Archive for August 2015

Tidak boleh lemah


credit photo: here

Ada saat-saat aku berharap, aku punya tempat yang bisa kukunjungi setiap kali aku ingin menghabiskan waktu sendiri. Sebuah tempat pribadi, hanya aku yang bisa mengaksesnya, tanpa gangguan orang lain. Sayang sekali rumahku tidak punya loteng atau atap datar yang terbuka, atau lemari di bawah tangga seperti kamar Harry Potter di Privet Drive. Tak ada halaman belakang luas dengan sepetak rumput di balik belukar di mana aku bisa menggelar tikar dan berbaring diam-diam. Apalagi pohon kokoh dengan pondok kayu kecil bertengger di antara dahan-dahannya, tampaknya tepat sebagai tujuan bila ingin menghindar dari keramaian. Semuanya hanya ada dalam imajinasiku.

Ada saat-saat aku merasa diriku begitu kacau, dadaku sesak menahan tekanan yang tak mungkin tumpah begitu saja di depan anggota keluarga—justru karena merekalah penyebabnya. Aku ingin menangis sejadinya, untuk kemudian merasa lega, tapi di sisi lain aku benci menjadi cengeng. Aku butuh tempat selain kamar tidurku yang sudah kerap menjadi saksi pergolakan batin, luapan segala emosi. Hari-hari di mana aku merasa ada beban memberati bahuku, dan aku lelah akan semua itu. Tetapi, sekali lagi, aku tak suka menjadi pengeluh.

Ada saat-saat aku larut dalam ingatan masa lalu. Mengenang momentum bahagia yang tidak mungkin terulang kembali. Tentang keluargaku yang tak lagi utuh setelah ibu pergi, tentang bagaimana kami berusaha mempertahankan makna keluarga itu sendiri. Seringkali, aku membiarkan diriku terbawa arus rindu. Rasa kehilangan masih bercokol dalam hati, menguntai pilu dan sedikit nyeri. Tanpa bisa dicegah, aku mulai membandingkan dengan kondisi keluarga kami kini. Berandai-andai jika saja ibu masih di sini, pasti segalanya lebih teratur dan mudah dijalani. Saat itulah sebenarnya aku tersandung, berkutat pada problem tanpa solusi.

Maka, saat kekacauan itu terjadi, yang bisa kulakukan ialah menguatkan diri. Yakin bahwa aku sanggup menjalani ini, bersama keluarga kecilku. Aku tidak boleh lemah, karena jika aku jatuh lantas berlama-lama meratapi nasib dan bukannya segera berdiri, siapa yang akan menguatkan anggota keluarga yang lain?

Aku harus selalu kuat, untuk kedua adikku. Untuk ayahku.

Dan, usai masa-masa sulit itu berlalu, aku tak perlu lagi mencari tempat sembunyi. Begitu aku bergabung ke lingkaran teman-teman untuk ikut tertawa, artinya hidupku sudah baik-baik saja.

Anggap saja begitu.

Posted in , , , , , , , | 1 Comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.