Archive for July 2015

Denting Pesan

credit photo: here
Rasanya selalu menyenangkan bisa berbincang dengan kamu. Saling menyapa, bertukar kabar, membicarakan apa saja. Meski hanya sebatas melalui layar persegi dalam genggaman.

Aku senang kamu tidak menghapus kontakku setelah masa-masa sulit itu. Malam itu kiraku hanya sebuah malam biasa yang kulewati dengan membaca ulang buku-buku, ditemani alunan musik instrumental bernada sendu. Ketika pada akhirnya kuap bosan tak mampu kutahan, aku lalu berbaring memandangi langit-langit kamar dalam kegelapan.

Sunyi tersibak oleh sebuah denting samar. Di layar itu tertera pesan tertanda namamu yang lantas membawa pergi seluruh kantukku, menggantinya dengan euforia yang tak memerlukan alasan.

Hingga lewat tengah malam. Lampuku sudah lama padam, sejak aku berencana memejam. Seluruh ruangan dikungkung kelam, tapi beberapa bagian membias benderang:

   Layar persegi, menampilkan pesanmu yang terus berdenting menyedot perhatian
yang akan selalu kamu dapatkan,

   Bola mataku, kedua kelopaknya terbuka lebar, memindai teliti setiap kalimat yang kau ketikkan,

   Nyala dalam hati, memercik kerlip ketika menyadari sebongkah rasa yang telah purba, namun nyata tak pernah hilang.

Rasa itu masih ada dan akan selalu di sana; ia memperoleh denyutnya kembali bersama rentetan denting pesan, mengetuk relung hati yang selalu menguntai angan. Malam itu, aku mimpi kita bertatap muka lantas saling tersipu digelitik perasaan yang belum menemukan cara untuk terungkap ke permukaan.

Selamat malam dari penanti denting,


Posted in , , , , , | 6 Comments

Just Maybe.



I think that possibly, maybe I'm falling for you.
Yes, there's a chance that I've fallen quite hard over you.
[Landon Pigg - Falling in Love at A Coffee Shop]

Posted in , | Leave a comment

Tutup Tirai

Nanti malam adalah malam takbiran, saudara-saudara! Tak terasa kita sudah sampai pada penghujung Ramadhan tahun ini. Di mana pun teman-teman merayakan hari kemenangan, semoga berkah :) saya sendiri berangkat mudik kemarin, mudik sekaligus touring pitung sekeluarga. Seperti biasa momen lebaran selalu kami rayakan di Semarang, kota kelahiran bapak. Biasanya dilanjutkan sowan ke keluarga almarhumah ibu di Kebumen juga, besok masih menyesuaikan tanggal sebelum adik-adik mulai masuk sekolah.

Sepertinya, ini akan jadi posting penutup proyek #pakpolisiblog alias Padakacarma Poso-poso Nulisi Blog dari saya. Besok akan jadi hari yang sibuk, saya tidak mungkin sempat menyentuh laptop. Walaupun sebenarnya bisa bikin posting terjadwal, tapi entah rasanya kurang mantep gitu... Sejak awal saya sempat mikir mau bikin posting terjadwal untuk mengantisipasi hari-hari-buntu-ketika-bingung-mau-nulis-apa-dan-akhirnya-bolong-trus-denda. Tapi nggak kelakon, sepertinya cuma Tita yang berhasil dengan strategi itu.

Senang rasanya bisa berpartisipasi dalam proyek ini (thanks to Mbak Imas yang berhasil membujuk saya untuk join, padahal awalnya takut duluan sama denda hehehe). Totalnya, saya berhasil setor tulisan untuk 21 hari. Memang nggak lengkap 30 hari, tapi saya tetap senang, banyak yang saya dapatkan ketika sedang mikir "mau nulis apa hari ini?" Beberapa kali saya sudah merencanakan mau nulis apa, tapi ujung-ujungnya malah keasyikan browsing, terus yang diposting jadi nggak sesuai sama rencana :))


Selamat lebaran, teman-teman~ Taqabalallahu minna wa minkum. Maafkan saya jika dalam berteman ada kata-kata atau perbuatan (atau posting blog) yang kurang berkenan. Semoga kita dipertemukan lagi dengan Ramadhan tahun depan.

Selamat berkumpul dengan sanak saudara, melestarikan tradisi sungkem, santap ketupat dan lontong opor, nyemil kue-kue lebaran (ini bagian favorit saya). Selamat berkirim ucapan lebaran dengan kawan-kawan, siapkan diri kalau ada yang menghubungimu setelah lama menghilang, yang biasanya berujung baper *waduh*. Dan oh, selamat menghitung angpao juga (kalau masih dapat) hahahaha :P





Sampai ketemu di proyek menulis selanjutnya! Sementara itu, saya akan tetap setia sama blog ini, entah mau memanjakan diri dengan bersastra-ria atau sekadar berceloteh saja.

Best regards,
 

Posted in , | Leave a comment

Flow Along the Melodies

pic from -

Siapa yang tidak kenal budayawan satu ini, yang hanya dengan mendengar kata "jancuk", maka kamu akan tahu siapa yang saya maksud.

