Pages - Menu

Sunday, October 4, 2015

Masa Kecil

Alasan aku seringkali senyum-senyum sendiri saat melihat tingkah laku anak-anak di sekitar adalah karena, ya, memangnya apa yang bisa menahanmu untuk tidak tersenyum?

Anak-anak belajar berjalan dititah mamanya.

Anak-anak, usia balita, melompat-lompat sambil bawa balon. Alangkah manisnya.

Anak-anak, sekitar TK, berkejaran dengan teman-temannya hingga salah satu dari mereka jatuh terjerembap lalu mulai menangis. Kemudian temannya menghampiri dengan khawatir, berusaha menghibur dan membantunya berdiri.

Anak-anak, tingkat awal sekolah dasar, berjalan mendekati kemudian bertanya, "besok main ke sini lagi, Kak?"

Anak-anak, cerewet bertanya pada mamanya tentang ini dan itu. Anak-anak yang terpatah menyenandungkan lagu Twinkle Twinkle Little Star. Anak-anak yang sibuk dengan boneka atau mobil-mobilannya, meskipun kini mungkin jarang ditemui (gadget seringkali tampak lebih menarik bagi mereka). Anak-anak berbagi camilan, berebut mainan, berinteraksi satu sama lain dengan begitu ekspresifnya.

Alasan mengapa aku tak bisa menahan senyum saat melihat anak-anak di sekitar adalah karena, lihatlah, ada kekuatan masa kecil tersimpan pada mata mereka. Karena, di sana terpancar kesederhanaan dan segala tentang kejujuran, apa adanya, tak dibuat-buat. Dan, menyelami mata mereka yang kadang berkilat jenaka, kadang sayu sendu usai banjir air mata, aku ingin membisikkan, "Dik, masa depanmu sungguh masih teramat panjang..."

Lalu aku tiba-tiba begitu rindu pada sebuah masa yang bernama: masa kecil.

Yogyakarta, 3 Oktober 2015.

No comments:

Post a Comment