarkan orang-orang memang tidak perlu punya emosi untuk mempertimbangkan apakah tindakan itu etis untuk dilakukan atau tidak. Untuk mewujudkan masa depan lebih baik, masyarakat yang sehat, ya harus melalui sistem itu.

Mungkin kita sekarang punya banyak -- sangat banyak hal untuk dikeluhkan. Baik masalah personal, maupun yang melibatkan orang banyak. Tentang keamanan di masyarakat yang sulit terwujud. Cuaca yang pada suatu waktu terlalu dingin, dan pada waktu lainnya panas terik. Sulitnya mencari pekerjaan. Setelah melihat film ini, saya jadi melihat semua yang awalnya kita anggap sebagai masalah melalui sudut pandang lain.

Dengan adanya keberagaman, artinya kita punya kesempatan untuk memilih, man. Tinggal di negara tropis memang nggak ada salju, kalau mau salju ya bisa ke negara-negara beriklim sejuk hingga dingin. Kalau di film The Giver mah cuaca begitu-begitu aja tiap hari. Bagi kita dalam mencari kerja, memang diperlukan perjuangan. Tapi kita bisa memilih yang sesuai dengan minat dan bakat kita, sedangkan yang di film itu pekerjaan ditentukan oleh para tetua yang sudah lebih dulu melakukan pengamatan terhadap tiap individu. Ada profesi 'ibu pengandung,' can you imagine it? Yang disebut unit keluarga bahkan bukan merupakan keluarga dalam arti sebenarnya, yang dapat terbentuk melalui ikatan pernikahan, kelahiran anak, dan lain-lain. They didn't even know the word 'love', so how could they believe that love does exist on this earth?

Lihat segala permasalahan dari sudut pandang berbeda, maka kita nggak akan kehabisan alasan untuk bersyukur, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun.

Selamat malam!

Posted in , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.