Archive for December 2015

Dua Surat dalam Satu Amplop

pic from -
Dear ibuku tersayang, Ibu Ika.

Entah sudah berapa kali 22 Desember menghampiri sejak ibu pergi, aku tak menghitungnya lagi. Berbagai momentum tak bisa kami lalui bersamamu, termasuk salah satunya sekadar membisikkan selamat Hari Ibu, kami tak lagi mampu. Aku dan adik-adik seakan terlalu kelu, bukan karena gengsi atau malu, tapi karena sosokmu tak lagi tertangkap indera. Kita tak mungkin lagi bertatap muka.

Ibu, belakangan ini aku berpikir, sekeras apapun aku berusaha mengabadikan kenangan tentangmu dalam benakku, suatu saat nanti mungkin saja aku akan lupa. Aku takut itu terjadi, Bu. Aku takut aku akan lupa bagaimana rasanya memiliki ibu, bagaimana mencium tanganmu sebelum meninggalkan rumah, bagaimana rasanya ada yang mengkhawatirkan ketika aku terlambat pulang. Terkadang aku nyaris kelepasan menanyakan hal itu pada teman-teman, untungnya berhasil kutahan. Kalau tidak, mereka pasti bingung menanggapi pertanyaan, "Bagaimana rasanya punya ibu?"

Aku tidak bermaksud sarkastis dengan melontarkan pertanyaan itu, Bu. Maksudku hanyalah supaya bisa mendengar cerita dari teman-teman, entah bagian manapun yang berkenan mereka ceritakan. Dengan begitu, aku jadi punya bayangan tentang hal-hal yang biasa dilakukan seorang ibu dengan anaknya, dan itu akan membantu mempertahankan ingatanku tentang ibu.

Tidak apa-apa, kan, Bu?

Ah, aku telah menghitungnya sekarang: ini kesembilan kalinya kami tak bisa mengucapkan selamat Hari Ibu secara langsung kepadamu. Hanya bisa bergumam dalam hati, disergap haru ketika melihat update teman-teman memasang foto bersama ibunya. Jika saja mereka sadar, setiap detik bersama ibu adalah waktu yang paling berharga. Setelah ibu tak ada, pelukan singkat atau obrolan sederhana menjadi sesuatu yang teramat dirindukan.

Dear ibu, kami tak pernah berhenti mengirim doa untuk ibu, sama seperti kami tak pernah berhenti merindukanmu.

Salam sayang dari putri sulungmu.

***


pic from -
Dear bapakku tercinta, Bapak Bagus,

Saat aku menulis ini, bapak masih dalam perjalanan pulang dari Bandung. Hati-hati di jalan, Pak. Aku dan adik-adik akan menunggu sampai bapak tiba di rumah, untuk kemudian mengucapkan langsung padamu:

Selamat Hari Ibu, Pak.

Kepada bapaklah kami mengucapkan kalimat itu setiap tanggal 22 Desember tiba. Terimakasih sudah berperan sebagai ibu di rumah, di samping berupaya keras mencari nafkah. Terimakasih karena bapak sudah menjadi orang yang tak pernah lelah berusaha memenuhi kebutuhan kami setelah ibu pergi. Bapak yang dulu selalu menyediakan nasi, mencarikan beraneka resep masakan agar kami mandiri, menemani kami mengerjakan PR dan belajar jika hendak ulangan. Bapak telah mengambil tugas ibu dan memastikan kami tidak kekurangan kasih sayang.

Tidak masalah jika nasi goreng buatan bapak terlampau asin, atau bapak lupa mematikan kompor ketika memasak air. Kami banyak belajar dari bapak, kerja keras dan kreativitas bapak membuat kami termotivasi menjadi orang yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Kami bangga menjadi anak-anak bapak, dan kami harap ada kesempatan bagi kami untuk berprestasi sehingga bapak dan ibu juga bangga pada kami.

Tetapi, Pak, izinkan aku bertanya: pernahkah bapak terpikir untuk mencari pendamping lagi? Wanita dewasa yang akan menjadi ibu bagi kami, menurunkan nilai-nilai keperempuanan yang kami butuhkan. Bukannya kami tak menghargai usaha bapak selama ini, karena kami yakin bapak telah berusaha sebaik-baiknya menjalankan dua peran sekaligus. Hanya saja... aku merasa kami masih memerlukan cekatan tangan seorang ibu, terutama untuk membimbing adik-adik yang masih dalam masa perkembangannya.

Aku tahu, tidak mudah untuk mewujudkan itu. Aku hanya berharap, ada keajaiban yang membawa keluarga kita ke arah yang lebih baik. Bapak tetap ayah paling super yang sangat kami sayangi, untuk itu kami tak ingin melihat bapak sedih dan merasa sendiri.

Yogyakarta, 22 Desember 2015.

Putrimu,


P.s. Beberapa menit setelah aku memposting tulisan ini, aku membaca artikel yang menyatakan kalau ternyata 22 Desember bukan Hari Ibu, melainkan Hari Pemberdayaan Perempuan. Artikel tersebut justru menunjukkan kontradiksi yang tajam terhadap anggapan adanya Hari Ibu di Indonesia. Nah, kalau ternyata tanggal ini diperuntukkan bagi perempuan Indonesia―termasuk ibu, orangtua perempuan―maka 'surat' yang aku tulis untuk bapak ini jadi sedikit tidak nyambung... hahaha. Tapi biarlah, karena bagiku, bapak mempunyai arti yang sama pentingnya dengan seorang ibu. :)

Posted in , , , , , , , , | Leave a comment

Ik Studeer Antropologie - bagian pertama

Exclusive totebag made by me! Looks cool, isn't?
Tanpa terasa, semester pertamaku di bangku perkuliahan akan segera berakhir. Waktu berjalan cepat! Rasanya baru kemarin bingung menentukan jurusan kuliah, sibuk belajar bareng teman-teman buat persiapan Ujian Nasional, harap-harap cemas menunggu hasil SNMPTN/SBMPTN/Ujian Tulis, menyiapkan berkas registrasi masuk perguruan tinggi, lalu menjalani masa orientasi sebagai mahasiswa baru. Eh, sekarang udah mau UAS aja.