Agus Hadi Sudjiwo alias Sujiwo Tejo. Sosok nyentrik ini seakan-akan gentayangan di mana-mana; wajahnya di televisi, karya sastranya di toko buku, twit-twit super menghibur (yang seringnya saya harus berpikir keras untuk memahami maksudnya apa, hanya untuk menyadari bahwa mungkin saya memang tidak ditakdirkan untuk paham), serta lagu-lagu berbahasa Jawa yang merasuki indera pendengaran.

Sebenarnya, tidak banyak yang saya tahu tentang Sujiwo Tejo selain guyonnya yang sering tidak kira-kira. Kamu mungkin lebih mengikuti kiprahnya di dunia seni, tahu seluk-beluk kehidupannya, bahkan mungkin punya koleksi quotes dari setiap twitnya yang gereget.

Saat ini, saya hanya ingin berbagi salah satu lagunya Sujiwo Tejo yang saya tahu dari Mbak Irma, teman sesama relawan Kolong Tangga. Mbak Irma memperdengarkan lagu ini ke saya pada 7 Juni lalu (masih ingat, kan!), di tengah-tengah live show Frau dan Payung Teduh yang diselenggarakan oleh Fakultas Geografi UGM.

Kata Mbak Irma, ini bukan lagu yang paling terkenal dari album-albumnya Sujiwo Tejo, tapi menurutnya punya makna yang dalem banget. Judulnya Anyam-anyaman Nyaman. Berikut syairnya: 

Anyam-anyaman Nyaman
(Oleh Sujiwo Tejo)

Anut runtut tansah reruntungan
Munggah mudhun gunung anjog samudra
Gandheng rendhengan jejering rendheng
Reroncening kembang
Kembang temanten

Mantene wus dandan dadi dewa dewi
Dewaning asmara gya mudhun bumi

Ela mendhung, bubar mawur, mlipir-mlipir, gya sumingkir
Mahargya dalan temanten
Dalanipun dewa dewi

Swara trompet, ting celeret, arak-arak, sigra-sigrak,
Datan kendat, anut runtut, gya mudhun bumi



Kamu bisa lihat livenya di sini, tapi di situ Mbah Tejo bukan dengan pasangan duet asli seperti pada lagu versi albumnya.

Bisa menebak lagu ini menceritakan tentang apa? Clue-nya ada di akhir bait pertama, pada kata "temanten." Gile Chak, lo dengerinnya lagu-lagu pernikahan? Hahaha, kalau iya memang kenapa? :p

Waktu pertama kali dengar lagu itu dari hapenya Mbak Irma, saya langsung berpikir kalau iramanya bagus, cocok di kuping saya. Terus waktu Mbak Irma bilang kalau lagu ini bercerita tentang filosofi pernikahan, saya agak surprised. Jangan-jangan itu lagu buat dewasa, lah aku kan masih anak kecil, boleh nggak ya dengerin lagu itu. *halah*

Pokoknya gitu. Beberapa hari setelah itu, saya tergerak untuk browsing lagu-lagunya Sujiwo Tejo yang lain, termasuk download Anyam-Anyaman Nyaman serta satu lagu lain yang juga disarankan Mbak Irma, berjudul Gugur Bisma. Saya memang kalau dengar lagu yang click di telinga, misalnya dari radio, playlist temen, bahkan yang lagi diputar di tempat-tempat umum gitu, biasanya langsung cari tahu dan saya simpan di hape untuk didengarkan kembali sewaktu-waktu. Termasuk untuk lagu yang bercerita tentang filosofi pernikahan ini, terserah deh mau mikir gimana tentang saya hahaha yang penting saya bahagia #lho.

Kalau mau tahu lebih lanjut tentang makna lagu atau arti per kata, silakan googling sendiri ya. Banyak kok ulasan tentang makna lagu-lagunya Sujiwo Tejo, di situs pribadinya pun tersedia. Anyway, kalau kamu berpikir soal lirik lagu yang berbahasa Jawa Kuno sehingga sulit menebak artinya, saya mau mengutip argumen pribadi dari penciptanya:

Kenapa aku bikin dalam bahasa Jawa Kuno? Agar orang Jawa sekarang juga gak ngerti. Adil buat Indonesia. Jadi orang hanya dengar bahasa lirik just as sound, just as music, bukan maknanya. Anggap aja instrumennya mulut. Aku ingin orang dengar “Anut runtut tansah reruntungan munggah mudun gunung anjog samodra” just as a sound..
Tapi kita udah terlanjur jadi bangsa yang minder. Kalau “waka waka waka eh eh” boleh gak ngerti tetep nyanyi.. kalau bahasa daerah?
Kalau lagu bahasa daerah, kita gak ngerti artinya, kita akan bilang “ah! Apaan tuh?! Kagak ngarti!”
Mestinya sekolah-sekolah ngajarin bahwa kata-kata itu punya 2 segi, yaitu makna dan bunyi (musik). Tapi yang ke-2 ini kurang diajarkan. [dari artikel Wayang Twit #Anyam-anyaman Nyaman]

Dan untuk kali ini, saya sepenuhnya nangkep maksudnya Mbah Tejo! Sebab saya sadar, yang lebih dulu membuat saya menikmati lagu Anyam-anyaman Nyaman memang iramanya, musiknya, perpaduan instrumennya.

