Bagaimana menafsirkan - bagian dua

sepuluh / sembilan

aku ingin tanya, tapi nyaliku ciut. kenapa bukan kamu saja yang memperjelas semuanya? ataukah memang kamu berniat menjadikan ini sebuah rahasia?


sebelas / sembilan

[sepertinya aku mulai gila.]

[aku tidak percaya ini terjadi. mungkin aku sedang bermimpi, ah, kalau toh ini mimpi, aku punya kendali. biarkan aku sejenak menikmati, bangunkan aku nanti-nanti.] 

Bagaimanalah aku hendak menuangkan perbincangan kita ke dalam narasi? Sedang hati dan otakku terlibat dialog sendiri. Semuanya berjalan terlalu mudah, bahkan sebelum aku berani mengharapkannya untuk terjadi.

Dan kau. Jika saja aku tahu apa yang ada dalam kepalamu. Jangan-jangan kau puas tertawa, untuk aku yang demikian polosnya...


dua belas / sembilan

...seperti ada yang ditahan agar tak muncul ke permukaan. Mungkin kau enggan, mungkin juga aku yang terlalu memikirkan.

Beberapa kenyataan tak bisa dihindari, dan aku belum berhenti menerka-nerka dalam hati. Padahal, kau mungkin sudah lupa. Kau mungkin saja tak menganggap segala yang terjadi itu istimewa.

Mungkinkah hanya aku yang masih mencari, bagaimana menafsirkan...

Yogyakarta, 16 September 2015.

Posted in , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.