To Call Someone with "Mas"

Terlahir sebagai anak perempuan pertama dengan dua saudara yang juga perempuan membuat saya sering bertanya dalam hati, bagaimana sih rasanya punya kakak cowok? 

Pasti asyik ya, punya seseorang yang walaupun suka ngisengin, tapi sebenarnya selalu menjaga. Partner in crime yang idenya aneh-aneh, tapi setelah menjajalnya ternyata bisa memperbaiki mood. Hahaha, mungkin saya sedikit terbawa kisah-kisah novel atau film. Tapi, memang menyenangkan mendengar cerita teman-teman yang punya kakak cowok. Vio misalnya; masnya satu tahun lebih tua, sama-sama sekolah di Teladan. Vio mah ceritanya mereka sering ribut, masnya sering rese, tapi Vio juga mengakui kalau sebenarnya mas Wira tuh sayang sama dia. Vio ingat dulu waktu kecil pernah dinakali temen-temen di SD, terus masnya datang buat membela sang adik tercinta.

Kalau masnya Anik, Arum, dan Fira beda lagi. Mereka sudah memasuki dunia kerja, menunjukkan tanggungjawab sebagai anak sulung dalam keluarga. Masnya Anik kerjanya jauh, ikut kapal lintas negara. Hanya bisa sesekali berkirim kabar melalui pesan singkat, telepon, atau video-call. Masnya Arum, yang saya tahu, dulu sering mengantar-jemput Arum dengan Vespa putihnya. Kalau masnya Fira, saya beberapa kali ketemu waktu main ke rumahnya. Orangnya ramah dan kelihatan sayang banget sama Fira dan Ifa (adik ceweknya Fira). Fira pernah menunjukkan foto-foto mereka bertiga yang lumayan gokil, terlihat akrab dan akur, yang membuat saya lagi-lagi membatin, pasti asyik sekali punya kakak cowok seperti itu.





Saya juga mengamati beberapa teman cowok yang punya adik cewek dengan jarak umur sekitar 4-6 tahun (atau lebih). Ada teman yang care sama adiknya, ada juga yang cenderung cuek bebek. Pengamatan saya agak subjektif, sebenarnya. Ketika melihat foto mereka dengan adiknya yang di-share melalui media sosial, saya menyimpulkan kalau mereka punya hubungan kakak-adik yang dekat. Sebab, tidak semua orang suka membanggakan kedekatan dengan saudaranya. Sedangkan teman saya yang saya anggap cuek, misalnya yang mengaku tidak ingat adiknya sekolah kelas berapa saat saya tanyai. Katanya, "Adikku mesti gak kenal aku saking seringnya tak tinggal. Pagi pas aku pergi dia belum bangun, malem pas aku balik dia udah tidur." Itu pengakuan kakak cowok atau curhatan papa rock n roll? 

Tapi, dia lalu menambahkan satu kalimat yang mengubah pandangan saya, "Jangan-jangan adikku ngira aku gak sayang dia."

Artinya, teman saya itu sebenarnya sayang sama adiknya, kan? Meskipun sehari-hari tampaknya kurang begitu memperhatikan, dan tidak terlalu peduli terhadap detail-detail tentang adiknya.

Saya berpikir, betapa beruntungnya anak perempuan yang punya saudara laki-laki. Mereka punya teman bertukar pikiran yang bisa memberi penilaian terhadap sesuatu melalui sudut pandang laki-laki (yang dalam beberapa hal jelas berbeda dengan pola pikir perempuan). Kalaupun terpaut rentang usia yang cukup jauh, punya saudara cowok tetap menguntungkan... simply because they will always try their bests to protect you. Saya sudah menggeneralkan kakak cowok menjadi saudara cowok lho, karena seiring berjalannya waktu toh adik cowok pun akan menjalankan perannya sebagai pelindung bagi anggota keluarga perempuan. 

So, buat kalian yang punya kakak/adik cowok, bersyukurlah. Terlepas dari keusilan saudara cowok, sifat mereka yang sering nyebelin, tukang ngajak ribut, suka gangguin, dan sebagainya, you have to realize that they also have sweet sides. Dalam menunjukkan rasa sayang, mungkin ada yang secara langsung, tapi kebanyakan saudara cowok biasanya gengsi buat menunjukkan itu. Yep, mereka punya cara masing-masing untuk mengungkapkan sayang ke saudara ceweknya, entah itu dalam bentuk kekhawatiran waktu melihat kalian sedih, tekad untuk menyenangkan kalian saat ada kesempatan, apapun.

Ya.... sayangnya saya ndak punya saudara cowok. Ada sih kakak dan adik sepupu, tapi hubungan kami nggak dekat. Dulu saya berharapnya adik saya cowok, ternyata cewek dua-duanya. Ya sudah, toh kelakuan adik saya yang kecil rada-rada mirip cowok. Peace, Nay! 

Kalau suatu saat saya menemukan lampu ajaib yang digosok-gosok lalu muncul jin, dan untuk suatu alasan si jin hanya mengabulkan permintaan yang berkaitan dengan tambahan anggota keluarga... kemungkinan besar saya akan minta ibu, kakak cowok, dan (supaya genap tiga permintaan)... saudara kembar. Pasti asik banget, kan!




Bukan berarti saya nggak bersyukur dengan keluarga saya sekarang. Kamu salah kalau mengira begitu. Intinya, kembali pada kalimat yang formatnya italic di paragraf pertama tulisan ini… Saya hanya penasaran. Begitulah.

HAVE AN AWESOME RAMADHAN MUBARAK 1436 H!



Posted in , , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

2 Responses to To Call Someone with "Mas"

  1. kebalikannya, saya kadang2 mikir, bagaimana rasanya punya kakak seorang perempuan. Tapi menurutku saudara itu, apapun ya gitu, kadang iseng kadang dirindukan :D

    ReplyDelete

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.