Bagi saya, lagu ini merupakan relaksasi telinga, lagu yang saya nikmati tanpa harus menyesuaikan recent mood. Seperti kalau misalnya kamu adalah seorang yang tidak bisa hidup tanpa musik, lantas tanpa sadar menjadikan musik sebagai cerminan mood; saat suasana hati sedang penuh semangat maka setel lagu yang menghentak, kalau sebaliknya maka putar lagu mellow. Nah, ini tidak seperti itu. Beberapa musik memang tercipta untuk didengarkan saja, tak jadi masalah kalau tidak paham liriknya. Musik-musik instrumental juga begitu, kan? Ini musik, man, bukan bacaan Qur'an yang jelas penting untuk dipahami artinya. Hehehe.

Well... Membaca ulang tulisan di atas, saya jadi merasa diri saya terkesan memaksa kamu untuk sependapat dengan saya... padahal niatnya sama sekali tidak begitu lho. Saya hanya ingin bilang, kalau suatu saat nanti kamu 'memergoki' saya tengah hanyut dalam alunan lagu daerah timur atau lagu berbahasa asing entah dari negara mana yang bahkan saya tidak bisa memberi tahu saat kamu bertanya, saat itulah saya sedang menikmati musik sebagai nada dan irama, bukan giving notice pada kata-kata atau syairnya.

Feel free to shuffle your playlist!

Posted in , , , , | Leave a comment

One Way to Survive


pic from -

Be well-prepared, it's gonna be such a long post! (Biasanya juga ngepos panjang tanpa warning, hahaha.)


Belakangan ini, kegiatan yang bertujuan mengisi waktu luang sekaligus nyicil cari penghasilan sedang marak di kalangan teman-teman saya. Caranya adalah dengan menjadi reseller suatu produk. Untuk saat ini, yang lagi hits dan paling mendominasi adalah mereka yang bergabung menjadi member sebuah industri kosmetik.

Sejauh yang saya tahu, paling tidak ada dua label industri kosmetik ternama yang cukup menguasai lingkaran sosial para remaja. Selain mudah menjangkau remaja untuk menjadi konsumen, industri kosmetik tersebut juga memberi kesempatan yang luas bagi remaja untuk turut berperan dalam memasarkan produknya.

Saya melihat sendiri bagaimana sigapnya pergerakan teman-teman saya dalam memanfaatkan kesempatan itu. Dengan menjadi member, kata mereka, banyak keuntungan yang dapat diraih. Di samping menambah uang saku—meskipun tidak sekaligus meraup untung yang besar, tetap ada proses—yang sangat dibutuhkan oleh fresh graduate SMA saat ini, bergabung dengan industri tersebut tentu juga dapat mengembangkan potensi bisnis yang dimiliki para remaja.

Tak hanya kosmetik, banyak juga remaja yang menjadi reseller produk lain, seperti Tupperware, atau makanan impor yang sedang menjadi tren di pasaran. Berbagai camilan branded yang dulu hanya tersedia versi originalnya di tanah air, kini sudah beredar aneka varian rasa yang didatangkan dari negara produsennya.

Dalam rangka mengembangkan jiwa kewirausahaan itu pula, telah banyak remaja yang membuka online shop, entah itu dikelola secara pribadi atau bersama teman-teman. Online shop yang saya maksud tentunya bukan yang abal-abal, melainkan yang benar-benar trusted. Dan, lebih keren lagi, sekarang banyak remaja usia SMA hingga awal kuliah yang dengan berani mewujudkan ide kreatifnya hingga menjadi sebuah usaha yang terus berkembang dari waktu ke waktu dan memberikan hasil yang nyata.


pic from -

Bermodalkan pengetahuan tentang faktor produksi dan kejelian dalam memindai selera pasar, remaja dapat meraih keuntungan yang berasal dari ide-ide mereka sendiri. Berbagai barang unik yang selama ini hanya bisa kita bayangkan (atau mungkin malah tak terpikirkan oleh kita), kini bisa didapat dengan mudah karena ada sekelompok remaja yang memproduksi dan menjualnya. Sebutlah perangkat masak dari kayu yang dilukis lucu-lucu, handmade totebag dan sepatu kanvas, notes serta binder yang kovernya dapat dikreasikan sesuai keinginan, dan aneka pernak-pernik lainnya. Yang menarik, usaha tersebut bisa jadi berawal dari hobi seseorang, sehingga sang founder akan dengan senang hati menjalankan usahanya.

Saya salut dengan teman-teman di sekitar saya yang punya kemampuan berwirausaha seperti yang saya ceritakan di atas. Teman-teman saya terlihat ulet dan optimis akan hasil yang dicapai. Saya sendiri sangat payah kalau menyangkut urusan bisnis, bahkan tidak pandai mengelola keuangan (itulah mengapa saya tidak pernah diamanahi menjadi bendahara dalam organisasi/event apapun). Menurut saya, teman-teman yang punya jiwa bisnis pasti akan lebih cepat mandiri dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar, paling tidak terhadap dirinya sendiri.

Umm... Perasaan bahasanya formal banget ya? Yang penting maksud saya tersampaikan deh. Buat kamu-kamu yang lagi menjalankan usaha, apapun itu... GOOD LUCK! You guys are awesome.
 


credit photo: here

Sincerely,




P.s.
Dear Lucia, kalau kamu baca ini. You're one of those awesome teenagers, you know. Ingat waktu kamu berjuang memenuhi target dana event sekolahmu (yang mencapai ratusan juta itu)? Usaha apapun kamu jabanin. Tak ada kata menyerah. Salute!

