Archive for 2016

Melantur soal jendela

Saya ingin punya rumah dengan banyak jendela. Jendela yang mengarah ke luar, supaya bisa melihat langit dan memperkirakan cuaca. Sudah banyak pengalaman saya yang menujukkan kalau lihat langit sangat penting, sungguh! Misalnya saja waktu di rumah om kemarin. Rumahnya besar tapi tak banyak jendela. Saya tak tahu kalau di luar langit mendung, padahal saya harus mencuci jaket putih yang harus kering malam itu juga, sebab esoknya akan dipakai menempuh perjalanan antarprovinsi. (Untungnya waktu itu mendungnya cuma lewat, sih. Saya nekat cuci jaket dan saya jemur di halaman belakang. Tak lama kemudian matahari muncul mengusir kelabu, jaket saya pun kering. Yeay!)

Pengalaman lainnya terjadi pada hari-hari kuliah saya. Saya sering ngendon di kos teman yang kamarnya luas dan adem. Nyaman sekali di sana untuk gelesotan sambil ngerumpi (tapi paling nyaman buat numpang tidur siang!). Sayangnya tak ada jendela yang mengarah keluar, sehingga tak bisa lihat langit. Seringkali tiba-tiba kami terlambat sadar kalau di luar turun hujan. Padahal kami harus berangkat kuliah sore, atau sudah waktunya saya pulang ke rumah. Geregetan kan kalau harus tunggu hujan reda -– tahu gitu segera cabut tadi-tadi.

Kemarin, hari pertama saya di Banyuwangi. Saya ditampung oleh Zulva dan keluarganya yang baik hati. Pagi-pagi saya numpang cuci baju bawaan dari Malang yang belum sempat dicuci -- ternyata di luar mendung! Saya dan Zulva tetap jemur baju. Waktu kami lagi seru-serunya nonton film di kamar, mendadak Zulva meloncat dari tempat tidur. Hujan, katanya! Kami buru-buru menyelamatkan jemuran.

Dari mana dia tahu kalau hujan? Dari jendela di kamarnya, tentu saja. Pendengaran yang baik juga ada gunanya, kalau hujan turun cukup deras sehingga terdengar suaranya. Tapi, awan mendung kan tak ada suaranya... begitu juga dengan aksi mencurigakan orang asing di sekitar rumah. Atau jika ada anak kecil tetangga butuh pertolongan tapi suaranya lemah. Atau ketika gebetanmu datang bawa mawar merah -- kacau kan, kalau kamu buka pintu untuknya sambil pakai baju tidur saja. Jendela sangat penting untuk antisipasi! (Dan, ya, paragraf terakhir banyak dipengaruhi imajinasi.)


masih pagi tapi sudah terang

Banyuwangi, 30 Desember 2016  |  05.44 WIB

Posted in , , , , , , | Leave a comment

Keluarga Kedua

Kalau saya tidur larut malam di rumah sendiri, itu hal biasa. Tapi malam ini berbeda, karena saya sedang berada jauh dari rumah. Jauh dari hingar-bingar Kota Yogyakarta yang belum lama ini meresmikan kawasan pedestrian di sepanjang Jalan Malioboro-nya. Senang sih, kota saya jadi cantik dan enak dipandang. Tetapi kalau kecantikan itu diperuntukkan bagi wisatawan yang datang berbondong-bondong sampai warga setempat malah merasa sumpek, jalan keluar terakhir yang bisa ditempuh ya minggat jauh-jauh dari pusat keramaian. :(

Maka di sinilah saya, di rumah milik keluarga besar om saya yang berada di tepi jalanan Wajak, Kota Malang yang dingin. Saya datang bersama keluarga tante dan om dari Semarang. Dalam setahun, ini kali kedua saya (dan adik-adik saya) menjadikan Malang sebagai kota tujuan saat liburan. Saat libur lebaran kemarin kami juga ikut tante dan om ke sini, mengunjungi saudara-saudara mereka (yang berarti merupakan saudara jauh saya juga, ya nggak sih?).

