Dua surat dalam satu amplop

pic from -
Dear ibuku tersayang, Ibu Ika.

Entah sudah berapa kali 22 Desember menghampiri sejak ibu pergi, aku tak menghitungnya lagi. Berbagai momentum tak bisa kami lalui bersamamu, termasuk salah satunya sekadar membisikkan selamat Hari Ibu, kami tak lagi mampu. Aku dan adik-adik seakan terlalu kelu, bukan karena gengsi atau malu, tapi karena sosokmu tak lagi tertangkap indera. Kita tak mungkin lagi bertatap muka.

Ibu, belakangan ini aku berpikir, sekeras apapun aku berusaha mengabadikan kenangan tentangmu dalam benakku, suatu saat nanti mungkin saja aku akan lupa. Aku takut itu terjadi, Bu. Aku takut aku akan lupa bagaimana rasanya memiliki ibu, bagaimana mencium tanganmu sebelum meninggalkan rumah, bagaimana rasanya ada yang mengkhawatirkan ketika aku terlambat pulang. Terkadang aku nyaris kelepasan menanyakan hal itu pada teman-teman, untungnya berhasil kutahan. Kalau tidak, mereka pasti bingung menanggapi pertanyaan, "Bagaimana rasanya punya ibu?"

Aku tidak bermaksud sarkastis dengan melontarkan pertanyaan itu. Maksudku hanyalah supaya bisa mendengar cerita dari teman-teman, entah bagian manapun yang berkenan mereka ceritakan. Dengan begitu, aku jadi punya bayangan tentang hal-hal yang biasa dilakukan seorang ibu dengan anaknya, dan itu akan membantu mempertahankan ingatanku tentang ibu.

Tidak apa-apa, kan, Bu?

Ah, aku telah menghitungnya sekarang: ini kesembilan kalinya kami tak bisa mengucapkan selamat Hari Ibu secara langsung kepadamu. Hanya bisa bergumam dalam hati, disergap haru ketika melihat update teman-teman memasang foto bersama ibunya. Jika saja mereka sadar, setiap detik bersama ibu adalah waktu yang paling berharga. Setelah ibu tak ada, pelukan singkat atau obrolan sederhana menjadi sesuatu yang teramat dirindukan.

Dear ibu, kami tak pernah berhenti mengirim doa untuk ibu, sama seperti kami tak pernah berhenti merindukanmu.

Salam sayang dari putri sulungmu.

***


pic from -
Dear bapakku tercinta, Pak Bagus,

Saat aku menulis ini, bapak masih dalam perjalanan pulang dari Bandung. Hati-hati di jalan, Pak. Aku dan adik-adik akan menunggu sampai bapak tiba di rumah, untuk kemudian mengucapkan langsung padamu:

Selamat Hari Ibu, Pak.

Kepada bapaklah kami mengucapkan kalimat itu setiap tanggal 22 Desember tiba. Terimakasih sudah berperan sebagai ibu di rumah, di samping berupaya keras mencari nafkah. Terimakasih karena bapak sudah menjadi orang yang tak pernah lelah berusaha memenuhi kebutuhan kami setelah ibu pergi. Bapak yang dulu selalu menyediakan nasi, mencarikan beraneka resep masakan agar kami mandiri, menemani kami mengerjakan PR dan belajar jika hendak ulangan. Bapak telah mengambil tugas ibu dan memastikan kami tidak kekurangan kasih sayang.

Tidak masalah jika nasi goreng buatan bapak terlampau asin, atau bapak lupa mematikan kompor ketika memasak air. Kami banyak belajar dari bapak, kerja keras dan kreativitas bapak membuat kami termotivasi menjadi orang yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Kami bangga menjadi anak-anak bapak, dan kami harap ada kesempatan bagi kami untuk berprestasi sehingga bapak dan ibu juga bangga pada kami.

Tetapi, Pak, izinkan aku bertanya: pernahkah bapak terpikir untuk mencari pendamping lagi? Wanita dewasa yang akan menjadi ibu bagi kami, menurunkan nilai-nilai keperempuanan yang kami butuhkan. Bukannya kami tak menghargai usaha bapak selama ini, karena kami yakin bapak telah berusaha sebaik-baiknya menjalankan dua peran sekaligus. Hanya saja, aku merasa kami masih memerlukan cekatan tangan seorang ibu... terutama untuk membimbing adik-adik yang masih dalam masa perkembangannya.

Aku tahu, tidak mudah untuk mewujudkan itu. Aku hanya berharap, ada keajaiban yang membawa keluarga kita ke arah yang lebih baik. Bapak tetap ayah paling super yang sangat kami sayangi, untuk itu kami tak ingin melihat bapak sedih dan merasa sendiri.

Yogyakarta, 22 Desember 2015.

Putrimu,


P.s. Beberapa menit setelah aku memposting tulisan ini, aku membaca artikel yang menyatakan kalau ternyata 22 Desember bukan Hari Ibu, melainkan Hari Pemberdayaan Perempuan. Artikel tersebut justru menunjukkan kontradiksi yang tajam terhadap anggapan adanya Hari Ibu di Indonesia. Nah, kalau ternyata tanggal ini diperuntukkan bagi perempuan Indonesia―termasuk ibu, orangtua perempuan―maka 'surat' yang aku tulis untuk bapak ini jadi sedikit tidak nyambung... hahaha. Tapi biarlah, karena bagiku, bapak mempunyai arti yang sama pentingnya dengan seorang ibu. :)

Posted in , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.