[Rendrana] Laki-laki dengan Jeans Belel

pic from -
"Tahukah kau, apa yang menyebabkan matahari bersinar demikian cerahnya pagi ini?"

Aku tiba di pertengahan modul tentang humanisme ketika suara serak Rendra memecah keheningan sekaligus konsentrasiku.

"Jangan berisik atau kau bisa pindah ke taman lain, bunga-bunga di sana mungkin tak keberatan kauajak mengobrol sebentar," tukasku tanpa mengalihkan pandangan dari buku.

Rendra mengeluarkan suara yang terdengar seperti dengusan kecil.

"Lucu," katanya. "Kausebut sepetak halaman berumput ini sebuah taman? Yah, aku tidak menyalahkanmu atas kegagalan menanam bunga matahari waktu i"

"Ren!" aku membanting buku ke pangkuan, "Jangan ganggu aku ketika sedang membaca. Kita tahu peraturannya."

Entah apa yang membuatku begitu emosional pagi ini. Mungkin kenyataan bahwa komporku rusak dan aku terancam tidak makan seharian, sebab orang yang kuminta untuk memperbaiki baru bisa datang besok pagi. Fakta lainnya, aku tidak mempersiapkan anggaran untuk membeli makan di luar hari ini. Rancangan keuangan adalah sesuatu yang sakral, tak boleh dilanggar. Perutku harus bisa berkompromi untuk menepati prinsip itu.

Namun, ujian akan dimulai dalam waktu dekat dan aku mulai khawatir, bagaimana bisa aku menjejalkan seluruh materi ke dalam otakku sementara perut ini merengek minta jatah sarapan?

"Kau ini kebelet buang air atau bagaimana?" Lagi-lagi suara serak Rendra memasuki indera pendengaranku.

"Hah?"

"Raut wajahmu menunjukkan ekspresi orang sedang kena sembelit, atau paling tidak, mendekati itu."

Ingin rasanya aku menggebuk Rendra dengan buku tebal ini. Tetapi, alih-alih merasa kesal, aku justru tersenyum simpul menanggapi ejekannya.

"Karena kau tak kunjung menjawab pertanyaanku—"

"Pertanyaan yang mana?"

"Kau mungkin tak mendengar aku bertanya," ucap Rendra seraya bangkit dari bangku yang kami duduki sejak satu jam yang lalu, "Mengapa pagi ini matahari bersinar demikian cerahnya?"

Aku diam. Menunggu apa yang akan dikatakan laki-laki yang kini berdiri di hadapanku, dengan kedua tangan dimasukkan ke saku jeans belelnya.

"Akan kuberitahu jawabannya," Rendra memberi jeda beberapa detik, dan aku terkejut mendapati diriku menahan napas dengan hati berdebar, hingga akhirnya ia melanjutkan kalimatnya. "Matahari tak ingin memperburuk suasana hatimu. Karena itulah ia membagi sinarnya yang lembut dan hangat, berharap dengan begitu kau akan merasa lebih baik."

"Tunggu, dari mana matahari tahu kalau suasana hatiku sedang buruk?" Aku refleks melemparkan pertanyaan tak penting itu.

"Tentu saja, akulah yang memberitahunya," sambar Rendra. "Apapun yang terjadi padamu, aku selalu tahu. Tak ada yang lebih pandai membaca gelagatmu daripada aku."

Kali ini, aku berusaha mati-matian menahan senyum agar tak merekah terlalu lebar, tak peduli itu membuat wajahku terlihat lebih aneh daripada ekspresi orang yang kena sembelit. Aku tidak mau membuat Rendra puas dengan terlihat senang mendengar gombalannya yang picisan itu. Lihat saja, kini dia mengulurkan sebelah tangannya padaku.

"Sebaiknya kau menjaga pola makanmu supaya tak benar-benar menderita sembelit," ujarnya dengan raut sok serius, "Berdirilah! Kita harus jalan cepat ke warung soto Pak Gali, atau semangkuk soto babat yang sedap batal masuk perut!"

Rendra menurunkan tangannya dan mulai berjalan menuju pagar yang setengah terbuka. Ketika menyadari aku belum beranjak dari bangku di sudut halaman depan rumah yang kusebut taman, ia berseru tak sabar, "Tenang saja, Na, aku yang traktir!" 


to be continued.


***

Yeay, akhirnya saya akan mulai memposting cerita bersambung di blog ini. Hitung-hitung untuk melengkapi proyek #pakpolisiblog selama beberapa hari ke depan. Maaf ya kalau ceritanya garing, saya masih belajar. Selamat menyimak! :)

Regards,

Posted in , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

2 Responses to [Rendrana] Laki-laki dengan Jeans Belel

  1. ini sih keren banget chaaak! dua jempol deh buat kamu! ditunggu lanjutannya yaa wuhuuu :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah beneran menepati janjimu buat mampir, makasih udah baca sinta :D

      Delete

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.