Tadi malam, dua puluh empat jam yang lalu, kami bermalam di dalam jeep dalam rangka memenuhi agenda pertama kami di kota ini: menyaksikan matahari terbit dari kawasan Bromo. Meskipun akhinya gagal karena spot yang kami datangi ternyata kurang tepat untuk melihat sunrise, tapi keindahan lanskap Bromo esok paginya mampu mengobati kekecewaan. Cerita soal ini akan saya posting kemudian, ya. Saat ini, saya lebih ingin menulis tentang...

Betapa kami harus bersyukur memiliki om dan tante yang begitu baik hati mengajak kami turut dalam liburan keluarga mereka. Sejak kecil, saya dan adik-adik memang paling dekat dengan tante ini, adik bungsu dari almarhum bapak. Dua tahun terakhir sejak eyang kakung sakit dan dirawat oleh tante, rumahnya pun menjadi tujuan kami setiap libur panjang (tadinya kami selalu ke rumah eyang). Kedua puteri tante pun menjadi sepupu terdekat kami, apalagi setelah Naya pindah sekolah ke Semarang dan sekelas dengan Nafa, anak bungsu tante.

Keluarga tante adalah keluarga kedua bagi saya. Sosok tante yang begitu sabar serta penyayang membuat saya ingin menjadi sepertinya. Tante sangat telaten merawat eyang kakung yang sudah sepuh dan sedang sakit. Ditambah lagi, mengurusi kami bertiga yang sekarang tidak punya orangtua.

Terima kasih ya, Tante Antik dan Om Bowo. Jangan bosan-bosan cerewetin Echa, Tya, dan Naya kalau kami memang perlu dinasehati. Saat ini, saya belum tahu bagaimana membalas kebaikan keluarga tante. Semoga tante sekeluarga selalu sehat dan dalam lindungan Allah SWT.

Tantik: tante gaul kesayangan ponakan-ponakannya


Wajak, 26 Desember 2016.

Posted in , , , , , | Leave a comment

ampuni saya, dewi

Kamu tahu seseorang sudah bermain api dengan dirinya sendiri ketika dia, yang tidak biasanya mencintai sembunyi-sembunyi, tiba-tiba gelisah dan bertindak layaknya sang dewi di balik jeruji:

ia menghukum diri,

                                              atau menghukum saya?


yang diam-diam merasa benci
harus menjaga rahasia kecil ini?

Ampuni saya, dewi.


Posted in , , , | Leave a comment

Luas dan kosong

Pagi itu ia menyeduh susu bubuk sambil tersedu. Lalu sambil membawa cangkirnya ke ruang tamu, ia menghitung satu persatu langkah kakinya yang menapaki keramik dingin. Tiba-tiba ia merasa rumahnya bertambah luas berkali-kali lipat dari sebelumnya.

Luas,
                  dan kosong.

Hanya ada dia seorang, termangu karena merasa tak lagi mengenali sudut-sudut rumahnya sendiri.

Ada ruangan yang dibiarkan terkunci,
kamar-kamar yang melompong tak ditempati,
dan sekat-sekat, entah apa yang hendak dibatasi.

Terlalu banyak ruang,
                    terlalu renggang,
                                     terlalu lengang.

Dalam waktu dua puluh empat jam,
matanya telah menjadi bengkak, dan
susu dalam cangkirnya pun basi.

Yogyakarta, 17 Desember 2016  |  09.31

Posted in , , , , , , | Leave a comment

Makan siang sama Zulva

Setiap kali harus beli makan siang di lingkungan kampus, sebisa mungkin saya mencari warung nasi. Tidak seperti teman-teman yang suka bingung menentukan mau makan mi, bakso, siomay, atau batagor, saya dengan mantap memilih nasi ramesan. Ketika memindai aneka lauk yang disediakan, mata saya akan berbinar jika melihat: ada sayur! Entah itu sayur bening, sop, atau pun sayur asem. Oseng kangkung atau daun kates juga suka, tapi alangkah senang hati saya kalau ada yang berkuah. Saya—suka—sayur!

