[Rendrana] Rendra si Pengganggu

pic from -
Sejak keluarga kami menempati rumah ini sekitar satu tahun yang lalu, tak terhitung berapa lama waktu yang kuhabiskan untuk duduk di bangku kayu di sudut halaman depan ini. Jangan berekspektasi terlalu tinggi tentang bangku ini, sebab pada kenyataannya ini bukan jenis bangku kayu yang bagus. Aku bahkan tidak tahu ia terbuat dari kayu apa. Kelihatannya, bangku ini dulunya bercat putih di semua bagian. Namun kini warna putih itu sudah memudar, tinggal seberkas putih kusam di ujung keempat kakinya yang setengah tertanam di tanah.

Setiap hari, aku selalu menyempatkan keluar rumah untuk duduk-duduk di bangku itu. Aku mengalasi permukaan bangku dengan potongan kain perca berbagai motif yang kujahit sendiri. Tak perlu alasan yang jelas untuk itu, aku hanya merasa nyaman saja. Terkadang aku duduk bersandar sambil mencoret-coret di buku sketsa, meski aku sadar kemampuan menggambarku sangat minim. Di kesempatan lain aku hanya duduk-duduk saja sambil mendengarkan lagu dari ponsel, atau mengisi jurnal harianku. Tetapi paling sering aku duduk di sana sembari membaca buku.

Bangku itu menghadap ke arah timur laut. Sebatang pohon kiara payung tumbuh sekitar satu meter di belakangnya, membuat duduk di bangku itu tidak terlalu panas di siang hari. Tetapi, waktu yang paling aku suka untuk duduk di sana justru pagi hari, ketika bangku tersorot cahaya matahari. Mungkin aku memang seorang dengan heliophilia. Tak pernah mempermasalahkan jika kulitku tersengat matahari, bahkan justru menikmatinya.

So you think that love is long overdue

Tired of looking for someone to care

Saat ini, tak ada yang membuatku lebih bahagia selain berada di bawah siraman cahaya matahari pagi, ditemani lagu FireHouse yang kuputar dengan volume maksimal.

Kuletakkan ponselku di bangku sementara aku bangkit untuk melakukan peregangan. Sedikit gerakan senam dapat melancarkan peredaran darah dan tentu cukup untuk membuatku bugar hari ini.

Let me tell you now the choice is up to you

But you know I will always be there

“I am here for you…”

Tak salah lagi, Rendra sudah masuk melalui pagar depan, membuat gerakan seakan-akan ada microphone di tangannya, lantas mulai bernyanyi mengikuti lagu.

“Untung suaramu tidak jelek-jelek amat,” kataku dengan tangan terentang, “kalau tidak, sudah pasti kau dilarang melewati batas pagar itu.”

Rendra turut menirukan gerakan senamku. “Kau kan tidak sedang membaca. Artinya aku boleh berisik sesuka hatiku,” sahutnya. Aku memutar bola mata, mengucapkan ‘terserah’ tanpa suara.

Setelah beberapa menit, aku mengempaskan tubuhku ke bangku. Rendra mengeluarkan sepotong saputangan lalu memberikannya padaku, yang tanpa pikir panjang kugunakan untuk menyeka keringat di pelipis serta leher. Tak ada tanda-tanda protes dari cowok itu, jadi kulanjutkan saja.

“Belum waktunya kau menghentikan olahraga pagimu,” tukasnya sambil meletakkan pantat di ujung bangku, “Butuh usaha lebih untuk mengurangi tumpukan lemak di perutmu, tahu?”

Aku meninju lengan Rendra keras-keras, tersinggung. “Setiap kau buka mulut, selalu saja ejekan yang keluar. Aku heran, nyatanya aku belum kehabisan stok kesabaran.”


Rendra tertawa, jenis tawa yang tak putus-putus, hingga ia terbungkuk-bungkuk dan terpaksa mengakhiri tawanya dengan batuk. Aku mengawasinya dengan sebelah alis terangkat karena tak paham di mana letak kelucuannya.

Setelah tawa dan batuknya benar-benar berhenti, keheningan menggantung di antara kami. Sebenarnya tidak sepenuhnya hening, masih terdengar samar-samar kesibukan lalulintas di jalanan tak jauh dari rumahku. Suara televisi juga terdengar sayup dari dalam rumah, entah siapa yang menonton, mungkin adikku.

Tiba-tiba Rendra meraih ponselku yang sudah memutarkan lagu lain. Aku tidak mencegah, kubiarkan saja apapun yang ia lakukan dengan ponsel itu.

Ternyata, ia kembali menyetel lagu yang tadi kuputar saat ia datang. Tanpa berkata apa-apa, kami duduk saja di sana, menghadap lurus ke depan. Entah ke mana arah pandangan Rendra, aku sendiri hanya menatap ukiran kayu di gerbang rumah tetangga seberang. Suara khas C.J. Snare mengisi celah-celah udara.

I am here for you,
always here for you.
When you need a shoulder to cry on,
someone to rely on, I am here for you.


“Bagian itu,” ucap Rendra, entah bagaimana suaranya terdengar jernih kali ini, “...kupikir cukup mewakilkan apa yang selama ini kucoba sampaikan padamu.”



Gambar saya pinjam dari sini.

to be continued.

***

P.s.
Here For You yang dibawakan oleh FireHouse adalah salah satu lagu yang stay di playlist saya sejak tahun 2012, kalau tidak salah. Saya tahu lagu itu karena cukup sering diputar oleh bapak saya yang penggemar musik beraliran rock serta metal.

Menurut saya, di balik iramanya yang nge-beat, lagu ini punya pesan yang sweet dan bikin melting. Just wondering if someone would sing me this song, someday. HAHAHA.

Regards,

Posted in , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

2 Responses to [Rendrana] Rendra si Pengganggu

  1. Dear Echa,

    Menurut saya, di balik alur yang mengalir, cerpen ini punya pesan yang sweet dan bikin melting. Ngingetin aku pada gaya ungkapnya Winna Effendi kalo lagi bertutur. That's sweet. Potensial nih jadi novelis? Hehe.

    Salam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Mbak Kartini, makasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak :D

      Waaaah masa sih kayak bahasanya Winna Efendi? Masih jauh ah mbak, hehehe. Pasti Mbak Kartini yang novelis ya.. kapan-kapan mampir lagi ya, ditunggu masukan selanjutnya.

      Anyway, saya suka nama mbak! :)

      Delete

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.