Posted in , , , , | Leave a comment

[Rendrana] Rendra si Pengganggu

pic from -
Sejak keluarga kami menempati rumah ini sekitar satu tahun yang lalu, tak terhitung berapa lama waktu yang kuhabiskan untuk duduk di bangku kayu di sudut halaman depan ini. Jangan berekspektasi terlalu tinggi tentang bangku ini, sebab pada kenyataannya ini bukan jenis bangku kayu yang bagus. Aku bahkan tidak tahu ia terbuat dari kayu apa. Kelihatannya, bangku ini dulunya bercat putih di semua bagian. Namun kini warna putih itu sudah memudar, tinggal seberkas putih kusam di ujung keempat kakinya yang setengah tertanam di tanah.

Setiap hari, aku selalu menyempatkan keluar rumah untuk duduk-duduk di bangku itu. Aku mengalasi permukaan bangku dengan potongan kain perca berbagai motif yang kujahit sendiri. Tak perlu alasan yang jelas untuk itu, aku hanya merasa nyaman saja. Terkadang aku duduk bersandar sambil mencoret-coret di buku sketsa, meski aku sadar kemampuan menggambarku sangat minim. Di kesempatan lain aku hanya duduk-duduk saja sambil mendengarkan lagu dari ponsel, atau mengisi jurnal harianku. Tetapi paling sering aku duduk di sana sembari membaca buku.

Bangku itu menghadap ke arah timur laut. Sebatang pohon kiara payung tumbuh sekitar satu meter di belakangnya, membuat duduk di bangku itu tidak terlalu panas di siang hari. Tetapi, waktu yang paling aku suka untuk duduk di sana justru pagi hari, ketika bangku tersorot cahaya matahari. Mungkin aku memang seorang dengan heliophilia. Tak pernah mempermasalahkan jika kulitku tersengat matahari, bahkan justru menikmatinya.

So you think that love is long overdue

Tired of looking for someone to care

Saat ini, tak ada yang membuatku lebih bahagia selain berada di bawah siraman cahaya matahari pagi, ditemani lagu FireHouse yang kuputar dengan volume maksimal.

Kuletakkan ponselku di bangku sementara aku bangkit untuk melakukan peregangan. Sedikit gerakan senam dapat melancarkan peredaran darah dan tentu cukup untuk membuatku bugar hari ini.

Let me tell you now the choice is up to you

But you know I will always be there

“I am here for you…”

Tak salah lagi, Rendra sudah masuk melalui pagar depan, membuat gerakan seakan-akan ada microphone di tangannya, lantas mulai bernyanyi mengikuti lagu.

“Untung suaramu tidak jelek-jelek amat,” kataku dengan tangan terentang, “kalau tidak, sudah pasti kau dilarang melewati batas pagar itu.”

Rendra turut menirukan gerakan senamku. “Kau kan tidak sedang membaca. Artinya aku boleh berisik sesuka hatiku,” sahutnya. Aku memutar bola mata, mengucapkan ‘terserah’ tanpa suara.

Setelah beberapa menit, aku mengempaskan tubuhku ke bangku. Rendra mengeluarkan sepotong saputangan lalu memberikannya padaku, yang tanpa pikir panjang kugunakan untuk menyeka keringat di pelipis serta leher. Tak ada tanda-tanda protes dari cowok itu, jadi kulanjutkan saja.

“Belum waktunya kau menghentikan olahraga pagimu,” tukasnya sambil meletakkan pantat di ujung bangku, “Butuh usaha lebih untuk mengurangi tumpukan lemak di perutmu, tahu?”

Aku meninju lengan Rendra keras-keras, tersinggung. “Setiap kau buka mulut, selalu saja ejekan yang keluar. Aku heran, nyatanya aku belum kehabisan stok kesabaran.”


Rendra tertawa, jenis tawa yang tak putus-putus, hingga ia terbungkuk-bungkuk dan terpaksa mengakhiri tawanya dengan batuk. Aku mengawasinya dengan sebelah alis terangkat karena tak paham di mana letak kelucuannya.

Setelah tawa dan batuknya benar-benar berhenti, keheningan menggantung di antara kami. Sebenarnya tidak sepenuhnya hening, masih terdengar samar-samar kesibukan lalulintas di jalanan tak jauh dari rumahku. Suara televisi juga terdengar sayup dari dalam rumah, entah siapa yang menonton, mungkin adikku.

Tiba-tiba Rendra meraih ponselku yang sudah memutarkan lagu lain. Aku tidak mencegah, kubiarkan saja apapun yang ia lakukan dengan ponsel itu.

Ternyata, ia kembali menyetel lagu yang tadi kuputar saat ia datang. Tanpa berkata apa-apa, kami duduk saja di sana, menghadap lurus ke depan. Entah ke mana arah pandangan Rendra, aku sendiri hanya menatap ukiran kayu di gerbang rumah tetangga seberang. Suara khas C.J. Snare mengisi celah-celah udara.

I am here for you,
always here for you.
When you need a shoulder to cry on,
someone to rely on, I am here for you.


“Bagian itu,” ucap Rendra, entah bagaimana suaranya terdengar jernih kali ini, “...kupikir cukup mewakilkan apa yang selama ini kucoba sampaikan padamu.”



Gambar saya pinjam dari sini.

to be continued.