Siang itu, saya dan Zulva baru selesai membahas kerja kelompok dan berniat cari makan siang. Zulva, sama seperti saya, menganggap nasi sebagai satu-satunya bahan pangan yang memenuhi syarat untuk mengenyangkan perut (halah). Memang dasarnya waktu itu kami sama-sama lapar berat, hahaha. Kami tancap gas mendatangi dua warung nasi langganan yang tak jauh dari kampus, tapi tampaknya waktu itu saya dan Zulva sedang sial: dua-duanya tutup! Bayangan sepiring nasi mengepul dengan lauk nikmat dan segarnya sayur harus menguap dari benak saya.

Dengan kecewa, saya dan Zulva beralih ke menu mi ayam -- di tempat yang rada elit, alias bukan tenda pinggir jalan. Begitu melihat daftar harga, hati kami langsung mencelos. Benar-benar tak sesuai untuk kantong mahasiswa. Tapi kami sudah terlanjur duduk di sana. Kami tak habis pikir mengapa dua warung nasi itu memilih tutup hari ini. Jangan-jangan dua-duanya janjian, lagi.

Saya mengobrol dengan Zulva siang itu. Berbagi pandangan tentang hal-hal di sekitar kami. Tentang bagaimana kami mengambil sikap dalam suatu keadaan. Tentang prinsip yang dipegang setiap orang, tapi bisa runtuh karena pengaruh teman.

Saya melihat Zulva sendiri adalah pribadi yang memegang teguh prinsipnya. Tidak, dia tidak keras kepala, meski menurut saya bedanya tipis antara punya prinsip dan keras kepala. Zulva tetap memiliki kepekaan untuk tidak menjadi kepala batu. Dan, meski itu berarti dirinya sering memilih jalan yang beda dari orang kebanyakan, toh ia tidak lantas dikucilkan. Di situlah saya sadar bahwa kita tidak harus selalu mendengarkan komentar orang. Tidak perlu menjadikan orang lain sebagai acuan. Setiap orang berhak menentukan prinsipnya sendiri, tanpa menjadikan dia lebih rendah atau lebih tinggi dari orang lain.

Agak menohok. Saya sendiri merasa belakangan ini saya kehilangan diri saya. Saya telah banyak berubah; pola pikir saya berubah, tapi entah, rasanya saya ingin membela diri bahwa saya masih punya bagian dari Sekar yang lama. Bagian yang timbul-tenggelam dari permukaan, seolah menanti waktu yang tepat untuk tampil ke depan. Mengapa, Sekar? Mengapa harus menunggu? Obrolan dengan Zulva membuat saya kembali percaya, Sekar yang ada di dalam sini tak perlu melihat kembang lain untuk dapat mekar. Sekar punya mahkotanya sendiri, dan dirinyalah yang tahu bagaimana carany mahkota itu mekar sempurna.

yang lembut-lembut bisa jadi baja jika terus ditempa (hehe apa nih maksudnya) | pic from here
 
J'attends une autre le temps de parler avec vous, Zulva!

Posted in , , , , , , , | 5 Comments

Aku kosong

Rumah ini kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong, kehilangan nyawa.

Pagi yang kosong setelah ibu pergi, bapak pergi, adik-adikku berangkat sekolah pagi-pagi,

Posted in , , , , , , , , | Leave a comment

Bagaimana saya membuat deskripsi diri

Dulu, saya punya stok frase yang tidak terbatas untuk menjabarkan siapa diri saya. Kini, deskripsi diri yang mampu saya buat hanya,


Sekar:
perempuan yang butuh penanganan ahli jiwa, segera.

