Tentang Alika

Matahari bersinar terik siang ini. Aku memperlambat laju sepeda ketika hendak berbelok memasuki gang di antara deretan toko yang menjual cinderamata khas Jogja, khususnya busana berbahan batik. Akhir pekan ini, tak diragukan lagi jalanan penuh sesak oleh wisatawan menjadikan Jogja sebagai tujuan berlibur. Karena rumahku terletak tak jauh dari pusat kota sekaligus merupakan kawasan industri souvenir, aku tak punya pilihan selain menuntun sepeda di antara becak-becak yang terparkir di muka gang.

Saat melewati masjid kampung, aku berpapasan dengan perempuan berjilbab yang aku kenal. Aku mengangguk dan tersenyum untuk menyapanya, dan ia membalas dengan lirikan sekilas. Ia memacu  sepeda motor merahnya menuju arah berlawanan, keluar dari gang.

Perempuan itu bernama Alika, tinggal persis di sebelah lapangan kampung kami. Usianya kira-kira dua tahun lebih tua dariku. Ia baru saja lulus dari SMA, dan kudengar ia sudah diterima di salah satu perguruan tinggi di kota kami. Alika tinggal bersama ayah dan dua adik perempuannya. Ibunya meninggal beberapa tahun lalu karena kanker. Aku ingat, ibunya adalah sosok yang ramah dan menyenangkan. Pernah aku mendengar ibuku dan beberapa tetangga membicarakan Alika, tentang alangkah tertutupnya keluarga itu setelah sang ibu tiada. Dan aku setuju.

Di kampung kami, tak banyak yang mengenal dekat Alika dan keluarganya. Mungkin hanya keluarga Mbak Puji yang tinggal di belakang rumahnya, itu pun karena mereka sebenarnya merupakan saudara jauh. Alika dan kedua adiknya tak pernah terlihat mengikuti acara kampung. Biasanya tetangga hanya melihat adik-adik Alika setiap kali keluar atau masuk pagar rumah, dengan seragam sekolah. Alika lebih sering pergi keluar, entah itu pagi, siang, atau sore, dan menurut pengamatanku, ia cukup sering pulang larut malam. Entah ke mana perginya.

Pada suatu waktu, aku mewakili remaja masjid mendapat kesempatan berinteraksi dengan Alika. Saat itu kami kekurangan tenaga pengajar untuk TPA anak-anak di kampung. Hanya Rara dan Aqis yang selama ini aktif membantu, sisanya remaja laki-laki yang masih sulit mengatur waktu, termasuk aku.

Ketika Alika ternyata bersedia membantu kegiatan TPA, aku cukup terkejut. Sebelumnya, remaja masjid pernah mengundangnya menghadiri pengajian beberapa kali, tetapi ia tidak pernah muncul dengan alasan ada acara di luar. Aku jadi ragu, bukankah perempuan itu bersekolah di SMA yang terkenal bagus agamanya. Mengapa untuk menghadiri kajian di masjid dekat rumah saja ia tidak bisa meluangkan waktu?

Ternyata, partisipasi Alika membimbing anak-anak mengaji di TPA tak berlangsung lama. Mula-mula ia memang hadir sehari-dua hari dalam seminggu, sesuai waktu yang ia sanggupi. Alika berkata, ia punya beberapa kegiatan di luar yang menuntut komitmen lebih. Lagi-lagi alasan itu. Maksudku, kalau ia memang seseorang yang pintar seperti kata orang-orang dan aktif dalam banyak kegiatan, alangkah baiknya jika ia membagi pengalaman itu dengan teman-teman di kampung. Sikapnya yang cenderung tertutup dan jarang membaur justru menimbulkan kesan sombong. Setidaknya, begitulah menurut pendapatku.

Ramadhan tahun ini telah memasuki sepuluh hari terakhir. Setiap malam, anak-anak kampung berkumpul di lapangan, mendendangkan sholawat diiringi tabuhan perkusi sebagai persiapan lomba takbiran. Warga dari segala penjuru kampung turut meramaikan kegiatan ini. Meskipun banyak juga yang hanya menonton dan bukannya ikut dalam rombongan takbiran, Alika dan adik-adiknya tetap tak pernah terlihat.

Bukannya hal itu penting bagiku. Mengapa pula aku membiarkan pikiran tentang Alika dan keluarganya menggangguku? Barangkali mereka memang punya masalah dalam bersosialisasi, kecenderungan untuk menutup diri atau sulit memulai interaksi. Bukan urusanku. Tetapi, terlepas dari betapa sulitnya mereka bergaul dengan orang kampung, aku punya firasat bahwa mereka orang baik. Bahkan kalaupun mereka memutuskan untuk terus menutup diri selamanya, tetap tak mengubah kebaikan hati seseorang, bukan? Aku yakin, Alika dan adik-adiknya pastilah mendapat didikan yang tepat dari orangtuanya. Hanya saja, lagi-lagi menguping pembicaraan tetangga, meski aku tidak begitu peduli, aku tahu kalau Alika dan keluarganya sebenarnya bisa lebih baik dari itu. Kalau saja mereka mau berusaha.

-- 

I could not tell whether it is a fiction or not. What I am trying to say is, how frustrating it is to know exactly what’s your problem but don’t have any solution. Or maybe have some, but never that brave to apply at any chance.

*insert sad emoticon here*

 


Just let me know if you read this, then I don't mind if you ask further. I'll tell the truth.

Sincerely,

Posted in , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

2 Responses to Tentang Alika

  1. Saya tahu, siapa Alika. Saya pernah jadi 'Alika' mungkin bahkan masih. Tapi Alika tidak peduli, selama Alika berniat baik, niat baiknya sudah dihitung sama yang Maha Kuasa :) Salam buat Alika.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaaaah~ semoga begitu ya, Fan :"))

      Alika bilang, salam balik buat Irfani dan keluarga. Baru aja tadi pas ketemu Intan di teladan trus rasan-rasan pengin berkunjung ke tempat Fani. Ini komentarnya njedul di blog :3

      Semoga begitu

      Delete

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.