Ik Studeer Antropologie - bagian pertama

Exclusive totebag made by me! Looks cool, isn't?
Tanpa terasa, semester pertamaku di bangku perkuliahan akan segera berakhir. Waktu berjalan cepat! Rasanya baru kemarin bingung menentukan jurusan kuliah, sibuk belajar bareng teman-teman buat persiapan Ujian Nasional, harap-harap cemas menunggu hasil SNMPTN/SBMPTN/Ujian Tulis, menyiapkan berkas registrasi masuk perguruan tinggi, lalu menjalani masa orientasi sebagai mahasiswa baru. Eh, sekarang udah mau UAS aja.

Satu semester ini, aku merasa seperti berada di posisi yang rawan... rawan diserang orang lain setiap kali ditanya, "Kuliahnya apa?" Satu-satunya jurus pertahanan diri yang aku kuasai adalah dengan memastikan ada kemantapan dalam suaraku saat menjawab, "Antropologi."

Mendengar bidang ilmu yang kusebutkan itu, rata-rata reaksi yang kudapat dari si penanya berupa alis yang berkerut, plus ekspresi bertanya jelas tergambar di raut wajah seperti baru pertama kali mendengar adanya bidang tersebut. Kalau yang pandai menjaga ekspresi, biasanya akan manggut-manggut beberapa kali... tapi tetap saja kemudian bertanya lagi, "Eh... antropologi itu belajar apa? Semacam arkeologi ya? Atau belajar benda langit? Oh itu astronomi, ding."

Tentu tidak semua orang yang memberondong dengan pertanyaan itu berniat 'menyerang', aku hanya berburuk sangka saja. Ada juga yang antusias ingin tahu lebih lanjut tentang ilmu yang kutekuni, kemudian menyatakan support yang membuatku senang mendengarnya. In fact, kebanyakan orang memang masih asing dengan jurusan antropologi, menganggap antropologi adalah jurusan yang nggak jelas deh besok lulusannya bakal jadi apa. Hmm, benarkah begitu? (Aku pun tak tahu. HAHAHAHA.)

Aku sendiri baru terpikir ingin masuk antropologi saat kelas 3 SMA. Dulu waktu SMP, aku sudah mantap ingin kuliah psikologi, sampai-sampai hampir semua teman tahu tentang keinginan itu. "Iya, Kar, kamu cocok jadi psikolog, kamu kan pendengar yang baik dan sabar menghadapi orang," komentar teman-teman saat itu. Ketika penjurusan di SMA, aku langsung memilih IPS karena sejak awal memang lebih tertarik mempelajari ilmu sosial. Dan... memilih jurusan IPS berarti siap menerima konsekuensi dipandang sebelah mata oleh masyarakat, yang sayangnya masih belum memahami kalau sebenarnya ilmu sosial tak kalah penting dibanding dengan ilmu eksak. Buat kamu yang SMA-nya mengambil IPS (atau Bahasa), pasti tahu banget rasanya. :')

Nah... saat SMA itulah aku kembali berpikir mengenai jurusan kuliah yang benar-benar aku inginkan. Aku membuat daftar bidang ilmu yang available bagi anak IPS: ilmu ekonomi, akuntansi, manajemen, komunikasi, hukum, psikologi, ilmu politik, sosiologi, sosiatri, dan segala cabang ilmu budaya. Teman-teman sekelasku banyak yang langsung menyatakan jurusan yang mereka inginkan, dan memulai perjuangan agar bisa diterima di jurusan yang passing grade-nya terbilang tinggi. Jujur saja, aku tidak begitu pandai soal angka, jadi aku sama sekali tidak berniat melanjutkan kuliah di bidang ekonomi. Selain itu aku juga tidak ingin kelak jadi pekerja kantoran yang setiap hari duduk di balik meja; aku lebih tertantang menggeluti pekerjaan yang dinamis dan mengaplikasikan praktik di lapangan. Maka, pilihanku pun jatuh ke jurusan Pariwisata.

Aku lupa apa yang membuatku kembali berubah pikiran, padahal waktu itu aku sudah yakin ingin kuliah jurusan Pariwisata UGM, sampai sudah nge-save daftar mata kuliahnya segala. Mendekati pendaftaran SNMPTN, aku justru melirik Antropologi Budaya sebagai jawaban atas bisikan hati, "Sebenarnya apa yang kamu minati dan ingin kamu pelajari, dan bagaimana supaya bidang yang kamu suka itu bisa mengantarkanmu menuju cita-cita?" *ceileh*

credit photo: here // quotes edited by me
Banyak hal dalam hidupku yang aku putuskan sesuai kata hati, salah satunya adalah dalam memilih jurusan kuliah ini. Tapi aku ingat, restu orangtua juga menjadi penentu yang sangat penting, maka kuutarakanlah maksud hati kepada bapak. Syukurlah, bapak memberi kebebasan sepenuhnya, bahkan mendukung keinginanku untuk belajar antropologi. Bapak tidak pernah melihat bidang ilmu dari passing grade-nya. Asalkan benar-benar punya niat untuk belajar, terlebih jika memang punya minat di situ, just do it anyway. Bapak bahkan memberitahuku salah satu tokoh yang mentas dari antropologi, yaitu Ibu Meutia Hatta.

Mengenai apa itu antropologi, apa saja yang dipelajari, dan bagaimana pengalamanku (yang masih sangat minim ini), akan aku ceritakan di posting selanjutnya, ya. I think it's better to keep each post not so long to read.

(Jadi intinya postingan ini antiklimaks banget. Hahaha.)

Tot kijk!

Posted in , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.