Posted in , , , , | Leave a comment

kucingkucingku

kucing-kucing mengeong
meong, meong, meong
kucing berlari
kucing mengejar kucing
di halaman, di dapur, di atas plafon
gedebak gedebuk, plafon jebol

aku dongkol.

kucing-kucing mendengking
eing, eing, eing
kucing mau kawin
kucing menubruk yang mau dikawinin
yang ditubruk menggerung
berisiknya sepanjang malam

aku geram.

kucing-kucing berguling minta dielus
kucing-kucing bergelung tidur di sofa
kucing-kucing mengendus, mata bulat berkilat jenaka
dielus senang, digaruk senang, dikasih makan senang

aku sayang!


credit pic Cristine Cartera Turkus

Kalau di rumah nggak ada Olin dan Olsa, saya pasti kesepian.

Posted in , , , | Leave a comment

Tentang aku dan Tya - setelah tiga bulan kita hanya berdua

Bisakah dua anak remaja tinggal di rumah mengurus dirinya dan memenuhi kebutuhannya dan menjalankan kewajibannya dan mengatur baik-baik waktunya dan melakukan kegiatan sehari-harinya ---- tanpa didampingi orangtua?

Jawabannya: bisa,

tapi tidak sempurna.

...............
*ditulis sebagai kesimpulan akhir pekan kami yang disambut gembira, ternyata berjalan biasa saja, lalu ditutup oleh perasaan hampa.


pagi : gembira


Posted in , , , , , , , , | Leave a comment

Sebuah Daftar

  • Laki-laki gondrong yang rambutnya lurus
  • Tato berwarna (bukan cuma tinta hitam)
  • Sandal gunung yang diinjak belakangnya
  • Kamera pocket, DSLR, tripod, baterai recharge
  • Film action, adventure, survival
  • Lagu-lagunya Bon Jovi, Guns N' Roses, Slank, Iwan Fals, Cokelat
  • Jas hujan plastik ala pak becak
  • Pisau lipat, sepatu bot, peluit
  • Kotak P3K kecil tapi isinya lengkap
  • Single Rope Technique
  • Kalung manik-manik
  • Celana pendek ketat (sering disebut second skin) baik polos ataupun bermotif norak/warna stabilo cetar (gak kelihatan kan cuma buat dobelan)
  • Obat batuk Cina 'Hsiao Keh Chuan'
  • Martabak Bangka dekat plengkung Gading (especially rasa cokelat-kacang, keju-susu)
  • Kacang atom, kacang kulit, kacang koro, kacang telur
  • Bubur kacang ijo
  • Pisang aroma Jalan KHA Dahlan (isinya bukan cuma pisang; ada nangka, nanas, tape juga)
  • Tahu gimbal depan BRI Samsat
  • Pempek Tanjung Pesona Jalan Ibu Ruswo (kapal selam, kuah pedas) 
  • Fotokopian pojokan pertigaan timurnya parkir bus Ngabean
  • Bengkel motor Jalan Tunjung arah Mandala Krida
  • Salep Cina 'Pi Kang Shuang'
  • Belalang goreng
  • Jus alpukat dengan tingkat kekentalan yang pas
  • Pembicaraan tentang single parent
  • Pembicaraan tentang gua (wisata gua, insiden di gua, sumber air dari gua)
  • Pembicaraan tentang kearifan lokal (sering banget disinggung di semester awal!!)
  • Belanja di Progo, Gardena, Superindo
  • Es krim Wall's kemasan wadah (yang porsi bareng-bareng, bukan yang cup)
  • Sosis toplesan, sarden, nugget, abon, telur asin... stok lauk cepat saji
  • "Gakpapa gak makan nasi yang penting perutnya diisi."
  • "Jangan lupa minum air putih nanti dehidrasi." 
  • Segala hal terkait safety riding
  • Segala hal terkait kebebasan, konsekuensi, kerja keras
  • Nasihat-nasihat untuk tidak sombong, menghargai sesama, menjaga alam

....adalah sebagian dari banyak hal di dunia ini yang mengingatkanku pada bapak. Dan kalau nyaris semua yang di daftar itu masih selalu bersinggungan dengan keseharianku, bagaimana mungkin aku tidak merindukannya setiap waktu?

