Archive for September 2015

Random Thought part 128.473

Ketika laki-laki membuat tulisan tentang perempuan yang dia suka, kenapa kesannya manis sekali? Tulisan itu memunculkan sisi romantis dalam diri si lelaki, sebagai bentuk rasa sayangnya buat sang pujaan.

Tetapi kalau perempuan mencoba mendeskripsikan laki-laki yang dia kagumi, atau menuangkan perasaannya pada orang yang dia sayang melalui tulisan, kenapa kesannya justru jadi menye...


Atau hanya aku yang berpikiran begitu? (Dan merasa menye saat membaca ulang tulisan-tulisan-yang-mungkin-hanya-aku-yang-tahu-setiap-kisah-di-baliknya. Entahlah.)

No offense, ini tidak ada kaitannya dengan perempuan lain yang pandai membahasakan rasa; aku bicara tentang diri sendiri yang begitu payah dalam urusan cinta. (Lol kenapa ujungnya curhat.)

(Namanya juga Sekar.)

Cheers,

Posted in , , , , | 1 Comment

Bagaimana menafsirkan - bagian dua

sepuluh / sembilan

aku ingin tanya, tapi nyaliku ciut. kenapa bukan kamu saja yang memperjelas semuanya? ataukah memang kamu berniat menjadikan ini sebuah rahasia?


sebelas / sembilan

[sepertinya aku mulai gila.]

[aku tidak percaya ini terjadi. mungkin aku sedang bermimpi, ah, kalau toh ini mimpi, aku punya kendali. biarkan aku sejenak menikmati, bangunkan aku nanti-nanti.] 

Bagaimanalah aku hendak menuangkan perbincangan kita ke dalam narasi? Sedang hati dan otakku terlibat dialog sendiri. Semuanya berjalan terlalu mudah, bahkan sebelum aku berani mengharapkannya untuk terjadi.

Dan kau. Jika saja aku tahu apa yang ada dalam kepalamu. Jangan-jangan kau puas tertawa, untuk aku yang demikian polosnya...


dua belas / sembilan

...seperti ada yang ditahan agar tak muncul ke permukaan. Mungkin kau enggan, mungkin juga aku yang terlalu memikirkan.

Beberapa kenyataan tak bisa dihindari, dan aku belum berhenti menerka-nerka dalam hati. Padahal, kau mungkin sudah lupa. Kau mungkin saja tak menganggap segala yang terjadi itu istimewa.

Mungkinkah hanya aku yang masih mencari, bagaimana menafsirkan...

Yogyakarta, 16 September 2015.

Posted in , , , , | Leave a comment

Bagaimana menafsirkan - bagian satu

dua / sembilan

[mereka belum juga datang. orang-orang di sini seperti menertawakanku yang sendirian.]
Hei, lekas kemarilah!

[aku bisa membayangkan dia duduk di sana, menunggu. aku bisa saja datang lebih awal, tapi aku takut akan terasa canggung bila kami duduk berdua saja...]
Ya, aku ke sana.



Lalu kita  (dan yang lain) terlibat pembicaraan yang telah diagendakan.
Lalu malam turun, dan untuk satu dan lain alasan kita memutuskan segera pulang.


[kau memandangi jalanan.]
Belum begitu larut.

Aku memilih diam.
[aku tahu kaupunya pengertian tersendiri soal malam. kalau ingin pulang lebih malam, kita pergi berdua saja...]


lima / sembilan

bukannya dunia terasa seperti milik berdua. karena memang nyatanya kita di tengah kawan-kawan yang ramai bicara. hanya saja, aku sudah cukup senang berjalan bersisian denganmu, malam itu.


sembilan / sembilan


[seharusnya dia ada di antara orang-orang yang hadir sore ini.]

[aku mengabaikan kesepakatan! satu kesempatan untuk bertemu dengannya terbuang.]

tetapi kemudian kau membuatkan kesepakatan baru untuk kita. jantungku entah berhenti berdetak, entah hendak mencelat keluar dari tempatnya sebab berdebar demikian kencangnya.

berbagai penafsiran berkelebat dalam benak, dan aku mati-matian menahan diri agar tidak tersenyum sepanjang hari seperti orang bodoh, dan aku mati-matian mengingatkan diri supaya berhati-hati. soal hati...

Yogyakarta, 11 September 2015.

Posted in , , , , | Leave a comment

Bagian dari Ini

Ketuk palu, dentang lonceng, tabuhan gong atau apalah itu sudah dibunyikan sebagai tanda dimulainya babak baru, kemudian aku mendapati diriku dibawa meluncur bersama Sang Waktu. Menyusuri jalan berpagar batu, disambut halaman berumput dan bangunan yang makin sering aku tuju. Bertemu orang asing yang seterusnya akan tetap asing atau mungkin nantinya kusebut teman baru.

Tepukan di bahu, dan sesekali terdengar saling panggil nama. Deretan meja, kursi panjang di koridor, kantin, serta sudut-sudut strategis dipenuhi orang-orang. Beberapa di antara mereka berbincang diselingi tertawa, aku menyaksikan saja sembari di kepalaku membenak tanya: siapa aku di antara manusia-manusia ini?

Aku berjalan lurus ke depan, jika kemarin lebih banyak menunduk maka hari ini aku menatap penasaran: cerita apa yang disimpan oleh manusia-manusia ini?

Dari semua yang di luar pengetahuanku, mengenal sedikit demi sedikit adalah sukacita. Mengerti sebagian kecil adalah proses, dan memahami secara perlahan ialah bentuk adaptasi dengan lingkungan baru.

Aku belum jadi siapa-siapa. Aku masih perlu mencari tahu tentang segala sesuatunya. Meski sempat terlintas cemas akan visi masa depan yang belum pasti, aku akan berusaha menjalani hari-hari mendatang dengan segenap prasangka baik—karena satu keyakinan: aku bagian dari ini.

Suatu senja di sana (really!). Captured by me.
Boleh ya, aku jadi bagianmu?

Posted in , , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.