Archive for February 2016

Di Rumah Sakit

Ada yang rautnya berhias senyum
terduduk tegak di tepi ranjang, kedua tungkai berayun.
Canda para pembesuk ditimpali dengan tawa
meski sebenarnya dia menyimpan lara
: senyumnya-lah topeng 'tuk sembunyikan derita.

Ada pula muka-muka pucat
bibir kering dan jurang yang dalam terpahat
di antara kedua alisnya.
Syukurlah ternyata sakit yang mereka rasa
tidak seberapa, hanya saja lesu dan pilu itu
sebab tak ada dukungan dari keluarga.

Daripada sibuk menerka,
lebih baik kita berdoa.
Karena kalau terang-terangan bertanya,
nanti dikira tak punya tatakrama.
Setuju ya?   

Rumah Sakit, 28 Februari 2016.

Posted in , , , | Leave a comment

Bukan Kau

pic from -

Aku ingin ke stasiun. Tidak perlu membeli tiket lalu pergi keluar kota, aku hanya ingin ke stasiun saja. Duduk di salah satu bangku panjang sembari membaca buku, atau menulis catatan tentang hari kemarin. Hari di mana aku pertama kali mengenalmu, dan kau bertanya kapan aku lahir. Aku enggan menyebutkan tanggal, lantas kau tertawa. Akan kutulis semuanya dengan rapi di buku harianku, sambil menunggu kereta datang, meski aku tahu kau tak akan turun dari gerbong manapun.

Aku ingin ke kebun binatang. Melihat gajah, simpanse, jerapah, dan Harimau Sumatera. Tak perlu membeli sebungkus kacang rebus untuk kijang atau rusa, mereka lebih tenteram hidup tanpa gangguan manusia. Maka aku akan melangkahkan kaki menuju danau buatan yang ada di sana, lalu naik perahu angsa. Meski tidak ada kau duduk mengayuh di sebelahku, dan aku tak bisa bertanya binatang apa yang paling kausuka.

Tulisan ini tanpa kesimpulan, hanya berisi dua keinginan.
Suatu saat nanti mungkin terwujud. Tapi, bukan dengan 'kau' yang kumaksud.

Kedai Susu, Tempatku Memesan Kopi, 17 Februari 2016.

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

[Tak perlu lagi bertanya] Bagaimana menafsirkan - bagian tiga

dua puluh / sembilan

[aku memberanikan diri mencoba sesuatu yang luar biasa. akankah dia menyambutnya?]
Aku ingin melihat pameran. tapi, hari sudah malam. 

Tak jadi masalah. Ayo, aku temani.
[tidak bisa dipercaya. apa yang aku harapkan?] 

Malam itu, lagi-lagi terasa bagai mimpi. Atau aku berhalusinasi? Tak ada pameran di sana. Hanya bising memekakkan telinga. Aku harus teriak kencang-kencang supaya kau mendengar saat aku bicara. Ketika kau menunduk untuk mendekatkan telingamu padaku, diam-diam aku menyimpan rahasia: aku harap terlahir sebagai adikmu saja. 


dua puluh dua / sembilan

[kita begitu dekat, sayang sekali aku tak bisa menemuimu.]

[aku belum menyiapkan kado untukmu.]


tiga / sepuluh 

Apa kau punya waktu luang? Kemari, giliranmu temani aku melihat pameran.

Baiklah, tunggu di sana. Ah, maaf, aku tidak bisa!
[tuhan, aku begitu plin-plan!]

Ya sudah kalau begitu, aku pulang saja. Panas sekali di sini.
[mana mungkin dia benar-benar datang. bodoh.]


lima / sepuluh

[aku tak percaya pada penglihatanku: kaukah itu? terbaring lesu, hanya mampu menganggukkan kepala menanggapi candaku.]

[harusnya kau tak perlu datang. aku tak ingin kau melihatku dalam keadaan begini. tapi, aku senang karena ini berarti kau peduli...]


sepuluh / sepuluh

[lihatlah, betapa lucunya mendengarkan kau berbincang dengan keluargaku.]

[tuhan! bagaimanalah aku harus bersikap? aku sungkan, sangat takut bila perasaanku ketahuan.]

Jika saja aku punya nyali, menawarkan diri untuk tinggal lebih lama. Atau barangkali kau yang meminta, tentu akan kusanggupi dengan kesungguhan hati. Saat itu, kau bahkan tak mengajakku bicara. Bukan karena tak mau, melainkan karena tak bisa. 


Yogyakarta, 8 Februari 2016.
 

Posted in , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.