***

P.s.
Here For You yang dibawakan oleh FireHouse adalah salah satu lagu yang stay di playlist saya sejak tahun 2012, kalau tidak salah. Saya tahu lagu itu karena cukup sering diputar oleh bapak saya yang penggemar musik beraliran rock serta metal.

Menurut saya, di balik iramanya yang nge-beat, lagu ini punya pesan yang sweet dan bikin melting. Just wondering if someone would sing me this song, someday. HAHAHA.

Regards,

Posted in , , , , , | 2 Comments

[Rendrana] Laki-laki dengan Jeans Belel

pic from -
"Tahukah kau, apa yang menyebabkan matahari bersinar demikian cerahnya pagi ini?"

Aku tiba di pertengahan modul tentang humanisme ketika suara serak Rendra memecah keheningan sekaligus konsentrasiku.

"Jangan berisik atau kau bisa pindah ke taman lain, bunga-bunga di sana mungkin tak keberatan kauajak mengobrol sebentar," tukasku tanpa mengalihkan pandangan dari buku.

Rendra mengeluarkan suara yang terdengar seperti dengusan kecil.

"Lucu," katanya. "Kausebut sepetak halaman berumput ini sebuah taman? Yah, aku tidak menyalahkanmu atas kegagalan menanam bunga matahari waktu i"

"Ren!" aku membanting buku ke pangkuan, "Jangan ganggu aku ketika sedang membaca. Kita tahu peraturannya."

Entah apa yang membuatku begitu emosional pagi ini. Mungkin kenyataan bahwa komporku rusak dan aku terancam tidak makan seharian, sebab orang yang kuminta untuk memperbaiki baru bisa datang besok pagi. Fakta lainnya, aku tidak mempersiapkan anggaran untuk membeli makan di luar hari ini. Rancangan keuangan adalah sesuatu yang sakral, tak boleh dilanggar. Perutku harus bisa berkompromi untuk menepati prinsip itu.

Namun, ujian akan dimulai dalam waktu dekat dan aku mulai khawatir, bagaimana bisa aku menjejalkan seluruh materi ke dalam otakku sementara perut ini merengek minta jatah sarapan?

"Kau ini kebelet buang air atau bagaimana?" Lagi-lagi suara serak Rendra memasuki indera pendengaranku.

"Hah?"

"Raut wajahmu menunjukkan ekspresi orang sedang kena sembelit, atau paling tidak, mendekati itu."

Ingin rasanya aku menggebuk Rendra dengan buku tebal ini. Tetapi, alih-alih merasa kesal, aku justru tersenyum simpul menanggapi ejekannya.

"Karena kau tak kunjung menjawab pertanyaanku—"

"Pertanyaan yang mana?"

"Kau mungkin tak mendengar aku bertanya," ucap Rendra seraya bangkit dari bangku yang kami duduki sejak satu jam yang lalu, "Mengapa pagi ini matahari bersinar demikian cerahnya?"

Aku diam. Menunggu apa yang akan dikatakan laki-laki yang kini berdiri di hadapanku, dengan kedua tangan dimasukkan ke saku jeans belelnya.

"Akan kuberitahu jawabannya," Rendra memberi jeda beberapa detik, dan aku terkejut mendapati diriku menahan napas dengan hati berdebar, hingga akhirnya ia melanjutkan kalimatnya. "Matahari tak ingin memperburuk suasana hatimu. Karena itulah ia membagi sinarnya yang lembut dan hangat, berharap dengan begitu kau akan merasa lebih baik."

"Tunggu, dari mana matahari tahu kalau suasana hatiku sedang buruk?" Aku refleks melemparkan pertanyaan tak penting itu.

"Tentu saja, akulah yang memberitahunya," sambar Rendra. "Apapun yang terjadi padamu, aku selalu tahu. Tak ada yang lebih pandai membaca gelagatmu daripada aku."

Kali ini, aku berusaha mati-matian menahan senyum agar tak merekah terlalu lebar, tak peduli itu membuat wajahku terlihat lebih aneh daripada ekspresi orang yang kena sembelit. Aku tidak mau membuat Rendra puas dengan terlihat senang mendengar gombalannya yang picisan itu. Lihat saja, kini dia mengulurkan sebelah tangannya padaku.

"Sebaiknya kau menjaga pola makanmu supaya tak benar-benar menderita sembelit," ujarnya dengan raut sok serius, "Berdirilah! Kita harus jalan cepat ke warung soto Pak Gali, atau semangkuk soto babat yang sedap batal masuk perut!"

Rendra menurunkan tangannya dan mulai berjalan menuju pagar yang setengah terbuka. Ketika menyadari aku belum beranjak dari bangku di sudut halaman depan rumah yang kusebut taman, ia berseru tak sabar, "Tenang saja, Na, aku yang traktir!" 


to be continued.


***

Yeay, akhirnya saya akan mulai memposting cerita bersambung di blog ini. Hitung-hitung untuk melengkapi proyek #pakpolisiblog selama beberapa hari ke depan. Maaf ya kalau ceritanya garing, saya masih belajar. Selamat menyimak! :)

Regards,

Posted in , , , , | 2 Comments

Hei, Kuda!

Tadi saya dan teman saya pergi ke Bentara Budaya. Dalam perjalanan, sewaktu di lampu merah, motor kami bersisian dengan kereta kuda. Saya dengar teman saya berkata dari belakang, "Kasihan, kudanya sampai luka."

