Flow Along the Melodies

pic from -

Siapa yang tidak kenal budayawan satu ini, yang hanya dengan mendengar kata "jancuk", maka kamu akan tahu siapa yang saya maksud.

Agus Hadi Sudjiwo alias Sujiwo Tejo. Sosok nyentrik ini seakan-akan gentayangan di mana-mana; wajahnya di televisi, karya sastranya di toko buku, twit-twit super menghibur (yang seringnya saya harus berpikir keras untuk memahami maksudnya apa, hanya untuk menyadari bahwa mungkin saya memang tidak ditakdirkan untuk paham), serta lagu-lagu berbahasa Jawa yang merasuki indera pendengaran.

Sebenarnya, tidak banyak yang saya tahu tentang Sujiwo Tejo selain guyonnya yang sering tidak kira-kira. Kamu mungkin lebih mengikuti kiprahnya di dunia seni, tahu seluk-beluk kehidupannya, bahkan mungkin punya koleksi quotes dari setiap twitnya yang gereget.

Saat ini, saya hanya ingin berbagi salah satu lagunya Sujiwo Tejo yang saya tahu dari Mbak Irma, teman sesama relawan Kolong Tangga. Mbak Irma memperdengarkan lagu ini ke saya pada 7 Juni lalu (masih ingat, kan!), di tengah-tengah live show Frau dan Payung Teduh yang diselenggarakan oleh Fakultas Geografi UGM.

Kata Mbak Irma, ini bukan lagu yang paling terkenal dari album-albumnya Sujiwo Tejo, tapi menurutnya punya makna yang dalem banget. Judulnya Anyam-anyaman Nyaman. Berikut syairnya: 

Anyam-anyaman Nyaman
(Oleh Sujiwo Tejo)

Anut runtut tansah reruntungan
Munggah mudhun gunung anjog samudra
Gandheng rendhengan jejering rendheng
Reroncening kembang
Kembang temanten

Mantene wus dandan dadi dewa dewi
Dewaning asmara gya mudhun bumi

Ela mendhung, bubar mawur, mlipir-mlipir, gya sumingkir
Mahargya dalan temanten
Dalanipun dewa dewi

Swara trompet, ting celeret, arak-arak, sigra-sigrak,
Datan kendat, anut runtut, gya mudhun bumi



Kamu bisa lihat livenya di sini, tapi di situ Mbah Tejo bukan dengan pasangan duet asli seperti pada lagu versi albumnya.

Bisa menebak lagu ini menceritakan tentang apa? Clue-nya ada di akhir bait pertama, pada kata "temanten." Gile Chak, lo dengerinnya lagu-lagu pernikahan? Hahaha, kalau iya memang kenapa? :p

Waktu pertama kali dengar lagu itu dari hapenya Mbak Irma, saya langsung berpikir kalau iramanya bagus, cocok di kuping saya. Terus waktu Mbak Irma bilang kalau lagu ini bercerita tentang filosofi pernikahan, saya agak surprised. Jangan-jangan itu lagu buat dewasa, lah aku kan masih anak kecil, boleh nggak ya dengerin lagu itu. *halah*

Pokoknya gitu. Beberapa hari setelah itu, saya tergerak untuk browsing lagu-lagunya Sujiwo Tejo yang lain, termasuk download Anyam-Anyaman Nyaman serta satu lagu lain yang juga disarankan Mbak Irma, berjudul Gugur Bisma. Saya memang kalau dengar lagu yang click di telinga, misalnya dari radio, playlist temen, bahkan yang lagi diputar di tempat-tempat umum gitu, biasanya langsung cari tahu dan saya simpan di hape untuk didengarkan kembali sewaktu-waktu. Termasuk untuk lagu yang bercerita tentang filosofi pernikahan ini, terserah deh mau mikir gimana tentang saya hahaha yang penting saya bahagia #lho.

Kalau mau tahu lebih lanjut tentang makna lagu atau arti per kata, silakan googling sendiri ya. Banyak kok ulasan tentang makna lagu-lagunya Sujiwo Tejo, di situs pribadinya pun tersedia. Anyway, kalau kamu berpikir soal lirik lagu yang berbahasa Jawa Kuno sehingga sulit menebak artinya, saya mau mengutip argumen pribadi dari penciptanya:

Kenapa aku bikin dalam bahasa Jawa Kuno? Agar orang Jawa sekarang juga gak ngerti. Adil buat Indonesia. Jadi orang hanya dengar bahasa lirik just as sound, just as music, bukan maknanya. Anggap aja instrumennya mulut. Aku ingin orang dengar “Anut runtut tansah reruntungan munggah mudun gunung anjog samodra” just as a sound..
Tapi kita udah terlanjur jadi bangsa yang minder. Kalau “waka waka waka eh eh” boleh gak ngerti tetep nyanyi.. kalau bahasa daerah?
Kalau lagu bahasa daerah, kita gak ngerti artinya, kita akan bilang “ah! Apaan tuh?! Kagak ngarti!”
Mestinya sekolah-sekolah ngajarin bahwa kata-kata itu punya 2 segi, yaitu makna dan bunyi (musik). Tapi yang ke-2 ini kurang diajarkan. [dari artikel Wayang Twit #Anyam-anyaman Nyaman]

Dan untuk kali ini, saya sepenuhnya nangkep maksudnya Mbah Tejo! Sebab saya sadar, yang lebih dulu membuat saya menikmati lagu Anyam-anyaman Nyaman memang iramanya, musiknya, perpaduan instrumennya.

Bagi saya, lagu ini merupakan relaksasi telinga, lagu yang saya nikmati tanpa harus menyesuaikan recent mood. Seperti kalau misalnya kamu adalah seorang yang tidak bisa hidup tanpa musik, lantas tanpa sadar menjadikan musik sebagai cerminan mood; saat suasana hati sedang penuh semangat maka setel lagu yang menghentak, kalau sebaliknya maka putar lagu mellow. Nah, ini tidak seperti itu. Beberapa musik memang tercipta untuk didengarkan saja, tak jadi masalah kalau tidak paham liriknya. Musik-musik instrumental juga begitu, kan? Ini musik, man, bukan bacaan Qur'an yang jelas penting untuk dipahami artinya. Hehehe.

Well... Membaca ulang tulisan di atas, saya jadi merasa diri saya terkesan memaksa kamu untuk sependapat dengan saya... padahal niatnya sama sekali tidak begitu lho. Saya hanya ingin bilang, kalau suatu saat nanti kamu 'memergoki' saya tengah hanyut dalam alunan lagu daerah timur atau lagu berbahasa asing entah dari negara mana yang bahkan saya tidak bisa memberi tahu saat kamu bertanya, saat itulah saya sedang menikmati musik sebagai nada dan irama, bukan giving notice pada kata-kata atau syairnya.

Feel free to shuffle your playlist!

Posted in , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.