Satu semester ini, aku merasa seperti berada di posisi yang rawan... rawan diserang orang lain setiap kali ditanya, "Kuliahnya apa?" Satu-satunya jurus pertahanan diri yang aku kuasai adalah dengan memastikan ada kemantapan dalam suaraku saat menjawab, "Antropologi."

Mendengar bidang ilmu yang kusebutkan itu, rata-rata reaksi yang kudapat dari si penanya berupa alis yang berkerut, plus ekspresi bertanya jelas tergambar di raut wajah seperti baru pertama kali mendengar adanya bidang tersebut. Kalau yang pandai menjaga ekspresi, biasanya akan manggut-manggut beberapa kali... tapi tetap saja kemudian bertanya lagi, "Eh... antropologi itu belajar apa? Semacam arkeologi ya? Atau belajar benda langit? Oh itu astronomi, ding."

Tentu tidak semua orang yang memberondong dengan pertanyaan itu berniat 'menyerang', aku hanya berburuk sangka saja. Ada juga yang antusias ingin tahu lebih lanjut tentang ilmu yang kutekuni, kemudian menyatakan support yang membuatku senang mendengarnya. In fact, kebanyakan orang memang masih asing dengan jurusan antropologi, menganggap antropologi adalah jurusan yang nggak jelas deh besok lulusannya bakal jadi apa. Hmm, benarkah begitu? (Aku pun tak tahu. HAHAHAHA.)

Aku sendiri baru terpikir ingin masuk antropologi saat kelas 3 SMA. Dulu waktu SMP, aku sudah mantap ingin kuliah psikologi, sampai-sampai hampir semua teman tahu tentang keinginan itu. "Iya, Kar, kamu cocok jadi psikolog, kamu kan pendengar yang baik dan sabar menghadapi orang," komentar teman-teman saat itu. Ketika penjurusan di SMA, aku langsung memilih IPS karena sejak awal memang lebih tertarik mempelajari ilmu sosial. Dan... memilih jurusan IPS berarti siap menerima konsekuensi dipandang sebelah mata oleh masyarakat, yang sayangnya masih belum memahami kalau sebenarnya ilmu sosial tak kalah penting dibanding dengan ilmu eksak. Buat kamu yang SMA-nya mengambil IPS (atau Bahasa), pasti tahu banget rasanya. :')

Nah... saat SMA itulah aku kembali berpikir mengenai jurusan kuliah yang benar-benar aku inginkan. Aku membuat daftar bidang ilmu yang available bagi anak IPS: ilmu ekonomi, akuntansi, manajemen, komunikasi, hukum, psikologi, ilmu politik, sosiologi, sosiatri, dan segala cabang ilmu budaya. Teman-teman sekelasku banyak yang langsung menyatakan jurusan yang mereka inginkan, dan memulai perjuangan agar bisa diterima di jurusan yang passing grade-nya terbilang tinggi. Jujur saja, aku tidak begitu pandai soal angka, jadi aku sama sekali tidak berniat melanjutkan kuliah di bidang ekonomi. Selain itu aku juga tidak ingin kelak jadi pekerja kantoran yang setiap hari duduk di balik meja; aku lebih tertantang menggeluti pekerjaan yang dinamis dan mengaplikasikan praktik di lapangan. Maka, pilihanku pun jatuh ke jurusan Pariwisata.

Aku lupa apa yang membuatku kembali berubah pikiran, padahal waktu itu aku sudah yakin ingin kuliah jurusan Pariwisata UGM, sampai sudah nge-save daftar mata kuliahnya segala. Mendekati pendaftaran SNMPTN, aku justru melirik Antropologi Budaya sebagai jawaban atas bisikan hati, "Sebenarnya apa yang kamu minati dan ingin kamu pelajari, dan bagaimana supaya bidang yang kamu suka itu bisa mengantarkanmu menuju cita-cita?" *ceileh*

credit photo: here // quotes edited by me
Banyak hal dalam hidupku yang aku putuskan sesuai kata hati, salah satunya adalah dalam memilih jurusan kuliah ini. Tapi aku ingat, restu orangtua juga menjadi penentu yang sangat penting, maka kuutarakanlah maksud hati kepada bapak. Syukurlah, bapak memberi kebebasan sepenuhnya, bahkan mendukung keinginanku untuk belajar antropologi. Bapak tidak pernah melihat bidang ilmu dari passing grade-nya. Asalkan benar-benar punya niat untuk belajar, terlebih jika memang punya minat di situ, just do it anyway. Bapak bahkan memberitahuku salah satu tokoh yang mentas dari antropologi, yaitu Ibu Meutia Hatta.

Mengenai apa itu antropologi, apa saja yang dipelajari, dan bagaimana pengalamanku (yang masih sangat minim ini), akan aku ceritakan di posting selanjutnya, ya. I think it's better to keep each post not so long to read.

(Jadi intinya postingan ini antiklimaks banget. Hahaha.)

Tot kijk!

Posted in , , , , , , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.