Saya pun melihat ke arah si kuda. Benar saja, di punggung kuda itu terdapat bekas-bekas luka, mungkin akibat pecutan kusirnya. Di bagian yang bergesekan dengan tali-tali yang mengikatkan kereta pada tubuh kuda pun tampak sejumlah luka, ditandai dengan warna rambut yang berbeda dari warna tubuh di bagian lain.

Perhatian saya turun ke kaki kuda. Warna kulit pada pergelangan kakinya juga memperlihatkan bekas luka, seperti habis ditambat dengan ikatan yang erat. Bukan hanya satu atau dua kaki, tapi keempatnya, kaki depan maupun belakang.

"Padahal kuda kan juga sewaktu-waktu butuh ndlosor (berbaring) ya? Terus gimana itu kalau kakinya sakit," ujar teman saya ketika saya bergumam tentang kaki kuda.

Ketika lampu berubah hijau, saya pun memacu sepeda motor. Meninggalkan kuda dan keretanya di belakang. Saya dan teman saya masih melanjutkan perbincangan, bertanya-tanya apakah kuda itu kalau tidur harus sambil berbaring. Saya menduga, kuda bisa tidur sambil berdiri.

Ternyata memang kebanyakan kuda tidur dalam posisi berdiri. Beberapa di antaranya bahkan terus berdiri—tidak pernah berbaring—sampai sebulan atau lebih. Kuda mampu melakukan itu karena memiliki sistem untuk saling mengunci di antara ligamen-ligamen dan tulang-tulang kaki mereka, sehingga kaki mereka berada di posisi yang tepat selama tidur. Karenanya, kuda tidak perlu khawatir jatuh saat tidur sambil berdiri.

Bagi kuda, tidur dalam posisi berdiri jauh lebih baik daripada berbaring, sebab kuda punya otot yang relatif rapuh. Berbaring pada satu posisi untuk waktu lama justru dapat menyebabkan kuda mengalami kejang otot. Informasi ini saya dapatkan dari berbagai sumber, tapi terutama dari sini.

Mulanya saya kepingin punya kemampuan tidur sambil berdiri seperti kuda. Kan enak kalau tulang kaki bisa menyeimbangkan tubuh dalam posisi berdiri saat tidur, jadi gampang kalau mau tidur di kendaraan umum seperti bus. Tidak harus cari pegangan. Tetapi saya kemudian membatalkan keinginan itu, berganti rasa syukur. Syukurlah manusia bisa merasakan nikmatnya beristirahat dengan membaringkan tubuh,tanpa ancaman kejang otot serius seperti kuda.

(Anyway setelah saya pikir-pikir, saya jarang naik bus jarak jauh dan tidak dapat kursi, sampai mengharuskan berdiri. Jadi ya, paling tidak bisa tidur dalam posisi duduk.)

Kuda yang penuh luka, semoga suatu saat kebahagiaan menghampirimu. Entah dalam bentuk makanan kesukaanmu yang diberikan tepat waktu, atau pemilik baru yang lebih lembut memperlakukanmu.

P.s.
Proyek pakpolisiblog sudah memasuki hari ke-22! Artinya proyek ini akan segera berakhir, tepatnya saat lebaran nanti. Sedihnya, saya harus menyisihkan sejumlah uang untuk membayar denda absen menulis. Hiks.

Tapi saya senang, proyek seperti ini benar-benar menguji saya untuk konsisten dalam menulis, idenya bisa dari mana saja, sebab bebas menulis tentang apa saja. Tapi ya itu, untuk menghasilkan tulisan yang bermutu dan layak dibaca, sepertinya masih agak susah, karena kudu mikir dulu. Hehehe.

Besok-besok mau nulis fiksi saja, boleh ya?


Posted in , , , , , , | 1 Comment

Tentang Alika

Matahari bersinar terik siang ini. Aku memperlambat laju sepeda ketika hendak berbelok memasuki gang di antara deretan toko yang menjual cinderamata khas Jogja, khususnya busana berbahan batik. Akhir pekan ini, tak diragukan lagi jalanan penuh sesak oleh wisatawan menjadikan Jogja sebagai tujuan berlibur. Karena rumahku terletak tak jauh dari pusat kota sekaligus merupakan kawasan industri souvenir, aku tak punya pilihan selain menuntun sepeda di antara becak-becak yang terparkir di muka gang.

Saat melewati masjid kampung, aku berpapasan dengan perempuan berjilbab yang aku kenal. Aku mengangguk dan tersenyum untuk menyapanya, dan ia membalas dengan lirikan sekilas. Ia memacu  sepeda motor merahnya menuju arah berlawanan, keluar dari gang.

Perempuan itu bernama Alika, tinggal persis di sebelah lapangan kampung kami. Usianya kira-kira dua tahun lebih tua dariku. Ia baru saja lulus dari SMA, dan kudengar ia sudah diterima di salah satu perguruan tinggi di kota kami. Alika tinggal bersama ayah dan dua adik perempuannya. Ibunya meninggal beberapa tahun lalu karena kanker. Aku ingat, ibunya adalah sosok yang ramah dan menyenangkan. Pernah aku mendengar ibuku dan beberapa tetangga membicarakan Alika, tentang alangkah tertutupnya keluarga itu setelah sang ibu tiada. Dan aku setuju.