We miss you, Pa. Really, really miss you.

Posted in , , , , , | 4 Comments

Iseng-iseng berhadiah!

Kalau kamu baca postingan ini, kamu akan tahu kalau beberapa waktu lalu saya punya kumpulan teman yang sering gelar rapat hingga larut malam. Actually, apa yang kami bahas dalam rapat-rapat tidak efektif itu adalah sebuah proyek: short movie competition. Ini kali kedua saya mengikuti kompetisi semacam ini. Mega yang mengajak saya bergabung dalam tim bentukannya; saya sendiri sempat heran -- sejak kapan Mega doyan ublek-ublek dunia perfilman? Tapi toh saya setuju untuk bergabung, dengan posisi sebagai penulis naskah. Kata dia, motivasinya ya coba-coba saja, ingin punya pengalaman bikin film. Oke sip, Meg.

Tim kami terdiri atas lima orang. Saya hanya kenal Mega saja, sesama teman antro. Dua yang lain temannya Mega, sedang sisanya adalah temannya teman Mega (nah lho bingung). Masing-masing menempati posisi sebagai produser, sutradara, kameramen, penulis naskah, dan editor. Sementara untuk talent, kami masih perlu mencari lagi di luar tim inti. Kami punya waktu sebulan sejak tim terbentuk sampai dengan batas pengumpulan karya. Sebulan yang rasanya berlalu dengan sangaaaat cepat, karena kami harus menyesuaikan kegiatan ini dengan jadwal masing-masing. Kamu tahu proses apa yang memakan waktu paling lama? Well, penentuan ide dan alur cerita!

Kami berpikir keras bagaimana caranya menyesuaikan kemampuan kami dengan tetap menggarap ide yang sesuai tema. Itu membuat kami berulang kali ganti ide cerita dan mengakibatkan penulisan naskah plus penentuan talent tersendat. Karena terbentur masalah jadwal juga, kami nekat melakukan syuting tiga hari sebelum deadline. Alhasil, mendekati deadline, makin kalang kabut-lah kami, terutama saya dan Mega.


Sukaaaa bikin naskah :")

Dua malam yang lalu, saya dikabari Mega sang produser kalau film pendek kami lolos tiga besar!

Tanggapan saya ketika menerima kabar itu: jurinya nggak salah tuh?

Rasanya setengah percaya, film pendek garapan kami yang dikirim mepet deadline bisa kecantol sebagai finalis. Pasalnya, kami mengalami banyaaaaak kendala selama proses penggarapannya, baik saat produksi maupun pasca-produksi. Beberapa hari menjelang syuting, kameramen kami tiba-tiba bilang tidak bisa ikut -- padahal kami sangat mengandalkan dia. Tentu saja kami kelabakan mencari penggantinya. Meskipun toh kami mendapatkan pengganti, tapi kameramen pengganti ini juga hasil dari cari-cari kenalan, alias merupakan orang asing bagi kami (dan kami juga asing bagi dia). Orangnya pendiam, sehingga jujur saja kami agak susah berkoordinasi dengannya.

Cuaca yang kurang bersahabat saat syuting turut mempengaruhi mood kami, termasuk para talent. Ditambah lagi, proses editing yang harusnya ditangani oleh editor (ya iyalah) justru diselesaikan oleh yang kurang ahli di bidangnya.... Siapa? Saya dan Mega HAHAHAHA. Saya dan Mega kan awam sekali kalau disuruh pegang aplikasi video editor, bagaimanalah hendak menghasilkan output yang brilian :( sementara editor kami malah melenggang entah ke mana. Sedih sedih sebaaaal!

