Archive for October 2015

Untuk Sebuah Kenyataan

credit photo here

Dear Agatha,

Aku dengar kau baru saja kehilangan sahabat baikmu. Seorang perantau sama sepertimu, pemuda dari bagian barat pulau, memilih kota ini untuk menetap dan mencoba peruntungannya.

Aku sendiri belum lama mengenalnya, baru sebentar malah. Aku ingat saat pertama kali bertatap muka dalam sebuah wawancara, yang kini membuatku sadar; tempat inilah yang mempertemukan kita. Tempat ini yang membawaku mengenal teman-teman dengan antusias yang sama: dunia kanak-kanak dengan segala proses berkembangnya.

Dia salah satu yang paling aktif berpartisipasi di sana. Cenderung menunjukkan aksi tanpa banyak bicara. Pembawaannya yang sederhana menjadikan dia mudah bergaul dengan siapa saja. Pada awal aku bergabung, aku menelisik satu demi satu pribadi-pribadi baru, tak terkecuali dia. Dan, semakin aku mengamatinya, semakin aku ingin menelusuri lebih jauh kepribadiannya. Satu hal yang menjadikan aku kian terkesan adalah tulisan-tulisannya yang begitu indah. Dia seorang yang pandai merangkai kata-kata, kau setuju kan, Agatha?

Kekagumanku lantas tumbuh berbunga, namun aku tidak memberitahu siapapun tentang itu. Aku seorang pemalu, dan aku memang tak pandai menerjemahkan rasa. Terlebih karena antara kami terpaut usia yang jauh berbeda. Ketika beberapa waktu terakhir dia menunjukkan gestur peduli, aku senang sekali. Dia membuatku merasa diperhatikan dan itu rasanya seperti mimpi. Meski mungkin hanya perasaanku semata, meskipun bisa jadi dia hanya ingin menemani tanpa maksud apa-apa. Aku sudah senang, bagai seorang gadis cilik menerima permen kapas dengan hati girang, tak lagi berharap yang macam-macam.

Ketika tiba-tiba dia pergi, Agatha, aku tidak tahu lagi apa yang kurasakan. Aku begitu kehilangan, tapi aku berpikir, bukan hanya aku yang sedih karena kepergiannya. Ada perempuan-perempuan yang lebih lama menangisinya, ada ibu dan adiknya yang harus kembali menyesap pahit karena kehilangan satu lagi sosok laki-laki dalam keluarga mereka. Dan kau, yang kelihatannya selalu menampakkan wajah ceria, tapi pasti sangat kehilangan... karena dia adalah sahabat yang baik, teman berbincang dalam setiap waktu luang, sering melakukan apapun untuk membuat orang-orang di sekitarnya senang.

Agatha, aku ingin bilang terimakasih. Terimakasih karena diam-diam kau memperhatikan, dan secara tidak langsung menjadi benang yang menghubungkan. Terimakasih karena telah menjadi orang yang menyampaikan apa yang tidak sempat aku ungkapkan. Terimakasih sudah mempercayaiku untuk tahu semua cerita dari sudut pandangmu, yang membuatku menghela nafas panjang: ah, betapa hidup ini penuh kejutan.

Dia sudah pergi, membawa seluruh beban yang ditanggungnya, meninggalkan kenangan bagi orang-orang yang menyayanginya. Dan meskipun rasanya aku ingin merutuki diriku atas banyak hal yang tidak aku lakukan, aku tahu bukan itu yang dia inginkan. Seperti pernah kau katakan, setidaknya aku bisa menjadikan ini sebagai pelajaran. Sekali lagi, terimakasih karena sudah berbagi, Agatha. Dia pastilah sangat beruntung memiliki sahabat sepertimu, yang senantiasa menunggui hingga saat-saat terakhirnya. Semoga sahabatmu, sahabat kita, menemukan kebahagiaan di tempat dia berada sekarang.

Tertanda,


P.s. Forgive me for ignoring the word "mbak" before your name, Mbak! I posted this here as my gratitude for you, I know that someday you will read it anyway. I keep thinking about the way you told me that thing at the hospital, how you re-tell your conversation with Mas P, and still... I remember exactly the thrill I got that time. 

P.s.s I wonder if there's another MKT-friend who dropped by my blog... I don't know how will I get a response from you. I guess it will be something surprising to be known, but that's the truth. Perhaps you want to ask me about the story, but I'm afraid I can't explain more because... this is too personal for me...

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Sternschnuppe


Jemari tanganku seperti membeku,
sementara kaki kupaksakan melangkah, hingga
di tanah bersalut debu tercetak jejak sepatu.
Tatkala melempar pandang pada langit malam, sejenak terpaku,
takjub disertai sedikit pilu;
k a u k a h   i t u ?
Di antara taburan bintang, binar cemerlang,
tapi membalas tatapanku  s a y u.
 



//catatan sepulang dari Sinolewah, 18.10.2015.
Gambar dipinjam dari  sini.

Tercekat saat mengingat,

Posted in , , , , , | Leave a comment

Masa Kecil

Alasan aku seringkali senyum-senyum sendiri saat melihat tingkah laku anak-anak di sekitar adalah karena, ya, memangnya apa yang bisa menahanmu untuk tidak tersenyum?

Anak-anak belajar berjalan dititah mamanya.

Anak-anak, usia balita, melompat-lompat sambil bawa balon. Alangkah manisnya.

Anak-anak, sekitar TK, berkejaran dengan teman-temannya hingga salah satu dari mereka jatuh terjerembap lalu mulai menangis. Kemudian temannya menghampiri dengan khawatir, berusaha menghibur dan membantunya berdiri.

Anak-anak, tingkat awal sekolah dasar, berjalan mendekati kemudian bertanya, "besok main ke sini lagi, Kak?"

Anak-anak, cerewet bertanya pada mamanya tentang ini dan itu. Anak-anak yang terpatah menyenandungkan lagu Twinkle Twinkle Little Star. Anak-anak yang sibuk dengan boneka atau mobil-mobilannya, meskipun kini mungkin jarang ditemui (gadget seringkali tampak lebih menarik bagi mereka). Anak-anak berbagi camilan, berebut mainan, berinteraksi satu sama lain dengan begitu ekspresifnya.

Alasan mengapa aku tak bisa menahan senyum saat melihat anak-anak di sekitar adalah karena, lihatlah, ada kekuatan masa kecil tersimpan pada mata mereka. Karena, di sana terpancar kesederhanaan dan segala tentang kejujuran, apa adanya, tak dibuat-buat. Dan, menyelami mata mereka yang kadang berkilat jenaka, kadang sayu sendu usai banjir air mata, aku ingin membisikkan, "Dik, masa depanmu sungguh masih teramat panjang..."

Lalu aku tiba-tiba begitu rindu pada sebuah masa yang bernama: masa kecil.

Yogyakarta, 3 Oktober 2015.

Posted in , , , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.