Di kampung kami, tak banyak yang mengenal dekat Alika dan keluarganya. Mungkin hanya keluarga Mbak Puji yang tinggal di belakang rumahnya, itu pun karena mereka sebenarnya merupakan saudara jauh. Alika dan kedua adiknya tak pernah terlihat mengikuti acara kampung. Biasanya tetangga hanya melihat adik-adik Alika setiap kali keluar atau masuk pagar rumah, dengan seragam sekolah. Alika lebih sering pergi keluar, entah itu pagi, siang, atau sore, dan menurut pengamatanku, ia cukup sering pulang larut malam. Entah ke mana perginya.

Pada suatu waktu, aku mewakili remaja masjid mendapat kesempatan berinteraksi dengan Alika. Saat itu kami kekurangan tenaga pengajar untuk TPA anak-anak di kampung. Hanya Rara dan Aqis yang selama ini aktif membantu, sisanya remaja laki-laki yang masih sulit mengatur waktu, termasuk aku.

Ketika Alika ternyata bersedia membantu kegiatan TPA, aku cukup terkejut. Sebelumnya, remaja masjid pernah mengundangnya menghadiri pengajian beberapa kali, tetapi ia tidak pernah muncul dengan alasan ada acara di luar. Aku jadi ragu, bukankah perempuan itu bersekolah di SMA yang terkenal bagus agamanya. Mengapa untuk menghadiri kajian di masjid dekat rumah saja ia tidak bisa meluangkan waktu?

Ternyata, partisipasi Alika membimbing anak-anak mengaji di TPA tak berlangsung lama. Mula-mula ia memang hadir sehari-dua hari dalam seminggu, sesuai waktu yang ia sanggupi. Alika berkata, ia punya beberapa kegiatan di luar yang menuntut komitmen lebih. Lagi-lagi alasan itu. Maksudku, kalau ia memang seseorang yang pintar seperti kata orang-orang dan aktif dalam banyak kegiatan, alangkah baiknya jika ia membagi pengalaman itu dengan teman-teman di kampung. Sikapnya yang cenderung tertutup dan jarang membaur justru menimbulkan kesan sombong. Setidaknya, begitulah menurut pendapatku.

Ramadhan tahun ini telah memasuki sepuluh hari terakhir. Setiap malam, anak-anak kampung berkumpul di lapangan, mendendangkan sholawat diiringi tabuhan perkusi sebagai persiapan lomba takbiran. Warga dari segala penjuru kampung turut meramaikan kegiatan ini. Meskipun banyak juga yang hanya menonton dan bukannya ikut dalam rombongan takbiran, Alika dan adik-adiknya tetap tak pernah terlihat.

Bukannya hal itu penting bagiku. Mengapa pula aku membiarkan pikiran tentang Alika dan keluarganya menggangguku? Barangkali mereka memang punya masalah dalam bersosialisasi, kecenderungan untuk menutup diri atau sulit memulai interaksi. Bukan urusanku. Tetapi, terlepas dari betapa sulitnya mereka bergaul dengan orang kampung, aku punya firasat bahwa mereka orang baik. Bahkan kalaupun mereka memutuskan untuk terus menutup diri selamanya, tetap tak mengubah kebaikan hati seseorang, bukan? Aku yakin, Alika dan adik-adiknya pastilah mendapat didikan yang tepat dari orangtuanya. Hanya saja, lagi-lagi menguping pembicaraan tetangga, meski aku tidak begitu peduli, aku tahu kalau Alika dan keluarganya sebenarnya bisa lebih baik dari itu. Kalau saja mereka mau berusaha.

-- 

I could not tell whether it is a fiction or not. What I am trying to say is, how frustrating it is to know exactly what’s your problem but don’t have any solution. Or maybe have some, but never that brave to apply at any chance.

*insert sad emoticon here*

 


Just let me know if you read this, then I don't mind if you ask further. I'll tell the truth.

Sincerely,

Posted in , , , , , , , , , | 2 Comments

Budak Teknologi

Buat apa pagar digembok,
pintu kaukunci
jika aib sendiri deras kauumbar
via jemari, menghampiri
layar demi layar sekian inci.

Tetangga terbahak di rumah sebelah,
tidak salah. Kau memang mahir
membadutkan tampang,
berkaca selalu pada ponsel yang legam itu
seakan rupa dewa bisa muncul kapan saja
untuk mengabulkan keinginanmu.

Yogyakarta, 6 Juli 2015.
 

Posted in , , , | Leave a comment

Book Recommendation: Hex Hall trilogy

Buat kamu penggemar novel fantasi tentang makhluk-makhluk selain manusia, serial Hex Hall karya Rachel Hawkins bisa banget dijadikan hiburan untuk mengisi waktu luang. Serial ini terdiri dari tiga buku, dan saya sudah menghabiskan dua di antaranya dalam waktu singkat (saya pinjam sekaligus ketiga novel itu dari Mooiyang sebenarnya pinjam dari Sausanhari Rabu. Hex Hall, seri pertama, mulai saya baca hari Kamis. Jumat dan Sabtu tidak dihitung karena saya pergi ke Semarang, novelnya ditinggal di rumah. Hari Minggu ini, saya menamatkan Hex Hall, dan juga melahap habis seri keduanya, Demonglass. Masing-masing terdiri lebih dari 400 halaman).

