One Way to Survive


pic from -

Be well-prepared, it's gonna be such a long post! (Biasanya juga ngepos panjang tanpa warning, hahaha.)


Belakangan ini, kegiatan yang bertujuan mengisi waktu luang sekaligus nyicil cari penghasilan sedang marak di kalangan teman-teman saya. Caranya adalah dengan menjadi reseller suatu produk. Untuk saat ini, yang lagi hits dan paling mendominasi adalah mereka yang bergabung menjadi member sebuah industri kosmetik.

Sejauh yang saya tahu, paling tidak ada dua label industri kosmetik ternama yang cukup menguasai lingkaran sosial para remaja. Selain mudah menjangkau remaja untuk menjadi konsumen, industri kosmetik tersebut juga memberi kesempatan yang luas bagi remaja untuk turut berperan dalam memasarkan produknya.

Saya melihat sendiri bagaimana sigapnya pergerakan teman-teman saya dalam memanfaatkan kesempatan itu. Dengan menjadi member, kata mereka, banyak keuntungan yang dapat diraih. Di samping menambah uang saku—meskipun tidak sekaligus meraup untung yang besar, tetap ada proses—yang sangat dibutuhkan oleh fresh graduate SMA saat ini, bergabung dengan industri tersebut tentu juga dapat mengembangkan potensi bisnis yang dimiliki para remaja.

Tak hanya kosmetik, banyak juga remaja yang menjadi reseller produk lain, seperti Tupperware, atau makanan impor yang sedang menjadi tren di pasaran. Berbagai camilan branded yang dulu hanya tersedia versi originalnya di tanah air, kini sudah beredar aneka varian rasa yang didatangkan dari negara produsennya.

Dalam rangka mengembangkan jiwa kewirausahaan itu pula, telah banyak remaja yang membuka online shop, entah itu dikelola secara pribadi atau bersama teman-teman. Online shop yang saya maksud tentunya bukan yang abal-abal, melainkan yang benar-benar trusted. Dan, lebih keren lagi, sekarang banyak remaja usia SMA hingga awal kuliah yang dengan berani mewujudkan ide kreatifnya hingga menjadi sebuah usaha yang terus berkembang dari waktu ke waktu dan memberikan hasil yang nyata.


pic from -

Bermodalkan pengetahuan tentang faktor produksi dan kejelian dalam memindai selera pasar, remaja dapat meraih keuntungan yang berasal dari ide-ide mereka sendiri. Berbagai barang unik yang selama ini hanya bisa kita bayangkan (atau mungkin malah tak terpikirkan oleh kita), kini bisa didapat dengan mudah karena ada sekelompok remaja yang memproduksi dan menjualnya. Sebutlah perangkat masak dari kayu yang dilukis lucu-lucu, handmade totebag dan sepatu kanvas, notes serta binder yang kovernya dapat dikreasikan sesuai keinginan, dan aneka pernak-pernik lainnya. Yang menarik, usaha tersebut bisa jadi berawal dari hobi seseorang, sehingga sang founder akan dengan senang hati menjalankan usahanya.

Saya salut dengan teman-teman di sekitar saya yang punya kemampuan berwirausaha seperti yang saya ceritakan di atas. Teman-teman saya terlihat ulet dan optimis akan hasil yang dicapai. Saya sendiri sangat payah kalau menyangkut urusan bisnis, bahkan tidak pandai mengelola keuangan (itulah mengapa saya tidak pernah diamanahi menjadi bendahara dalam organisasi/event apapun). Menurut saya, teman-teman yang punya jiwa bisnis pasti akan lebih cepat mandiri dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar, paling tidak terhadap dirinya sendiri.

Umm... Perasaan bahasanya formal banget ya? Yang penting maksud saya tersampaikan deh. Buat kamu-kamu yang lagi menjalankan usaha, apapun itu... GOOD LUCK! You guys are awesome.
 


credit photo: here

Sincerely,




P.s.
Dear Lucia, kalau kamu baca ini. You're one of those awesome teenagers, you know. Ingat waktu kamu berjuang memenuhi target dana event sekolahmu (yang mencapai ratusan juta itu)? Usaha apapun kamu jabanin. Tak ada kata menyerah. Salute!

Posted in , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.