Bagaimana menafsirkan - bagian satu

dua / sembilan

[mereka belum juga datang. orang-orang di sini seperti menertawakanku yang sendirian.]
Hei, lekas kemarilah!

[aku bisa membayangkan dia duduk di sana, menunggu. aku bisa saja datang lebih awal, tapi aku takut akan terasa canggung bila kami duduk berdua saja...]
Ya, aku ke sana.



Lalu kita  (dan yang lain) terlibat pembicaraan yang telah diagendakan.
Lalu malam turun, dan untuk satu dan lain alasan kita memutuskan segera pulang.


[kau memandangi jalanan.]
Belum begitu larut.

Aku memilih diam.
[aku tahu kaupunya pengertian tersendiri soal malam. kalau ingin pulang lebih malam, kita pergi berdua saja...]


lima / sembilan

bukannya dunia terasa seperti milik berdua. karena memang nyatanya kita di tengah kawan-kawan yang ramai bicara. hanya saja, aku sudah cukup senang berjalan bersisian denganmu, malam itu.


sembilan / sembilan


[seharusnya dia ada di antara orang-orang yang hadir sore ini.]

[aku mengabaikan kesepakatan! satu kesempatan untuk bertemu dengannya terbuang.]

tetapi kemudian kau membuatkan kesepakatan baru untuk kita. jantungku entah berhenti berdetak, entah hendak mencelat keluar dari tempatnya sebab berdebar demikian kencangnya.

berbagai penafsiran berkelebat dalam benak, dan aku mati-matian menahan diri agar tidak tersenyum sepanjang hari seperti orang bodoh, dan aku mati-matian mengingatkan diri supaya berhati-hati. soal hati...

Yogyakarta, 11 September 2015.

Posted in , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.