Kemungkinan besar malam ini saya akan lanjut seri ketiganya yang berjudul Spell Bound, begadang sampai sahur. Hahaha.

Nah, saya tidak berniat menceritakan ulang kisah penyihir, warlock, shapeshifter, serta peri-peri dengan segala konflik yang mereka alami di sini. Kamu mungkin sudah baca, sebab trilogi Hex Hall sepertinya merupakan novel yang cukup terkenal sejak terbit pada 2010. Atau, kalau pun belum, kamu bisa coba membacanya. Cukup menghibur! Kekuatan novel ini terdapat pada gaya penulisan Hawkins yang banyak mengandung sinisme dan sarkasme dalam percakapan antartokoh. Suasana dan perasaan tokoh digambafrkan secara hiperbolis, yang mungkin bertujuan untuk memberitahu pembaca bagaimana persisnya suatu peristiwa terjadi, atau seperti apa persisnya yang dirasakan tokoh dalam novel. Seperti yang saya bilang tadi, lumayan menghibur.

Sudah agak lama saya tidak melakukan ini—novel marathon. Beberapa minggu belakangan saya memang sangat haus akan bahan bacaan, tapi cenderung ingin baca yang nonfiksi, semacam biografi atau literatur yang berkaitan dengan sejarah atau kebudayaan. Tapi, novel fiksi yang ini boleh juga. Novel fiksi yang bagus selalu membuat saya seperti masuk ke dalam cerita, terlibat dalam setiap aksi baik yang romantis maupun menegangkan. Rasanya seperti menonton film tiga dimensi yang diputarkan tepat di hadapanmu, tanpa LCD, mengambang begitu saja di awang-awang. Entahlah, tapi tampaknya trilogi Hex Hall belum akan diangkat ke layar lebar.

Oiya, mengingat Mbak Ameng yang beberapa waktu lalu minta rekomendasi novel fiksi lewat postingan ini, nah, sudah baca trilogi Hex Hall-nya Rachel Hawkins ini belum? :D

Ternyata ada sekuel keempat! Itu, yang judulnya School Spirits. Ada yang mau kasih pinjam ke saya? :D
P.s.
Awalnya saya berniat mengutip satu paragraf yang berkesan menurut saya, tentang kedekatan Sophie (karakter utama) dengan ayahnya yang tidak pernah dia temui selama enam belas tahun umurnya. TAPI saya lupa paragraf itu ada di halaman berapa dari novel Demonglass. Hiks, beginilah akibatnya kalau tidak langsung mencatat quotes dari sebuah novel, pasti ujung-ujungnya lupa. Padahal biasanya saya mencatat di ponsel, paling tidak nomor halamannya. Nanti saya coba cari lagi, dan kalau ketemu... mungkin bisa saya share di kesempatan lain.

Watch your witch,

Posted in , , , | 4 Comments

Perjalanan Angel

pic from -

Mama, hari ini Angel pergi meninggalkan kota tempat tinggal kita. Papa yang mengajak Angel turut serta. Papa bilang, hari ini kakek genap berusia delapan puluh tahun. Kakek tinggal di kota sana, dan kini tiba saatnya bagi Angel untuk menjenguk kakek.

Angel menempuh jarak lebih dari seratus kilometer untuk tiba di kota tempat tinggal kakek. Sebenarnya, Angel tidak terlalu percaya pada angka-angka yang menyatakan jauhnya jarak itu, Ma. Toh Angel pergi diantar angin dan gumpalan mega. Angel tinggal duduk santai, mengayun kaki yang menjuntai, menikmati siraman cahaya matahari pagi yang lembut menimpa anak rambut Angel.

Selama perjalanan, Angel melihat pemandangan yang indah-indah, Ma. Pegunungan di batas cakrawala, biru bercampur kelabu samar warnanya. Sawah-sawah hijau terbentang luas. Gemericik sungai menyanyikan lagu-lagu ceria, saling bertukar salam setiap berpapasan dengan batu besar di sudut-sudut kelokan. Angel suka cara alam menuturkan kedamaian, Ma! Angel tertular bahagia!

Tetapi, di balik gedung pencakar langit di sebelah sana, mengapa ada bayang-bayang suramnya? Angel lihat jendelanya berkilauan, seperti juga kilau di mata kanak-kanak yang rumahnya tergusur oleh pembangunan gedung ratusan lantai itu. Angel bingung, anak-anak itu lalu tinggal di mana, Ma? Di mana orangtua mereka? Kolong jembatan dan rumah kardus, masihkah menyimpan harapan di antara takdir yang terasa pahit dan menusuk mata?

Angel menyaksikan kontras negeri, pias menggetarkan nurani, dalam perjalanan Angel kali ini.

Tapi Mama, Angel tidak bisa berbuat apa-apa. Pernah sekali Angel coba membisiki orang-orang berdasi dengan tanya, siapa tahu ada yang bisa mereka perbuat untuk membantu anak-anak tanpa alas kaki untuk menemukan bahagia. Sia-sia. Seringnya, Angel membisiki doa buat anak-anak sebaya Angel saat mereka menutup mata, yang entah kapan kembali terbuka.

Angel tidak tahu harus bagaimana... sebab Angel hanya angel, menjadi saksi dalam sebuah perjalanan, namun tak berhak bertindak, sebab bergantung pada keputusan Tuhan.

Semarang, 3 Juli 2015.

Posted in , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.