Karena mengikuti semuanya dari awal sampai akhir -- hingga keping VCD berisi film pendek kami diposkan ke panitia, saya dan Mega tahu pasti: film pendek garapan kami ini kurang optimal. Makanya, saya pribadi kaget sekaligus senang karena ternyata juri menempatkan karya kami di urutan ketiga di antara semua karya yang masuk. Saya tidak akan bilang "cuma nomor tiga, sih," karena YAH kan sudah diceritain kalau rasanya kami sudah hopeless ini karya nggak bakal dilirik saking "seadanya." :((

Mega dan Afif berangkat mewakili tim kami ke Solo, tepatnya ke UNS sebagai penyelenggara kompetisi, untuk memenuhi undangan sebagai finalis. Di sana diadakan talkshow sebagai acara puncak dari Sebelas Maret Education Fair, serta pengumuman dan pemberian hadiah kepada pemenang dari beberapa cabang kompetisi. Kata Mega, jurinya bilang kalau yang dinilai dari kompetisi film pendek ini adalah kemurnian ide dan korelasinya dengan isu terkini. Film kami yang mengangkat realitas remaja masa kini semakin abai dengan lingkungan pun dianggap sesuai dengan tema. Tapi, untuk teknisnya, film kami memang masih banyak kekurangan, terutama dari segi sound (ini gara-gara perangkat audio yang dibawa kameramen pengganti kami nggak berfungsi waktu syuting). Juri juga menyinggung kurangnya perkenalan tokoh di awal film, sesuatu yang kami sangka justru tidak perlu dibuat gamblang. Hmm beda persepsi :)))))


Akhirnya, ada nama saya tercetak di lembar sertifikat lagi, setelah sekian lama...

Hewww :") sudah lama saya tidak mendapat penghargaan atas sesuatu yang saya lakukan. Bukan penghargaan dalam arti orang menerima diri saya apa adanya (halah), melainkan reward karena saya sudah berusaha mencapai target tertentu. Tetapi, di samping reward, ada yang menurut saya lebih penting: pengalaman. Banyak pelajaran yang saya ambil dari pengalaman yang singkat ini. Tak hanya soal proses produksi film (meskipun saya memang jadi tertarik ke arah situ), tapi juga bagaimana bekerjasama dengan orang yang baru kita kenal, serta berkompromi dengan karakter mereka yang macam-macam.

Kalau mau lihat garapan kami, ada di Youtube kok... linknya... eh... kasih lihat nggak, ya? Kan sudah dibilangin kalau kami sendiri kurang puas dengan hasilnya... hehehe search aja ya, judulnya Bagas Jadi Bagus. :)))

À plus tard!


Posted in , , , , , | 1 Comment

Sepintas raut sedih

Dia selalu melihat sepintas ke arahku setiap kali kami berpapasan. Aku tahu, karena aku mengikuti sosoknya dari ujung mata, bahkan sejak dia masih berjarak jauh dariku. Raut sedih itu! Raut sedih yang selalu terpasang di wajahnya, membuat aku ingin tanya mengapa.

Di waktu lain, saat dia bermaksud menghampiri teman di sebelahku, lagi-lagi dia melirikku sekilas. Aku pura-pura tidak melihat. Buat apa? Aku tidak pernah punya kepentingan untuk bicara dengannya. Dia juga tidak pernah mengajakku bicara. Sepertinya dia mengira aku orang yang dingin. Karena itu dia melempar tatapan heran ketika melihatku tertawa-tawa di tengah teman-temanku. Tuh kan, dia mengawasiku lagi. Aku tahu! Lagipula buat apa dia terheran-heran? Watakku santai saja, hanya kepadanya aku bersikap kaku. Gara-gara raut sedih di wajahnya itu!

Tidak mungkin kan aku serta-merta menujunya lalu bertanya, "kenapa sih kamu selalu bertampang kuyu?" -- celakanya, aku akan langsung menyambung sendiri kalimatku, "aku tidak suka melihat orang berwajah sendu! Membuatku jadi ingin menghiburmu!"

Kemudian dia jadi tahu kalau selama ini aku memperhatikannya, melebihi dia yang sering melihat sepintas ke arahku.

Posted in , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.