Pages - Menu

Thursday, November 26, 2015

Kamu dan Buku

Rasanya baru kemarin kita duduk di belakang loket; buku yang kubawa untuk menghabiskan waktu berpindah dari tanganku ke tanganmu. Kubilang, "Cerita-cerita dalam buku ini aneh, aku tidak mengerti." Kau tertawa lalu menyahut, "Aku bisa ngerti, menurutku ceritanya kurang greget." Dan aku hanya mengedikkan bahu (dalam hati menambahkan: lucu juga membahas isi buku di tengah tugas jaga loket begini).

Rasanya baru kemarin aku kepayahan menjaga ekspresi agar tidak lepas kendalimenahan senyum saat mendapati sebuah notifikasi: foto sebuah kover buku masih terpajang di rak toko, buku yang kamu sarankan agar kubeli. Dan kemudian, kamu justru menawarkan hendak membelikannya untukku, karena aku memintanya. Tentu kujelaskan bahwa aku bercanda.

"Padahal tadi nanyanya serius loh."

Tahan senyum. Tahan senyum!

Ini bukan tentang seberapa menariknya buku itu, atau adanya kesempatan aku dapat memiliki sebuah buku tanpa merogoh kocek sendiri. Ini tentang kamu yang sedang berada di toko buku, dan ketika melihat satu buku, kamu teringat akan aku.


Sebut aku hiperbolis. Mudah terkesan pada suatu peristiwa, menganggap yang terjadi begitu luar biasa. Tetapi bukankah aku pernah bilang kalau aku memang mudah mengagumi perkara sederhana?

Kamu dan buku. Dua hal yang sepertinya sudah menyatu. Kamu dan kecintaanmu pada buku-buku, adalah sesuatu yang sejak awal tertangkap pengamatanku.

Setelah kepergianmu pun, yang tersisa di tanganku adalah buku. Dua di antaranya kupinjam langsung kepadamudan belum sempat kukembalikan. Sedangkan satu yang lain pemberian keluargamu: sebagai (tambahan) kenang-kenangan, katanya.

Kenang-kenangan? Mengapa terdengar ganjil sekali? Juga ketika dosenku menyebut judul sebuah buku berikut nama pengarangnya, buku yang sama seperti yang kau rekomendasikan waktu itu, mengapa rasanya sesak di hati? Bukankah belum lama sejak aku mengenalmu, lalu kita banyak menghabiskan waktu dalam temu, kini kehadiranmu digantikan oleh apa yang disebut "kenang-kenangan."

Keganjilan itu, rasa sesak itu... mungkin karena kini dirimu tak ada lagi. Aku tak lagi bisa menanyakan tentang ini dan itu, tak lagi bisa mendengar kesanmu atas buku-buku yang kita baca. Lebih dari itu, mungkin karena aku telah kehilangan sosok teman berbagi.


Izinkan aku menyimpan beberapa di antara koleksi bacaanmu,